Dini hari mulai menuju ke fajar. Sekitar satu jam lagi mungkin matahari akan bersinar cukup hangat, menyingkirkan musim dingin yang masih mencekam.
Bulan November sudah berakhir, dan kini memasuki minggu pertama Desember. Kesibukan natal sepertinya sudah dimulai, tampak dari beberapa toko telah mendekorasi dengan ornamen lucu yang berkaitan dengan hari besar tersebut.
Apartemen tiga lantai yang terletak di sebelah pusat kebugaran dan teater kecil itu tampak sepi. Namun di sepanjang jalan, para wanita penjaja hiburan malam yang menawarkan kehangatan mulai kembali dan memenuhi trotoar.
Lexi memilih apartemen sederhana yang dekat dengan kehidupan nyata para pejuang kehidupan dengan alasan untuk menghindari kunjungan Gwen, ibunya.
Sudah hampir enam tahun ia menghuni tempat tersebut dan meski intercom dan lift selalu rusak, namun pengelola apartemen tersebut cukup ramah. Lexi tidak berniat membelinya, karena dirinya sedang menabung uang untuk mendapatkan sebidang tanah di perbatasan kota yang jauh lebih tenang.
Dirinya tidak akan menghabiskan hidup dalam ruangan kotak yang tidak memiliki halaman.
Ia teringat akan ayahnya, yang selalu mengajari hidup untuk bertanam dan menumbuhkan sesuatu.
Lexi pun tenggelam dalam kenangan silam.
Entah kenapa, Liam selalu meninggalkan kesan yang sangat berarti dalam hidupnya. Pria itu menjadi ayah superhero yang tidak memiliki cela sedikit pun. Di sisi lain, Gwen, sejauh yang Lexi ingat, selalu pemurung dan tidak pernah melibatkan diri dalam kehidupan yang menyenangkan saat masa kecilnya.
Seringkali Lexi memergoki ibunya menangis di kamar mandi, atau menenggak pil dengan botol whiskey di tangan.
Dalam kesendirian, semua bayangan masa lalu memang selalu kembali dengan mudah. Lexi mencari-cari jawaban atas sikap ibunya yang ia lihat tidak pernah bahagia.
‘Apakah pernikahan dengan mereka memang tidak berlangsung baik? Tapi kenapa? Ayahku adalah pria sukses yang seharusnya Gwen banggakan sebagai istri!’
Pikiran-pikiran yang mempertanyakan mengenai ibunya yang memilih berselingkuh selalu menjadi ganjalan abadi dalam benak Lexi.
Mungkin karena banyaknya pertengkaran, dari pada diskusi, seluruh pertanyaan itu seperti tidak pernah mendapatkan jawaban.
Setelah menghabiskan air minumnya, Lexi menyelipkan diri di bawah selimut. Ia membiarkan jendela kaca yang menghadap ke jalanan tanpa tirai.
Semalam cukup melelahkan karena bertugas sendirian, ditambah kejadian dengan penampakan arwah yang menuntun pada diskusi mengejutkan dari Ben.
Lambat laun, matanya berat. Alunan musik bossanova pengantar tidur melelapkan Lexi.
**
Getar ponsel yang cukup keras terdengar dari arah meja kecil, di sebelah tempat tidurnya. Lexi membuka mata setengah dan beringsut mendekat, lalu meraih ponsel yang masih tersambung kabel charger.
Tulisan ‘Gwen’ di layar membuatnya malas. Namun setelah melihat jam di dinding, Lexi pun terpaksa bangun, seraya mengusap layar.
‘Ya!’
‘Aku ingin bicara, Lexi.’
‘Aku harus bekerja dua jam lagi, Gwen. shift malamku akan berlanjut hingga seminggu mendatang!’
‘Aku hanya butuh lima belas menit! Ini mengenai pasienmu, Trey Rexon Muller!’
Lexi mendadak tertarik dan berhenti berjalan ke arah kamar mandi.
‘Bisakah kau datang sekarang?’
‘Lima menit lagi aku akan sampai!’
Ibunya menutup panggilan dan Lexi meletakkan ponsel dengan hati penasaran.
Gwen memang selalu tepat waktu dan cukup presisi dalam menebak. Dalam tempo empat menit lebih, bel intercom apartemennya berbunyi. Lexi menekan izin hijau dan ibunya masuk.
Begitu tiba di depan pintu apartemennya yang ada di lantai tiga, gerutu panjang keluar dari mulu Gwen.
“Lift rusak, melewati tangga yang penuh dengan botol minuman keras, tempat tinggal apa yang kau pilih, Lexi? Apartemen ini sudah tidak layak huni!”
Lexi menuang kopi dan menawarkan pada Gwen yang segera ditolak.
“Ini kehidupanku, kita sudah punya kesepakatan dan jangan memulai!” balas Lexi mulai membangun benteng pembelaan.
Gwen menghela napas dan meletakkan tas di meja yang berbentuk peti harta karun, lalu melihat sekeliling apartemen putrinya yang berantakan. Beberapa baju bahkan tertinggal di sofa, dengan karpet penuh bercak.
Sementara memungut baju-baju Lexi, yang terpaksa gadis itu biarkan karena malas berdebat, Gwen mulai menuturkan mengenai penemuannya.
“Aku bertemu orang tua dari anak yang menjadi korban penembakan. Robert Palmer tidak pernah menerima ancaman atau permintaan penebusan atas penculikan putrinya.” Gwen memasukkan semua ke dalam keranjang kotor dan mulai mencari-cari sasaran lain untuk ia benahi.
“Dia tidak diculik, Gwen. Sidney Palmer melarikan diri dari rumah, karena orang tuanya ingin bercerai!”
Ibunya tersentak.
“Kau sudah tahu?”
Kepala Lexi mengangguk dan meneguk kopi, lalu duduk di sofa.
Gwen membersihkan dapur yang jadi satu dengan ruang tamu itu dengan lap dan mulai melanjutkan kembali.
“Palmer juga mengatakan, bahwa ada seorang polisi yang tidak menyebutkan identitas, pernah mengatakan jika laporan kehilangan Sidney juga dibarengi hilangnya para remaja lain. Kurasa kau juga sudah tahu, bukan?”
“Polisi? Mengenai hilangnya para remaja, ya aku sudah tahu. Tapi laporan polisi yang tidak menyebutkan identitas, aku baru tahu.”
Setelah menebarkan mata dengan cepat ke seluruh meja dan wilayah dapur, Gwen menatap Lexi dengan tajam.
“Kau tahu apa artinya ini, Lexi?”
Putrinya terdiam dan tidak menanggapi segera. Ia tidak ingin menguak rahasia yang telah Ben ungkapkan padanya tadi malam.
“Apa maksudmu? Bisakah kau mengatakan langsung dan tidak berbelit-belit? Aku harus bekerja.” Dengan alasan tersebut, Lexi bisa menghindar dari diskusi yang mungkin mengarah pada rahasia Ben.
“Ada seseorang yang sedang menjalankan rencana keji. Anak-anak hilang selama enam bulan belakangan ini. Aku sudah mendapatkan laporan dari kepolisian, termasuk dari seluruh pihak rumah sakit mengenai kematian para remaja.” Gwen menjeda kalimatnya dan berjalan mendekati Lexi.
Hati wanita muda itu kian berdebar. Pikirannya menyangkal jika ibunya akan secerdas itu mengetahui tentang Black Domino!
“Dua polisi yang menembak Sidney dalam keadaan terhipnotis dan mereka tidak sadar saat melakukannya. Pihak kepolisian menutupi hal tersebut, karena sedang menyelidiki dalang dari semua. Tiba-tiba keberuntungan padaku, karena kasus yang pernah kutangani sepuluh tahun yang lalu ada kaitannya dengan seorang mafia keji bernama Black Domino!”
Tubuh Lexi seakan tersiram air dingin dan membeku.
Gwen yang paham akan reaksi putrinya, kini mengerutkan kening. Tidak seperti yang Lexi pikirkan, bahwa ibunya adalah sosok yang tidak mengerti tentang dirinya, ternyata Gwen mengenal dengan baik Lexi!
“Kau juga sudah tahu …,” desis Gwen dengan wajah pias.
Lexi mengalihkan pandangan dengan gugup.
“Jangan kau pikir aku tidak tahu dirimu, Lexia Dixon. Meski selalu ada penyangkalan bahwa aku ibumu, tapi sesungguhnya aku mengenalmu dengan sangat baik.” Suara Gwen terdengar tercekat.
“Apa yang kau inginkan setelah semua ini terkuak? Tidak ada hubungannya sama sekali dengan diriku, karena aku hanyalah dokter.”
“Kau salah karena jelas ada kaitannya denganmu. Aku butuh bicara dengan tuan Muller, karena hilangnya para remaja itu harusnya dia ketahui sebagai orang yang hidup menggelandang. Terlebih lagi, aku juga butuh tahu, siapa informan yang memberitahumu tentang hal yang kusebutkan tadi, atau aku mundur sebagai penjamin tuan Muller!”
Ancaman dan tekanan tegas dari ibunya membuat Lexi tersudut.
“Kenapa? Kenapa kau begitu antusias sekali? Kupikir kasus receh ini bukan hal yang penting buatmu, Gwen Dixon!”
Mulut ibunya mengeras dan sesaat ada kilat di mata Gwen. Kini pelupuk wanita itu dipenuhi cairan bening.
“Karena ini saat yang tepat untuk menguak siapa Liam Dixon sebenarnya. Bencilah aku setelah ini, karena mungkin kau tidak akan menerima.”
Lexia menatap wanita yang selama ini ia benci dengan bingung sekaligus bimbang.
“Dad? Ini ada kaitannya dengan ayahku?”
Gwen menarik diri dan mengusap mata dengan buru-buru.
“Kasus ini akan menjadi titik balik hubungan kita, Lexi. Tapi semua tergantung padamu. Aku akan menguak semua setelah kau memberitahu siapa informan itu dan undang tuan Muller untuk datang.” Gwen bangun dari duduk lalu menyambar tasnya.
Lexi menatap kepergian ibunya dengan tertegun.
Dirinya tidak pernah menyangka jika Gwen begitu jenius dan memiliki pikiran yang begitu tajam. Terlebih lagi, ada rahasia yang mengaitkan Liam Dixon dengan kasus tersebut!
‘Apakah dad terlibat dengan Black Domino? Tapi kenapa?’
Kini teka teki itu memenuhi kepala Lexi dan ia tidak menyukai kebuntuan ini!