Keputusan Final

2328 Words
Jika memang kehadiranku tidak lebih dari seorang sahabat, aku rela melepasmu dengan orang terdekat. Nugraha Ashwaghosha     Suasana ruang keluarga kediaman Hendrawan begitu hening. Semua orang menatap satu objek yang saat ini sedang menundukkan kepalanya sambil memainkan tangannya sendiri. Kentara sekali jika saat ini dia sedang gugup. Entah apa yang akan laki-laki berusia 27 tahun itu utarakan, tapi sepertinya memang bukan masalah sepele. Sandy Baskara, lelaki berusia 27 tahun yang masih betah melajang. Setelah makan malam tadi dia meminta orang tua dan adiknya berkumpul di ruang keluarga karena ada sesuatu yang ingin dia sampaikan. Tentu saja adik dan orang tuanya menuruti permintaanya. Mereka juga merasa penasaran dengan apa yang akan disampaikan oleh Sandy. "Ada apa sih, Mas?" tanya Nuga penasaran. Pasalnya dia sudah menunggu sejak lima belas menit yang lalu, namun kakaknya ini belum juga mengatakan sesuatu. "Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Hendra pelan. "Sandy ingin menikah." Kata Sandy mengatakan keinginannya. Hening. Tidak ada yang mengeluarkan suara. Sandy diam saja karena dia ingin mendengar reaksi keluarganya, sedangkan keluarganya tampak syok dengan ucapan Sandy. Sandy cenderung laki-laki pendiam yang tidak pernah memiliki hubungan dengan wanita, jelas saja apa yang dia ucapkan barusan sangat mengejutkan semua anggota keluarganya. "Kamu mau menikah sama siapa?" tanya Marni. Dia terkejut mendengar anaknya yang mengatakan jika dia ingin menikah. "Memangnya, Mas, udah punya calon?" tanya Nuga memastikan. Sandy mengangguk dengan cepat ketika dia mendengar pertanyaan dari adiknya. Dia memang belum pernah bercerita kepada siapa pun tentang kekasihnya yang ingin dia nikahi ini. Bahkan dia tidak pernah bercerita atau menyinggung tentang pacaran kepada orang tuanya. "Siapa?" tanya Nuga, Marni, dan Hendra barengan. "Kalian sudah mengenalnya, kok. Sangat mengenal malah." Jawab Sandy sambil tersenyum. "Siapa, San?" tanya Marni heboh. "Riana." Jawab Sandy singkat. Nuga mengerutkan keningnya. Dia sangat mengenal nama yang disebutkan oleh kakaknya itu. Namun dia tidak tahu apakah orang yang dimaksud oleh kakaknya adalah orang yang sama seperti yang ada dipikirannya saat ini. "Riana sahabatnya adikmu?" tanya Hendra memastikan. "Iya, Ayah." Jawab Sandy sambil mengangguk. Hati Nuga sesak seketika. Keterkejutan yang baru saja dia rasakan harus bertambah lagi. Dia tidak percaya dengan jawaban kakaknya, tapi sepertinya memang itu kenyataanya. "Sejak kapan kalian memiliki hubungan?" tanya Nuga dingin. "Sudah lama." Jawab Sandy singkat. "Kenapa kamu tidak pernah mengatakan kepada kami?" tanya Mirna lagi. "Karna aku menunggu waktu yang tepat untuk memberi tahu kalian, dan ini adalah waktu yang tepat." Jawab Sandy. "Kalau kamu memang sudah yakin dengan keputusan kamu, Ayah dan Ibu merestui kalian. Riana gadis yang baik, tidak ada alasan untuk kami menolak dia. " Kata Hendra lembut. Sandy tersenyum. Dia begitu bahagia mendengar ucapan dari Ayahnya. Sedari tadi dia sudah cemas kalau orang tuanya tidak merestuinya. Tapi ternyata, orang tuanya memberinya restu. Tentu saja hal ini membuatnya sangat bahagia. Lain halnya dengan Nuga. Dadanya sesak, hatinya hancur mendengar ucapan Ayahnya. Ingin dia memberontak dan mengatakan jika dia tidak setuju kakaknya menikahi sahabatnya, namun dia masih memikirkan perasaan kakaknya. Dia tidak ingin melihat kakaknya patah hati karena keegoisannya. Cukup dia saja yang merasakan patah hati. Nuga bangkit dari duduknya. Tanpa mengatakan apa pun dia meninggalkan ruang tamu. Dengan langkah yang lebar, Nuga menuju kamarnya dan menguncinya dari dalam. Dia hanya butuh tempat hening untuk menenangkan pikirannya. "Aku tak mempercayai ini semua." Kata Nuga lirih. Nuga menarik laci meja kamarnya. Dia mengambil sebuah kotak kecil berwarna merah. Perlahan tangannya membuka kotak kecil itu, seketika kotak itu menampilkan benda bulat dengan berlian di tengahnya. Nuga memandangi cincin itu. Rencananya dia akan mengutarakan perasaannya tepat di hari ulang tahun Riana dua hari lagi. Dan dia akan memberikan cincin itu kepada Riana. Tapi kini rencananya gagal. Dia tidak akan menikung kakaknya sendiri. Cincin yang sudah dia pesan dua bulan yang lalu dengan ukiran namanya dan nama Riana di bagian dalam cincin. Cincin yang rencananya akan dia gunakan untuk melamar Riana untuk menjadi pendamping hidupnya. Namun kini harus gagal dan hanya menjadi sebuah rencana saja. Nuga meraih handphonenya. Dia mengetikkan sesuatu dan mengirimkan pesan itu kepada seseorang. Setelah itu dia menyimpan handphonenya ke dalam saku celananya dan meraih kunci motor. Nuga sedikit berlari keluar kamar. Saat dia berada di ruang keluarga, dia pamit kepada orang tuanya. "Nuga keluar sebentar, Bu." Kata Nuga berpamitan. "Hati-hati." Jawab Marni lembut. Nuga menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, "Assalamualaikum." "Waalaikumsalam." Jawab orang tua dan kakak Nuga bebarengan. Nuga mengendarai motor gedenya ke arah rumah sahabatnya. Entah apa yang ada dipikirannya saat ini. Dia masih tidak percaya dengan ucapan kakaknya yang akan menikah dengan sahabat yang dia cintai sejak lama. Dia ingin segera bertemu Riana dan konfirmasi itu semua. Dia berharap jika sahabatnya mengatakan jika itu semua salah. Setidaknya jika Riana tidak membenarkan ucapan Kakaknya, dia masih memiliki kesempatan untuk memiliki Riana. Nuga menghentikan motornya di depan rumah minimalis ber-cat biru muda. Pintu rumah tertutup rapat namun lampu rumah menyala. Itu menandakan jika rumah itu sedang tidak kosong, Nuga percaya jika Riana berada di rumah. Nuga turun dari motornya. Melepas helm dan dia taruh di atas spion. Setelah itu dia berjalan pelan mendekati rumah itu dan mengetuk pintu rumah. "Ri." Panggil Nuga sambil mengetuk pintu. Beberapa detik kemudian, pintu rumah terbuka. Gadis cantik dengan pakaian rumahan berdiri di hadapan Nuga. Bibirnya melukiskan senyum manis yang mampu membuat Nuga terpesona. Namun kali ini Nuga hanya memasang wajah datar dan dingin, sedikit pun dia tidak tergoda dengan senyum manis sahabatnya. "Kenapa malam-malam kesini?" tanya Riana pelan. Nuga menarik nafas panjang. Dia menundukkan kepalanya sambil menggaruk kepala bagian belakang. Dia bingung harus mengawali dari mana. "Ada yang ingin aku tanyakan." Jawab Nuga lirih. "Masuk, Nug." Kata Riana pelan mempersilakan sahabatnya untuk masuk ke rumahnya. "Di sini saja." Jawab Nuga pelan. Nuga mendekati kursi yang ada di teras rumah. Kemudian dia duduk di sana dengan pandangan menatap Riana lekat. Riana menutup pintu rumahnya dan setelah itu dia ikut duduk di samping Nuga. "Ada apa?" tanya Riana lirih. "Apa benar kamu akan menikah dengan Kakakku?" tanya Nuga pelan. "Iya." Jawab Riana singkat. "Kenapa kalian menyembunyikan hubungan kalian dariku?" tanya Nuga lagi. Riana menundukkan kepalanya. Dia tidak terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh sahabatnya itu, dia tahu cepat atau pun lambat sahabatnya akan menanyakan hal ini. Ini saatnya dia jujur dan mengatakan semuanya. "Itu karna aku tidak ingin membuat kamu jauh dari aku." Jawab Riana. Nuga menatap Riana dengan lekat. Pandangannya mengatakan jika dia bertanya dan meminta Riana untuk menjelaskan semuanya. Nuga tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh sahabatnya ini. "Aku yakin setelah ini kamu pasti akan menjauhiku. Alasanku kenapa aku tidak mengatakan tentang hubunganku dengan kakakmu karena aku tidak ingin membuat kamu berjaga jarak denganku." Kata Riana menjelaskan. Nuga terdiam. Kini dia tahu dan paham dengan alasan Riana dan Sandy menyembunyikan hubungan mereka. Tapi Nuga juga tidak bisa menerima alasan mereka sepenuhnya, dia merasa ditusuk dari belakang oleh Kakaknya sendiri. "Tapi tidak seharusnya kalian menyembunyikan ini semua." Kata Nuga lirih. "Maaf, Nug." Jawab Riana pelan. "Apa kamu sudah yakin dengan keputusan kamu ini?" tanya Nuga lagi. "Sudah. Bahkan aku dan Kakakmu sudah membicarakan rencana ini dengan waliku." Jawab Riana menjelaskan. Nuga tersenyum kecut. Kini Nuga tahu rasanya patah hati. Rasanya benar-benar sakit dan perih. Lebih sakit dibanding adu pukul dengan musuhnya dulu. Nuga bangkit dari duduknya. Dia menatap Riana lekat. Rasanya dia ingin meminta Riana untuk membatalkan rencana pernikahan mereka, namun dia tidak bisa melakukan hal itu. Karena calon suami Riana tak lain adalah Kakak kandungnya sendiri. Dan Nuga tidak ingin melukai perasaan Kakaknya walaupun Kakaknya tanpa sengaja telah melukai hatinya. "Semoga lancar hingga hari pernikahan." Kata Nuga lirih. Nuga menjauh dari rumah minimalis yang ditinggali oleh Riana. Dia meninggalkan Riana yang masih berdiri mematung di depan rumah dengan pandangan yang masih menatapnya lekat. Tidak ada sahutan atau ucapan selamat tinggal dari Riana. Gadis itu hanya diam sambil menatap kepergian sahabat lamanya itu. *** Nuga duduk di hamparan rumput hijau di pinggir danau. Dia melepaskan jaketnya dan menggelar di belakangnya, setelah itu dia merebahkan tubuhnya di atas jaket yang sudah dia gelar itu. Matanya menatap langit dengan bertabur ribuan bintang. Satu rembulan dengan terang menyinari bumi. Langit terlihat begitu sangat indah, namun hatinya terasa begitu memilukan. Dia memendam sakit hati tanpa bisa dia utarakan kepada seseorang. Bagaimana dia tidak sakit hati saat dia menerima kenyataan jika sahabatnya akan menikah dengan Kakaknya sendiri. Nuga setuju dengan ucapan beberapa orang. Persahabatan antara laki-laki dan perempuan tidak ada yang murni rasa persahabatan saja. Minimal salah satu dari mereka pasti melibatkan perasaan di dalam persahabatan mereka. Dan di persahabatan antara Riana dan Nuga, Nuga lah yang mencintai Riana. Sudah lama Nuga mencintai Riana, hanya saja dia belum mampu mengutarakan itu karena dia takut akan menghancurkan hubungan persahabatan mereka. Saat itu, Nuga melihat Riana masih mengejar karirnya. Jadi, Nuga memberi kesempatan kepada Riana untuk fokus mengejar karir dan dia memberikan semangat dan dukungan untuk gadia itu. "Kenapa engkau mempermainkan takdirku semudah ini, Tuhan?" teriak Bela keras. Dia tidak peduli jika ada seseorang yang mendengar. Yang ada dipikirannya saat ini hanyalah mengeluarkan semua beban dihatinya. "Kenapa engkau membuatku menjadi perempuan yang menyedihkan seperti ini?" teriak Bela lagi. Dia sesenggukan menahan tangisnya. Nuga menoleh ke samping kanan setelah dia mendengar tangis seorang perempuan. Dia memicingkan matanya memastikan jika perempuan itu adalah benar-benar seorang manusia. "Huuaaaaa ...." Bela menangis tersedu-sedu. Pundaknya terlihat naik turun. Wajahnya dia tutup dengan kedua tangannya. Nuga menggelengkan kepalanya, setelah itu dia bangkit dari tidurannya. Dia memandang lekat perempuan di sampingnya yang sedang menangis tersedu-sedu itu. Tangannya terulur mengambil kerikil kecil yang tidak jauh darinya, setelah itu dia melemparkan kerikil itu ke danau. Terdengar cipakan air danau karena Nuga melemparkan kerikil ke sana. Bela mendongakkan kepalanya ketika telinganya menangkap suara cipakan air. Dia menghapus air matanya dan menoleh ke kanan dan dikiri. Seorang lelaki muda sedang duduk termenung di samping kirinya. Mata lelaki itu memandang ke danau dan sesekali tangannya kembali melemparkan kerikil ke danau. "Kau sedang patah hati?" tanya Nuga lirih. "Bukan urusan kamu." Jawab Bela sinis. Nuga tersenyum kecut. Dia sudah bisa menebak dari jawaban sinis dan juga tangis yang menyayat hati. Nuga pikir dia adalah orang yang paling menderita di dunia ini, tapi ternyata, masih ada orang yang merasakan patah hati seperti dia. Kini Nuga serasa ada teman untuk berbagi. Tentunya berbagi sakit hati. "Kenapa? Apa kekasihmu mau menikah dengan orang lain? Atau bahkan dia akan menikah dengan saudaramu sendiri?" tanya Nuga. Bela kembali menutup matanya. Dia semakin menangis tersedu-sedu. Mendengar pertanyaan dari lelaki yang tak dikenalnya itu tambah membuatnya seperti orang yang menyedihkan. Bela merasa jika lelaki itu mengejeknya. "Kalau memang benar, berarti kita memiliki kisah cinta yang sama." Kata Nuga lagi. Dia menolehkan matanya ke arah Bela dan menatap Bela dengan lekat. "Kau juga sedang patah hati?" tanya Bela lirih. Nuga mengangguk mantap. Tanpa malu dia mengakui jika saat ini dia sedang patah hati. Tidak ada yang perlu dia tutupi bahkan Nuga berani jujur kepada perempuan yang tidak dia kenal itu. "Ya, orang yang aku cintai akan menikah dengan Kakakku sendiri." Jawab Nuga pelan. "Menyedihkan." Komentar Bela sambil mengusap air matanya. "Apa kau tidak memiliki kisah yang menyedihkan sepertiku?" tanya Nuga memastikan. Bela menundukkan kepalanya. Apa yang dia alami lebih buruk dari yang lelaki ini alami. Kekasih dan sahabat yang sudah sangat dia percaya malah tega mengkhianatinya. "Ya, aku juga mengalami nasib menyedihkan." Jawab Bela lirih. "Kenapa?" tanya Nuga penasaran. "Kekasihku selingkuh dengan sahabatku hingga mereka akan menjadi orang tua." Cerita Bela tanpa sungkan. Nuga membulatkan mulutnya, "Kau lebih menyedihkan dari pada aku." Kata Nuga pelan. Bela menganggukkan kepalanya kecil. Matanya mengawang jauh ke depan. Dia teringat kejadian siang tadi saat dia menerima undangan pernikahan Vano dan Dina. Dari sekian banyak gadis, mengapa Bela yang mengalami hal seperti ini? Bela merasa dunia tidak adil kepadanya. Takdir mempermainkannya dengan kemauan mereka tanpa memikirkan Bela. Bela marah dengan semuanya, bahkan dia marah dengan dirinya sendiri. Dia terlalu percaya dengan sahabat dan kekasihnya hingga tak berpikir jika mereka bisa saja mengkhianatinya. Nuga menatap Bela semakin lekat. Penerangan yang redup masih bisa membuat Nuga melihat kecantikan yang dimiliki oleh Bela. Walaupun bibir Bela menahan tangis namun Nuga masih bisa melihat jika perempuan yang ada di sampingnya itu menawan. Hingga mulutnya tanpa sadar mengucapkan sesuatu yang pasti akan mengejutkan siapa saja yang mendengarnya. "Kita sama-sama mengalami patah hati. Jadi, kenapa kita tidak menikah saja?" celetuk Nuga tiba-tiba. Bela menoleh ke arah Nuga. Dia terkejut sekaligus tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh lelaki di sampingnya ini. Bela yang masih merasakan sakit hati karena dikhianati malah bertemu dengan lelaki yang seperti tak punya hati. Tanpa malu dan tanpa berpikir, lelaki itu mengajaknya menikah. Padahal mereka tidak kenal sebelumnya, bahkan mereka baru saja bertemu hari ini. "Apa kau sudah gila?" tanya Bela dengan nada tinggi. "Tidak. Jika aku gila pasti aku sudah melompat ke danau ini karena patah hati." Jawab Nuga jujur. Bela menggelengkan kepalanya. Dia mengambil tasnya dan bangkit dari duduknya. Tanpa berkata apa-apa lagi, dia melangkah menjauh dari Nuga. Dalam pikiran Bela lebih baik dia pulang saja dari pada meladeni laki-laki tidak waras seperti Nuga. "Tunggu!" Teriak Nuga keras. Bela berhenti seketika ketika telinganya mendengar teriakan Nuga. Namun Bela tidak menolehkan kepalanya, dia menunggu ucapan apa yang akan dikatakan oleh Nuga selanjutnya. "Aku janji jika kita bertemu lagi tanpa kesengajaan, aku akan melamarmu di tempat itu juga." Kata Nuga lagi. Bela melototkan matanya. Dia terkejut mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Nuga. Bahkan semua orang yang ada diposisi Bela juga akan terkejut. Bela membalikkan badannya, dia menatap Nuga dengan lekat. "Hei, Bung! Jangan mengatakan sesuatu sembarangan. Ucapan adalah doa, jadi, hati-hati dengan setiap ucapanmu!" kata Bela mengingatkan. Nuga tertawa mendengar peringatan dari Bela, "Aku malah berharap Allah mengabulkan ucapanku." Jawab Nuga sambil tersenyum. "Tidak waras." Ujar Bela. Setelah itu dia menjauh dari Nuga. Nuga menatap kepergian Bela. Matanya menatap punggung Bela yang semakin hilang dari pandangannya. Gelapnya malam membuat Nuga tidak bisa mencari Bela yang dengan cepat berlalu dari hadapannya. Tapi, Nuga sangat hafal dengan wajah perempuan yang belum dia kenal tadi. Entah apa yang ada dipikiran Nuga sehingga dia mengatakan hal yang tidak terduga. Bagaimana bisa dia mengatakan akan melamar gadis yang baru saja dia temui. Bahkan dia tidak tahu nama gadis itu dan dia akan melamar gadis itu? Nuga benar-benar sudah gila.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD