Bab Penjelasan

1231 Words
Barang-barang yang kami bawa langsung diserahkan pada panitia yang bertanggung jawab di rumah pengungsian. Kedatangan kami bertiga disambut dengan baik dan hangat, di tengah keadaan para warga yang tidak baik-baik saja. Banyak kulihat para warga di sini yang sibuk bermenung, menatap apa saja yang ada di depan mereka, ada pula yang menunduk atau menengadahkan kepala menatap langit-langit, meratapi takdir mereka semua atas musibah besar ini. Mencari siapa yang harus disalahkan untuk sekedar mengangkat beban yang membawa sesak d**a. Anak-anak warga di sini mengajakku dan Umi bermain bersama. Umi tersenyum tipis dengan muka pucat, menggeleng ringan dan meminta maaf pada anak-anak yang mendengus kecewa, tak dapat kakak main yang baru. "Kalian mau main apa?" tanyaku tersenyum ramah. "Main petak umpet!" sahut yang lain. "Jangan, terlalu mudah di sini. Kita main kejar-kejaran saja!" tambah yang lainnya. Aku tersenyum tipis. Mereka tak henti-hentinya mengusulkan permainan yang terlintas di kepala mereka-- tentu saja banyak permainan yang tak kupahami, ada pula bahasanya yang membuatku seperti tidak berada di negeriku sendiri. Asing sekali. "Gini aja... gimana kalau kita main guru-guru an?" usulku ikut bersemangat melihat anak-anak ini. Mereka saling pandang, menimbang-nimbang. Aku tersenyum kaku melihat anak-anak ini yang kritis sekali memilih permainan, berpikir keras sekali mereka menimbang usulanku, memasang wajah serius. Jengkel? Tentu. Rasanya aku dilecehkan oleh anak-anak ini. Walau aku sendiri tau, mereka tidak bermaksud melakukan itu. "Kalau main guru-guru an bukankah lebih asik kalau sama kakakmu, Neng?" tanya salah seorang anak pada temannya yang ikut berpikir kritis dengan muka serius. "Eh kenapa?" tanya si anak tak paham maksud temannya. "Kakakmu kan pintar." Gadis kecil itu tersenyum tipis dengan sorot mata sayu. "Kakakku sepertinya tidak bisa bermain saat ini." "Kenapa? Bukanlah kakakmu senang diajak main guru-guru an?!" kaget di anak. Kawan-kawannya yang lain ikut menganggukkan kepala, menyetujui. Gadis kecil itu kembali menggeleng dengan senyum tipis. Jelas dia memikirkan dan mengkhawatirkan kakaknya, tampaknya ada sesuatu dengan kakaknya itu. "Dik, kakakmu usia berapa?" tanyaku sambil menekuk lutut, menyamai tinggi gadis kecil itu. Si gadis kecil menelengkan kepalanya, menatapku. "Sepertinya sebaya dengan kakak," jawabnya dengan senyum polos. "Di mana kakakmu sekarang?" "Hmm..." gadis kecil itu menoleh ke kerumunan orang-orang yang berada di meja panitia, antre pakaian yang kami bawa tadi. Lanjut dia melirik sisi yang berlawanan, menoleh depan belakang macam anak hilang. "Sepertinya masih di dalam tenda," jawabnya kemudian, menarik kesimpulan sendiri karena tak melihat kakaknya sepanjang tadi. Sebelum permainan diputuskan, anak-anak ini dipanggil oleh keluarga mereka, mungkin menyuruh mereka bebersih dan mengganti pakaian. Mereka melambaikan tangan padaku, tak lupa mengajakku bermain sore nanti. Aku balas melambai. Berbalik menghampiri Umi dan bang Rusip, di tenda kami yang baru selesai dibangun bang Rusip, tampak masih ada abang sopir gila itu, entah siapalah namanya. Kalau tak salah ingat, bang Rusip memanggilnya 'Nang' mungkin namanya Nanang, Bonang, atau barangkali Rengginang. Maaf abang gila, aku tidak bermaksud melecehkan nama abang. "Umi baik-baik saja kan, Bang?" tanyaku pada bang Rusip yang sedang mengipas-ngipasi Umi yang tertidur lelah di atas alas tikar dengan bantal bermodalkan tas berisi barang bawaan Umi sendiri. "Menurutmu?" Bang Rusip balas bertanya. Mendengus. "Sudah kubilang aku tidak bisa pergi bersama 2 gadis, tapi kalian malah bersikukuh. Beginilah jadinya, mengangkat barang saja tidak bisa, malah dia sendiri yang diangkat ke sini." Menggerutu bang Rusip dibuatnya. "Bang, kenapa malah Abang yang mereka tersiksa begini? Bukannya Umi jadi pucat basi lelah tak bertenaga karena teman Abang itu?" tanyaku sambil melirik abang gila yang sedang bercakap dengan teman sebayanya. "Perut dan kepala siapa yang tak akan sakit setelah merasakan goncangan mobil yang melebihi skala gempa bumi itu?" Bang Rusip melirikku dari atas sampai bawah dengan kening berkernyit, tangan terus mengipasi Umi. "Perut dan kepala kau, aku, dan temanku itu," jawab bang Rusip benar. Tapi bukan itu maksud perkataanku. Aku tersenyum masam mendengarnya. Ambil duduk di sebelah Umi. "Hei Nadira, daripada kau nganggur, kau bantu panitia di sana. Atau keliling-keliling rumah pengusian ini lihat keadaan warga, jika kau nekat kau boleh keliling daerah sini, lihat-lihat. Mana tau ada orang yang masih nekad berdiam di rumah mereka yang sudah luluh lantah itu, tapi ingat, ini berbahaya, kita tidak tau apa ada gempa susulan, dan bangunan yang tak sepenuhnya hancur itu boleh jadi menghantammu tiba-tiba." Aku menelan ludah mendengar kata hantam itu. "Nang! Apa ada korban jiwa di sini!?" tanya bang Rusip berseru pada kawannya, abang sopir gila yang ternyata hilang di depan tenda tadi, tiba-tiba melangkah kembali dengan santai. Abang gila itu menggeleng. "Tidak ada, tapi yang luka parah banyak, sekarang ada di pos kesehatan. Rumah sakit kota terlalu banyak mendapat pasien, jadi tak semua bisa dilarikan ke sana." Aku menatap abang gila yang berdiri di depanku ini sambil menyeka peluh di lehernya. Mata kami berpapasan. Tiba-tiba si abang gila menyeringai kecil, berderet-deret gigi putihnya itu tampak. "Kenapa? Beneran naksir ya?" tanyanya penuh percaya diri. Aku menyeringai datar lagi, mengakhirinya dengan muka masam. "Bang, nama abang siapa ya? Nanang, Bonang, atau Rengginang kah?" tanyaku penasaran. Sampai tanpa sadar mengeluarkan apa yang tadi sempat kupikirkan. Opsi nama-nama aneh. Abang gila sampai tak berkedip mendengar pertanyaanku. Bang Rusip bahkan sampai lupa mengipasi Umi. "Ah maaf." Kututup mulutku cepat, langsung sadar sudah melecehkan nama seseorang secara terang-terangan. "Aku tidak bermaksu--" "Lanang. Lengkapnya Lanang Adiputra. Barangkali mungkin nanti nama abang berada satu tingkat di atas nama adik, jadi tolong ingat-ingat baik-baik ya." Abang gila itu kembali menyeringai lebar. Lebih lebar malahan. Aku memaksakan senyum, satu atas perasaan bersalah karena melecehkan namanya yang ternyata cukup bagus itu. Dearahble. Jadi tak enaklah rasanya jika aku memasang muka datar atau jijik atas sambungan kalimat tidak pentingnya tadi. Dua, atas senyum lebarnya yang menyenangkan untuk dipandang. "Woi sadar Nang! Nadira masih 18 tahun, kau ketuaan untuknya!" seru bang Rusip mengingatkan. Menggeleng-gelengkan kepalanya, kembali mengipasi Umi yang tidur macam orang pingsan. "Jodoh ndak ada yang tau, Sip. Ndak melihat status dan usia juga," balas bang Lanang dengan muka mencibir bang Rusip. "Macam Nadira mau sama kau saja!" lanjut bang Rusip, mencari-cari celah mematahkan bang Lanang. "Cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu, Sip." Ada saja jawaban abang gila satu itu. Tapi bodo amatlah. Sejak mereka memperdebatkan hal itu, aku sudah duluan meninggalkan tenda, pergi mengelilingi daerah ini, sebuah pulau kecil yang berada di batas negeri tercintaku. Bagaimana penampakan di perkampungan sederhana yang dipenuhi oleh orang-orang yang cukup unik? Ada seorang pemuda gila yang terlampau percaya diri, juga anak-anak kecil yang amat kritis dalam menentukan permainan, memasang muka serius melebihi para anggota DPR yang sedang rapat membuat keputusan. Sejauh aku melangkahkan kaki, banyak kulihat kayu tripleks, bata, beton dan atap-atap seng bersama kursi-kursi plastik yang plastik-plastiknya sudah banyak yang terkelupas dengan warnanya sudah memudar. Rumah-rumah sederhana mereka dari setengah bata dan tripleks hancur digoncangkan gempa, ikut menghancurkan barang-barang mereka. Tapi semuanya tidak lebih berarti dari nyawa yang mereka semua miliki dan para keluarga yang selamat. Langkahku terhenti di tepi jalan tanah, keningku berkernyit demi melihat sosok yang duduk di pelataran yang dipenuhi beton-beton amburadul dan puing-puing bangunan yang berserakan ke mana-mana. Seorang gadis duduk di sana, menatap kosong ke sepedanya yang tergeletak di depan jalan tanah. Aku berjalan mendekat, memastikan apa gadis yang tampaknya sebaya denganku itu baik-baik saja. Aneh sekali melihat penampakan seorang gadis bermenung di tempat yang sepi dengan keadaan tempat seperti sekarang ini. Catatan Penulis: Karena cerita ini sudah 3 bulan lebih tidak update jadi sekarang otomatis diubah statusnya jadi tamat oleh sistem. Karena itu tidak akan update lagi. Mohon maaf kepada pembaca yang menunggu kelanjutannya. Mungkin kita dapat bertemu di lain kesempatan. Terima kasih.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD