Bab 2

1153 Words
Carter menatap datar wanita yang kini tengah duduk di seberang meja kerjanya. Asap nikotin terus menguar membuat Mentari merasa terganggu. Beberapa kali Mentari mengibaskan telapak tangannya agar sang direktur laknat menyadari, jika asap rokok tersebut sangat menggangu pernapasannya. "Apa tuan Louis begitu putus asa sehingga menjadikanmu seorang direktur sebagai penggantinya?" Carter menghentikan sejenak hisapan pada puntung rokoknya. Pria itu bahkan dengan sengaja menyemburkan kepulan asap putih ke wajah Mentari. Ia sedikit kesal mendengar komentar pedas dari bibir tipis yang sejak tadi menggoda imannya yang serapuh daun kering. Carter menatap Mentari seakan-akan hendak menelan bulat-bulat wanita muda itu. "Atas dasar apa kau berbicara seperti itu terhadapku nona?" Nada suaranya terdengar lebih santai. Meski Mentari sadar, Carter pasti tengah menahan dongkol terhadap sikapnya. "Karena kau sama sekali tak mengerti, jika asap rokokmu bisa membuat seseorang terkena dampak negatifnya. Apa kau juga tidak mengetahui, jika sebatang rokok yang kau hisap setiap hari, itu dapat mengurangi satu hari usiamu?" beber Mentari tenang. Wanita itu sama sekali tak menunduk saat berbicara dengan sang atasan. Carter terkekeh kecil, namun ekspresinya tetap dingin. Pria itu melanjutkan hisapan terakhirnya lalu meletakkan sisa puntung rokoknya di dalam asbak kaca dengan cara menekannya. "Aku mengerti soal dampak buruk dari terkena asap rokok, dan bagi si perokok aktif seperti diriku ini, nona Connor. Tapi filosofimu mengenai usia yang bisa berkurang hanya karena sepuntung rokok? Aku sedikit meragukannya. Buktinya kakekku sampai sekarang baik-baik saja dan berumur panjang. Usianya sekarang sudah 72 tahun, bukankah itu usia yang fantastis? Jika mengikuti teorimu, mungkin hari ini aku tidak akan berada di sini, melainkan berziarah ke makam kakekku sambil bercerita panjang lebar mengenai bahayanya sebatang rokok." Ungkap Alvian panjang lebar. Pria itu berusaha mematahkan argumentasi Mentari dengan cara melemahkan teori wanita itu. Begitulah cara Carter berhadapan dengan kebanyakan orang selama ini. Mentari memalingkan wajahnya ke sisi lain. Berhadapan dengan Carter sungguh menguji ketahanan mentalnya. Pria itu selalu memiliki jawaban atas segala argumennya, dan Mentari kesal karena selalu berhasil di taklukkan oleh mulut tajam Carter yang pandai berkelit. "Apa kau sudah merasa kalah nona Connor?" Alvian kembali terkekeh penuh kemenangan. Dapat ia lihat betapa dokter cantik itu sedang sangat kesal terhadapnya saat ini. "Tidak! Aku tidak kalah, hanya saja aku di ajarkan untuk bertindak elegan kala menghadapi kecoak yang pandai terbang ketika hendak menyelamatkan diri dari serangan. Jadi, aku tidak sedang merasa kalah, karena aku bisa saja dengan mudah menginjak kecoak kecil dan menjijikan itu tanpa beban apapun." Tandas Mentari dengan sebuah seringai kecil di sudut bibirnya. Seringai penuh ledekan yang membuat Carter kian menatapnya dengan tatapan tak biasa. "Mulutmu rupanya lebih tajam dari belati nona Connor. Aku salut bagaimana bisa ayahku menjadikanmu sebagai seorang dokter bedah terbaik di rumah sakit ini. Aku khawatir kau akan melampiaskan kekesalanmu pada pasien malang yang sedang kau bedah di ruang operasi." Tukas Carter kembali menyulut rokok yang kini terjepit indah di sela jarinya. Mentari tak tahan lagi, wanita itu meraih rokok yang hendak di sulut api korek lalu mematahkannya hingga hancur. "Ah, lega rasanya dapat menyelamatkan satu hari usia anda, dokter Carter Louis Aragones." Ucap Mentari tersenyum simpul tanpa rasa bersalah. "Kalau begitu aku pamit keluar, berada di ruanganmu terlalu lama membuat kinerja otakku sedikit mengalami penurunan. Radiasi di dalam sini sepertinya sangat berbahaya untuk kelangsungan hidup juga kecerdasanku. Aku khawatir rumah sakit ini akan kehilangan dokter terbaik yang mereka miliki. Selamat siang pak direktur, senang bisa memberikan anda sedikit nasihat. Terimakasih kembali," Carter terdiam. Pria itu tak tau harus memulai kata dari mana, mulut wanita itu terus berceloteh tanpa jeda dan menyindirnya telak di depan mata. Terimakasih kembali? Sejak kapan ia mengucapkan kata terimakasih pada wanita itu? Dirinya bahkan tak sependapat dengan teori yang Mentari jabarkan kepadanya. Namun Carter memilih diam. Ia sedang mempelajari cara terbaik bagaimana menghadapi mulut setajam silet yang Mentari miliki. Niat hati membawa wanita itu ke dalam ruangannya tidak lain adalah untuk memberikan wanita itu sedikit hukuman kecil. Karena berani mengatainya sebagai dokter ca bul tepat di depan seluruh karyawan, juga dewan direksi rumah sakit miliknya sendiri. Sungguh hal paling memalukan yang pernah ia alami sepanjang hidupnya. Memiliki kehidupan yang sempurna, kekayaan yang tak akan pernah habis 7 turunan, 7 tanjakan juga 7 tikungan, serta di kelilingi oleh para wanita cantik yang rela mengantri untuk menjadi penghangat ranjangnya. Jelas Carter merasa terhina oleh mulut tajam seorang dokter yang bekerja di rumah sakitnya, di bawah naungannya. Di luar ruangan dokter Carter, Mentari menghirup udara sebanyak banyaknya. "Ah...aku bisa bernafas lega dan bebas tanpa asap neraka." Gumam Mentari sambil berkecak pinggang. "Sepertinya kau baru saja lolos dari ujian paling menyebalkan, dokter Mentari." Ujar seorang pria membuat Mentari terhenyak kaget. "Maaf.. maafkan aku, aku tak bermaksud membuatmu terkejut. Kau tak apa? Mungkin kau butuh nafas buatan, aku dengan senang hati memberikannya." Kelakar dokter Rayan terkekeh. Mentari ikut tertawa kecil. Dokter Rayan adalah dokter spesialis kandungan. Pria itu juga merupakan teman SMA nya meski tak terlalu dekat. Mentari tak banyak teman itu karena sikapnya yang sedikit pendiam namun juga galak. "Aku tak membutuhkan nya dokter Rayan. Terimakasih banyak atas tawaran anda. Tapi aku butuh mengisi lambungku agar tetap bisa fokus pada pekerjaan." Jawab Mentari menyambut candaan dokter Rayan. "Bagaimana jika aku mentraktirmu, ku rasa kau tak akan menolaknya di saat kau merasa lapar seperti saat ini." Sambung dokter Rayan terlihat antusias. Mentari selalu memiliki segudang alasan untuk ia ajak makan bersama. Terlebih wanita itu telah memiliki seorang kekasih dan bekerja di rumah sakit yang sama. "Baiklah. Aku rasa tidak buruk. Aku butuh sesuatu yang gratis dan mengenyangkan saat ini." Jawab Mentari membuat kedua sudut bibir dokter Rayan melebar. Pria itu senang akhirnya Mentari mau makan bersamanya. Sangat sulit untuk bisa berdekatan dengan wanita cantik ini, terlebih wanita itu memiliki seorang ayah yang sebuas singa. Drex selalu memamerkan wajah tak ramah di hadapan teman-teman sekolah putrinya yang bergender laki-laki. Tak ada yang berani mendekati Mentari kecuali seorang pria muda, anak dari salah satu rekan bisnis Drex. Pria itu gencar melakukan pendekatan terhadap Mentari juga keluarganya. Hingga akhirnya Mentari pun luluh dan menerimanya Tama sebagai kekasihnya. Walau hatinya masih belum bisa mencintai sepenuhnya, namun melihat respon keluarganya hati Mentari tersentuh. Saat memasuki lift, Mentari reflek menghentikan langkahnya. Terlihat ada dua orang di dalam elevator tersebut. Keduanya nampak sedikit terkejut saat melihat keberadaan seorang wanita, yang berdiri dengan ekspresi datar tepat di luar pintu elevator. Wajah Tama seketika memucat, berbeda dengan seorang wanita yang justru terlihat santai sembari memperbaiki letak blousenya yang sedikit berantakan. To be continue Kisah kasih Mentari tak seindah ibunya yang di cintai hingga mautpun tak di ijinkan mendekat oleh sang ayah. Tetap simak dan beri tanggapan kalian untuk kisah ini. Sebelumnya terimakasih banyak bagi yang sudah berkenan mampir. Itu sangat berarti bagi author. Setelah bergelut dengan pemikiran yang rumit, akhirnya author memutuskan untuk mulai mencicil update. Seharusnya menunggu novel BELENGGU SESAL tamat terlebih dahulu. Namun mengingat untuk proses review yang memakan waktu cukup lama, author akhirnya membuat keputusan yang bertentangan dengan prinsip author. Penuh cinta untuk pembaca kesayangan akak Rose _Ana
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD