Setelah Jack menceritakan apa yang didapatnya dari telepon tadi bahwa Tiffany telah ditemukan, sekeluarga itu berangkat dengan tergesa-gesa ke rumah sakit. Biasanya jika berpergian, mereka sering memakai kendaraan masing-masing. Namun kali ini, semua serentak memakai satu mobil agar perjalanan lebih cepat.
Sepanjang perjalanan semua terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Kenhart terlihat paling gelisah, sementara adik-adiknya saling berpandangan. Mereka duduk berhimpitan. Untunglah mobil dipakai cukup luas jadi tidak penuh sesak. Sopir mengemudikannya dengan hati-hati sekalipun mereka dikejar waktu.
Sesampainya di rumah sakit, mereka langsung menuju ke ruangan tempat Tiffany dirawat. Gadis itu langsung dipindahkan ke ruang perawatan khusus sesuai dengan perintah Jack sebelum menutup telepon. Dia tidak mau media tahu dan meliput beritanya. Nama keluarga mereka bisa tercemar. Terutama orang-orang desa dan para pekerja di peternakan.
Ketika pintu kamar terbuka, tampaklah sosok mungil itu sedang terbaring di ranjang dengan mata tertutup. Sebelah tangannya dipasang infus. Bajunya sudah terganti dengan baju khusus pasien berwarna hijau. Bunyi napasnya teratur, dengan dengkur halus yang terdengar.
"Kami memberinya obat. Efeknya adalah rasa kantuk yang hebat. Mengingat kondisinya yang kacau, dia harus banyak beristirahat." Begitu penjelasan dokter yang mendampingi.
Mereka semua patuh. Dokter tentu saja lebih mengetahui apa yang harus dilakukan jika kondisinya seperti ini.
"Apa yang terjadi kepadanya?" tanya Kenhart dengan nada khawatir.
Ada beberapa memar di sekitar pergelangan tangan, bekas luka di beberapa bagian tubuh gadis itu. Dia mendekatinya di ranjang, menggenggam sebelah jemarinya dan mengecup kening Tiffany dengan hangat.
Melihat itu, Richard dan Raymond memilih untuk keluar kamar. Mereka tak mau terlalu mencampuri. Jack dan Marry tampak berbincang banyak hal dengan dokter, sementara Kenhart dengan sabar menunggu gadis itu hingga tersadar.
"Tuan dan Nyonya bisa ikut ke ruangan saya sebentar." Dokter itu berkata, karena ini sebaiknya memang dibicarakan secara privacy.
Dua orang itu meninggalkan putra sulung mereka yang masih saja setia menunggu. Mereka mengikuti langkah sang dokter hingga tiba pada sebuah ruangan yang sedikit jauh dari kamar perawatan tadi.
"Silakan duduk. Kami akan memberikan hasil visum nona Tiffany."
Dokter itu membuka sebuah map yang terletak di mejanya. Pasien adalah salah satu keluarag dari orang penting di kota ini, sehingga diberikan perlakuan khusus. Jangan tanya jumlah tagihan rumah sakit yang akan dibayar nanti. Jack dan Marry akan melunasinya dalam waktu sekejap. Di rekening mereka ada jutaan dollar yang siap ditransfer kapanpun mereka inginkan.
"Baiklah. SIlakan saja dimulai."
Lalu dokter memulainya dengan perlahan. Memberikan sedikit demi sedikit informasi berdasarkan hasil pemeriksaan tim mereka tadi. Mata Marry terbelalak, dengan tangan menutup mulut. Tak percaya dengan apa yang yang terjadi. Ini seperti mimpi atau cerita di channel favoritnya.
Seumur hidup keluarga mereka tak pernah membuat skandal, kecuali Richard yang pernah mengadakan pesta amoral bersama teman-temannya dan memakai sedikit obat terlarang. Jack harus menyuap banyak pihak agar berita itu tak tersebar. Karena itulah, bendar semacam itu dilarang beredar di lingkungan rumah mereka. Jack sudah mengultimatum semua anaknya.
"Kami sudah melakukan semua yang terbaik, tapi sepertinya Nona Tiffany mengalami syok yang cukup hebat, hingga perlu diberikan sedikit obat penenang." Dokter itu melanjutkan pembicaraan.
"Ya Tuhan! Apa yang harus aku katakan kepada ayahnya. Aku sudah berjanji akan merawat putri bungsu mereka."
Air mata Marry berlinang. Jack merengkuhnya. Bahu wanita itu terguncang. Isaknya semakin keras saat tangan sang suami membelai lembut kepalanya. Jack bahkan menghadiahkan sebuah sentuhan lembut di kening istrinya untuk menenangkan. Namun, perasaan wanita itu tetap saja gelisah.
"Sementara ini, Nona Tiffany harus dirawat. Kami akan menyediakan perawat khusus yang akan mengurusnya setiap hari secara bergantian. Ini tidak hanya trauma fisik namun juga psikis," lanjut dokter itu.
Jack dan Marry akhirnya memilih untuk keluar dan kembali ke ruang perawatan. Ada yang harus mereka sampaikan kepada putra-putra mereka, juga semua penghuni rumah nanti jika mereka sudah pulang. Saat ini Jack meminta istrinya untuk menahan diri. Terutama untuk tidak bercerita kepada grandma tentang kondisi Tiffany. Nenek tua itu sudah terlalu lelah mendengar berbagai macam persoalan anak cucunya.
"Apa kata dokter?" tanya Kenhart saat mendapati kedua orang tuanya kembali.
"Kami akan menceritakannya di rumah, Ken. Semua orang wajib tahu untuk menjaga Tiffany jika dia pulang nanti," jelas Jack.
"Apakah itu fatal?" Kenhart berjalan ke arah ayahnya. Mengapa mereka menyembunyikan sesuatu. Itu sungguh membuat penasaran.
"Tenanglah, Nak. Kita akan bicarakan semuanya nanti. Jangan bertengkar di sini. Tiffany butuh istirahat."
Marry menahan tubuh putranya yang sejak tadi sepertinya hendak menyerang ayahnya sendiri. Dia paham sekali, untuk beberapa hal, putra sulungnya ini bisa berubah menjadi temperamental dalam waktu sekejap. Namun, juga bisa menjadi lembut untuk hal yang lain.
"Kalian jangan membuat aku khawatir. Aku benar mencintainya," ucapnya sungguh-sungguh. Matanya menatap dua orang itu dengan tajam.
Jack dan Marry saling berpandangan. JIka mengetahui apa yang telah terjadi kepada Tiffany, apakah putranya masih bisa menerima? Sungguh, mereka menyangsikan hal itu. Karena itulah, Jack telah berpesan kepada istrinya untuk menceritakan semua setelah suasana kembali tenang.
"Aku akan pulang sekarang bersama adik-adikmu. Dan akan meminta kepolisian menyiapkan beberapa orang bodyguard untuk menjaga kamar ini. Media sekarang sungguh canggih. Sepertinya mereka mempunyai CCTV dimana-mana. Berita kecilpun bisa tersebar." Jack berpamitan kepada anak dan istrinya.
"Baiklah. Kami berdua akan menjaga Tiffany," kata Marry.
"Aku akan mengirim sopir kembali ke sini setelah mengantar kami," lanjut Jack.
Lalu dia keluar kamar dengan tergesa-gesa. Ada banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Lagipula Tiffany sudah ditemukan dalam keadaan selamat, sekalipun sudah tidak utuh. Bukannya dia tidak perduli, hanya dalam keadaan seperti ini, tidak mungkin dia meninggalkan semua urusannya begitu saja. Ada Marry dan perawat khusus yang akan menjaga gadis itu. Dia hanya perlu memantau mereka sesekali.
"Apa yang terjadi kepada Tiffany, Dad?" tanya Raymond saat mereka sudah di dalam mobil.
"Kami akan menceritakannya nanti. Yang pasti penculikan ini harus diusut. Aku tidak terima ada yang berani bermain-main dengan keluarag Andersons," kata Jack dengan geram.
"Kau akan membayar mahal," kata Richard.
"Aku tidak perduli. Semua yang terjadi di rumahku adalah tanggung jawabku. Memang aku bukan orang baik dan banyak melakukan kecurangan. Namun, tidak boleh ada yang berani menyentuh keluargaku," jelas jack kepada kedua putranya.
"Jangan terlalu kau risaukan, Dad. Tiffany hanya keluarga jauh kita. Kau hanya perlu memberi uang yang banyak untuk tutup mulut dan menyuruhnya pulang," ucap Richard santai.
"Dan mematahkan hati Kenhart? Aku tahu rasanya jatuh cinta, jadi tidak akan mengecewkan putra sulungku," jawabnya dengan sungguh-sungguh.
Raymond dan Richard saling berpandangan. Memang Kenhart selalu disayang oleh ayah mereka sejak dulu. Itulah yang kadang membuat mereka iri. Jack bahkan tidak marah saat kakak sulung mereka menolak untuk bekerja di perusahaan keluarga. Dia bahkan diam-diam menyewa orang untuk memantau pergerakan Kenhart.
Sementara itu di kamar perawatan, Kenhart sejak tadi terus memaksa ibunya untuk menceritakan semua. Dia gelisah jika belum mengetahui kepastian kondisi wanita yang dicintai.
Akhirnya, dengan berat hati Marry berucap. Mata Kenhart terbelalak saat mendengar itu. Seketika, dia luruh.
Tiffany telah diperkosa!