Jakarta malam ini. Raisa dan Bima duduk di sebuah meja yang terletak di tengah restoran yang ramai. Cahaya lembut dan hiruk-pikuk kota mengisi udara di sekitar mereka. Raisa memegang tangan Bima dengan penuh dukungan, memberikan keberanian dan keyakinan dalam rencana mereka untuk mengungkapkan kebenaran kepada keluarga mereka. Bima menatap Raisa dengan tulus. "Ini mungkin langkah besar, Raisa, tapi aku percaya ini adalah hal yang benar. Kita harus mengungkapkan kenyataan kepada keluarga kita, meskipun itu mungkin sulit." Raisa tersenyum lembut. "Kamu fikir begitu, Bima. Ini waktu yang tepat untuk membuka hati dan memperbaiki hubungan yang telah terputus. Kita akan melakukannya bersama-sama." Setelah hidangan utama mereka tiba, Raisa memulai pembicaraan dengan penuh perasaan. "Bima, ak

