“Sen…” juna berusaha membuka pembicaraan dengan senna yang sejak tadi terlihat menghadap ke jendela.
“Apa aku bikin salah ?” tanya juna lagi dengan suara yang sangat hati - hati. Dia benar - benar tak mendapat petunjuk apapun tentang perubahan sikap sang adik iparnya ini. Sebelumnya mereka benar - benar berhubungan baik dan sangat dekat. Lalu semua berubah dalam sekejap.
“...” senna masih terus membungkam.
CIIITT!!!
Tiba - tiba saja juna mengerem dan segera menepikan mobilnya secara mendadak. Lalu dia memejamkan matanya sebentar dan menarik lengan senna agar mau menghadapnya.
“Ada apa ?” tanya juna menuntut.
“...” senna masih terus diam dan menghindari kontak mata dengan juna.
“Senna!!” panggil juna dengan nada emosi. Entah kenapa dia merasa kesal sejak tadi. Sebelum tadi memutuskan untuk menemui senna, juna sempat berdebat dengan istrinya. Maka dari itu dia sengaja menyalakan mode diam pada ponsel miliknya.
Juna yakin olivia berusaha menghubunginya, tapi dia tak bisa berbicara dengan istrinya sekarang.
Dan adik iparnya juga bersikap seperti ini padanya. Entah apa yang terjadi dengan kakak dan adik ini, kenapa keduanya seperti sengaja menguji kesabaran juna. Padahal biasanya juna tak akan bisa marah pada olivia begitu pun pada senna. Dia bukan karakter yang seperti itu. Tapi semenjak olivia hamil, juna merasakan sebuah perubahan drastis yang terjadi.
“Sen, plis jangan bikin aku semakin uring - uringan.” kata juna dengan wajah yang terlihat frustasi.
“Lo berharap gue bilang apa, kak ?” akhirnya senna mulai merespon pertanyaan juna, walaupun dengan nada bicara yang terdengar penuh emosi dan masih enggan menatapnya.
“Lo ?” ulang juna. Dia merasa kaget saat senna yang biasanya menggunakan aku - kamu saat berbicara dengannya, tapi kali ini menggunakan gue - lo sebagai gantinya. Juna yakin pasti ada sesuatu yang terjadi dan pasti serius, jika tidak senna tak akan bersikap seperti ini padanya.
“Kenapa ?”
“Sen…”
“Lo kira semua cewek yang ada disekitar lo harus bersikap manis dan baik, HAH ?!?” tanya senna dengan nafas yang terengah - engah. Dia sangat emosi sekarang ini.
“Semua cewek ? Maksudnya apa ?” juna benar - benar tak mengerti dengan yang senna katakan.
“Sen, aku bikin salah apa ?” juna meremas lengan senna dengan sedikit kencang.
“LEPAS!!” tangan juna yang berada di lengan senna langsung dihempaskan begitu saja.
“Gue nggak perlu jelasin apa - apa!!” setelah mengatakan itu senna langsung turun dan membanting pintu mobil juna dengan sangat keras.
Juna benar - benar terkejut saat melihat sikap senna yang berbeda dari biasanya, sebelumnya gadis itu terlihat ceria dan ramah pada semua orang. Tapi sikap kasar senna tadi juga masih sulit dipercaya olehnya.
Senna terlihat berjalan di trotoar dengan wajah marah. Dan juna pun tak bisa tinggal diam, dia terus membujuk senna agar mau kembali naik dan membicarakan semuanya secara baik - baik. Juna juga tak bisa membiarkan senna pulang sendirian.
Saat ini juna terlihat seperti p****************g yang ingin menggoda seorang gadis yang ia temui di pinggir jalan. Karena dia membuka jendela di posisi sebelahnya sambil terus memanggil dan membujuk senna. Jika orang lain yang melihat hal ini pasti mereka akan menjadikannya sebagai berita besar.
Hingga akhirnya juna tak bisa lagi mengikuti senna dan berhenti karena mobilnya berada di lampu merah. Dia baru teringat bahwa ada ponsel yang bisa digunakan untuk menghubungi senna. Bertepatan dengan itu panggilan dari yoyo masuk.
‘Jun, tadi gue liat mobil lo di persimpangan.’
‘Iya, itu gue. Lo masih di dekat situ, yo ?’
‘Masih.’
‘Lo bisa jemput senna ? Gue khawatir banget sama dia, tadi dia marah terus langsung turun gitu aja.’
‘Senna ?’
‘Iya, tolong anterin dia pulang.’
‘Jun, ada apa ?’
‘Gue nggak tau, yo.’
‘Terus lo ?’
‘Nanti gue hubungin dia lagi.’
‘Oh, oke.’
Setelah itu panggilan terputus.
Saat ini posisi yoyo sebenarnya bukan di dekat persimpangan, tapi dia berada di arah berlawanan dengan senna. Tanpa pikir panjang yoyo langsung memutar kemudinya agar bisa mengikuti senna secara diam - diam karena melihat gadis itu berjalan sambil menangis. Ada perasaan ragu untuk mendekati senna saat sedang menjadi yoshua. Tapi dia juga tak bisa membiarkan abi yang dia ciptakan sebagai pria sederhana untuk senna, lalu tiba - tiba muncul dengan mobil mewah. Pasti akan timbul banyak pertanyaan di kepala senna nantinya.
Yoyo tiba - tiba menghentikan mobilnya saat melihat senna duduk di halte terdekat. Dia masih terus mengamati gadis yang sudah berhasil merebut hatinya saat pertemuan pertama mereka dari kejauhan. Yoyo bimbang. Dia harus mengantarkan senna seperti yang juna katakan, tapi dia takut senna menolak kehadirannya. Karena biar bagaimanapun senna pasti menganggapnya sebagai atasannya.
“Senna…” terdengar suara seseorang memanggilnya, membuat senna langsung buru - buru menghapus air matanya. Lalu dia menengadahkan kepalanya ke atas melihat sosok yang memanggilnya.
“P-pak yoshua…” kata senna dengan sedikit terbata. Dia langsung berdiri dan merapikan rambutnya.
“Kok bapak disini ?” tanya senna lagi dengan suara sopan.
“Tadi saya lihat kamu pas lewat.” jawaban yoyo terdengar mulus seakan hal itu yang benar - benar terjadi. Padahal kenyataannya tidak seperti itu bahkan sekarang ini jantungnya sudah berdebar tak karuan.
“Oh, gitu. Rumah bapak dekat sini, ya ?” yoyo menggeleng sambil tersenyum.
“Cuma kebetulan aja.”
“Oh, gitu.”
“Kalo kamu lagi nungguin bus, ya ?” tanya yoyo.
“Eh, i-itu pak.” senna menolehkan kepalanya untuk melihat ke sekitar.
“Ada apa ?”
“Sebenarnya saya nggak tau daerah sini, pak.” kata senna jujur sambil menunduk.
“Kamu ini gimana ? Kesasar, ya ?” senna mengangguk dengan gerakan lembut. Saat melihat hal itu tangan yoyo sudah gatal ingin mengusap kepala adik dari sahabatnya ini, tapi untung saja dia menahannya mati - matian.
“kalo kamu nggak keberatan, saya bisa kasih tumpangan.” kata yoyo dengan ramah sambil terus tersenyum. Senna mengamati senyuman yoyo yang seperti tak asing. Entah mirip dengan senyuman siapa, yang jelas senna pernah melihat senyuman seperti ini.
“Ng-nggak usah repot - repot, pak. Saya bisa pesan taksi online aja.” tolak senna.
“Jangan sungkan, anggap saja saya sedang menolong adik sahabat saya olivia.” yoyo memutar otaknya dengan menggunakan olivia agar senna mau ikut dengannya.
“Gitu ya…”
“Kenapa senna ? Apa saya salah bicara ?”
“Ng-nggak kok, pak. Kalo gitu saya pulang bareng bapak aja.” senna langsung menyetujui bujukan yoyo yang ternyata langsung menunjukkan hasil sesuai dengan harapannya.
“Oke. Ayo.” yoyo mempersilahkan senna jalan terlebih dahulu ke arah mobilnya, lalu sebelum itu dia khusus membukakan pintu untuk gadis pencuri hatinya.
Sikap yoyo ini tentu saja membuat senna merasa aneh. Sampai - sampai senna hanya memperhatikan yoyo yang sedang berdiri dengan pintu mobil terbuka.
“Senna.” panggil yoyo lembut sambil mengulurkan tangan kanannya agar senna masuk ke dalam mobil.
Untung saja senna langsung tersadar dari lamunannya yang entah kenapa membuat otaknya seketika kosong dan buru - buru masuk. Lalu, dia memperhatikan yoyo yang berjalan menuju ke posisi pengemudi di sebelahnya.
“Kamu tinggal dimana ?” tanya yoyo saat sudah duduk di belakang kemudi.
“Di apartemen garden bay, pak.”
“Saya bukan atasan kamu, senna.” hanya itu respon yang yoyo berikan.
“Maksudnya ?”
“Sekarang kita nggak lagi di kantor, kenapa kamu terus manggil saya bapak ?”
“Terus saya harus panggil apa dong, pak ?”
“Tuh kan, pak lagi…”
“Eh…” senna menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.
“Nama saya kan yoshua. Kamu bisa panggil saya dengan sebutan ‘kak’ mungkin, karena saya kan seumuran dengan juna.”
“Kak ?” ulang senna.
“Kak yoshua ?” kata senna dengan perasaan tak nyaman.
“Begini lebih enak didenger.” hanya respon datar itu yoyo berikan sebelum akhirnya dia mulai menjalankan mobil menuju apartemen yang senna sebutkan.
Setelah itu suasana didalam mobil itu hening.
“Senna ?”
“I-iya, pak ?”
“Kok pak lagi ?”
“Eh, maksud saya kak.” senna buru - buru membenarkan panggilannya yang berhasil membuat yoyo diam - diam tersenyum.
“Bagaimana kondisi resto ?”
“Baik, kak.” jawab senna dengan canggung.
“Apa karyawan disana bersikap baik ?” senna hanya mengangguk.
“Kamu betah kerja disana ?” tanya yoyo.
“Be-betah, kak.”
“Syukurlah.”
Lalu suasana canggung kembali datang bersama keheningan.
“Senna ?”
“I-iya, kak ?”
“Boleh aku tanya sesuatu ?”
‘Aku ?’ batin senna.
“Boleh. Tanya aja, kak.”
“Kamu tadi kok bisa di halte itu ?” tanya yoyo. Sebuah pertanyaan ringan tapi sudah berhasil membuat senna merasa takut.
“Mmmm… itu… Tadi saya… jalan aja dari halte dekat resto sampe ke situ. Taunya kesasar.” jawab senna sambil tersenyum geli seakan menertawakan kebodohannya.
“Tapi itu kan lumayan jauh dari resto.”
“I-iya kak, iseng aja hehehe…” kata senna benar - benar terdengar kaku.
‘Kamu bohong, sen. Aku yakin pasti terjadi sesuatu antara kamu, juna, dan olivia.’
***