TAKUT

1005 Words
Bagaimana aku tidak takut kita berpisah. Kalau Tuhanku saja berbeda dengan Tuhanmu. **** Mungkin dari banyak cerita Cinta, yang paling menyakitkan adalah beda agama. Dimana saling mencintai, namun sangat sulit untuk bersama lagi. Seperti yang di alami oleh Langga. Bukan rahasia lagi hubungan antara Muhamad Airlangga Saputra si bintang SMA Cakrawala dengan Steffya Stella Cristiana si bidadari SMA Cakrawala. Mereka berdua merupakan siswa-siswi yang terkenal di SMA Cakrawala. Muhamad Airlangga Saputra sendri merupakan anak pertama dari orang terkaya nomor 5 se-indonesia Anak dari Muhamad Ar-Rangga dan Nayang Kartika kini sudah beranjak dewasa. Wajahnya mewarisi wajah ayahnya. Kepintarannya tak bisa di ragu kan lagi. Lantas siapa wanita yang tak tertarik dengan Langga? Langga bahkan menjadi pria terpopuler di sekolahnya. Steffya Stella Cristiana gadis dengan rambut berwarna coklat asli itu memang merupakan keturunan Jerman-Jawa. Iris matanya berwarna coklat pekat. Kulitnya putih bersih dan postur tubuhnya semampai. Ramah, baik dan tidak sombong. Membuat ia di senangi oleh orang-orang. Dari teman seangkatan hingga adik kelas semua sangat menyanyangi Stella. Stella sedang berdiri menunggu Langga keluar dari Lab IPA. Gadis cantik itu sedang bermain dengan ponselnya. Sibuk bermain game, yang sedang di minati banyak orang. Hingga, seorang memeluknya dari belakang. Membuat ia tersentak kaget. "Duh.... aku kira siapa," ucap Stella. Gadis itu lega, ketika ia tahu bahwa yang memeluknya adalah kekasihnya. "Maaf lama," ucap Langga sembari melepaskan pelukannya. "Gak pa-pa gimana udah selsai penelitian kamu?" tanya Stella seraya menatap Langga. "Udah dong..." jawab Langga, menatap kekasihnya. "Berhasil?" Langga memasang wajah muram. Membuat Stella was-was. Sebelum akhirnya ia berkata. "Selalu dong," ujar Langga sembari tersenyum manis. Hanya bersama Stella Langga bisa tersenyum manis. Lagi, Stella mampu bernafas lega. Karena kesal dengan Langga, Stella pun mencubit perut lelaki itu. "Kamu bikin aku deg-degan tau," ucap Stella kesal. Langga tertawa menanggapi ucapan Stella. "Oh iya? Bukannya kamu selalu deg-degan kalau kamu sama aku? Hm?" ucap Langga menggoda kekasihnya. Stella tidak mampu menyembunyikan wajahnya yang sudah seperti kepiting rebus. Langga hanya tertawa, melihat tingkah lucu dari Stella. "Pulang, yuk. Aku tau kamu cepek, habis latihan kan tadi?" ucap Langga seraya menarik tangan kekasih Stella. Stella hanya menurut, ketika tangannya di genggam oleh Langga. Menjadi sorotan bukan hal baru untuk mereka. Mereka sudah biasa akan hal itu. Stella menatap wajah Langga dari samping. Gadis itu terus mengamati wajah lelaki tersebut. Ia sangat menyayangi Langga. Sangat, bahkan dari sekian banyak lelaki yang pernah singgah. Hanya Langga yang mampu membuat Stella lebih berwarna dari sebelum-sebelumnya. Stella tersenyum kecil ia hanya takut. Takut jika kehilangan Langga. Meskipun sejauh ini tak ada kata bertengkar di hubungan mereka. Tapi Stella yakin jika masalah itu pasti akan datang. Karena ia sudah sadar bahwa ada tembok besar di antara mereka. Tembok besar yang membuat Stella gundah gulana. Meskipun Berulang kali Langga mengatakan untuk tidak memikirkan hal itu tapi ia tetap takut. Takut jika hubungannya berakhir seperti hubungan Papa dan Mamanya. Yang tak pernah bisa bersatu. Karena bagaimana pun Agama adalah pondasi hidup seseorang manusia. *** Gadis dengan Jilbab berwarna coklat s**u itu berjalan menyusuri gang kecil. Dengan menenteng tas besar miliknya. Ia berhenti sejenak. Cukup ngos-ngosan karena ia baru saja berjalan. Menurut info dari beberapa orang yang ia temui. Di sekitaran sini ada sebuah kosan yang sedang ia cari-cari. Karena sedari tadi, Tyas tidak menemukan kos-kosan tersebut. Gadis itu pun, memutuskan untuk bertanya dengan seseorang wanita paruh baya. Yang tidak sengaja, berpapasan dengannya. "Assalamualaikum, Bu... " "Waalaikumsalam, iya kenapa?" "Saya baru datang kesini. Jadi saya sedang mencari kos-kosan. Ibu tahu dimana letak kos-kosan dekat sini?" tanya Tyas begitu sopan. "Oh, kos-kosan ya, Nak. Alhamdulillah Ibu punya beberapa. Mungkin kalau kamu mau, kamu bisa ngekost di tempat saya," ucap wanita paruh baya itu tidak kalah ramah. "Alhamdulilah.... Saya mau, Bu," ucap Tyas begitu senang. "Kalau begitu, mari ikut saya," ajak Ibu tersebut. Dengan senang hati Tyas membuntuti Ibu tersebut. Mereka sampai di depan kos-kosan sederhana. "Ayo nak masuk" kata ibu itu dan Tyas pun masuk kedalam kamar kost itu. "Assalamu'alaikum..." Tyas memberi salam ketika masuk kedalam kost itu. "Oh iya, Bu untuk pembayarannya berapa ya sebulan?" tanya Tyas. "Murah kok, Nak cuma 400 ribu aja perbulannya," jawab Ibu tersebut. "Kalau begitu saya bayar untuk satu bulan ke depan dulu ya, Bu." Tyas menyerahkan uang seratus ribu empat lembar kepada ibu itu. "Oke, terimakasih, Nak," ucap Ibu tersebut dengan senyum yang mengembang. "Oh iya bu saya mau bertanya sekolah yang dekat sini ada gak, Bu?" tanya Tyas seraya meletakkan tasnya di lantai. "Ada, kamu mau? Tapi sekolahannya cukup favorit di sini. Dan juga itu merupakan sekolah swasta pertama di sini. Tapi tempatnya tidak begitu jauh kok," ucap Ibu itu menjelaskan. "Kalau sekolah favorit pasti mahal, ya, Bu... " ucap Tyas tersenyum kecut. "Iya begitu lah, tapi katanya di sana lagi buka beasiswa loh. Coba saja, siapa tau kamu berminat," ucap Ibu tersebut. "Alhamdulillah... Maaf saya sampai lupa, nama Ibu siapa?" tanya Tyas. "Nama saya Fernina, panggil saja Ibu Nina, " ucap Bu Nina memperkenalkan dirinya. "Kalau kamu beneran mau sekolah di sana nanti biar saya bilang sama anak saya. Siapa tau dia bisa bantu kamu untuk masuk ke sana." "Saya mau Bu," ucap Tyas. "Ya sudah, kalau begitu Ibu pulang dulu ya Ini kuncinya. Oh iya rumah Ibu di depan yang pagarnya warna hijau," ucap Bu Nina menunjukkan rumah di seberang sana. Tyas melirik sekilas rumah bercat hijau itu. Ia tersenyum lalu mengangguk. "Saya pulang dulu kalau begitu. Kalau apa-pa bilang sama saya. Jangan sungkan. Assalamu'alaikum..." ucap Bu Nina seraya tersenyum. Sebelum akhirnya beliau pergi meninggalkan Tyas. "Wa'alaikumsalam..." jawab Tyas. Tyas masih menatap punggung Bu Nina yang sudah jauh. Kemudian ia mengunci pintu kostnya. Ia terdiam, Mengambil tas selempang miliknya. Lalau ia mengambil dompet lusuh berwarna coklat itu. Uang yang ia miliki hanya tinggal 700 ribu. Bagaimana jika sekolah yang baru nanti lebih mahal dari apa yang ia bayangkan. Ia hanya bisa mengandalkan otak cerdasnya itu. Ya hanya itu yang bisa ia lakukan agar bisa dapat sekolah. Dan agaknya, ia harus mencari uang. Agar bisa menyambung hidup di sini. Untuk dia makan, dan untuk membayar kostan. "Bismillah.... Aku berserah diri kepadamu, ya Allah.... "
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD