“Memang anda siapa?” tanya Aurora lagi, sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatel.
“Iya anda memanggil saya, mangkaya saya kamari?” jawab Devandra.
“Saya Devandra, bukan nya anda menjerit memanggil saya?” tegas Devandra.
“Oh anda Devandra bukannya anda yang tadi memberikan kalung nama saya, oh teryata nama anda Devandra? Kebetulan sekali saya mau minta tolong kepada anda boleh?” minta Aurora.
“Iya saya Devandra, bantuan apa yang saya bisa kasih kepada anda?” ujar Devandra.
“Bisakah anda ikut saya menghadap Ketua BEM,” pinta Aurora.
“Lah mau ngapain kesana, gamau ah,” gumam Devandra.
“Hayo lah tolong saya, sekali ini aja saya minta tolong dan saya akan sangat berterimakasih sekali,” mohon Aurora.
“Gamau! Ngapain sih kesana lagian?” celetuk Devandra.
“Dih gitu banget hayo sih tolong in waktu gua bentar lagi, mohon banget dan gua bakal inget ini sampai kapanpun!” desak Aurora.
“Hmmm .... yaudah hayo dah,” dengan rasa terpaksa Devandra mengiyakan keinginan Aurora.
Setelah sampai di ruangan panitia dan mencari ketua bem sambil membawa bunga sepatu bersama Devandra
“Udah ketemu orang nya, yaudah lakukan lah yang harus kamu lakukan! Di depan saya habis itu baru selesai tugasmu! Tegas ketua BEM.
“Gabisa gausah gitu, aku malu kak!” rintih Aurora.
“Udah cepetan gausah nawar-nawar itu hukuman kamu! Lakukan saja daripada kamu mengeluh begini tugas mu ga akan selesai dan hukumanmu akan di tambah!” tegas ketua BEM.
Devandra yang kebinggungan dengan manusia dua itu sedan membahas apa hanya bisa diam sambil berfikir dan bertanya dalam hati tugas apa yang sebenarnya di suruh dan ada hubungan apa dengan saya, secara mendadak Devandra di kejutkan dengan ungkapan yang keluar dari mulut Aurora.
“saya tau, saya ga kenal dengan anda tapi saya hanya melakukan tugas yang di berikan ketua BEM kepada saya, saya mohon maaf karena tidak menjelaskan terlebih dahulu kepada anda karena saya tau anda pasti menolak,” lirih Aurora
“Terimalah bunga sepatu ini sebagai pernyataan cinta saya kepada anda! Anggap saja pernyataan cinta saya ini menjadi pernyataan saya mengajak anda untuk bersahabat,” rintih Aurora.
“Hmmm .... yasudah semua sudah terjadi tidak ada yang perlu di selesaikan lagi, saya terima dan saya pamit!”
Devandra bergegas keluar ruangan mencari teman-teman untuk ngajak pulang dan menyelesaikan teka-teki panitia BEM untuk besok di bawa ke kampus sambil mencerna kejadian hari ini yang menurut nya tidak masuk akal dan sangat memalukan baginya.
“Mimpi apa gimana sih gua! Ga habis fikir bisa-bisanya dia begitu ngajak berteman tapi ga ngasih tau nama dia! Minta tolong tapi ngajak ribut ga nyangka itu cewek seberani itu juga ya dia! Salut juga tapi gila aja gua jadi kelinci korban kenekatannya dia?!” bisik Devandra.
Di sisi lain Aurora merasa bersalah kepada Devandra melihat respon sangat singkat ada perasaan tidak enak di dalam hati Aurora berusaha menjelaskan maksudnya dan mengejar Devandra tapi usahanya sia-sia langkah Devandra terlalu cepat sehingga Aurora kehilangan jejak.
“Yasudah kak, saya pamit dulu ya makasih!” gumam Aurora.
“Kemana ya anak itu? Cepat banget jalannya! Salah gua juga sih nyari perkara udah di bantuin malah malu-maluin dia lagi ya allah ” sesal Aurora.
“Duh maaf in gua sih, gua ga ada niatan apa-apa kok, gua cuman mau nyelesain tugas aja ga lebih! Iya sih gua salah tapi gimana caranya gua ngebujuk elu?” batin Aurora.
Sesampai dirumah Aurora memasang muka lesu menandakan bahwa fikirannya bercampuk aduk memikirkan laki-laki yang di permalukannya.
“Hey nak, ada apa? Kenapa mukamu lesu begitu?! Apa yang terjadi di kampusmu?!” tanya Carissa.
“Ahhhh gapapa mom, lagi pusing aja mom! Dah ya mom Aurora mau ke kamar dulu aja mom!” pinta Aurora sambil berjalan menuju ke kamarnya.
Detik berganti menit berganti jam berganti hari itu menandakan mereka harus bergegas melakukan aktivitasnya di pagi hari, Aurora berkemas baju karena akan menginap selama 3 hari di kampus tidak lupa juga Aurora izin kepada momy dan dadynya.
“mom, dad aku izin menginap 3 hari di kampus ya mom! Dad mau ke kantor kan sekalian anter aku ke kampus ya dad! Males bawa kendaraan sendiri!” pinta Aurora.
“Barang-barang yang kamu butuhkan udah kamu siapkan semua belum Ra? Yaudah sekarang kamu makan dulu! Biar perutmu ga kosong! Dan semalem gimana kenapa kamu terlihat BT begitu,” tanya Carissa.
“Iya daddy mau ke kantor! Tapi kenapa kamu gamau bawa motor kamu? Bukannya ada motor lebih enak ya? Ga harus menunggu nanti pas pulang dan saat ada keperluan mendadak kan gampang!” usul Ganendra.
“Gapapa dad, kalo lagi ga pengen aja! Lagi pengen ngerepotin daddy! Jadi gaboleh nih? Udah semua kok mom, ohh semalem itu ya ....., sudahlah mom gausah di bahas abaikan aja, Aurora udah selesai makan mom! Dad hayo pergi kita sekarang!
“Yailah ini anak kebiasan bener, yaudah dad udah belum cepetan tuh anak nya nungguin sambil merengut-merengut!” ledek Carissa.
“Ihh momy mah malah ngeledekin!” renggek Aurora.
“Udah dad ayo kita pergi aja tinggalin momy! Nakal momy mah ngeledek terus kerjaanya!” usul Aurora.
“Ahahahahhaha kamu ini! Masih ga paham juga sama sifat momymu?!yaudah ayo kita berangkat,” ajak Ganendra.
“Dah mom!” ucap Aurora dan Ganendra bersamaan.
“Dah kalian hati-hati di jalan,”
Beberapa menit di perjalanan akhirnya sampailah di depan Universitas Gunadarma aurorapun turun dari mobil tidak lupa berpamitan kepada dady.
“Dad, Aurora masuk dulu ya!” ujar Aurora.
“Iya nak, semangat ya!” jawab Ganendra.
Ganendra lalu pergi menginjak pedal gas yang perlahan menjauh, secara tidak sengaja Devandra melihat Aurora yang berjalan sendirian masuk kedalem kampus namun Devandra mengabaikannya sambil berkata dalam hati.
“Lah itu kan cewek yang kemarin bikin malu! Perasaan sering banget ketemu sama itu orang? Dunia sempit amat sih!” gumam Devandra dalam hati sambil terus menjalankan sepeda motor miliknya.
Sudah waktunya untuk mereka semua melanjutkan ospek yang tertunda. Seluruh panitia sudah siap untuk memulai eksekusi.
“Kita sudah melewati 3 hari ospek dan sekarang kita berada di tahap akhir karena setelah ini selesai sudah tugas kami! Silakan membuat kelompok terlebih dahulu! Tidak boleh anak satu fakultas semua ya? Haris berbaur sama siapapun! Oke guys,” Kata ketua BEM.
“Oke yang pertama-tama kalian lakukan adalah memilih ketua dan wakil ketua untuk tim kalian! Lalu buatlah yel-yel yang bermakna seperti moto kalian! Laksanakan sekarang! Waktu kalian 20 menit dari sekarang,” Perintah ketua BEM.
Tidak disangka teryata Aurora satu tim bersama Devandra namun keadaan menjadi canggung dan sangat menyebalakan bisa berada di situasi ini! Dengan berat hati Aurora mengajak ngobrol ke lebih dulu.
“Lah Dev!” sapa Aurora.
“Di tim benalu juga,” tanya Aurora lagi.
“Anda berbicara kepada saya?” jawab Devandra sambil melirik sinis Aurora lalu.
“Tidak! Saya mau pindah tim saja!” gerutu Devandra.
||bersambung.......||