My Boss - 08

918 Words
Seberkas cahaya nampaknya tak memberi kesempatan bagi seorang gadis berambut ikal untuk menikmati sedikit tidur panjangnya. Tunggu! Tidur panjang? Mata Laura yang semula enggan terbuka, kini mulai melebarkan kelopaknya. Gadis itu membuka matanya perlahan dan terlihat buram? Oh, ia lupa memakai kacamata kudanya ternyata. Bodoh sekali bukan. Tangan gadis itu meraba ke sampingnya berharap ia menemukan alat bantu penglihatannya itu. Dan benar saja, ia menemukannya tepat di sebelah bantal yang ia gunakan. Dengan posisi yang tengkurap dan kepala miring ia mampu melihat sebuah jendela kaca dengan tirai menjuntai di depan sana. 'Apakah ini surga?' pikir Laura bertanya-tanya dalam hatinya. Gadis itu berpikir keras bahkan keningnya sampai mengkerut. Jika ia ada di surga, bukankah seharusnya ia berada di gurun yang hijau? Di alam bebas dengan pepohonan atau bunga indah di sekitarnya seperti gambaran di film-film. Tapi mengapa saat ini ia seperti berada di sebuah kamar? Apakah ia mendapatkan tempat VIP? Oh, pemikiran bodoh sekali. Gadis itu menolehkan kepalanya ke arah yang lain. Ia sedikit terkejut mendapati seseorang yang duduk di sebuah sofa tak jauh ranjang. Sesaat kemudian gadis itu tersenyum kecil. ‘Hah, gila! Bahkan di surga saja aku masih terbayang melihat wajah tampannya.’ ujarnya dalam hati ketika ia melihat Theo Robinson sedang duduk di depan sana sembari memainkan ponsel pintar milik pria itu. Merasa ada yang mengawasi sontak Theo membuka suara dengan mata yang masih fokus terhadapa ponsel pintarnya. “Apa kau akan terus memandangku seperti itu?” suara yang begitu dingin menyapa rungu Laura. Mata Laura membulat merasa terkejut ketika object tampan bakal dewa di depan sana mengeluarkan suaranya. Namun nyatanya hal itu tak segera menyadarkan kembali kewarasan gadis berambut ikal itu. Bibir merah cherry nya terlihat mengerucut. ‘Ck, bahkan di akhirat pun dia masih sedingin itu padaku? Laura Martinez di mana-mana kau sangat menyedihkan bukan?’ runtuknya dalam hati. Pertanyaannya tak segera membuat gadis merepotkan itu sadar, akhrinya Theo mulai mendongakkan kepalanya dari ponselnya, matanya menatap remeh dan malas pada Laura. Ia berdiri dari duduknya sembari menyimpan ponsel pintar itu di saku kiri celana sekolahnya. Pria itu berjalan mendekat, membuat Laura itu kembali mengkhayal begitu tinggi. 'Apakah ia akan mendapat sebuah ciuman seperti film disney putri tidur?'. Sial, membayangkannya saja sudah membuat kedua pipi gadis itu merona dan dengan tak tahu dirinya Laura kembali memejamkan mata. Theo melongo melihat gadis yang sebenarnya sangat ia hindari itu kini justru memejamkan matanya. Pria muda itu menggeram, dengan sekali tarik akhrinya Theo mampu membangunkan Laura. Membuat gadis itu terduduk dan menatap terkejut ke arahnya. “Apa pingsan selama 6 jam membuatmu tuli, bisu, sekaligus gila?” geram Theo sembari menatap Laura dengan kesal. Angan indah yang berputar di kepala Laura hilang begitu saja ketika mendapati Theo tengah menatap sengit kepada dirinya. Bahkan pria itu mencengkramnya dan terasa nyata. “K… Kau nyata?” tanya Laura dengan wajah bodohnya. Pertanyaan konyol yang Laura lontarkan membuat Theo berdecak kesal. Melepaskan cengkeramannya pada kedua tubuh gadis itu. “Kau pikir aku apa? Hantu? Ck, i***t!” ucapnya sembari menjitak kening Laura hingga membuat gadis itu meringis sakit. “Cepat bangun dan keluar dari kamarku, Nerd! Kau pikir, aku akan tetap berbaik hati membiarkanmu leluasa tidur di atas ranjangku?” ujar Theo yang sudah kembali menegakkan tubuhnya. Laura masih belum bisa mencerna semuanya, meskipun sudah mendapat jitakan dari Theo, nyatanya otaknya itu masih mencoba menyangkal jika dirinya masih hidup. “Tu.. Tunggu! Bagaimana aku bisa berakhir di sini?” ujar Laura dengan tampang bodohnya. “Bukankah aku sudah mati?” ujarnya sekal lagi dan membuat Theo kembali berdecak kesal. “Mati katamu?” ucapnya sembari menggeram. “YAK! KAU HARUS MEMBAYAR MAHAL ATAS APA YANG SUDAH AKU LAKUKAN PADAMU, SIALAN!” teriak Theo sembari mencengkeram kerah seragam Laura. Oh, pria muda benar-benar marah saat ini. Hatinya merasa dongkol, mengapa ia harus berurusan dengan gadis-gadis i***t akhir-akhir ini. Melihat Laura yang bergetar ketakutan, mebuat Theo melepaskan cengkeramannya. Mungkin gadis itu masih trauma karena kejadian di atap sekolah tadi. Theo memejamkan matanya sejenak, lalu menghela nafasnya panjang. “Lenganku nyaris patah, ketika harus mengangkat tubuhmu itu!” sindirnya menatap malas ke arah Laura. Mata bulat milik Laura melebar. "Apa?" pekiknya tiba-tiba. Membuat Theo berjingkat mundur karena teriakan melengking merusak indra pendengaran itu. Mengerjap-kerjapkan matanya polos, Laura kembali bertanya memastikan. “Ja... Jadi, kau yang menyelamatkanku?” “Kau pikir siapa lagi? Ultraman?” balas Theo dengan kesal.  “Bodoh!” ucap Theo begitu ketus. Jika suara detak jantung bisa di dengar maka suara detak jantung Laura sudah seperti dentuman musik keras konser boygrup papan atas. Di tolong dan di gendong oleh pangeran sekolah, mimpi apa dirinya semalam. Layaknya setelah bertemu dengan iblis jahat dan di tolong oleh seorang dewa tampan. Sangat beruntung bukan? “Te.. Terima kasih, Theo Robinson.” Cicit Laura dengan sedikit malu. Oh, sungguh bodoh sekali dirinya ini. Bagaimana bisa ia tidak segera sadar, rasanya ingin menenggelamkan diri ke palung mariana. “Itu tidak gratis,” sahut Theo. “Huh?” “Tentu saja kau harus membayarku,” balas Theo dengan suara dinginnya yang khas. Mata Laura terbelak kembali, “Ta.. Tapi aku tidak punya uang," ujarnya. Theo kembali berdecak. “Bukan dengan uang, stupid.” Balasnya sembari tersenyum miring. Pria muda itu tiba-tiba saja bergerak maju, kaki kirinya mulai naik ke atas ranjang, membuat Laura nyaris kehilangan nafas saat wajah mereka begitu dekat. Sungguh gadis itu bisa saja terkena serangan jantung karena melihat wajah pria tampan titisan dewa itu begitu dekat seperti ini. Terlebih lagi mendengar ucapan Theo setelahnya. “Tapi dengan tubuhmu,” bisik Theo tepat di depan wajah Laura. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD