Dua orang gadis cantik sedang duduk berhadapan dengan tatapan yang mendalam, satu gadis merasakan perasaan kecewa dan satunya lagi merasakan perasaan bersalah. Mereka berdua adalah olivia dan senna, setelah semalaman aira berhasil membujuk senna untuk datang untuk menemui sang kakak. Padahal aira sendiri masih menjaga jaraknya dengan kakaknya, aimmar.
“Kak…”
“Sen…” kedua kakak beradik ini saling memanggil secara bersamaan.
“Kakak duluan.” kata senna pada akhirnya.
Wajah olivia yang sejak tadi memang terlihat sedih itu semakin terlihat serius saat sang adik mempersilahkan dirinya untuk berbicara lebih dahulu.
“...” olivia belum memulai kata - katanya, tapi sejak awal dia hanya menghela nafasnya.
“Senna, apa yang terjadi denganmu ?” tanpa basa - basi akhirnya olivia langsung menanyakan penyebab semua perubahan pada sikap sang adik.
“...” senna hanya diam dan menunduk tanpa bisa menjawab. Baru satu pertanyaan olivia ucapkan, pertahanan air mata senna sudah hampir runtuh. Tapi dengan buru - buru dia mengalihkan pandangannya agar air mata itu tak jadi menetes.
“Aku magang, kak.” kata senna pada akhirnya.
“Dimana ?”
“Di restoran marima.”
“Restoran marima ?” ulang olivia, dia sepertinya tidak asing dengan nama restoran itu. Lalu tak berselang lama, olivia mengirimkan pesan pada juna. Karena sebelumnya yang olivia dengar dari juna senna magang di perusahaan milik salah satu sahabatnya. Juna tidak menjelaskan lebih lengkap agar olivia bisa bertanya langsung pada senna.
“Minumlah dulu.” kata olivia pada senna yang sejak tadi masih terus diam sambil menundukkan kepalanya. Senna pun menurut, dia langsung minum segelas jus di hadapannya.
“Lalu dimana kamu tinggal sekarang ?” tanya olivia lagi.
“Aku tinggal bersama aira.” jawab senna dengan nada suara yang lebih tenang.
“Aira ?” senna hanya mengangguk.
“Kenapa nggak hubungin kakak aja ?”
“I-itu…. Soalnya…. Aira sendirian, kak. Iya, aira sendirian.” jelas senna dengan menyembunyikan kegugupannya dan olivia tahu akan hal itu. Dia sangat mengenal bagaimana adiknya.
“Benarkah ? Bukan karena ingin menghindariku ?” tanya olivia dengan suara lembut, senna langsung mengangguk dengan cepat.
“Aku nggak ingin menghindarimu, kak.”
“Lalu ?”
“...” senna tak menjawab tapi dia mengangkat kepalanya dan menatap olivia.
“Kamu nggak nyaman dengan juna ? Atau omar ?” senna kembali menggeleng.
“Apa kamu nggak nyaman tinggal bareng kakak ?” sekali lagi senna menggeleng.
“Terus kenapa, senna ? Kalo kamu diem aja kayak gini gimana kakak mau bantuin masalahnya ?” sepertinya kali ini olivia sudah tak bisa menahan kesabarannya lagi. Jika dengan cara halus senna tak menjawab, kali ini olivia akan menggunakan cara galaknya seperti biasa.
“Kakak maunya gimana ?” tiba - tiba senna juga langsung to the point menanyakan keinginan olivia yang pasti.
“Kamu tinggal bareng kakak, ya ?” senna menggeleng. Lalu olivia hanya bisa menghembuskan nafasnya.
“Yaudah, kalo gitu di apartemen kakak yang dulu ?” senna kembali menggeleng.
“Kenapa ? Kamu mau terus tinggal bareng aira ?”
“Bukan gitu, kak. Aku cuma nggak mau mama tau dimana aku tinggal.”
“Kenapa ?”
“Ya…. pokoknya aku nggak mau mama tau aku tinggal dimana. Dan kalo bisa kakak bilang aja aku tinggal bareng kak mine.”
“Senna, kamu lagi berantem sama mama ?” akhirnya olivia langsung paham alasan senna sampai nekat melakukan hal ini. Pasti karena sang mama. Dan mungkin ini adalah puncak dimana senna sanggup menahan sikap mamanya yang suka memaksakan kehendak pada adiknya itu.
“...” senna tak menjawab.
“Oke, kalo gitu sebagai gantinya kamu harus tinggal di penthouse punya kakak sama juna.”
“Ta-tapi….”
“Nggak ada penolakan, senna!! Kalo kamu nggak setuju biar kakak bilang kamu tinggal sama aira selama ini ke mama.”
“Kakak, kok gitu sih ?” senna langsung menampilkan wajah merajuknya karena mendengar kalimat olivia yang tidak bisa dibantahkan lagi.
“Atau kamu juga mau pindah tempat magang di kantor juna juga ?” tanya olivia.
“NO!! BIG NO!!!” dengan keras senna menolak usul olivia. Dia sudah tahu sang kayak akan meminta hal ini padanya, jadi sebelum semua itu terjadi senna sudah menyiapkannya.
“Oke.” hanya satu kata yang keluar dari mulut olivia yang dengan santainya tapi berhasil membuat senna menatapnya dengan tatapan curiga.
“Kak mine lagi ngerencanain sesuatu, ya ?”
“Enggak. Kamu boleh kok tetep magang disana, itu juga perusahan punya sahabatnya juna.”
“APA?!!” senna langsung lemas setelah mendengar jawaban sang kakak dengan senyuman penuh artinya itu.
“Kenapa ?”
“Harusnya aku yang tanya kenapa.”
“Maksudnya ?” olivia tak mengerti dengan perkataan adiknya.
“Kenapa dunia ini sempit ya Tuhan ???” kata senna dengan wajah sedih dan merajuk yang terlihat menggemaskan untuk olivia.
Tangan olivia pun langsung terulur dan mengusap kepala sang adik dengan sayang.
“Kamu boleh magang disana, karena itu usaha kamu. Dan untungnya perusahaan itu masih milik sahabat juna jadi kamu pasti aman disana. Tapi… untuk tempat tinggal kamu harus nurut sama kakak. Oke ?” mau tak mau senna menganggukan kepala.
“Dengan satu syarat.”
“Syarat apalagi ?”
“Nggak boleh ada yang datang ke penthouse tanpa kabar terlebih dahulu.” senna mengatakan hal itu sambil mengulurkan jari kelingkingnya ke arah olivia.
“Setuju!!” olivia langsung mengaitkan jari kelingking miliknya ke jari kelingking milik senna. Baginya itu syarat yang mudah dan sangat masuk akal. Biar bagaimana pun senna pasti juga tidak ingin privasinya terganggu.
“Kamu buruan pindah, biarin aira sendiri. Jadi dia juga mau pulang kerumah. Kalian berdua ini kenapa sih kabur aja barengan.” omel olivia dengan wajah yang tidak terlihat marah malah terlihat sangat cantik dan dewasa.
“Udah ya ibu hamil, nggak boleh marah - marah terus.” kata senna yang kali ini sudah duduk mendekat ke arah olivia sambil memeluk. Dia harus menghindari pertanyaan di balik keputusannya, jika tidak bisa - bisa olivia akan membongkarnya hari ini juga.
“Kamu sama aira tuh bikin kakak sama kak yuna sakit kepala tau nggak, bisa - bisanya ngerjain ibu hamil.”
“Iya deh, maaf ya kak.”
“Kalo ada apa - apa harus kabarin kakak, ya ?” senna mengangguk.
Setelah itu, hanya ada canda tawa yang terlihat di antara kakak beradik ini. Mereka kembali menunjukkan kedekatan yang memang sudah sangat kuat sejak kecil. Walaupun bukan terlahir dari rahim yang sama, tapi bagi olivia itu bukanlah sebuah masalah. Masih ada darah yang sama mengalir di tubuh mereka dari sang papa.
Senna pun juga tak pernah mempermasalahkan hal itu. Dia tau siapa ibu kandung olivia, jadi baginya rosaline juga bundanya. Sama seperti olivia menganggap mamanya seperti mama kandungnya sendiri.
Tak berselang lama dari kejauhan seorang pria tampan dan mencintai salah satu gadis cantik itu datang.
“Sayang, maaf aku telat.” katanya setelah mengecup kening salah satu diantaranya. Dia juna dan salah satu gadis yang baru saja di kecup keningnya itu adalah olivia. Sedangkan senna hanya menjadi penonton dari adegan itu. Baginya hal seperti itu sudah biasa.
“Sen…” kali ini juna menyapa senna, tapi senna terlihat berbeda saat juna hendak memeluknya seperti biasa. Adik dari istrinya itu terlihat menghindar hingga juna dan olivia saling menatap karena hal tak biasa itu.
“Hai, kak.” sapa senna sambil berpura - pura memainkan ponsel miliknya. Mau tak mau juna pun langsung duduk tepat di sebelah istrinya. Dia masih menampilkan tatapan bertanya - tanya pada olivia setelah mendapatkan sikap dingin sang adik ipar.
Pada akhirnya suasana canggung meliputi ketiga orang di meja itu. Senna masih sibuk memainkan ponsel miliknya sedangkan olivia dan juna sedang sibuk mengobrol berdua.
“Senna, gimana restoran milik yoyo ?” tanya juna yang pada akhirnya mencoba memulai pembicaraan untuk mencairkan suasana.
“Ya gitu, sibuk.” jawabnya dengan wajah dan nada bicara juteknya.
“...” juna tak menanggapi lagi, dia sadar sepertinya senna tak ingin bicara padanya. Lalu juna kembali menatap olivia dengan tatapan tak mengerti.
Suasana seperti ini tak berlangsung lama, karena olivia langsung menawarkan senna untuk mengantarkan kembali ke apartemen aira. Setidaknya mungkin suasana ini akan lebih mencari ketika hanya ada mereka di mobil.
Tapi sayangnya di sepanjang perjalanan pun tetap hanya ada keheningan di antara mereka, juna dan olivia pun tak membahas apapun. Padahal biasanya mereka selalu memiliki bahasan untuk dibicarakan setiap kali bertemu. Bahkan senna pun sudah tak menganggap kakak dan kakak iparnya ada di mobil yang sama dengannya.
Rasanya perjalanan itu terasa sangat lama, padahal jarak yang harus ditempuh tak sampai satu jam lamanya. Hingga saat sudah sampai di kawasan apartemen aira pun senna langsung turun dari mobil ketika juna berhenti di lobby.
“Makasi, kak.” hanya itu kata terakhir yang senna ucapkan sebelum turun dan meninggalkan mobil milik juna. Dia juga tak berpamitan pada olivia setelah mengatakan hal itu. Hingga olivia hanya bisa memandangi punggung senna yang semakin menjauh sejak tadi pun tak dipedulikan oleh sang adik.
“Sayang…” panggil juna sambil menyentuh bahu olivia dengan lembut.
“...” tak ada jawaban dari olivia, tapi matanya sudah berkaca - kaca. Juna langsung menariknya ke dalam pelukan.
“Tadi senna nggak gini, kok tiba - tiba dia berubah ?” keluh olivia dengan suara pelan karena sedang berada dalam pelukan juna.
“Apa dia berubah setelah aku datang ?” olivia mengangguk dengan sedikit ragu. Dia baru menyadari perubahan senna yang drastis itu terjadi setelah suaminya datang. Sampai dia melupakan kenyataan bahwa senna secara jelas terlihat menjaga jarak dengan juna.
“Tenanglah, sayang. Aku akan berbicara dengannya nanti.” kata juna sambil menepuk punggung sang isti.
Sedangkan dari kejauhan senna juga menangis saat menatap pemandangan di dalam mobil yang menyakitkan untuknya.
***