Kamu berhasil membuatku tertarik, namun kamu tidak berhasil membuatku jatuh cinta.
Soraya Bela
Bela meletakkan dua piring berisi nasi goreng lengkap dengan lalapan di atas meja makan. Ini adalah hari pertamanya menyiapkan sarapan untuk suaminya. Ya, kemarin dia dan Nuga telah melaksanakan pernikahan. Setelah melalui perkenalan singkat dan meyakinkan diri masing-masing, akhirnya keluarga Nuga melamarnya secara resmi. Dan dua bulan setelah acara lamaran mereka menikah. Tentu saja setelah Kakak Nuga menikah.
Semua terjadi begitu saja. Mereka seakan-akan mempercepat pernikahan. Memang, mereka mempercepat semuanya karena baik Nuga atau pun Bela tidak ingin berlama-lama menjalin hubungan yang tak ada kepastian. Mereka takut jika mereka akan gagal menikah lagi. Jadi, jika mereka sudah sama-sama yakin, lebih baik mereka mempercepat pernikahan mereka. Toh, hubungan pernikahan adalah hubungan yang baik. Akan jadi buruk jika mereka menunda pernikahan mereka.
Nuga keluar dari kamar. Seperti biasa, kaos oblong dibalut kemeja yang tidak dia kancingkan dan dipadankan dengan celana jins. Penampilan yang sangat sederhana namun malah memberi kesan yang istimewa. Siapa pun yang melihatnya pasti akan terpana. Ketampanannya tidak bisa diragukan lagi, apa lagi jika bibirnya menyunggingkan senyum, maka ketampanannya akan berlipat ganda.
"Kamu bikin sarapan?" tanya Nuga santai. Matanya menatap nasi goreng yang sudah tersaji di atas meja.
"Iya, aku sudah biasa sarapan nasi." Jawab Bela santai sambil tangannya menuangkan air ke dalam gelas.
"Aku sudah bikin kopi buat kamu." Kata Bela pelan.
"Terima kasih." Jawab Nuga lembut.
Nuga menyeruput kopi buatan istrinya. Seketika dia tersenyum karena rasa kopi buatan Bela pas di lidahnya. Tidak kemanisan atau kurang manis. Semua terasa begitu pas. Dia heran bagaimana Bela bisa membuat kopi yang cocok di lidahnya. Padahal dia tidak pernah mengatakan apapun kepada Bela dan ini adalah pertama kalinya Bela membuat kopi untuknya.
"Kopinya enak." Kata Nuga sambil tersenyum.
"Alhamdulillah." Jawab Bela dengan senyum tipis.
"Besok-besok kamu nggak usah repot bikin sarapan kayak gini. Aku kalo pagi biasanya cukup minum kopi sama roti aja." Kata Nuga pelan.
"Walaupun kamu sarapan roti aku juga tetap akan masak nasi, soalnya aku nggak bisa kalau nggak sarapan nasi." Jawab Bela sambil menyuapkan sesendok nasi goreng ke mulutnya.
Nuga tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Dia tetap menyuapkan sendok yang berisi nasi goreng ke mulutnya. Walaupun sebenarnya dia tidak bernafsu makan tapi dia tetap menghargai masakan istrinya. Dia tidak ingin terlihat seperti suami yang kurang bersyukur.
Mereka makan dalam diam. Masing-masing menikmati makanan mereka tanpa berbicara. Sesekali Nuga melirik istrinya yang nampak cuek saja. Bela nampak tidak peduli ketika Nuga menatapnya. Dia tetap asik makan sambil sesekali matanya menatap layar ponselnya.
"Hari ini kamu kemana?" tanya Nuga pelan.
"Seperti biasa. Aku akan ke kafe." Jawab Bela singkat.
"Rasanya kurang pantas jika pengantin baru pergi bekerja." Celoteh Nuga.
"Kenapa? Apa kita terlihat seperti pengantin baru?" tanya Bela sinis.
Nuga terdiam. Ya, mereka sama sekali tidak terlihat seperti pengantin baru. Apa lagi ketika mereka sudah sampai di rumah mereka, mereka seperti dua orang yang berbeda yang harus tinggal di satu rumah yang sama. Tidak ada kata manis atau perlakuan manis seperti halnya pengantin baru. Semuanya datar saja. Mereka seperti sedang mengikuti takdir. Takdir yang akan membawa mereka.
"Hari ini... emm kita bisa kencan atau sekedar menghabiskan waktu bersama di rumah." Kata Nuga memberi usulan.
"Aku harus cek kafe dulu. Ada beberapa hal yang harus aku cek." Kata Bela pelan.
"Biar aku antar." Kata Nuga dengan cepat.
Bela terdiam. Dia nampak sedang berpikir sejenak. Hingga akhirnya dia menyetujui tawaran Nuga.
"Boleh." Jawab Bela singkat.
"Okeh."
Bela naik ke atas motor Nuga. Tangannya seperti biasa dia lingkarkan di pinggang Nuga. Beberapa kali boncengan membuatnya tidak canggung untuk melingkarkan tangannya ke pinggang Nuga. Apa lagi sekarang mereka sudah menjadi pasangan suami istri, tidak ada lagi keraguan atau rasa sungkan Bela ketika bersikap lebih dekat dengan Nuga
Nuga melajukan motornya dengan santai. Udara pagi masih terasa segar walaupun sudah banyak polusi udara. Surabaya memang kota yang selalu padat kendaraan. Bahkan ketika ayam baru saja berkokok, sudah banyak orang yang mulai bekerja mencari nafkah.
"Aku ikut masuk ya." Kata Nuga pelan.
"Terserah." Jawab Bela singkat.
Nuga tersenyum lebar. Dia mengikuti istrinya masuk ke dalam kafe yang hanya menyediakan minuman dan cake. Kafe sederhana yang menjadi objek mencari nafkah untuk istrinya. Kafe sederhana yang selalu membuat Bela terlihat begitu sibuk dengan seluk beluknya.
"Selamat pagi." Kata Bela begitu dia masuk ke dalam kafe.
Semua karyawan yang sedang bersiap membukan kafe langsung menghentikan aktivitas mereka ketika mereka mendengar suara bosnya. Mereka langsung berjajar rapi seperti biasa. Bela tersenyum kecil dan setelah itu dia menaruh tasnya di atas meja.
"Saya tidak akan berlama-lama di sini. Pagi ini saya akan mengecek semua bahan produksi kita dan mengecek pesanan. Setelah itu saya akan pulang." Kata Bela ramah.
"Untuk beberapa hari ini, mungkin saya tidak bisa selalu berada di kafe. Dan kalian tau sendiri kan alasannya." Kata Bela lagi.
Semua pegawainya tersenyum kecil sambil menganggukkan kepalanya. Termasuk Nuga juga ikut tersenyum mendengar ucapan istrinya tadi. Namun dia menutup mulutnya dengan tangan dan matanya mengitari seluruh kafe itu.
"Jadi, saya mohon kerja sama kalian selama saya tidak memantau kafe ini secara langsung." Kata Bela lagi.
"Baik, Bu." Jawab pegawainya bersamaan.
"Baik, saya akan ke dapur dan kalian bisa melanjutkan pekerjaan kalian." Kata Bela dengan ramah.
"Baik, Bu." Jawab pegawai Bela dengan patuh.
Bela berjalan ke arah dapur dan membuka lemari yang digunakan untuk menyimpan bahan makanan. Dia mulai mengecek satu per satu bahan apa yang sudah habis dan harus segera diisi lagi. Karena dia tidak ingin menghambat aktivitas produksinya ketika bahan telat datang. Jadi, ketika bahannya hampir habis, dia langsung mengisi stoknya lagi.
Nuga memperhatikan semua sudut kafe milik istrinya itu. Satu objek pun tidak ada yang lewat dari pandangannya. Kafe yang memiliki konsep kekinian dengan menu yang trendy membuat kafe ini tidak pernah sepi pengunjung. Apalagi ada beberapa spot foto yang disediakan di kafe itu, membuat pengunjung bisa menikmati menu yang lezat sekalian bisa sambil berfoto. Tanpa Nuga sadari, secara tidak langsung dia begitu kagum dengan istrinya. Di usianya yang masih terbilang muda, dia sudah memiliki dua usaha yang berkembang dan bisa dibilang terkenal di kota mereka. Disaat seusia mereka sedang sibuk meniti karir di perusahaan, Bela lebih memilih membuka usaha dengan berbagai resiko yang bisa menghampirinya kapan saja. Akhirnya Nuga bisa menemukan kelebihan Bela yang tidak dimiliki oleh Riana.
"Aku tidak bisa menawarimu kue. Karna pegawaiku belum mulai produksi." Kata Bela pelan.
"Aku kan sudah sarapan, rasanya perutku sudah penuh." Jawab Nuga sambil mengusap perutnya.
Bela tersenyum sambil mengangguk. Kemudian dia memilih untuk diam. Dia bingung mau berkata apa. Karena memang dia bukan tipe perempuan yang banyak bicara, jadi sulit untuk dia memulai percakapan yang tidak penting. Apalagi itu dengan orang yang baru dikenal.
"Kita mampir ke studioku dulu ya. Karyawanku mengatakan jika foto pernikahan kita sudah jadi." Kata Nuga lembut.
"Sekarang saja kita kesana." Kata Bela lirih.
"Baiklah."
***
"Aku tidak pernah menyangka jika aku akan menikah dengan orang selain Vano." Gumam Bela pelan namun masih bisa didengar oleh Nuga.
Matanya menatap foto pernikahannya dengan Nuga yang dipajang di dinding ruang tamu. Foto yang sengaja dicetak dalam ukuran besar.
"Kita tidak bisa menebak takdir. Bahkan kita juga tidak akan tau apa yang akan terjadi setelah ini." Kata Nuga berkomentar.
Bela gelagapan sendiri mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya. Dia tidak menyangka jika ucapannya tadi bisa didengar oleh Nuga. Bela menudukkan kepalanya. Dia merasa malu dengan Nuga. Bukan hanya dia yang menikah karena patah hati, namun Nuga juga menikah karena patah hati. Dan Nuga bisa ikhlas menerima semuanya. Sedangkan dia terus saja mengeluh dan bersikap dia tidak rela dengan takdir yang sudah terjadi padanya.
Nuga memegang kedua tangan Bela. Seketika Bela mendongakkan kepalanya dan menghadap suaminya itu. Dia menatap manik mata hitam milik suaminya. Dia penasaran dengan apa yang akan dikatakan oleh suaminya. Tangannya terasa begitu erat digenggam oleh Nuga. Jantungnya seketika berdetak dengan begitu cepat.
"Aku tidak bisa menjanjikan kekayaan untuk kamu. Tapi, aku janji, aku akan selalu membuatmu bahagia. Aku akan menjadi obat dari semua sakit hati yang kamu rasakan. Aku tidak akan membiarkan setetes pun air mata jatuh ke pipimu, kalau pun kamu menangis, aku pastikan kamu hanya menangis karena bahagia." Kata Nuga lembut. Tangannya masih menggenggam tangan Bela dengan erat. Dia terlihat begitu bersungguh-sungguh mengatakan hal itu kepada istrinya.
Bela terdiam. Dia terpana dengan apa yang dikatakan oleh suaminya barusan. Bela tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Biasanya wanita akan bahagia atau langsung menghambur ke pelukan lelakinya ketika lelakinya mengatakan itu. Namun, Bela merasa bimbang. Dia takut jika dia akan dikhianati lagi. Vano dulu juga mengucapkan jika dia akan membahagiakannya, namun buktinya dia hanya mendapat luka dari Vano. Dan Bela takut jika dia terlalu percaya dengan Nuga dan akhirnya Nuga akan bersikap seperti Vano. Bela tidak ingin kembali merasakan sakit hati lagi.
"Aku tidak tau apakah aku harus percaya denganmu atau tidak." Kata Bela sambil menarik tangannya hingga terlepas dari genggaman tangan Nuga.
"Kamu hanya perlu melihat buktinya. Aku akan buktikan semua ucapanku barusan." Kata Nuga dengan yakin. Dia berusaha meyakinkan Bela. Dalam hati Nuga bersungguh-sungguh mengucapkan hal itu. Dia sudah bertekad jika dia akan menutup hatinya untuk Riana dan belajar membuka hatinya untuk Bela.
Bela mengangguk pelan. Bela berdoa jika apa yang dikatakan oleh Nuga bukanlah sebuah kebohongan tapi merupakan kesungguhan yang nantinya membuat Bela selalu bahagia hingga dia tidak lagi mengenal bagaimana rasanya terluka. Semua orang pasti mengidamkan hidup bahagia bersama orang yang mereka cintai. Sama, Bela juga mengidamkan hal itu. Dan mulai saat ini, Bela mencoba berdamai dengan takdir dan belajar membuka hati untuk Nuga. Toh, Nuga sendiri yang mengatakan jika dia siap menjadi obat untuk lara yang Bela rasakan. Semoga saja, takdir Allah setelah ini selalu menunjukkan takdir yang bahagia. Tidak ada lagi luka yang akan dirasakan oleh Bela.