“Hmm .... tau aja apa yang gua pengen!” batin Aurora.
“Iya mom itu punya Aurora!” ujar Aurora.
“Yaudah nih,” ucap Carissa sambil memberikan coffenya.
Lalu Carissa pergi ke kamarnya dan melihat suaminya yang sedang sibuk membaca buku.
“Daddy baca buka apa?” tanya Carissa.
“Ini lagi baca tentang kesehatan mom!” jawab Ganendra.
“Oh tumben ...., biasanya buku bisnis terus yang di baca!” ucap Carissa.
“Hmm ... dad bye the why kamu udah pernah Ketemu Garvi belum semenjak dia pulang dari london!” papar Carissa.
“ Belum mom hehehehe!” cenggir Ganendra.
“Jih daddy tuh gimana sih! Masa iya ngejodohin anaknya tapi jodoh buat anaknya aja belum tau gimana bentukanya,” papar Carissa.
“Kan udah tau mom, masa iya lupa!” protes Ganendra.
“Ya kan itu udah lama! Kamu emang ga mau basa basi sama calon menantu!” ungkap Carissa.
“Yaudah sih kan masih lama lagian Aurora belum lulus! Masih 1 Tahun lagi,” tukas Ganendra.
“1 tahun lagi itu sebentar lho dad! Yaudah gimana kalo kita obrolin nanti sama Manendra, mau gimana mereka kedepannya!” usul Carissa.
“Yaudah nanti lah! Nanti aku ketemu sama Manendra besok! Sekalian ngomong in Aurora dan garvi,” tutur Manendra.
Setelah berbincang-bincang Carissa dan Ganendrapun merebahkan tubuh mereka di kasur dan tertidur karena waktu sudah menunjukan pukul 23.00 wib.
Matahari sudah menunjukan dirinya dan semua orang memulai hari barunya dengan berbagai perasaan yang tak terduga ada yang memulai dengan senyuman manis ada pula yang bermalas-malasan.
Setelah sampai di kampus para mahasiswa di sibukan dengan pemberitahuan kepala produktif untuk magang di perusahaan yang sudah di tentukan.
Kepala produktif dari tiap jurusan memberikan tugas untuk bersiap-siap menyiapkan keperluan mereka selama magang di semester ini.
“Yah perasan baru aja ketemu sama kamu Aurel ...., udah berpisah lagi aja kita!” protes Aurora.
“Iya ya mana beda perusahaan pula,” sahut Aurel.
“Oke sekarang kalian pergi ke perusahaan tempat kalian di tugaskan alamatnya tertera di surat tugas ya!” ucap dosen.
Lalu semua mahasiswa yang di sibukan dengan tugas magang pergi per kelompok menuju perusahaan yang sudah di suruh.
Siapa sangka teryata Aurora di tempatkan di perusahaan Garvi. Namun tidak ada yang menyadarinya kecuali Devandra.
“Aurel ....! kamu di tempatkan di perusahaan apa Rel?” tanya Aurora.
“Gua di Pharos Ra, kalo kamu diman Ra?” ucap Aurel.
“Gua di perusahan kecantikan Naraskin Rel,” tutur Aurora.
“Yah yaudah deh yuk kita berangkat sekarang aja nanti keburu malem kita berpisah di sini bearti ya!” ujar Aurel.
“Iya yaudah kamu hati-hati ya Rel! Sampai bertemu besok,” tutur Aurora sambil melambaikan tangan.
Aurel dan Aurora pun berpisah di parkiran lalu mereka melanjutkan aktivitas mereka masing-masing dan menyelesaikan tugasnya.
Di tempat lain Ganendra yang sedang sibuk meeting dengan para staff perusahaannya membahas mengenai event yang akan di adakan minggu depan, tiba-tiba kepalanya terasa sangat sakit seperti di hantam batu besar! Sehingga membuat Ganendra terdiam sejenak.
Lalu ganendra tidak bisa menahan lagi rasa sakit yang ada di kepalanya sehingga membuatnya membubarkan meeting hari ini dan dia pergi ke ruangannya untuk mencari obat sakit kepala yang di beli di apotek.
Namun Ganendra sudah banyak sekali meminum banyak jenis obat sakit kepala namun tidak ada yang ampuh untuk meredakan rasa sakitnya.
“Sebenarnya sakit apa yang aku alamin, mengapa semua obat sakit kepala tidak ada yang ampuh, justru semakin hari semakin bertambah parah rasa sakitnya!” batin Ganendra.
“Apa aku harus periksa ke dokter? Tapi kalo sakitnya penyakit berat gimana? Aku masih belum siap untuk memberitahukan kepada anak dan istriku,” gumam Ganendra.
~SMS~
“Pak ada dimana? Bisa ke kantor sekarang? Saya ada keperluan!” perintah Ganendra.
“Oh ini saya di rumah baru sampai habis nganterin nyoya, okay baiklah kalau seperti itu saya langsung on the why menuju kantor pak!” balas supir.
Bermenit-menit ganendra menunggu supir sambil menahan rasa sakit di kepalanya sampai akhirnya supir yang di tunggi sedari tadi pun datang tanpa berlama-lama lagi Ganendra langsung menyuruh supir untuk ke Rumah sakit.
“Pak ke rumah sakit fatmawati ya ...!” perintah Ganendra.
“Iya siap pak,” jawab supir sambil menganggukan kepala.
Tidak ada obrolan apapun selama perjalanan menuju rumah sakit, supir sibuk memperhatikan jalan sedangkan Ganendra memikirkan penyakit yang memang dia rasakan bukan hanya sakit kepala biasa.
Hingga pada akhirnya Ganendra dan supirpun sampai di tempat tujuan tanpa berlama-lama lagi ganendra langsung turun dari mobil dan mendaftarkan dirinya ke bagian pendaftaran.
“Sakit apa pak? Mau ke umum atau sudah ada janji temu dengan dokternya pak?” tanya perawat.
“Ganendra ke umum aja sus!” jawab Ganendra.
“Ini no antrian nya ...., bapa tunggu di sebelah situ ya pak! Nanti di panggil no antrianya. jelas perawat.
“makasih sus,” jawab ganendra.
Di tempat lain ada Devandra yang terlihat khawatir karena Aurora tak juga memberi kabar tentang keberadaanya dimana sedari pagi.
Devandra merasa tidak mengerti dengan perasaanya mengapa Devandra seakan selalu memikirkan Aurora jelas-jelas Aurora tidak ingin memiliki ikatan kepada laki-laki manapun.
“Lu kemana sih Ra? Kenapa ga ngasih kabar sama sekali! Lu gatau gua nungguin lu dari tadi!” batin Devandra.
“Apa gua samperin aja kerumahnya tah! memastikan
Keberadaan Aurora.
Tidak berlama-lama lagi Devandra mengambil jaket lalu pergi mengendarai motor ninja miliknya menghampiri rumah Aurora hanya sekedar memastikannya saja.
“Gimana caranya gua tau ya ada Aurora atau ga di rumah,” ujar Devandra.
“Apa gua harus nyamar jadi tukang ojek aja kali ya? Guman Devandra dalam hati.
Setelah selesai berdebat dengan fikiranya Devandra langsung menuju rumah Aurora lalu memperhatian gerbang rumah Aurora.
Namun Devandra tak melihat siapa-siapa dari depan gerbang, lalu Devandra memutuskan untuk pulang kerumah dengan perasaannya yang tak bisa di jelaskan.
Di rumah sakit Ganendra masih saja menunggu giliran untuk di periksa, hingga pada akhirnya Ganendrapun di periksa namun hasil pemeriksaan membuat Ganendra tak berdaya.
“Pak gejala yang bapak alamin apa selain sakit kepala?” tanya dokter.
“saya sering susah untuk berbicara, sering banget ngerasa cepet cape, mual dan muntah dok!” tutur Ganendra.
“pak sekarang saya belum bisa memastikan, karena saya perlu memastikan dulu, nah sekarang bapa harus melakukan CT scan dulu! Gimana apakah bapak bersedia melakukanya?” jelas Dokter.
“Yaudah dok gapap!” ujar Ganendra.
Usai melakukan CT scan pada kepalanya Ganendra pun bergegas pulang karena memang sudah malam juga dan sudah pasti Carissa menunggunya di rumah.
Sesampainya rumah Ganendra justru di kejutkan dengan keberadaanya Aurora yang lecet-lecet.
“lho kamu kenapa nak? Kok bisa begini sh nak?” tanya Ganendra.
“Aurora jatuh dad keserempet motor, Aurora tuh mau nyalip eh motor depannya tiba-tiba belok! Habis Aurora pas di belakang itu motor dia malah pelan banget pas Aurora ke kanan ikut ke kanan yaudah Aurora ke kiri eh dia kekiri juga dong! Ya jadilah jatoh Aurora,” jelas Aurora.
||bersambung ...||