Ada dua kemungkinan dari sebuah keputusan, yaitu keputusan yang tepat atau salah.
Soraya Bela
Bela duduk bersila dengan tangan yang memeluk toples berisi keripik pisang. Matanya memandang ke arah televisi yang menampilkan acara musik, mulutnya asik mengunyah keripik pisang yang tinggal setengah toples, tapi pikirannya sedang berkelana kemana-mana. Ucapan Nuga siang tadi masih terngiang-ngiang ditelinganya. Entah mengapa hatinya kembali goyah. Kemarin dia sudah mantap untuk menolak Nuga, tapi sekarang dia ingin memikirkan hal itu kembali.
"Kok bengong, kamu masih mikirin Vano itu?" tanya Yani pelan. Yani muncul dari dapur dengan tangan yang membawa dua gelas jus jeruk.
Bela menggelengkan kepalanya pelan. Matanya masih menatap ke layar televisi, posisinya pun tidak berubah sama sekali.
"Lalu?" tanya Yani singkat.
"Ada laki-laki yang melamar Bela." Kata Bela cepat. Dia sudah memutuskan untuk membicarakan hal ini dengan ibunya. Dia tidak bisa memutuskan masalah ini seorang diri, karena itu akan menyangkut tentang masa depannya kelak.
Yani melototkan matanya kaget. Dia tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan oleh anak tunggalnya itu. Yang dia tahu, Bela merasakan patah hati setelah dia dikhianati oleh sahabat dan kekasihnya. Dan Yani juga tahu jika selama ini Bela sangat menjaga hatinya untuk Vano bahkan dia rela menghindari lelaki yang berniat untuk mendekatinya. Namun, kenapa sekarang Bela tiba-tiba mengatakan jika ada laki-laki yang ingin melamarnya, lalu kapan mereka kenal? Apakah Bela hanya berandai-andai saja jika ada lelaki yang melamarnya? Yani menjadi takut jika memang Bela berandai-andai dan mulai terganggu pikirannya.
"Siapa?" tanya Yani dengan cepat. Dia sangat penasaran dengan cerita anaknya itu.
"Bela kurang tau." Jawab Bela asal.
Plak. Satu pukulan yang tidak terlalu keras melayang di lengan Bela. Hal itu membuat Bela mengaduh dan memandang Ibunya.
"Kok dipukul sih?" protes Bela.
"Kamu aneh-aneh saja." Kata Yani dengan kesal. "Bagaimana bisa kamu dilamar oleh laki-laki yang tidak kamu ketahui?"
Bela meletakkan toples keripik dan setelah itu dia mengambil gelas yang berisi jus jeruk dan meneguknya. Dia memandang Ibunya yang saat ini juga sedang memandangnya dengan intens.
"Memang itu kenyataannya. Kami baru 3 kali bertemu dan dia sudah melamar Bela." Kata Bela.
"Berapa lama kalian kenal?" tanya Yani tiba-tiba.
"Sekitar 2 minggu." Jawab Bela jujur.
"Lalu apa kamu berniat untuk menerimanya?" tanya Yani lagi.
Bela menghembuskan napasnya dengan keras. Dia merasa bingung harus menjawab apa. Dia sendiri merasa bimbang dengan keputusan yang akan dia ambil. Akalnya ingin menolak namun hatinya memintanya untuk memberikan kesempatan kepada Nuga. Toh, tidak semua laki-laki seburuk Vano.
"Sepertinya dia orang baik." Kata Bela.
"Jangan menilai orang dengan kata 'sepertinya'. Kamu harus benar-benar mengatakan dia lelaki baik atau bukan." Kata Yani mengingatkan.
"Allah mengirimkan jodoh kepada umatnya dengan cara yang berbeda dan dengan waktu yang tak sama. Beberapa orang bersatu dengan jodoh mereka setelah mereka berhubungan lama, tapi ada juga dengan waktu yang sangat singkat membuat mereka memutuskan untuk bersama." Kata Yani panjang lebar.
"Seperti kamu dengan Vano. Bertahun-tahun kalian menjalin hubungan, tapi kalian harus terpisah. Itu tandanya memang kalian belum berjodoh." Kata Yani lagi.
"Tidak ada yang tahu siapa jodoh kita. Bisa jadi lelaki itu adalah jodoh kamu. Jika hati kamu yakin dan mantap, sebaiknya terima saja lelaki itu. Urusan lama waktu kenalan tidak menjadi patokan untuk menyatukan sebuah hubungan." Kata Yani lagi.
Bela memandang Yani dengan lekat. Dia tidak menyangka jika Ibunya akan mengatakan hal seperti itu. Dia kira Ibunya akan banyak bertanya tentang Nuga, tapi ternyata dia salah. Kalau pun Ibunya bertanya banyak tentang Nuga, Belay akin jika dia tidak akan bisa menjawab karena memang dia tidak tahu bagaimana Nuga sebenarnya.
"Semua keputusan ada di tangan kamu. Memang Ibu menginginkan kamu untuk segera menikah, tapi Ibu tidak ingin kamu menikah dengan orang yang salah." Kata Yani menasehati.
"Dia orang yang tidak mudah menyerah, Bu. Dia memiliki tujuan yang membuatnya semangat untuk meraihnya." Kata Bela tiba-tiba.
Bela mengatakan hal itu bukan tanpa alasan. Dia mengamati lelaki itu dan berpendapat jika lelaki itu tidak mudah menyerah. Buktinya Nuga rela mencari keberadaannya dan konfirmasi tentang hubungan mereka. Hal itu juga membuat Bela berpikir jika Nuga benar-benar serius untuk menjali hubungan dengannya. Jika Nuga hanya main-main, mungkin dia tidak akan menemui Bela lagi.
"Dimana kalian kenal?" tanya Yani penasaran.
"Di pinggir danau. Itu di hari Bela dicampakkan oleh Vano dan Dina." Jawab Bela dengan jujur.
Yani menganggukkan kepalanya dengan pelan. Dia sangat tahu bagaimana keadaan saat Bela dicampakkan oleh Vano dulu. Dunianya serasa berhenti dan Bela tidak memiliki semangat hidup lagi.
"Jika hatimu memilihnya, Ibu akan mendukungmu. Semoga dia lelaki yang tepat untuk kamu." Kata Yani dengan lembut. Tangannya menggenggam tangan anaknya dengan erat. Bibirnya menyunggingkan senyum yang begitu tulus seakan-akan menyalurkan kelembutan kepada anaknya.
"Terima kasih, Bu." Jawab Bela sambil tersenyum.
Bela kembali memikirkan Nuga. Walaupun dia belum lama mengenal lelaki itu, tapi hatinya mengatakan jika lelaki itu adalah lelaki yang tepat untuknya. Ibunya benar, untuk bersatu dengan jodoh tidak perlu menunggu waktu yang lama untuk pengenalan, namun jika memang hati sudah mantap lebih baik dipercepat untuk bersatu. Lagi pula setelah menikah masih ada banyak waktu untuk saling mengenal.
***
"Bisa kita bertemu di Dream Kafe malam nanti?"
Bela mengirim pesan itu kepada Nuga. Setelah kemarin dia menghapus nomor itu dari kontaknya, tadi dia kembali menyimpan nomor itu. Bela sudah memikirkan ini matang-matang. Dia sudah memutuskan untuk menerima lamaran Nuga dan mencoba untuk melanjutkan hubungan mereka ke jenjang yang lebih serius. Karena memang tujuan hubungan mereka adalah pernikahan bukan hanya sekedar pacaran atau berteman.
"Bisa. Aku akan menunggumu jam 7 malam."
Bela membaca balasan pesan dari Nuga. Dia menyunggingkan bibirnya dengan tipis. Entah mengapa hatinya menjadi berdebar ketika membaca pesan itu. Bahkan, dia merasa berdebar ketika hanya membaca nama lelaki itu.
Bela melanjutkan pekerjaannya. Walaupun dia pemilik kafe dan restoran, namun dia tidak pernah berpangku tangan hanya menyuruh karyawannya saja. Dia ikut turun tangan menangani keadaan yang terjadi di kafe dan restorannya. Bahkan dia sering memproduksi sendiri menu yang dia hidangkan di kafe dan restorannya.
Ramainya pelanggan yang hadir di kafe dan restorannya membuat Bela merasa sedikit capek. Hal itu membuat Bela memutuskan untuk pulang lebih awal. Karena Bela pikir dia bisa istirahat sejenak sebelum bertemu dengan Nuga. Walau bagaimana pun juga, dia yang akan datang lebih awal dari pada Nuga karena dia yang mengajak Nuga bertemu.
Bela memejamkan matanya ketika jam dinding menunjuk pukul 5 sore. Dia rasa waktu satu jam cukup untuk membuatnya beristirahat sejenak. Setelah itu dia akan bersiap untuk menemui Nuga dan mengatakan keputusan yang sudah dia ambil.
Di lain tempat, seorang lelaki sedang sibuk mengutak atik kameranya. Dia seperti sedang memilih foto yang bagus untuk dia cetak dan setelah itu menghubungi kliennya jika foto mereka sudah siap. Sudah lima tahun yang lalu dia membuka studio foto ini. Banyak karya yang sudah dia hasilkan pula. Tapi hal itu tidak membuatnya cepat berpuas diri, dia semakin tergerak untuk memajukan usaha dan memperbaiki karya-karya sebelumnya.
Nuga membuka handphonenya. Dia melihat jam yang tertera dilayar handphonenya. Satu jam lagi dia harus sudah sampai di Dreame kafe. Dia tidak ingin membuat Bela menunggunya lebih lama. Nuga berharap dipertemuannya nanti dia akan mendengar kabar baik.
Entah mengapa dia ingin menikahi Bela. Padahal mereka belum saling mengenal dan baru bertemu beberapa kali. Tapi hal itu sudah membuat Nuga seakan-akan yakin jika Bela adalah wanita yang tepat untuk mengobati rasa sakitnya. Setelah dia terluka karena wanita yang dicintainya lebih memilih menikah dengan kakaknya, membuat Nuga memutuskan tidak ingin menjalin hubungan atau memendam keinginan terlalu lama. Dia takut jika dia akan kecewa lagi jika dia melakukan hal yang sama. Maka dari itu, dia memutuskan untuk menikah dengan Bela secepatnya jika Bela bersedia.
"Setelah ini langsung tutup saja. Aku akan pulang ke rumah." Kata Nuga kepada salah satu pegawainya.
Setelah dia mendengar kabar jika pernikahan kakaknya dan sahabatnya akan segera digelar, Nuga lebih sering tidur di studio nya dari pada pulang ke rumah. Terlebih jika Riana ada di rumahnya, itu akan membuat hatinya semakin hancur. Jadi dia yang mengalah dan memilih tidur di studio.
"Iya, Pak." Jawab pegawai itu dengan patuh.
Nuga menaikkan resleting jaketnya hingga sampai leher. Setelah itu dia naik ke motornya dan memakai helm. Sedetik kemudian dia sudah bersiap untuk mengendarai motornya menuju Dreame kafe. Sepanjang jalan menuju Dreame kafe, Nuga hanya berpikir positif. Dia berharap jika keputusan Bela sudah berubah. Nuga berharap Bela memutuskan untuk menerima lamarannya dan bersedia menikah dengannya. Karena Nuga yakin, jika dia hidup bersama Bela dia akan melupakan Riana perlahan.
Malam ini jalanan terasa lebih lenggang dari biasanya. Tidak begitu banyak kendaraan yang merayap menyusuri jalan beraspal. Udara yang dingin dan langit yang semakin gelap karena mendung membuat beberapa orang memilih untuk berdiam diri di rumah sambil bercengkrama bersama keluarga. Tidak ada satu pun bintang yang tersebar di langit membuat malam ini biasa saja, tidak ada keindahan.
Nuga menghentikan motornya di depan kafe yang memiliki desaign indoor ini. Banyak lampu taman yang menyala di sana membuat pengunjung kafe ini seakan-akan berada di taman. Apalagi banyaknya tanaman di setiap sudut kafe, tanaman yang nampak segar dan menyejukkan. Nuga turun dari motornya. Dia masuk ke dalam kafe dan mencari tempat duduk yang masih kosong. Dia sengaja memilih tempat duduk yang ada di sebelah pojok. Hingga handphonenya berbunyi menandakan ada telvon yang masuk.
"Hallo." Sapa Nuga setelah dia menerima telvon itu.
"Pandang sebelah kanan. Gadis berbaju warna grey dengan rambut yang digerai." Kata seseorang itu memberi isyarat kepada Nuga.
Nuga segera melaksanakan isyarat dari gadis yang menelvonnya itu. Matanya nampak sedang mencari gadis berbaju warna grey dengan rambut yang digerai. Dan akhinya dia menemukan gadis itu. Gadis yang sedang menempelkan handphone di telinganya dan tangan satunya nampak asik mengaduk minuman di depannya. Matanya sama sekali tidak menatap Nuga, melainkan menunduk memperhatikan minumannya.
"Ya." Jawab Nuga singkat.
Bela langsung mematikan handohonenya ketika dia mendengar jawaban Nuga. Dia rasa Nuga sudah menemukannya jadi dia hanya tinggal menunggu beberapa detik saja hingga Nuga sampai di depannya. Dan benar saja, tidak butuh waktu satu menit, Nuga sudah duduk di kursi yang ada di hadapannya.
"Sudah lama menunggu?" tanya Nuga ramah.
"Belum." Jawab Bela singkat.
"Aku sengaja berangkat lebih awal karena aku rencana yang menunggumu, tapi ternyata kau dulu yang sampai." Kata Nuga sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Aku yang mengajakmu bertemu, jadi aku dulu yang seharusnya menunggu." Jawab Bela datar.
Nuga hanya tersenyum mendengar jawaban Bela. ''Kau sudah makan?" tanya Nuga perhatian.
"Belum." Jawab Bela singkat.
"Kebetulan. Aku juga belum makan, lebih baik kita makan dulu." Kata Nuga sambil menyunggingkan senyum.
Nuga mengacungkan tangannya memanggil pelayan restoran. Lalu dia memesan menu makan malam untuknya dan juga Bela. Setelah itu pelayan meninggalkan mereka lagi untuk menyiapkan pesanan mereka. Nuga menatap Bela dengan lekat. Dia sebagai laki-laki normal tidak bisa menyangkal tentang kecantikan Bela. Walau pun Bela tanpa riasan, dia tetap terlihat begitu cantik dan wajahnya meneduhkan hati jika melihatnya. Hanya saja tidak ada senyum di sana, jika ada sempurna sudah kecantikan Bela.
"Kenapa menatapku begitu?" tanya Bela bingung.
"Karena kau cantik." Jawab Nuga asal.
Bela tersenyum sinis mendengar jawaban polos dari Nuga. Dia sudah sering mendengar jawaban seperti itu, tapi dia selalu saja tidak menggubris karena dihatinya hanya ada Vano. Tapi sekarang tidak lagi, hatinya merasa sakit karena pengkhianatan yang dilakukan oleh Vano. Dan dia bertekad untuk menghapus Vano dari hatinya dan mencoba untuk membuka hati untuk orang lain.
"Sudah dari dulu aku cantik." Jawab Bela percaya diri.
"Iya aku percaya." Jawab Nuga sambil terkekeh.
Suasana menjadi hening. Baik Nuga maupun Bela sama-sama tidak ada yang mengeluarkan suara. Hanya irama musik band kafe ini yang mengalun indah di telinga mereka. Dan sayup-sayup hembusan angin yang menambah dingin udara.
"Ada apa kau mengajakku bertemu?" Tanya Nuga tiba-tiba. Dia sudah tidak sabar mendengar jawaban dari Bela. Jadi, sembari menunggu makanan mereka datang tidak ada salahnya mereka membahas itu.
"Aku yakin kau pasti sudah menduganya. Aku mengajakmu bertemu karena ada yang ingin aku sampaikan." Jawab Bela dengan jujur.
"Apa?" tanya Nuga singkat. Dia semakin tidak sabar untuk mendengar kata apa yang akan keluar dari mulut Bela.
"Aku sudah membuat keputusan mengenai hubungan kita selanjutnya." Kata Bela memulai pembicaraan.
Nuga mengangguk pelan sambil menatap Bela dengan lekat. Entah mengapa hatinya merasa berdebar menunggu jawaban Bela selanjutnya.
"Aku memutuskan ...." Kata Bela sengaja mengulur waktu. Dia ingin membuat Nuga menunggu.
"Apa?" tanya Nuga tidak sabar.
"Aku memutuskan menerima lamaranmu." Kata Bela dengan cepat. Hatinya berdetak lebih cepat dari biasanya.
Nuga bengong sejenak. Dia merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Padahal kemarin Bela sangat menentang keras lamarannya dan sekarang gadis itu menetimanya. Sungguh Nuga tidak mengerti.
"Apa kau serius?" tanya Nuga sungguh-sungguh.
Bela menganggukkan kepalanya mantap. Dia sudah memikirkan ini semalaman dan dia yakin jika keputusannya ini benar. Ya, walau pun tidak ada yang bisa menjamin jika keputusan Bela adalah hal yang benar, tapi Bela yakin jika Nuga adalah laki-laki yang akan menyembuhkan luka yang dia rasakan sebelumnya.
Sebuah keputusan memiliki dua kemungkinan. Yaitu keputusan yang tepat atau keputusan yang salah. Dan Bela berharap jika keputusannya yang dia ambil ini adalah keputusan yang tepat dan tidak akan membuatnya menderita di kemudian hari. Dia berharap setelah keputusan yang dia ambil ini, hanya akan ada kebahagiaan yang dia rasakan.