“Bagaimana harimu?” tanya Bintang penuh senyuman saat Gendis baru mendaratkan bokongnya pada kursi. Gendis memutar bola matanya, “Apa setiap aku datang kamu harus bertanya seperti ini terus? Tidak adakah pertanyaan lain?” gerutu Gendis, sambil mengeluarkan alat tulis dari dalam tasnya. Bintang terkekeh, ia menarik kursinya mendekati Gendis. “Semalam aku bermimpi” ceritanya. “Aku tidak mau tau!” potong Gendis, membuat Bintang mendecakan mulutnya. “Apa ada yang bernama Gendis di kelas ini?” suara wanita yang hanya menampakan sebagian tubuhnya di pintu terdengar jelas, “Kamu Gendis?” tanyannya menunjuk ke arah Bintang. “Wah, tidakkah aku terlihat begitu cantik?” gerutunya, ia mencolek pundak

