Tempat Asing

2378 Words
"Kita ada di mana?" Kyra memindai sekelilingnya, dia asing dengan tempat ini, hanya ada rerumputan yang tertata begitu rapi dan beberapa bunga yang tumbuh dengan sehat. Jumlahnya tidak banyak, ada satu, dua, lima, tujuh. Ada tujuh bunga yang tumbuh di sini. Seperti taman, tapi dengan tanaman yang ukurannya sungguh luar biasa. "Apa kita tadi masuk kedalam portal, sehingga membuat kita berada di sini?" Lea ikut memindai menepuk lututnya yang kotor, tempat ini juga asing untuk dirinya. "Tentu saja. Tapi tadi adalah portal paling buruk yang pernah kulalui." Alif, berkata kesal. Sedangkan Randai dari tadi mencoba menenangkan perutnya yang bergejolak. Sesekali mengumpat kesal karena tubuhnya ternyata juga merasakan hal yang sama. Sakit di beberapa bagian. "Apa kita mengecil? Menjadi peri? Kenapa tumbuhannya besar sekali?" Alif hampir menertawakan Kyra. "Manusia memang selalu saja, begitu. Tidak teliti memperhatikan sekitar. Kamu tidak tahu ukiran rumput di bawah kakimu. Itu normal." Kyra menunduk, ternyata benar. Dia bernapas lega, meski kesal karena dibilang bangsanya kurang teliti. "Bagaimana bisa kita semua tertarik di sini?!" Randai berucap kesal, menatap satu persatu wajah yang ada di depannya, tapi semua diam dan mengangkat kedua bahu, tidak ada yang tahu kenapa mereka bisa terdampar di sini. "Sial! Harusnya, tadi kalian berdua menghindar dari portal itu!" Randai kembali berucap kesal. "Hey! Kami tidak memintamu untuk menarik kami. Jadi... salah siapa kalau kamu ikut terdampar di sini." Kyra mengangguk. Setuju, dengan ucapan Alif, mereka berdua juga tidak tahu kalau ada portal yang membuka tepat di belakang mereka. "Baiklah, tidak ada yang salah di sini. Ini hanya keberuntungan yang tiba-tiba membawa kita ke sini." Lea mencoba menengahi. Berdebat di situasi seperti ini bukanlah solusi. "Keberuntungan kamu bilang? Kita bahkan tidak tahu ini ada di mana? Ada bahaya apa saja yang mengintai, dan badan kita hampir remuk gara-gara portal sialan itu!" "Sudahlah, Randai, kamu jangan berdebat. Kita harus tetap tenang di situasi seperti ini. Ayo kita pergi dari sini. Ikuti aku." Alif mulai membalik tubuhnya, hendak berjalan mencari tempat keluar dari sini. "Kenapa kami harus percaya padamu?" Kyra masih tidak percaya dengan Alif. Bisa saja lelaki itu hanya akan membawanya pada Klan Serigala, dan menjadikan mereka santapan empuk. Itu ide yang brilian. Alif menyunggingkan senyum. Dia sedikit menoleh ke belakang tanpa membalik tubuhnya. "Karena di sini hanya aku yang bisa diandalkan. Instingku lebih tajam dari kalian, penciumanku juga--yah, meskipun indra penciuman Randai juga tidak bisa disepelekan." Alif ikut membawa nama Randai, karena lelaki itu tidak terima kalau hanya Alif saja yang mempunyai Indra penciuman tajam, Klan Vampir juga sama. Kyra menoleh ke arah Lea dan diberi jawaban anggukan, membenarkan perkataan Alif, kalau Klan Lycanthrope memang bisa diandalkan dalam hal ini. "Aku akan terbang, akan aku pantau dari atas." Lea mengusulkan diri dan ditanggapi dengan anggukan oleh semuanya. Dia mulai memejamkan mata dan membukanya pelan. Perlahan matanya mulai berpendar kuning dan kedua sayapnya mulai muncul di belakang punggungnya. Mengepak indah dan membawanya naik ke atas. Mereka akhirnya beranjak, berjalan menyusuri setapak di antara bunga-bunga yang mekar. Sesekali mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru. Siaga dengan apapun yang akan terjadi. "Sepertinya jalanan ini sering dilewati." Alif mengamati langkah kakinya dan setapak jalan yang tidak banyak ditumbuhi rumput liar. "Bagaimana kamu tahu?" M "Lihat saja rumput ini, Ran! Seharusnya mereka tumbuh subur di tengah juga, bukan di pinggir setapak saja. Itu terbukti kalau bagian tengah jalan ini sering dipijaki." Alif menunjuk ke bawah, sedikit menekan kakinya pelan. "Apa mungkin itu hewan buas atau semacamnya?" Kyra mulai takut. Dia memang belum pernah berada di situasi seperti ini. Ketakutan yang ada dalam dirinya semakin aktif berkembang. Alif menggeleng. "Aku rasa tidak. Tidak ada hewan yang bergerak tetap di tempat yang sama seperti ini." "Ada." "Apa?" Alif menantang Kyra. "Ka ... kamu," tunjuknya ke arah Alif dengan takut-takut. "Kurangajar! Jaga bicaramu, kali ini aku maafkan, tapi lain kali ... kamu jadi santapanku." Alif tidak terima dikatakan hewan, yah ... meski pun sebagian dirinya memang serigala, tapi dia tidak suka disamakan seperti itu. Kyra beringsut takut, tapi dia kembali berjalan mengikuti. Baiklah, dia tidak akan mengganggu lagi. "Maaf," cicitnya pelan sekali, yang bahkan tidak ditanggapi sedikit pun. "Ini seperti jejak kaki. Lihat! Ada jejak seperti sandal di sini." Mereka semua ikut mengamati, kecuali Lea yang masih fokus berada di atas mereka. "Apapun itu, kuharap bukan sesuatu yang mengerikan." "Semoga saja." Randai ikut menanggapi ucapan Kyra. "Sebentar. Kita tukar posisi saja. Tidak baik wanita berada di belakang. Lebih baik kamu di tengah-tengah kami. Jadi, jika terjadi sesuatu kami bisa membentengi." Kyra menggeleng, itu ide buruk. Dia masih belum percaya dengan dua pria ini. Dia takut kalau dirinya nanti diserang tiba-tiba oleh Alif dan Randai. "Kamu tidak perlu takut, kami tidak akan berbuat jahat. Lagi pula kamu manusia biasa tanpa kekuatan. Jika ada sesuatu di belakangmu, menangnya bisa melawan?" Kyra menggeleng, kemudian cepat-cepat beralih ke sisi depan Randai, berada di tengah-tengah antara Alif dan Randai. "Sebentar, kalian merasa ada suatu kejanggalan tidak?" Alif berhenti sejenak, membalikkan badan, kemudian menatap dua orang yang berada di depannya secara bergantian. "Sebenarnya tidak ada yang aneh, kecuali ukuran bunga ini yang begitu besar, tidak normal seperti ukuran bunga lainnya." Kyra menyahut, hanya itu yang dirasa janggal selama dia berada di sini. Sedangkan Randai hanya mengangkat kedua bahunya, dia tidak merasa ada kejanggalan apa pun di sini, sebelumnya dia pernah melihat bunga dengan ukuran raksasa ini, tapi entah di mana, ia lupa. "Sebenarnya ini bukan hal aneh-- siapa namamu tadi?" Alif menunjuk Kyra. "Kyra." "Iya, maksudku Kyra, itu bukan hal aneh sebenarnya. Di suatu tempat, entah di mana itu, aku pernah mendengar ada bunga yang berukuran besar. Entah itu benar-benar di sini atau di mana, tapi yang pasti tempat itu ada." "Lalu kenapa ukurannya bisa sebesar ini?" Alif mengangkat kedua bahunya. "Entahlah, tidak ada yang tahu soal itu. Mungkin suatu saat akan ada yang bisa menjelaskan." "Hey! Kalian sedang apa? Tidak bisakah langsung berjalan dan pergi dari tempat ini?!" Lea yang berada di atas sana berteriak kesal, dirinya sudah lelah menunggu mereka yang berada di bawah, yang entah sedang apa sehingga tidak kembali berjalan sejak tadi. "Maaf, Lea, kami sedang membicarakan sesuatu!" Kyra membalas sedikit berteriak agak Lea bisa mendengarnya. Lea sedikit menurunkan ketinggiannya, jaraknya di antara teman-temannya hanya beberapa meter. "Aku tidak tahu, apa yang kalian bicarakan begitu penting atau tidak, tapi yang pasti kalian harus segera berjalan." "Kenapa?" "Jangan banyak bertanya Randai, kalau kalian ingin secepatnya keluar dari sini, maka kalian harus berjalan lurus beberapa meter lagi. Karena di sana, aku menemukan sebuah bangunan." Lea menunjuk ke arah depan. Dimana ia menemukan sebuah bangunan yang berukuran lumayan besar. Pasti di sana ada penghuninya, mungkin saja yang menghuni bangunan itu adalah pemilik dari kebun berisikan tanaman bunga berukuran jumbo ini. Mereka akhirnya kembali berjalan, menyusuri setapak tanpa mengamati sekitar dengan seksama lagi, tetapi tetap siaga. Lea kembali terbang meninggi, mengarahkan mereka dari atas sana. Sesampainya mereka di ujung jalan, Lea kembali turun. Mata kuningnya meredup dengan perlahan dan sayapnya ikut menghilang seiring dengan redup matanya. Kyra langsung menghampiri Lea, dia lebih merasa aman di samping sahabatnya. Mereka saling pandang sejenak dengan yang lainnya, kemudian mengangguk dan berjalan perlahan menuju bangunan itu. "Kamu mau apa?" Kyra memegang tangan Alif saat hendak membuka gagang pintu. Posisi mereka sedang berada di belakang rumah--yah, kalau itu bisa disebut belakang. "Memeriksa ada apa di dalam." "Tanpa mengetuk pintu? Itu tidak sopan, Lif." "Situasi di sini lebih gawat dari sekedar kata tidak sopan... Ra." Akhirnya Alif bisa mengingat nama Kyra setelah beberapa saat berpikir. "Sekarang aku tanya. Di sini kamu mau apa setelah bertemu pemilik rumah?" "Tentu saja bertanya, memangnya apalagi." Randai dan Lea mengamati perdebatan mereka, juga membenarkan perkataan Alif, karena tujuan mereka ke sini adalah untuk mencari jalan keluar dari masalah ini. "Dengar! Kamu ingin meminta tolong tapi berlaku tidak sopan. Apa mungkin orang itu akan menolongmu?" Semua terdiam, saling pandang sejenak, laki-laki itu mengembuskan napas kesal. 'Manusi memang selalu banyak berpikir', begitulah isi batinnya saat itu. "Aku setuju dengan Kyra, tidak ada salahnya kita mengetuk." Lea berpendapat. Akhirnya semua setuju. Salah satu di antara mereka mengetuk pintu kayu itu tiga kali. Jeda sejenak, tapi belum ada yang membuka pintu. Sekali lagi mengetuk. Mencoba barangkali ketukan tadi tidak terdengar, namun setelah menunggu beberapa saat tetap saja tidak ada yang membuka. "Mungkin tidak ada yang menghuni. Sepi sekali di sini." Randai mengamati sekitar. "Itu tidak mungkin. Pekarangan di sini sangat terawat, tidak mungkin jika tidak ada yang menghuni." Kali ini Kyra yang berbicara. "Coba ketuk sekali lagi. Kalau tidak ada sahutan, akan aku dobrak." Kyra mengangguk, mengangkat tangannya ke atas untuk kembali mengetuk. Tapi belum sempat tangannya terbentur kayu yang menjulang di depannya ini, pintu telah terbuka. Menyebabkan tangannya mengambang di udara. "Kalian siapa?" Kyra langsung menurunkan tangannya, mencoba tersenyum sebelum memperkenalkan diri. "Saya Kyra, Paman. Ini teman-teman saya, Lea, Alif, dan Randai." Kyra memperkenalkan satu persatu temannya. Dan mereka mengangguk saat namanya diperkenalkan. "Saya Canuto. Ada perlu apa kalian kemari? Kenapa bertamu lewat belakang rumah?" Pria paruh baya yang bernama Canuto itu menyeledik, curiga karena cara bertamu mereka yang aneh. Kyra terdiam, bingung bagaimana cara menjelaskan, apakah dia harus mengatakan, kalau dia dan teman-temannya tiba-tiba terdampar di sini karena tertarik portal yang ia sendiri belum bisa memahami. Apa pria paruh baya ini juga akan percaya dengan ceritanya? Apa dia juga manusia? Melihat Kyra terlalu banyak berpikir, Alif akhirnya bertindak lebih dulu. Dia maju satu langkah tepat di samping Kyra. "Kami tidak sengaja berada di sini, kami tertarik portal yang tiba-tiba muncul dan akhirnya membawa kami sampai ke sini." "Portal?" Canuto memastikan dan dibalas dengan anggukan oleh mereka semua. "Kami ke sini ingin meminta bantuan supaya bisa kembali ke dunia kami." Kyra kembali bersuara, menjelaskan apa tujuan mereka bertamu ke sini. "Baiklah, silahkan masuk. Mungkin kalian tidak sengaja tertarik ke sini karena ulah Zek. Kadang dia tidak sadar perbuatannya telah mengakibatkan orang menjadi bingung." Canuto tertawa kecil, lalu kemudian membuka lebar pintu yang tadi hanya dibuka setengah. Mempersilahkan masuk empat remaja yang sedang meminta bantuannya. "Silahkan duduk. Kalian ingin minum apa?" "Tidak perlu, tujuan kami ke sini hanya meminta bantuan." Alif menjawab cepat, menolak tawaran Canuto yang berbasa-basi menawarkan jamuan, membuat Randai berdecak kesal karena keinginannya mencicipi jamuan tuan rumah menjadi batal. Siapa tahu lelaki itu sudah menyiapkan darah segar juga. "Baiklah. Bantuan apa yang kalian inginkan?" "Bagaimana cara kami kembali?" "Bukankah kalian adalah keturunan para klan? Lycanthrope, Fairy, Vampir, dan... hanya gadis di ujung kanan yang berbeda." Canuto menunjuk ke arah Kyra. "Seharusnya kalian bisa membuka portal sendiri untuk kembali ke dunia kalian. Kenapa harus meminta bantuan?" Kyra langsung memandang temannya satu persatu. Kenapa tidak ada satupun di antara mereka yang mengatakan bisa melakukannya? Kenapa mereka harus bersusah payah berjalan sejauh ini dan harus menunggu jika diantara mereka ada yang bisa melakukannya. Itu sangat menyebalkan. "Aku lupa, Ra. Tidak ingat karena panik. Tapi yang bisa melakukannya hanya Klan Lycanthrope." Lea menjelaskan alasannya. "Aku juga lupa. Tubuhku sangat sakit setelah kejadian tadi, mungkin saja benturan di kepalaku tadi penyebabnya." Kali ini Randai yang beralasan, sebenarnya melebih-lebihkan alasannya. "Aku tidak bisa membuat portal baru, apalagi melewatinya." Alif berkata datar. "Maksudmu?" Secara kompak, Lea dan Randai bertanya bersamaan. "Aku sudah mencobanya. Tapi tidak berhasil, ada sesuatu yang tidak bisa kutembus di sini. Entah apa itu, aku tidak tahu." "Mungkin kekutanmu melemah, Lif. Klan Vampir mungkin lebih handal dalam hal ini, andai saja mereka juga punya kemampuan itu." Siapa pun pasti tahu siapa yang berbicara. Randai, pria dengan segudang kepercayaan dirinya itu selalu menyombongkan diri. "Kenapa tidak kamu coba." Alif berkata kesal. "Sudah kubilang seandainya ada kemampuan itu." "Ck, alasan. Di sini seperti ada penghalang, setiap kali aku berkonsentrasi dan hampir berhasil menciptakan portal, setiap kali juga portal yang kubuat menghilang, meletus begitu saja." "Kapan kamu melakukannya, bukankah dari tadi kita terus berjalan." "Benar. Tapi sesekali juga aku berusaha konsentrasi menciptakan portal saat berjalan di depan kalian." "Itu berarti kamu tidak ikut siaga saat berjalan ke sini. Bagaimana kalau seandainya tadi ada sesuatu Alif!" Kyra benar-benar tidak menyangka dengan tindakan Alif. "Buktinya semua baik-baik saja. Lagi pula untuk apa aku ikut siaga. Sudah ada kalian berdua yang mengawasi. Toh, seandainya tadi aku berhasil kalian pasti bisa keluar dari sini." Alif membela diri. "Tetap saja itu tidak adil--" "Sudahlah, kenapa kalian jadi bertengkar. Sekarang saatnya kita mencari solusi, bukan mendebatkan hal yang tidak perlu." Lea menengahi, geram dengan Alif dan Kyra karena mendebatkan sesuatu yang tidak penting. Entah kenapa gadis itu juga seolah lupa kalau sempat takut pada Alif, apa mungkin efek khawatir bisa sehebat itu. Canuto terkekeh pelan. Membuat remaja yang tengah duduk itu langsung menoleh ke arahnya. Memangnya apa yang lucu? "Kalian tunggu sebentar, akan aku panggilkan temanku, dia yang menyebabkan ini semua. Pasti dia punya solusi untuk masalah ini. Sebentar ya." Canuto bangkit, dia berjalan hingga tubuhnya hilang ditelan--kemana Canuto pergi, tiba-tiba saja tubuhnya hilang saat memasuki sebuah ruangan tanpa pintu. Hey, mereka baru menyadari kalau bangunan ini tanpa pintu. Hanya bagian belakang saja tadi yang berpintu, selainnya setelah mereka masuk tidak ada satupun pintu yang mereka temukan. Tidak tahu juga bagian depan bangunan ini seperti apa. Tapi semua ruangan terlihat sangat rapi. "Ke mana tadi Canuto pergi?" Alif bertanya heran, memandang satu persatu kawannya yang ada di sini. Tapi semua hanya menggeleng pelan. Tidak tahu hilang ke mana pria paruh baya tadi. "Itu seperti sulap. Keren sekali. Baru kali ini aku melihat, belum pernah kutemukan bangunan seperti ini. "Setahuku memang tidak ada klan mana pun yang mempunyai bangunan seperti itu, ini hal baru, aku juga baru tahu." Lea mengangguk, setuju dengan ucapan Alif barusan, tapi tiba-tiba saja ada yang melilit tangannya kuat. "Ada apa, Ra?" "Kalian tidak merasa aneh. Dari pertama kita datang tempat ini sangat aneh. Bunga yang begitu besar dari ukuran normal. Bangunan kosong yang seperti tak berpenghuni, bahkan tadi kita sudah mengetuk beberapa kali, lalu sekarang ... pria paruh baya yang bernama Canuto itu tiba-tiba menghilang setelah memasuki ruangan tadi." Kyra bergidik, cengkeramannya di lengan Lea semakin menguat. "Lalu kenapa?" Alif bertanya heran. "Bisa saja dia adalah makhul gaib, seperti hantu misalnya. Di duniaku hal itu biasa terjadi, bahkan sering di filmkan. Itu sangat mengerikan. Dan ... dan merinding aku rasanya." Kyra mengecilkan suaranya di akhir kalimat, membuat mereka semua terdiam sambil memandang raut Kyra yang begitu ketakutan. Bahkan gadis itu semakin mendesakkan duduknya ke arah Lea. Apa mungkin yang dikatakan gadis itu benar, Canuto adalah sejenis makhluk jadi-jadian yang ditakutkan kyra? ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD