Walau seideal apa pun kehidupan Jannah dan Jagat, namun ternyata, surga tak benar-benar ada di muka bumi ini. Sepuluh tahun pertama merasakan manisnya berumah tangga, tiba-tiba ujian menghantam kapal yang dinahkodai Jagat. Bermula dari ambisi lelaki itu untuk mengembangkan usaha Papa Laundry & Dry Clean pada cakupan yang lebih luas. Jagat ceroboh menanam modal pada mitra bisnisnya. Hampir satu miliar uang Jagat raib tak sampai hitungan bulan. Dijanjikan pengembangan usaha untuk menambah beberapa gerai baru di area Jawa Barat, Jagat diming-imingi ‘cuma senyum manis dan tadaaa’ … ‘Perijinan beres, ruko sewaan beres, pegawai tersedia, mesin cuci dan pengering di setiap gerai tinggal pakai.’ Itu janji manis mereka. Jagat bagai bertaruh nyawa dalam perjanjian dagang itu.
Tak cuma cash flow perusahaan yang ia habiskan untuk memenuhi persyaratan dari mitra kerjanya. Jagat bahkan meminjam uang papanya dalam jumlah cukup besar demi menutupi modal tersebut. Ditambah lagi mulai maraknya usaha laundry kiloan rumahan, perlahan memukul telak usaha laundry & dry clean yang dulu begitu perkasa dan tampak eksklusif sewaktu dikelola Papa Jagat.
Pada Era Jagat, usaha rumahan memang mulai booming, me too -- alias tiruan dari semua eksklusivitas yang ditawarkan, memukul telak bisnis para pengusaha papan atas dan mapan. Café dan resto bersaing dengan warung-warung tenda, butik-butik bersaing dengan distro-distro dan factory outlet yang menjamur. Begitu pun Papa Laundry & Dry Clean mulai tersengal-sengal menghadapi gempuran laundry kiloan di tiap-tiap gang atau perumahan di distrik Jakarta.
Di awal usia tiga puluhan, Jagat yang sudah meraih pencapaian kesuksesan hidup mapan dan matang, nyatanya harus meneguk empedu pahit kegagalan diperdaya oleh rekanan. Ia nyaris terpuruk! Jiwa lelaki itu tak siap menerima kekalahan, sebab terbiasa cemerlang tanpa cela. Ia shock menanggung beban. Keterpurukan tersebut membuatnya lalai memantau gerai-gerai yang masih beroperasi. Dari tiga puluh gerai Papa Laundry & Dry Clean, tersisa tujuh gerai. Itu pun karena tiap kepala gerai masih ada hubungan keluarga dengan mereka, sehingga tetap beroperasi karena rasa sungkan kepada papanya Jagat. Sisanya mati suri, kalah bersaing menghadapi pendatang baru yang awalnya cuma dipandang sebelah mata.
Biasanya, mereka mengawali pagi di rumah penuh keceriaan, dengan obrolan khas papa muda bersama buah hatinya. Dentingan sendok garpu yang beradu dengan piring porselen bermotif bunga biru mengiringi acara sarapan mereka. s**u hangat untuk anak-anak, kopi kental buat Jagat, serta nasi goreng sosis masakan Jannah.
Berbeda kini, kehangatan mentari pagi tak menyapa jendela rumah mereka lagi. Diva dan Dewa menyantap sarapan dengan murung, lalu bergegas menuju mobil diantar Jannah ke sekolah. Setelahnya perempuan itu menjadi ratu jalanan, membelah Jakarta demi mengecek satu persatu gerai Papa Laundry & Dry Clean yang masih bernapas dan bertahan hidup.
“Sudah mulai lumayan, Mas. Gerai di Pecenongan yang tadinya hanya terima cucian lima potong per hari, kini sudah mulai terima lima belas potong perhari, lho.” Jannah tersenyum dan mengatur suara agar terdengar bersemangat. Namun tanggapan suaminya acuh tak acuh.
“Dulu kita bisa terima minimal banget lima puluh potong perhari.” Jagat skeptis.
Jannah tetap berusaha antusias, “Dan kejutannya adalah, Hotel Luxury yang sempat memutuskan kontrak, kini bikin deal baru lagi lho,”
“Si Acim lanjut deal? Gimana bisa?!” Kedua alis Jagat nyaris bertautan.
“Tadinya staf Acim gak ngizinin bertemu, Mas. Tapi beberapa kali sengaja ngopi di lounge hotel Luxury, akhirnya bisa papasan langsung dengan beliau. Gak mungkin, kan, dia tolak sapaan wanita di lobi hotelnya? Pasti gak enak sama tamu lain.” Senyum Jannah masih mengembang, menggantung di bibir mungilnya.
“Bohong! Aku tau banget Taipan b******k itu!” kilah Jagat dengan mimik wajah serius. Ia tak pernah lupa pernah bertarung di pub Luxury hotel dengan seseorang bernama Acim tersebut.
Jannah menghela napas panjang. Satu … dua … tiga …, ia memejamkan mata dan mulai menghitung. Acim, Taipan muda pemilik jaringan hotel bintang tiga di seputaran Pecenongan, Hayam Wuruk, Gajah Mada dan kota, memang mendadak memutuskan kontrak kerjasama Papa Laundry & Dry Clean, beberapa jam setelah Jagat mengamuk tak jelas di pub Hotel Luxury. Otomatis, orderan cuci sprei serta semua perlengkapan hotel serta laundry milik tamu hotel Luxury tak lagi menjadi orderan Papa Laundry & Dry Clean.
Empat … lima … enam …, kembali Jannah menghela napas panjang. Jagat ribut dengan sang Taipan muda karena perkara sepele. Perempuan teman minumnya dicolek pengunjung lain di pub remang-remang, terjadilah baku hantam di sana.
Tujuh … delapan … sembilan …, tarik napas, Jannah memejamkan mata.
“Jadi, kau tau, kan? Gak mungkin Acim mau deal dengan kita lagi. Kecuali ….” Jagat sengaja menggantung perkataannya. Sungguh, jeda yang menyiksa bagi Jannah. Perempuan itu menahan napas.
“Kecuali kau sudi berbuat tak pantas, Jannah!”
Jannah tercekat. “Astagfirullahaladzim, Maass!” pekik perempuan itu seraya menghindar, saat tangan kekar Jagat hendak menjamah wajah. Bukan untuk mengelus, tapi untuk menampar seperti biasa. Jannah beranjak lari masuk ke kamar, mengunci diri rapat-rapat dalam ruang yang seharusnya hangat oleh romansa cinta mereka, sebagaimana sebelum-sebelumnya. Jagat berlalu, menahan murka sambil banting pintu pagar, membawa mobilnya menderu dan rem yang terdengar berdecit pada tikungan di ujung jalan.
Jannah tak hendak menghapus air mata. Ia membiarkannya meleleh begitu saja, lalu kering dengan sendirinya. Atau jatuh bergulir menyentuh ujung bibir, hingga terasa asin sambil menahan perih di d**a. Apa pun yang terjadi, setidaknya ia masih beruntung karena Dewa dan Diva tak mesti menyaksikan adegan tanpa skenario di ruang tamu mungil tadi. Mereka bocah-bocah patuh, pada jam sembilan malam sudah mau rapi dan manis, tidur di ranjang masing-masing.
****
Enam bulan setelah penipuan melumpuhkan Jagat, perlahan Jannah mengambil alih kendali operasional di struktur Papa Laundry & Dry Clean, dalam keadaan sangat terpaksa, setelah rumah dan mobil hampir digadaikan untuk menutupi biaya operasional dan perpanjangan sewa gerai di tujuh ruko yang tersisa. Belum lagi melunasi utang-utang pada vendor yang menumpuk untuk pembelian deterjen, pengharum, bubuk pemutih pakaian yang berbulan-bulan tagihannya mangkir.
“Papa tutupi saja utang kalian, Nak. Tak perlu kalian jual atau gadaikan rumah dan mobil itu. Mau tinggal di mana cucu-cucu Papa?” Mata tua itu menatap keduanya dengan bijak. Jagat tertunduk. Jannah pun terdiam membisu.
“Tak perlu kalian pusing mencari penggantinya sementara ini. Papa berterima kasih pada kalian, terutama Jagat, yang telah merawat dan mengembangkan bisnis Papa hingga tetap eksis sampai hari ini. Meski …” Papa terdiam sesaat, memilah kata, “meski pada akhirnya kita dapat cobaan ini.” Jagat makin tertunduk. Rahangnya mengeras, meski bahunya terlihat lunglai dan layu.
“Hanya saja Papa minta satu syarat dari kalian.”
“Apa itu, Pa?” sambar Jagat, sedikit terlonjak dari sofa sebab saking antusiasnya.
“Tolong Jannah bantu Papa mengawasi jalannya usaha setiap hari. Please … Papa lihat Jagat tak fokus beberapa bulan ini.”
“Ya, Pa.” Lirih suara Jannah menjawab, setelah jeda cukup lama menunggu respon Jagat yang tetap geming. Hanya rahangnya tampak mengeras di antara wajah pias, serta tatapan kosong bagai tak bernyawa. Jannah takkan pernah melupakan ekspresi Jagat kala itu, takkan pernah, seumur hidupnya.
****
Api Neraka Menggapai-Gapai
Tiga bulan setelah Jannah terjun langsung mengurusi operasional Papa Laundry & Dry Clean, perlahan napas mulai berembus kembali di gerai-gerai mereka. Klien-klien besar, seperti rumah sakit-rumah sakit kelas menengah serta jaringan hotel bintang tiga, kembali menjalin kerjasama. Walau volumenya tak sebesar dulu, sebelum sekarat. Perlahan bisnis mulai kembali bergeliat.
Setelah menikah, Jannah memang totalitas menjadi ibu rumah tangga. Gelar wisudawati terbaik didedikasikannya utuh untuk merawat buah hati mereka, Diva dan Dewa. Kecerdasannya, ia gunakan mendidik dua bocah itu dengan kasih. Kurangnya pengalaman di bidang bisnis, terutama bisnis jasa laundry tertutupi oleh keluwesan dan keramahannya kala melayani customer. Perlahan kepercayaan pada Papa Laundry & Dry Clean kembali menguat. Tak hanya itu, ia pun dengan cerdik memanfaatkan nama besar papa mertuanya untuk mendekati para pebisnis senior.
Para vendor dan supplier bahan baku utama seperti deterjen, pengharum, serta pemutih kain pun, perlahan ia lobi. Secara berkala tunggakan tagihan biaya operasional ia tuntaskan, walau tak sekaligus, tapi terlihat nyata progress-nya. Ini akan mengembalikan kepercayaan vendor agar tetap menjalin kerjasama sebagai supplier.
Sayangnya, Jannah harus menikmati kebahagiaan atas kebangkitan Papa Laundry & Dry Clean seorang diri. Alih-alih merasa bangga dan bersyukur bisnis kembali menggeliat positif, Jagat malah makin jauh tak terjangkau. Ia tenggelam dalam hedonisme tanpa jeda, bersembunyi dari kegagalan sebagai lelaki yang seharusnya. Nyaris tiap malam, Jagat keluar rumah, entah ke mana. Saat hari mulai gelap, gegas ia mengenakan jeans belel dan jaket kulitnya, keluar sambil membanting pintu. Jika seharian Jannah merambah sudut Jakarta demi mempertahankan hidup-mati serta kebanggan mereka, semalaman Jagat merambah tiap sudut remang Jakarta. Café, pub, night club ia sambangi tiap malam. Menenggak minuman beralkohol, sambil mendengarkan house music. Bergoyang dengan para pramusaji yang bertebaran, memeluk mereka, hingga aroma parfum perempuan-perempuan itu menempel dan menguar hingga pagi hari.
Sering kali Jannah merasa ingin muntah, tersebab mencium bekas parfum murahan, aroma alkohol, bau rokok atau bahkan bekas muntahan pada baju suaminya. Meski sebenarnya bukan hanya aroma-aroma itu saja yang membuatnya merasa demikian. Membayangkan berganti-ganti perempuan s****l berdansa dengan Jagat, lalu memeluk tubuhnya, mencium aromanya, bahkan menikmati tiap lekuk tubuhnya, itulah sebenarnya yang jauh lebih membuat Jannah luar biasa mual. Entah apalagi yang mereka lakukan setelah episode remang-remang itu. Jannah tak ingin peduli.
Sejak aroma-aroma yang bikin emosi Jannah seperti diaduk tersebut tercium hampir setiap malam, perempuan itu memilih untuk tidur sendiri, di kamar tamu. Sebenarnya ingin ia tidur di kamar anak-anak, lelap bersama dua buah hati tercintanya. Tapi itu tidak mungkin dilakukannya. Sebab Jannah tak ingin anak-anak menemukan ketidakberesan dalam rumah tangga orangtuanya.
****