Bab 4. Mulai Kagum

1093 Words
Tidak lama kemudian, kita ber empat sampai di Rumah Sakit swasta, mobil cika pun langsung menuju arah IGD, dan benar saja sesampainya kita disana Ibu sudah lemas dan pingsang. Ibu Ibu Ibu Aku terus memanggil Ibu, tidak terasa air mataku menetes begitu saja. Ibu langsung di bawa dengan menggunakan Roda. Pihak adminiatrasi memanggil. Atas nama keluarga Ibu Rahayu silahkan keruangan administrasi. "Bapak, ini bagaimana?" Tanya ku kepada Bapak sambil khawatir. Emangnya tadi Ibu bilang bagaimana? Tanya Bapak sama aku. Maaf bukannya aku ikut campur, tapi jujur Cika ikhlas mau bantu ko tanpa pamrih. Jadi tolong bantuan Cika di terima yah pak? Ujar Cika sambil memohon kepada sang Bapak. Iyah Nak, terimakasih. Nanti kalau Bapak sudah punya uang Bapak ganti ko, yah? Udah enggak apa-apa pak, Cika ikhlas ko. Yaudah, Cika sma Rayyan ke ruang administrasi dulu yah pak? Ujar Cika. Okh iyah Nak, hati-hati dan terimkasih banyak. Maaf Bapak jadi merepotkan kamu Nak. Ujar Bapak. Okh Iyah pak, tenang aja. Ayo Yan, kita ke ruang administrasi dulu. Akhirnya, aku dan Cika menuju Ruangan administrasi untuk menyelesaikan administrasi. Tidak butuh waktu lama ternyata ruangan administrasi dekat sekali dengan ruangan IGD. Tok Tok Tok Permisi.... "Silahkan masuk pak!"Teriak suster di dalam. Maaf sus, untuk biaya administrasi atas nama Ibu Rahayu berapa yah? Tanya Cika kepada suster bagian administrasi. Untuk biaya administrasi atas nama Ibu Rahayu total awal 1.000.000,00 Pak. Untuk selanjutnya bila nanti Ibu Rahayu mau di rawat disini itu pihak keluarga harus mencari ruangan atau kamar kosong untuk bokingnya yah Pak. Ujar suster menjelaskan tentang administrasi Ibu Rahayu. "Ada pertanyaan lain?" Tanya suster. "Tidak ada cukup terimakasih sus!" Jawab Cika. Akhirnya Cika segera melunasi biaya administras, lalu aku dan Cika segera menghampiri Bapak yang sedang menunggu di ruangan IGD. Di perjalanan menuju Ruangan IGD, aku tidak henti-hentinya mengucapkan terimakasih kepada Cika. "Cika terimakasih banyak yah!"untuk ini. Jujur suatu saat aku pasti balas kebaikan kamu ko. Mohon maaf untuk mengembalikan uang mu itu, kasih aku waktu yah sampai gajihan nanti. Ujar ku terhadp Cika sembari mataku berbinar-binar terharu akan kebaikan Cika yang baru aku kenal dua hari. "Iyah tenang aja Yan!" Masalah uang mh selow aja. "Tapi tetep aja aku enggak enak lho Cika." Jawab ku sambil tersenyum malu. Akhirnya aku dan Cika tiba di ruangan IGD, lalu aku melihat sang Ibu tergeletak tidur menahan kesakitan. Bapak yang melamun kecapean di tambah bingung harus mencari uang darimana untuk membanyar pengobatan, meskipun Bapak ngerti kalau saat ini ada Cika yang membiyayai pengobatan sang Ibu. "Nak Cika, Bapak ucapkan terimakasih yah untuk semuanya?" Ujar Bapak sembari mengeluarkan air mata bahagia karena kebaikan Cika Ibu bisa dibawa kerumah sakit. Iyah pak, sama-sama. Cika juga seneng ko bisa bantu gitu, karena jujur Cika seneng lihat Bapak, Ibu dan Rayyan kompak. Cika iri kebersamaan keluarganya. Yaudah Cika, anggap aja kita keluarga. Sering-sering aja maen kerumah yah. Ujar Bapak sembari tersenyum. Akhirnya dokter yang menangani Ibu pun keluar dengan wajah cemas dan gelisah. "Dokter Istri saya bagaimana keadaanya?" Tanya Bapak kepada sang dokter dengan tegang. Bapak, untuk keadaan Ibu Rahayu untuk saat ini butuh istirahat yang maksimal, jangan aktivitas yang berat-berat. Agar cepat pulih. Ujar sang dokter. "Okh iyah pak dokter." Terimakasih, ujar sang Bapak sambil tersenyum. Lalu aku dengan spontan menunduk dan menurunkan lutut kaki ke lantai, melakukan sujud syukur karena lega Ibu bisa di tangani dengan baik dan Ibu penyakitnya belum begitu parah dan bisa pulang kerumah. "Rayyan, kamu ngapain itu?" Cika bertanya. Aku hanya melakukan sujud syukur, karena allah SWT telah mendengan doa aku Cika. Jawab ku sembari memandang wajah Cika. "Baik pak dokter, kira-kira kapan Istri saya bisa pulang?" Tanya sang Bapak kepada dokter dengan perasaan bahagia. Untuk Ibu Rahayu bisa langsung pulang ko, pemeriksaan sudah tinggal menunggu pembuatan resep lalu nanti Bapak tinggal serahkan di bagian Apotek saja. Ujar sang dokter. "Okh iyah Bapak, terimakasih." Ujar sang Bapak. Akhirnya, resep obat pun sudah selesai, tinggal menyerahkan ke bagian apoteker. "Rayyan, kamu saja yang ke bagian Apoteker yah?" Tanya sang Bapak. Iyah Bapak! Jawab ku sambil bersemangat. Cika ikut yah Rayyan? Tanya Cika kepadaku sambil wajah memohon. "Baiklah." Jawabku dengan semangat. Akhirnya aku dan Cika segera menuju bagian Apoteker untuk mengambil obat Ibu. Ternyata ketika sampai di bagian Apoteker. Obat yang sudah disiapkan oleh bagian obat. Obat itu harus di bayar. Aku kebingungan karena tidak memegang uang seperserpun. Yan! Kenapa? Ko diam sih, ayo cepat kita ke Bapak lagi, kasihan sudah nunggu. Iyah Cika, sebentar. Jawab ku. Suster, obatnya bisa nanti saja enggak saya ambil, soalnya saya lupa dompetnya ada di tas! Ujarku terhadap suster. Iyah pak bisa, nanti balik lagi saja kesini. Ujar sang suster. Kemudian aku berjalan menghampiri Cika dengan tangan kosong tanpa membawa obat. Yan! Obatnya mana? Ko tidak di ambil sih. Iyah Cika, nanti saja aku ambilnya. Jawabku dengan wajah menekuk. Akhirnya Cika menghampiri bagian obat untuk menanyakan kenapa obatnya tidak bisa di bawa. Sus, Obat yang resep atas nama Ibu Rahayu kenapa tidak bisa di ambil? Tanya Cika dengan wajah serius. Bisa ko kak, namun harus membayar 1.300.000 untuk resep atas nama Ibu Rahayau. Jawab sang suster. Yasudah Sus saya bayar Cash. Jawab Cika. Baik kak, saya siapkan dulu obat ya. "Yan sini!" Teriak Cika memanggil. Iyah ada apa Cika? Jawab ku. Kenapa enggak bilang saja sih kalau obatnya mesti ditebus? Tanya Cika. Jujur aku malu Cika, malu banget sama kamu. Bahkan kalau teman satu kantor tahu kamu yang membiayai pengobatan Ibuku, aku minder dan merasa tidak bisa apa-apa. Ya ampun Rayyan-Rayyan kamu itu kayak kesiapa aja sih. Akhirnya obat pun di ambil dan kita berdua langsung menuju ke Bapak untuk segera siap-siap pulang kerumah. Tanpa terasa waktu sudah menunjukan pukul 17:00 sore hari. Kring-kring.... Handpone Cika berbunyi ada panggilan. Cika, itu ada panggilan. Ujar ku terhadap Cika. Okh iyah ini dari Ayah. Jawab Cika. Aduh gimana donk, nanti aku di pecat lagi sama ayah kamu Cika. Ujar ku dengan perasaan khawatir. Udah sih Rayyan kamu mh berlebihan pemikirannya. Jawab Cika. Tapi kan Cika, kalau ayah kamu tahu kamu lagi sama aku pasti marah gitu, apalagi tahu kamu yang bayarin biaya pengobatan Ibuku Cika. Ujar ku dengan sedih. Tenang aja kali Rayyan, ini rahasia kita dan aku akan jujur kalau aku lagi dirumah sakit, nganterin Ibu kamu. Akhirnya Cika, mengangkat telepon. Iyah halo ayah. Jawab Cika. Cika kamu dimana? Tanya sang ayah. Cika lagi dirumah saki! Jawab Cika. Siapa yang sakit Cika? Tanya sang ayah. Ini orang tua teman kerja aku ayah. Jawab Cika dengan santai. Okh yasudah, kalau urusannya sudah selesai kamu pulang yah. Ibumu sudah khawatir kamu jam segini belum pulang. Iyah ayah, sebentar lagi juga pulang ko. Jawab Cika.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD