MAAF KARNA TIDAK KETELITIAN AUTHOR PARTNYA JADI KEBALIK, ? KALIAN BISA BACA PART 5 DULU YA SEBELUM KE PART 6, MAKLUM AUTHOR JGA MANUSIA JADI BISA SALAH??
Sepi, hening, itulah yang riffa rasakan saat memasuki rumah besar ini. Meskipun ada asisten rumah tangga, baginya tidak pengaruh, karena mereka tidak pernah berbaur dengan si empunya rumah.
nando sudah berangkat ke Surabaya tadi pagi, menjalankan bisnis mewakili papahnya. Sedangkan nana belum kembali dari Singapura, bahkan menurut kabar kepulangan adek itu masih lama.
Baru tadi pagi dia ditinggal pergi pria itu, rasa rindu sudah sangat menyiksa hati riffa. Namun, dia tidak ingin berharap banyak nando akan memberinya kabar. Padahal sesungguhnya dia sangat menantikan kabar tersebut.
Malam ini, begitu pulang dari kafe kesunyian langsung menyapa riffa. Selepas membersihkan diri, langsung membaringkan tubuh lelahnya di atas tempat tidur, kembali dia teringat adek iparnya.
Baru saja hendak meraih ponsel yang teronggok di nakas, benda itu berbunyi, ada panggilan video call. Mata riffa yang semula ngantuk tiba-tiba melebar kembali. Jantung gadis itu berdegup kencang, tidak menyangka nando menghubunginya lewat video. riffa hampir saja berteriak, saking girang.
riffa memposisikan diri senyaman mungkin, duduk berselonjor kaki dengan punggung bersandar di kepala ranjang. Menyelipkan rambut ke belakang telinga, serta memasang senyum semanis mungkin sebelum menggeser tombol jawab.
"Hai, Cantik," sapa nando begitu wajahnya terpampang di layar berukuran 6,5inci.
Wajah Manda langsung merona.
"Hai juga, nando. Kapan tiba di Surabaya? Kenapa baru menghubungiku?" riffa memanyunkan bibir, pura-pura merajuk.
"Sore tadi baru nyampe. Kenapa? Kangen, ya?"
"Ish, siapalah aku, ngapain kangen sama suami orang, huh!" Wajah riffa semakin cemberut.
Di seberang sana nando tertawa. Pria itu terlihat menaiki tempat tidur. Tubuhnya yang tegap berbalut kaus putih ketat, sehingga mencetak jelas bentuk perutnya yang sixpack. Melihat itu hati riffa mendesir.
nando mengikuti posisi riffa bersandar di ujung ranjang. riffa tidak lepas mengikuti gerakan lawan bicaranya melalui gawai sambil menggigit bibir bawah.
"Ngaku aja, deh, gak usah jaim." nando menaik turunkan alis menggoda sang gadis.
Manda mendengkus."Kalau iya, terus mau apa?"
"Mau minta kamu temani aku ke sini."
"M-maksud, ?"
"Terbanglah ke Surabaya, temani aku selama di kota ini."
Hening sesaat. riffa tengah mencerna ucapan nando. Apakah, tidak salah, pria itu memintanya menyusul ke Surabaya.
Oh Tuhan, godaan apa lagi ini? Batin Manda, senang campur bingung.
"Bang Rif jangan becanda, deh. Emang gampang tinggal loncat lewat HP, gitu?"
"Aku serius, riffa sayang. Besok naiklah pesawat ke Surabaya. Hendro kusuruh mengurus tiket penerbangannya."
riffa tidak menemukan kebohongan di mata nando. Pria itu nampak serius dengan ucapannya. Lalu bagaimana dengan dirinya sendiri? Apakah mau mengikuti permintaan itu, yang berarti sama saja dengan menerjunkan diri pada kesulitan yang bakal tercipta.
Menaruh rasa suka pada suami adeknua saja sudah jelas sangat salah, apa lagi mengikuti keinginan pria itu untuk menemaninya. Bisa-bisa terjadi perang besar dikemudian hari.
" nando, apakah tidak akan terjadi apa-apa jika aku menyusulmu ke sana?"
"Aku jamin, tidak akan ada seorangpun yang tau keberangkatanmu. Hendro orang yang kupercaya. Kamu tau, kenapa aku memintamu ke mari?"
"tapi aku takut..."
"takut kenapa?, aku jamin kamu akan aman disini, bahkan papa mama ku nggk akan tau kamu disini, apalagi nana disingapure sana pasti dia tidak akan tau"
riffa tidak menjawab, hanya gelengan kepala sebagai respon. nando tersenyum, tatapannya tajam, tapi meneduhkan.
"Aku sangat merindukanmu. Aku ingin memanfaatkan waktu untuk kita berdua."
"maafkan aku, aku begitu merindukanmu, dan aku sangat mengharapkan kehadiranmu disini" tambah nando
Pengakuan nando membuai angan Manda, menciptakan vribasi tidak beraturan pada diri gadis itu.
~~~
riffa akhirnya menginjakan kaki di Kota Pahlawan. Kerinduannya pada sang adek ipar tidak lagi terbendung, menutup logika, bahwa keputusan yang dia ambil beresiko cukup tinggi.
Sebelum berangkat riffa sempat berdebat panjang dengan Sonia yang memintanya jangan pergi. Sebagai sahabat dekat, Sonia tidak ingin riffa terlibat masalah besar yang bisa menghancurkan hati orang-orang terdekatnya.
Namun, hati riffa sudah dibutakan cinta, sehingga tidak menghiraukan peringatan dan nasihat Sonia.
riffa menarik koper menyusuri lobi bandara untuk mencari nando yang janji akan menjemputnya, itu pun jika meeting cepat selesai, jika bukan dia yang datang, Hendro siap menjemput.
Sepuluh menit berlalu, riffa mulai merasa tidak nyaman, sendiri di kota yang baginya asing, meskipun masih seputar Indonesia.
Tiba-tiba riffa memekik kecil, matanya ada yang menutupi pakai jemari dari belakang. Dari aroma parfum, riffa dapat menebak siapa yang menjahilinya.
"nando!"
"Yaaah, ketebak, deh!" nando menurunkan tangan, beralih ke samping riffa. Gadis itu terkekeh sambil meninju manja bahu sang pria.
"Udah lama menunggu?"
"Hmmm, lumayan, dari kemarin," seloroh riffa. nando tertawa sambil mencapit gemas hidung mancung gadis itu dengan jari.
"Sakiiit!" Kembali riffa meninjukan kepalan tangannya, tapi keburu ditangkap nando.
"Ayo, ikut aku!" nando menarik lengan sang gadis.
~~~
Betapa indah dunia yang riffa dan nando rasakan. Rindu yang membuncah mereka lampiaskan dengan menikmati wisata yang ada di sekitar Kota Surabaya.
Selama di Kota Pahlawan tersebut, banyak tempat wisata yang mereka kunjungi diluar waktu bisnis nando. Di antaranya Atlantis Land, tempat wisata yang sedang booming selain Kenpark, atau jembatan Suramadu.
Puas dengan aktivitas jalan-jalan, mereka kembali ke hotel tempat mereka menginap selama di kota itu. Pasangan yang sedang ditumbuhi cinta terlarang itu berdiri di balkon luar, menikmati malam cerah di bawah langit Surabaya.
"Indah sekali malam ini," ucap riffa seraya menghirup udara segar di lantai atas hotel.
Di bawah sana menghampar atap berbagai macam bangunan, lengkap dengan pijar lampu aneka warna, bagaikan ribuan kunang-kunang sedang hinggap.
"Sayang, aku mencintaimu," bisik nando. Mata keduanya bertemu, karena posisi yang berhadapan, jemari saling menggenggam.
Kata itu sering nando dengungkan, seolah menegaskan bahwa dia tidak main-main dengan ucapannya. Antara bahagia, bingung, dan khawatir rasa yang mendominasi di hati riffa. Terutama kata terakhir, karena teringat akan adeknya.
"Bagaimana dengan adekku, nana?"
"Aku siap dengan konsekuensi yang bakal terjadi seandainya nana mengetahui hubungan kita. Apakah kamu juga demikian?"
riffa terlihat gelisah.
"Apa yang kita lakukan ini sebenarnya salah, ndo. Aku tidak menyangkal aku pun mencintai kamu, bahkan sudah lama aku merasakan hal ini, aku bahagia kamu mencintai aku juga, tapi bilamana nanti menghadapi kemarahan nana, keluarga, aku ... aku rasanya belum sanggup."
"Dengar, Sayang! Kamu tidak sendiri jika itu terjadi, ada aku. Apa yang kita lakukan, akan kita pertanggungjawabkan di hadapan mereka semua." nando membingkai wajah oval riffa, mengarahkan tatapan sendu gadis itu untuk melihat kesungguhan di matanya.
"Kamu percaya aku, kan, sayang?" tanya nando, takut jika gadis itu memilih mundur, memadamkan api cinta yang baru saja menyala.
"nan--" Ucapan riffa menggantung, karena ponsel nando tiba-tiba berbunyi.
Pria itu merogoh saku celana, membaca sederet nama yang tertera di layarnya.
'nana, My Wife is Calling'.
Bersambung