Aku tidak tau apa harus bersedih hati, berduka cita, prihatin atau sebaliknya... bahagia karena mendapatkan tugas pertamaku. Tak sampai 3 hari lamanya sejak aku datang ke Kota Lama ini. Tugas besar seorang relawan sejatinya bukan kabar bahagia, karena dibalik itu ada banyak jiwa yang mencoba bertahan, raga yang sengsara dan ketidak niscayaan tentang harapan di hari esok.
Di batas negeri ini, dalam sebuah daerah di pulau kecil, terjadi gempa bumi berskala besar, tak sampai besarnya dengan skala gempa bumi yang pernah terjadi di Aceh pada 2004 silam. Tapi gempa ini lebih dari cukup untuk mendatangkan tsunami, lebih besar goncangannya dari gempa bumi yang pernah terjadi di Sumatera Barat pada 2009 yang lalu, menghancurkan semua bangunan dan rumah warga, kabar baiknya... alam tak setega itu sampai meluluhlantahkan tempat dan sumber kehidupan para warga di sana. Tak sampai hilang pulau itu ditelan Samudra yang luas. Tak setega itu Tuhan sampai merenggut banyak jiwa anak-anak kecil yang sudah tak punya cita-cita, juga para orangtua yang lelah dengan nasib hidupnya.
Bukanlah setiap dari kita adalah cahaya bagi setiap jiwa? Harapan untuk secercah keinginan? Pelita bagi segala insan yang terikat? Setidak-tidak bergunanya kita dalam pandangan diri sendiri, sejatinya kita tetap bermanfaat untuk orang lain, dibutuhkan dalam setiap keadaan... terutama untuk keluarga terkasih. Seburuk-buruknya hubungan keluarga, tetaplah, yang terdepan untuk sosial setiap manusia adalah keluarganya.
Karena itu, tak pernah hilang kata "manusia sebagai makhluk sosial" dalam setiap buku pelajaran IPS. Ilmu Pengetahuan Sosial. Dan barang kali, yang hinggap di kepala setiap orang yang pernah menjadi murid pada mata pelajaran satu itu hanya kalimat tadi. Selebihnya, hilang ditelan waktu, bahkan tak sampai masuk dalam memori terkecil otak kita.
Mobil bak besar dan truk bermuatan banyak melaju meninggalkan Kota Lama, bergerak menuju tempat terjadinya bencana alam sore kemarin. Karena perlu mengumpulkan anggota dulu dan menyiapkan transportasi laut, jadilah kami berangkat ke pulau di tepi wilayah Sumatera ini aku lupa apa namanya pada Subuh pagi tanpa sempat tidur nyenyak dengan mimpi indah malam tadi, mempersiapkan segala kebutuhan di pulau tempat terjadinya gempa bumi itu.
Tak sampai 1 hari sumbangan untuk korban bencana alam terkumpul banyak, ditambah dana pemerintah kota. Ini membuktikan bahwa masyarakat di negeri kita masih punya jiwa kepedulian yang besar, yang tak tampak oleh orang-orang yang mata dan hatinya ditutupi oleh kegelapan, sehingga menganggap setiap manusia tidak lebihnya dari sebangsa iblis yang jahat.
Aku menatap hamparan laut luas yang tak bisa dibilang tenang, sejak tadi ombak laut sangat besar dan garang, kapan saja bisa menghancurkan kapal tumpangan kami ini, air memasuki kapal, tenggelam dan jika tak beruntung, maka kami mati mengenaskan di atas laut. Entah ini bisa disebut keberuntungan atau tidak, yaitu raga yang sudah tak bernyawa tadi tenggelam ke dasar lautan, atau tertahan batu karang, ini jelas lebih baik daripada raga menepi dibawa ombak ke pinggir pantai dengan kondisi tubuh yang sudah tercabik-cabik, mengenaskan sekali. Dan pasti menakutkan. Tubuh menggerikan tak bernyawa yang telanjang itu diliat oleh masyarakat setempat, difoto dan divideokan oleh para pemegang kamera, dimuat dalam koran dan berita dengan kondisi di-blur. Pasti memalukan sekali, walau kita sudah tau, tak ada gunanya malu karena memang sudah mati.
Aku menyeringai kecil, menelan ludah, tak habis pikir dengan pemikiran burukku sendiri. Belum apa-apa aku sudah memikirkan hal yang tidak-tidak. Menyadari itu aku tersenyum tipis, mungkin tidak ada salahnya juga aku mati di atas laut ini, setidaknya aku tidak membawa rasa malu dan tekanan besar lagi dalam hidupku. Lagian, tak akan ada yang peduli padaku, tak ada yang merindukanku, tidak ada yang membutuhkanku. Aku sendirian. Mungkin mati adalah solusi mendapati ketenangan tersendiri. Tapi... apakah itu benar? Mati adalah jawaban dari setiap masalah kehidupan?
Aku tak ingin jadi manusia bodoh dan penuh sesal yang langsung menancap gas ke garis finish tanpa melewati rintangannya terlebih dahulu. Hidup seperti itu tak menyenangkan bukan? Sama halnya dengan seseorang yang menginginkan sesuatu, akan lebih terasa nikmatnya sesuatu itu apabila kita usahakan, bukan dengan langsung mendapatkannya begitu saja.
Dalam perjalanan melewati rintangan itu, aku yakin sekali, akan banyak kutemukan pengetahuan dan pengalaman berharga. Akan banyak kudapatkan tangis dan tawa. Yang setiap nilainya mengajarkan akan makna dari sebuah kehidupan yang sesungguhnya.
"Ada yang perlu kubantu?" Umi sejak tadi sibuk menghitung persediaan air bersih untuk minum bersama makanan instan dan pakaian untuk diberikan ke rumah pengungsian warga nanti. Lengkap dengan segala kebutuhan lainnya yang penenang di tempat terdampak bencana gempa bumi itu nanti.
Umi menggeleng ringan dengan senyum tipis, menolak tawaranku. "Hampir selesai, Nadira. Kamu bantu doa saja agar kapal kita selamat sampai tujuan." Tampaknya Umi juga mencemaskan keselamatan nyawanya dan semua anggota relawan berserta nakhoda kapal dan anak buahnya.
Sebenarnya kami keduluan datang dari pihak yang lebih berwajib, resmi dibawah perintah negera, digaji tetap pula. Para pahlawan negara ini. Yaitu para pemadam kebakaran, dokter, tim SAR, dan para polisi yang bertugas mengamankan situasi. Tapi sayangnya, kapal mereka mengalami kendala di perairan, terpaksa diperbaiki lebih dulu. Mungkin kami orang dari luar pulau yang akan datang lebih dulu. Aparat di pulau sana juga pasti telah bergerak lebih dulu.
Aku tidak pernah mengkhawatirkan orang lain seumur hidupku, orang-orang asing yang tak kukenal, atau bahkan melihat wajahnya saja tak pernah. Tapi baru kali ini... dalam perjalanan panjang yang mempertaruhkan nyawa ini, aku memikirkan kondisi semua warga di sana, apalagi anak-anak yang terancam kehilangan orangtua mereka berkat gempa yang dahsyat sehari yang lalu itu. Juga nasib para orangtua yang kehilangan anak-anak kesayangan mereka, yang sudah mereka jaga dan rawat selama ini.
Pasti menyedihkan sekali... jika tiba masanya kita harus kehilangan orang yang terkasih.
Aku tersenyum tipis. Kembali berpikir yang tidak-tidak, bagaimana rasanya jika salah seorang dari kedua orangtuaku meninggal? Apa aku akan bersedih hati pula? Aku mengharapkan mereka tetap baik-baik saja, tidak kurang satu apa pun, selain sifat tamak mereka.
Nay... kakak harap di sana kamu tetap bahagia, tidak kesepian... karena ada bibi dan kak Asri yang menemanimu. Papa... mama... kuharap kalian cepat tobat dan baik-baik saja-- ini sudah pasti ya? Haha. Tawa miris adalah solusi mengatasi kebodohan diri sendiri.
Lebih 9 jam perjalan darat dan laut, kami sampai di pulau, langsung menuju daerah yang terdampak paling parah, jauh di pelosok kota. Tim relawan dibagi, para anggota yang semalam berada jauh dari Kota Lama menaiki angkutan umum yang sudah disiapkan pemerintah kota, menuju rumah pengungsian di pusat kota. Menimbang mereka yang datang langsung jauh-jauh ke rumah relawan, dan langsung bekerja dan berangkat, pasti melelahkan jika harus menaiki angkutan ke tempat yang lebih jauh lagi. Bisa mati kehabisan tenaga mereka nanti sampai di daerah perkampungan. Bukannya nanti membantu tapi malah dibantu warga lokal.
"Kau masih kuat Nadira?" tanya bang Aoman berkacak pinggang, baru selesai mengangkut barang-barang yang kami bawa, turun dari kapal.
Aku mengangguk, yakin.
"Hoo..." Bang Aoman seperti melihat keyakinanku, tekadku dan semangatku yang membara. Wajar saja, ini tugas pertamaku sebagai relawan, aku sudah menantikannya. Bisa membantu orang lain yang membutuhkan.
"Kalau gitu kau satu tim dengan Umi dan Rusip."
"Woi! Masa kau suruh aku satu tim dengan dua gadis!? Barang yang dibawa banyak, Sableng!"
"Kami kuat ngangkat barang kok Bang," sela Umi pada bang Rusip, melotot jengkel karena dianggap lemah.
"Iya Bang! Kemarin Abang liat sendiri daya tahanku bukan!?" Aku ikut mendukung Umi, membanggakan diriku yang lolos tes dengan mudah-- walau endingnya agak memalukan, pingsan kelelahan, terlebih dicap berat badan pula.
"Nah, kau dengar sendiri kan? Jangan meremehkan perempuan lagi, mereka tak selemah yang kau pikirkan." Bang Aoman menyeringai lebar, senang sahabatnya dipojokkan dua gadis sampai tak bisa berkata-kata, atau mungkin takut disemprot lagi.
Bang Aoman sudah bergerak duluan dengan anggota yang lain, menaiki angkutan yang datang. Sisa aku bertiga dengan Umi dan bang Rusip. Angkutan yang disediakan pemerintah kota ke daerah tempat kami membantu nanti tidak ada, para sopirnya takut melewati jalan yang curam-- kabarnya, mau tak mau, suka tak suka, terpaksa atau tidak, kami harus menunggu truk yang biasa lewat menuju ke daerah asing itu, transportasi umum para warga di sana.
"Tapi Bang, bukankah kemungkinan truk itu lewat kecil sekali? Gempa bumi baru saja menghancurkan kota ini, apa menurut Abang tetap akan ada orang gila yang mau bekerja menyetir truknya dalam kondisi sekarang? Apalagi katanya jalan menuju daerah itu curam." Aku menatap tak mengerti pada bang Rusip yang berkacak pinggang menatap ujung jalan kosong nan lengang, seolah tak ada hawa kehidupan di sana.
Umi tampak menelan ludah, baru sadar.
"Tenang saja, orang gila itu akan datang," jawab bang Rusip santai.
"Dari mana datangnya keyakinan, Abang tu?" tanyaku bingung.
Bang Rusip menyeringai kecil. "Kau tak tau Abang ni, Nadira?"
Aku menggeleng. Macam mana aku tau? Mengenal bang Rusip saja baru beberapa hari ini. Memangnya aku cenayang? Sehebat itu.
"Nah itu," Bang Rusip menunjuk ke ujung jalan. Aku dan Umi langsung melongokkan kepala, "yang kita tunggu datang."
Kami berdua serentak kaget, tergoncang d**a rasanya melihat truk hijau itu semakin mendekat. Benar-benar ada orang gila!? Dan yang lebih mengangetkan lagi, dari mana bang Rusip tau orang gila itu pasti datang!?
Umi segera mengangkat barang-barang yang bisa diangkatnya, aku ikut mengangkat pula.
Sopir gila pengemudi truk hijau itu langsung melompat turun dari kemudi, membantu memasukkan barang bawaan kami ke dalam bak truknya. "Lama tidak bertemu denganmu, Sip!"
"Aku senang melihatmu masih jadi orang gila, Nang!"
Mereka tertawa gelak bersama.
Aku dan Umi yang bertanya-tanya apa hubungannya bang Rusip dan abang gila itu memilih diam sejenak, mengangkut barang-barang ke dalam bak truk tanpa ikut tertawa dengan mereka.
Kami diajaknya duduk di depan, berempat berdempetan macam keluarga kecil yang tamasya di mobil sempit saja, karena belakangnya penuh barang bawaan.
Abang gila itu menyetir dengan cekatan, macam orang pro. Gesit dia membanting setir melewati setiap belokan yang berukuran pas dengan tubuh truk. Satu kata dariku. Mengesankan! Tapi tubuh kami terpontang-panting dibuatnya. Kepalaku sampai membentur kepala bang Rusip 9 kali, kepala Umi 5 kali. Karena aku duduk di tengah-tengah kedua orang itu, di samping kursi kemudi. Apes. Sial. Sakit.
Dua kata dariku selanjutnya untuk abang gila. Orang Gila! Ya, dia benar-benar gila, bisa mengemudikan truk besar melewati belokan tajam yang retak pula berkat goncangan gempa bumi dengan selamat sampai tujuan tanpa takut mati.
Aku sempoyongan saat melompat dari mobil, ini lebih memabukkan dari naik kendaraan darat berjam-jam disusul kendaraan laut berjam-jam pula dengan ombak luar binasa. Tak pernah kubayangkan bahwa truk semenyeramkan ini. Atau mungkin, truk hijau ini satu-satunya truk yang paling menyeramkan di muka bumi dengan sopir orang gila.
"Kau tak apa-apa, Dik?" tanya abang gila, melihatku yang berjalan bukan dengan tubuh tegak lurus, tapi lunglai kiri kanan.
Aku melambaikan tangan, tidak apa-apa.
Umi bahkan belum turun dari mobil, bersender dia di kursi, mengatur nafasnya berkali-kali, bibirnya komat-kamit merapal do'a. Tampaknya Umi mengalami semacam trauma perjalanan. Bang Rusip berkacak pinggang melihatnya, ingin berceloteh tapi ditahannya.
Aku dan abang gila menurunkan barang-barang bawaan, rumah pengungsian yang dipasangi tenda biru dan kuning sudah di depan mata. Kulihat anak-anak kecil berlari-lari menghampiri kami. Aku tersenyum tipis, tampaknya mereka senang-senang saja. Syukurlah mereka baik-baik saja.
"Karena anak kecil masih belum tau seberapa menderitanya setiap manusia karena bencana alam, Dik. Tapi itu hal yang baik, tak usah mereka ikut bersedih hati pula, cukup tertawa dan bermain bersama seperti itu, karena kebahagiaan bisa menular. Anak kecil adalah senyuman untuk setiap orang dewasa. Dan orang dewasa adalah keamanan dan kenyamanan bagi setiap anak-anak."
Mataku membulat sempurna melihat abang gila yang tiba-tiba berbicara padaku, seolah dia baru saja menebak apa yang kupikirkan. Mengerikan. Tapi kata-katanya mengesankan.
"Abang warga sini?" tanyaku memulai pembicaraan untuk pertama kalinya.
"Iya. Kenapa? Naksir?"
Aku menyeringai datar.
"Kenapa bisa kenal bang Rusip?"
"Karena dia pernah main ke kampung ini sama teman-temannya. Ah, bukan main, katanya kakak en en apa gitu." Abang gila tampak berusaha mengingat-ingat. "Itu loh, yang banyak mahasiswanya, yang tiap kumpul-kumpul pakai jas warna sama."
"Oh KKN."
"Ah iya! Kakak En!"
"Eh?"
"Sampai sekarang Abang masih tidak tau, kenapa nama kegiatan mereka seaneh itu. Memangnya En itu kakaknya apa sih?"
Aku tersenyum tipis.