Tanpa berbalik, Bara menjawab, “apa, sih? Kamu gak usah deket-deket aku, deh! Kamu itu bau!”
“Bau?” Tisa kemudian membaui dirinya sendiri dengan hidung dienduskan. Namun, ia pikir tidak ada yang janggal. Ia tak menambahkan apa pun pada tubuhnya, bahkan parfum pun masih sama.
Tisa menoleh mendongak, menatap sang suami yang tampak masih sibuk menutup hidung. Sekali lagi ia membaui bagian bahu dan lengannya. “Gak bau, kok, Om,” balasnya dengan wajah polos.
“Tapi, kamu bau!”
“Em, apa Om gak suka sama bau parfum Tisa?” Suara gadis itu terdengar bertanya-tanya. “Padahal, Tisa udah mandi loh, Om, tadi pagi. Jadi, kayaknya gak mungkin bau, deh!”
Bara melirik Tisa dari balik bahunya. “Bukan parfummu, tapi bau micin yang ada di sekitarmu membuat hidungku gatel, Bocah!” balasnya, lalu kembali bersin. “Aish! Makanya ‘kan aku tadi bilang ke kamu, kalau aku tidak suka jika ada serpihan makananmu di kamar ini!”
“Ahh, maaf, Om. Tisa gak tau.” Suara Tisa terdengar bersalah. “Tisa pikir, Om suami gak menyukai bau parfumku. Jadi, Om alergi sama bau micin?” Bulu mata lentik itu mengedip lucu tatkala menunggu jawaban sang suami.
Jujur, Tisa sebenarnya juga tidak terlalu suka dengan makanan yang mengandung banyak MSG. Namun, ia memakan semua makanan yang ada di kantong karena pemberian sang suami, apalagi ia tak mau mubazir makanan.
“Kalau udah tau gak suka bau micin, kenapa tadi beli makanan penuh MSG, sih,” dumel Tisa tak habis pikir.
Micin itu semacam penyedap rasa yang biasanya digunakan oleh pedagang untuk menambah rasa makanan agar semakin enak dan gurih. Namun, entah sejak kapan hidung Bara sedikit sensitif dengan bau-bauan tersebut.
“Bukan alergi, hanya tidak suka saja,” jawab Bara dengan hidung memerah.
“Terus, apa makanan yang selama ini Om makan gak berbau micin? Tisa yakin jika bibi di dapur pasti menggunakan micin. Soalnya, tadi pagi waktu Tisa bantu masak di dapur ada tempat micin di sana, Om,” tukas gadis itu.
Bara mendengkus. “Kau tanyakan saja pada bibi. Lagian kalaupun pakai, bibi gak akan menaruhnya sebanyak yang ada di dalam makanan kemasan yang kamu makan itu, Bocah!” jelasnya kesal sendiri.
“Tapi, kan, sama saja, Om?”
“Stop, pembahasan ini!” Bara mengangkat satu tangannya yang menganggur. “Sudah, lebih baik kamu telpon bibi untuk segera membersihkan kamar ini! Satu jam lagi aku keluar dan jika semua belum beres, aku akan memecat mereka!” katanya memerintah.
“What? Kok, gitu?” Tisa panik. Bagaimana bisa orang yang sudah bertahun-tahun bekerja di kediaman Sanjaya dipecat hanya karena masalah sepele? Apa tidak keterlaluan namanya si Bara?
Menyebalkannya lagi, teriakan Tisa sama sekali tidak digubris oleh Bara. Pria itu justru langsung mengunci pintu ruang kerjanya dan meninggalkan ia seorang diri di kamar. “Haduh, punya suami kok ngambekan. Sabar, Tisa! Kamu gak boleh nyerah! Ingat, orang sabar pasti tanahnya lebar. Kkkk. Semangat!”
***
Setelah masuk ke ruang kerja, Bara berjalan menuju dispenser, dan minum dari gelas yang sudah diisi air. Ia mendesah lega karena akhirnya bisa terhindar dari bau yang sangat tidak disukainya.
“Bagaimana bisa itu bocah makan belepotan begitu,” cibirnya. “Apa dia pikir masih kecil? Atau, emang dia masih bocil? Aish! Bagaimana bisa aku nikah sama manusia aneh seperti Tisa? Ya Tuhan, semoga saja aku gak darting hidup lama-lama sama itu anak. Amin!”
Akan tetapi, ada sesuatu dalam dirinya yang menyuruh untuk mengintip Tisa. Tanpa ia sadari, kakinya melangkah ke arah pintu yang tertutup rapat, kemudian menempelkan telinga di sana. Namun, dalam hitungan detik ia menguping, tak terdengar suara apa pun dari luar.
“Apa itu bocah mati yah?” Wajah Bara tampak cemas. “Eh, kenapa aku peduli sama dia, sih? Mau mati, kek, atau hidup, juga bukan urusanku!”
Bara kembali menegakkan punggung dengan tegang ketika mengingat keberadaan sang adik. Andra bisa saja menyusup ke kamarnya. Hal itu tentu saja tidak bisa dibiarkan. Kecurigaan itu membuat Bara tidak tenang sendiri.
“Aish, kenapa malah jadi begini, sih?”
Bara berjalan mondar-mandir di depan meja kerja sambil menggigit kukunya dengan tatapan tertuju pada pintu. Ia lalu meletakkan tangan di belakang telinga seolah tengah mencuri dengar. Akan tetapi, di ruangan itu terlalu hening hingga membuatnya tidak bisa mendengar apa pun.
“Sial! Kenapa aku malah jadi repot sendiri, sih!” Walaupun mengomel, ia segera berjalan menuju benda kayu tersebut. Bara menempelkan telinganya, mencoba mencuri dengar keadaan di luar ruang kerjanya.
Hening. Tidak ada suara apa pun. “Harusnya kan ada suara penyedot debu, atau lainnya. Tapi, kenapa hening begini, yah?” Pria itu menatap heran ke arah pintu.
“Itu bocah gak mati, kan, aku suruh buat manggil bibi?” tanyanya horor.
Bara segera berdiri, menelengkan kepala dengan perasaan tidak tenang. Ia berkacang pinggang masih dengan mata tertuju pada pintu. “Sial! Itu bocah ngapa bisa bikin gue jadi gak tenang begini, sih!”
Akhirnya, Bara membuka pintunya. Ia kira akan menemukan Tisa yang sedang menangis, atau berduaan dengan Danandra, atau paling menjengkelkan sedang menangis. Realitanya, gadis itu sedang berbenah.
“Apa yang kamu lakukan, Bocah! Bukankah aku minta kamu buat menghubungi bibi? Apa telingamu itu gak denger, hah?”
Tisa yang sedang memunguti serpihan di atas karpet, lalu lantai di sebelahnya. Gadis itu mendongak. Wajahnya terlihat polos dan tanpa dosa ketika ditegur olehnya.
“Denger, kok, Om. Tapi, Tisa gak tahu harus hubungin bibi pakai apa,” akunya jujur. “Lagian, Tisa kan baru banget tinggal di sini. Belum sempet tukeran nomor hp sama bibi. Tisa juga gak bisa buka kunci kamar itu. Makanya Tisa inisiatif buat bersihin sendiri pakai tisu.”
Bara menggertakkan rahangnya. “Astaga!” Ia memegang kepalanya. “Bagaimana bisa aku menikah sama orang yang gak ngerti apa-apa?” Pria itu ingin menjedotkan kepalanya ke tembok.
“Om, tau caranya hubungi bibi?” tanya Tisa polos. Gadis itu berdiri, tetapi tidak mendekati Bara karena dia tidak mau pria itu kembali bersin-bersin. Ia sadar, dirinya belum mandi dan frekuensi dirinya masih bau jelas 100 persen masih ada. Maka dari itu, ia memilih tetap berdiri di tempat.
“Tisa, apa kamu liat di atas nakas itu ada telepon!” Bara menunjuk ke arah telepon rumah yang ada di samping ranjang.
“Tau, Om!”
“Lalu, kenapa kamu gak pakai itu!” Bara berkata dengan gemas. “Arghh, kenapa aku harus ngurusin bocah kayak kamu, sih?!”
“Ya, karena Om suami aku,” jawab Tisa.
“Jawab lagi aku tendang kamu ke kamar mandi!” ancam Bara sebelum menelepon bibi.