Part 7

1818 Words
Randy yang sudah berada dimobilnya hanya duduk diam dikursi belakang. Dia masih tidak terima dengan perjodohannya ini. Andhika yang melihat anaknya diam saja pun membuka suaranya. "papa tau kamu masih belum bisa menerimanya, tapi papa yakin kamu bisa mencintai Ola lebih dari seorang sahabat" suara papa yang menyadarkan lamunan Randy. Bagaimana bisa Menikah dengan wanita yang notabene nya adalah sahabatku sendiri? Apa aku bisa mencintainya? Padahal aku mencintai adiknya, iya Ola memang baik, dia sangat baik bahkan, tapi apa aku pantas menjadi suaminya nanti, Ola kan sudah tau segala sifatku, yang berbeda jauh dengan sifat Ola apalagi sekarang aku masih ada rasa dengan adiknya "aku tidak tahu pah bisa menerima perjodohan ini apa engga.." ucap Randy dengan suara nya yang agak serak. Papa menengok ke belakang dan menatap Randy "kamu harus menerimanya Rand, papa itu banyak utang budi dengan pak Rahman, Rahman dan Gita itu orang yang sangat baik, pasti anaknya juga baik,, apalagi kan kamu sudah kenal lama sama Ola, jadi apa yang harus dipermasalahkan?" argghh kalau sudah begini aku bisa apa, papa kalau sudah memaksa tidak bisa ditolak. Randy menjambak rambutnya sendiri frustasi. .... Sepulang dari acara makan malam, aku memilih untuk langsung masuk kekamarku untuk solat dan istirahat. Yaa Allah ko bisa ya aku dijodohin dengan Randy, dia kan sahabatku mana mungkin dia jadi suamiku nantinya ehhh salah maksudku calon suami ku... Aku tak pernah merasakan jatuh cinta dan tidak pernah berpacaran, apakah dia akan menjadi cinta pertamaku? Tapi bagaimana perasaan Randy, setahuku Randy menyukai Tiara. Ya Allah berikanlah hambamu ini kemudahan untuk menerima perjodohan ini. Hanya kepadamu lah aku meminta berikanlah yang terbaik pada hambamu ini amin aku menutup doa dengan tangan mengusap ke wajahku. Tidak lama aku melihat mama yang sudah didepan pintu berjalan masuk kekamarku lalu duduk disampingku "Ola" ucap mama lirih "iya mah" ucap ku sambil membuka mukenaku "kamu baru abis solat ya, La?" "iya mah, ada apa mah, mama tumben ke kamar aku jam segini" aku memandang wajah mama lama. Mama tersenyum lalu mengusap rambutku "iya ola, mama tahu kamu pasti belum bisa menerima perjodohan ini, tapi mama ingin yang terbaik untuk kamu La, mama harap kamu bisa menerimanya ya La" Aku melihat wajah mama yang begitu berharap kepadaku untuk bisa menerima perjodohan ini, aku gak tega melihat mama dan papa sedih jika aku tidak menurti permintaannya tanpa terasa mulutku mulai menjawab harapan mama "aku terima kok mah perjodohan ini, aku ikhlas asal kedua orangtua ku bisa bahagia" mama yang mendengar langsung tersenyum dengan mata nya yang berbinar-binar "kamu serius nak? makasih ya kamu sudah menerima perjodohan ini" ucap mama lalu mencium keningku dan memelukku Aku melihat wajah mama yang begitu senang saat aku menjawab, aku gak tau kenapa bisa menjawab terima pada mama, padahal Perasaanku sejak mendengar perjodohan ini aku benar-benar kaget dan tidak menyangka kalau aku bakal dijodohkan, apalagi aku dijodohkan dengan sahabatku sendiri aku masih terus memikirkan hal ini yang membuatku tidak bisa tidur tenang. Aku ingin menolaknya tapi sudah terlambat karena aku sudah terlanjur bilang setuju kepada mama, gak mungkin kan tiba-tiba aku ingin menolaknya. ... 17 September Hari ini aku dan randy ulang tahun yang ke 17, aku gak tahu nantinya bila benar perjodohan ini dilakukan, aku akan menikah diusia ku yang masih muda, bagaimana kata orang nanti? Aku terus memikirkan hal ini yang membuatku sedikit pusing. Aku bersiap seperti biasanya untuk kesekolah, setelah menggunakan hijabku aku bercermin kembali melihat penampilanku. serasa sudah rapih aku pun turun kebawah untuk sarapan. Semangat Ola !! "Selamat ulang tahun Ola sayang" ucapan yang terlontar dari mama dan papa dipagi hari ini sambil menciumku membuatku sangat senang tapi dilain hati aku masih memikirkan tentang perjodohan itu "iya,mah pah makasih" ucapku tidak semangat Tiara yang baru turun dari tangga menghampiri kami yang sudah berada di meja makan "Happy birthday kakaku sayang, semoga apa yang diingin bisa tercapai ya ka" "iya makasih, Tiara " jawabku sambil membalas senyuman tiara "pagi,mah pah" ucap Tiara dengan senyuman lebarnya "kamu ko kayanya hari ini seneng banget dek" ucap mama kepada Tiara sambil mengolesi roti dengan selai coklat, yang ditanya hanya tersenyum senyum dan langsung duduk di kursi sampingku lalu menikmati sarapan. Setelah sarapan aku dan Tiara pamit untuk kesekolah. ... Disekolah.. Aku melangkahkan kakiku dengan cepat agar bisa sampai ke kelas, kepalaku sedikit pusing karena tidak bisa tidur akibat terlalu memikirkan perjodohanku dengan Randy. Dan akhirnya aku sampai di kelas "Assalamualaikum" ucap ku lalu menghampiri sahabatku yang sudah duduk di meja paling depan.. "iya, waalaikumsalam Olaa..." jawab Fani Aku memberi sedikit senyuman untuk Fani lalu langsung duduk dibangkuku. Silvi memandangku dari bangkunya aku hanya membalasnya dengan senyuman "ciee yang ultah, eh kembaran lo mana La?" kata silvi "siapa? Randy?" ucapku spontan "gw disini sil, kenapa emang?" teriak seseorang yang ada dibangku belakang, aku dan Silvi menengok ke belakang mencari sumber suara "lah, lo sejak kapan disitu Rand? gw ko ga liat ya dari tadi.." ucap Silvi "ya, emang gua dari tadi disini, sebelum kalian dateng ge, gua udah disini." ucap Randy lalu ia bangkit dari bangkunya menghampiri kami "Oiya deh Rand , oiya yang ulangtahun selamat yaa semoga kalian berdua sehat selalu, panjang umur, dan segala yang diinginkan bisa tercapai" ucap Silvi lalu menyalami Ola dan diikuti Fani "iya gue juga doanya yang baik-baik aja buat kalian berdua, jangan lupa makan-makan okay!" Fani menepuk bahu Randy yang dibalas senyuman tipis oleh Randy "iya makasih, Fan, Sil atas semua doanya" ucapku "iya makasih girls.." teriak Randy "iya sama-sama" ucap Fani dan Silvi bebarengan Hari ini aku merasa canggung dengan Randy, apa karena soal tadi malam, biasanya kami berdua tegur sapa dipagi hari dan ini ulangtahun kami berdua.. namun sekarang aku untuk melihatnya saja tidak berani apalagi menyapanya, huh.. bikin kepalaku makin pusing saja. Bel jam pertama sebentar lagi bunyi, anak-anak sudah berada didalam kelas.. kelas pun masih ramai karena mereka sedang sibuk memberi selamat padaku dan Randy yang berulang tahun hari ini. Randy yang sedari tadi hanya diam tiba-tiba bangun dan berdiri dibangkunya "okay guys, makasih atas ucapan kalian, hari ini gue mau memberi tahu, nanti malam gue dan Ola ingin mengundang kalian semua diacara ultah gue dan Ola, ya ga gedegede banget sih ini hanya syukuran aja, jangan lupa dateng " Randy berbicara dengan lantangnya. Para siswa pun hanya bersorak ria mendengarnya "wisss akhirnya lu bikin party juga brohh, kalo lu ga bikin party kan nanti gue yang bikin party hahaha" ujar Adit salah satu teman kelas mereka "asik dah Randy, Ola, kapan lagi kalian bikin party, gitu dong" ucap Doni yang cengengesan. Aku hanya menggeleng gelengkan kepalaku dan tersenyum melihat teman teman ku yang begitu antusias. "ini cuman syukuran aja, bukan party yang seperti kalian mau, tapi aku harap kalian bisa dateng, di restoran Grand Bintang nanti malam" "okeyy kami pasti datang ko La, tenang aja" ucap para siswa barengan. Dhika yang baru datang langsung menanyakan pada Randy "lah lu kemarin sama Ola katanya ga mau bikin pesta Rand, ko tibatiba lu ngadain acara sih" "iya tadinya mah emang gue ga mau Dik, tapi noh bokap gue yang nyiapin pesta nya, gue cuman disuruh ngundang teman sekelas dan teman yang lainnya" ucap Randy lalu membuka buku Matematika nya. Dhika hanya menjawab ohh gitu sambil menganggukan kepalanya Tidak lama bel pun berbunyi kring.. kring Jam pertama segera dimulai.. seperti biasanya anak-anak mengikuti pelajaran dengan baik. "lu, lagi kenapa Ola, ko dari tadi diem aja sih, gue liatin kayaknya lu lg ga konsen" bisik Fani disela-sela pelajaran matematika. Aku menggelengkan kepala "hem.. oh.. enggak Fan gpp, aku lagi gak fit aja nihh.."ucapku Aku masih sedikit pusing, dan hari ini aku ga fokus dengan pelajaran untung saja bu Ferly menerangkan materi yang sudah kumengerti jadi aku tadi tidak memperhatikannya. ... Kring... jam istirahat pun berbunyi... seperti biasa ini adalah waktu yang ditunggu tunggu anak-anak, setelah otaknya dikuras dengan rumus-rumus. Fani menarik tanganku dan Silvi untuk ikut kekantin dengannya. Aku hanya menganggukan kepala. Saat kami berjalan menuju pintu kelas yang ada didepan langkahku terhenti karena ada seseorang yang memegang tanganku, aku pun berbalik dan ternyata Randy yang memegang tanganku "hemm, Ola bisa ngomong sebentar?" ucap Randy yang sudah menarik tanganku "hemm, Randy maaf tangan kamu" ucap ku lalu melirik Randy yang memegang tanganku "oh, iya maaf La, bisa ikut gue sebentar?" Setelah memberitahu Fani dan Silvi untuk duluan saja, aku mengikuti Randy yang mengajakku duduk di bangku paling belakang . "ada apa, Rand? Kita ngomongnya dikoridor depan aja ya, yang gak terlalu sepi" ucap ku dengan mataku yang sedang melihat kearah kelas yang sudah sepi karena ditinggal penduduknya istirahat "disini aja ya La, gue gak mau ada yang denger obrolan kita mengenai perjodohan kita La" ucap Randy lalu mengajak ku duduk di bangku paling belakang Setelah duduk aku dan Randy saling diam dan hening seketika. Akhirnya Randy membuka obrolan "Hemm Ola, apa kamu serius dan bisa menerima perjodohan ini?" ucap Randy lalu menatap wajah perempuan disampingnya. sempat hening sebentar karena aku tidak membuka suara.. tapi tidak lama aku membuka suara "hemm aku gak tau Rand, mungkin saat pertama aku mendengarnya aku sungguh sangat kaget, dan sempat tidak menerima perjodohan ini, tapi aku juga tidak bisa menolak permintaan papah dan mamahku Rand" ucap ku lalu aku menundukkan kepala Randy yang tahu perasaan Ola juga bingung dengan keadaan mereka sekarang ini "gue juga sama Ola, gue tidak bisa menolak permintaan mereka, lalu bagaimana dengan perasaan kita?" "soal perasaan jujur aku juga gak tau Rand, ya mungkin aku akan mulai menerima kamu untuk menjadi calon suamiku" ucap ku jujur yang diimbangi perasaan malu dan gak enak "Gue hanya ingin menikah sekali La, jadi mungkin ini jawaban Allah selama ini tentang jodohku, tapi apa kamu siap menikah dengan lelaki sepertiku?, lo terlalu baik untuk gue La" Randy menatap ku aku masih menundukkan kepala. Lalu aku menengok kearah wajahnya lalu ikut menatap matanya, hening sejenak lalu aku membuka suara "insyaallah aku menerima kamu apa adanya Rand.. aku juga hanya ingin menikah sekali, jadi aku serahkan semuanya kepada allah karena jodoh, rezeki, dan kematian hanya allah lah yang tahu, tapi.." aku memandang Randy sambil menggantungkan kalimatku "jika kamu menerima aku apa adanya, aku akan mencobanya karena kau adalah sahabat terbaiku Ola, tapi apa?" tatapan Randy begitu tajam sehingga membawa suasana menjadi hening dan sedikit canggung saat Randy bicara seperti itu. "tapi bagaimana perasaan kamu dengan Tiara Randy?" tanyaku pelan Tiara? Astaga Tiara sehabis ini aku akan bicara dengannya aku masih mencintainya tapi mau gimana lagi mama dan papa sudah mendesak untuk menerima perjodohan ini. Pikir Randy "Tiara ya? ga usah dipikirin La, aku memang masih sedikit ada rasa tapi aku yakin aku bisa melupakannya" Ucapan Randy membuatku tidak enak bagaimana bisa Randy akan menyukaiku sedang dia menyukai adikku, aku benar-benar merasa bersalah dengan Randy karena menerima perjodohan ini "maafin aku Randy, karena aku memilih menerima perjodohan ini" ucapku terbata Randy mengangguk "sudahlah Ola gpp, yang penting orang tua kita bisa bahagia" Aku menganggukan kepalaku lalu menatap Randy dan mengajak Randy ke kantin untuk menyusul yang lainnya, karena waktu jam istirahat sebentar lagi habis.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD