Lia menatap kagum pemandangan yang ada di hadapannya. Rumah sederhana dengan pemandangan asri yang di tumbuhi dengan bermacam-macam bunga di halaman sekitar. Daniel memperhatikan Lia dari belakang, senyumnya mengembang melihat bagaimana antusiasnya sang istri melihat pemandangan kota Giethoorn. “Kau menyukainya?” Daniel datang memeluk Lia dari belakang, kecupan hangat ia daratkan di puncak kepala wanita yang kini sedang mengangguk. “Aku sangat senang,” ucap Lia. “Apa perlu aku membeli rumah di sini?” Lia memutar tubuhnya, menghadap Danisl. “Kau tau? Aku sangat menyukai tempat ini, tapi itu bukanlah pusat kebahagiaanku. Karena bagiku pusat kebahagiaanku saat bersamamu.” Daniel tersenyum. “Entah perbuatan baik apa yang aku lakukan dulu, sehingga mendapatkan istri sepertimu.” Daniel k

