The Andersons

1121 Words
Denting suara sendok dan garpu yang beradu dengan piring menjadi pemandangan yang lazim di rumah ini setiap paginya. Enam orang duduk menikmati seporsi spagetti dengan irisan bawang bombay dan topping daging cincang. Di tambah dengan lelehan mozarella menambah nikmatnya sarapan pagi ini. "Siapa dia, Mom?" tanya lelaki yang usinya paling muda di antara mereka. Raymond, putra bungsu keluarga Anderson yang berusia delapan belas tahun. Statusnya adalah seorang pelajar di sebuah universitas ternama di pusat kota. "Tiffany," jawab wanita paruh baya berusia lima puluh tahun, yang dipanggil mom tadi. Marry, dia adalah istri dari tuan Anderson sekaligus nyonya rumah ini. "Maid baru?" tanya seorang lelaki berusia dua puluh tiga tahun yang duduk di tengah. Matanya sejak tadi mencuri pandang, pada gadis yang membawakan sekeranjang roti dan meletakkannya di meja. Richard, putra kedua keluarga Anderson. Dia bekerja sebagai seorang arsitek yang membantu proyek ayahnya. "Bukan. Dia anak bungsu Sam. Sepupu jauhku." jawab wanita itu lagi. "Cantik," kata seorang lelaki lain berusia tiga puluh satu tahun yang duduk di ujung. Dia adalah putra sulung dari keluarga ini. Kenhart, seorang pengacara terkenal di pusat kota. Jaringan bisnis ayahnya yang cukup besar, membuat karirnya melesat dengan cepat. "Tutup mulutmu, Ken!" Mata wanita itu terbelalak. Sementara yang lain hanya tersenyum geli melihat kelakuan dua orang ini. "Sarapan macam apa ini!" Sosok lelaki paruh baya lima puluh tiga tahun itu meletakkan sendok dan garpu dengan kasar, lalu mengambil lap dan membersihkan mulutnya, juga menghabiskan air dalam sekali teguk. "Aku berangkat." Dia berjalan meninggalkan ruang makan itu dengan tampang angkuh. Jack Anderson, sang tuan di rumah ini. Seorang pengusaha real estate dan perumahan yang sedang berkembang di pusat kota. Semua orang terdiam melihat kepergiannya. Lalu kembali menikmati sajian masing-masing seolah-olah tak terjadi apapun tadi. "Kau tidak berpamitan dengan mommy, Son?" ucap seorang wanita tua berusia tujuh puluh tahun yang duduk tenang sambil menikmati seporsi kentang tumbuk yang ditaburi parsley dan keju parut. Lelaki tadi berbalik lalu berjalan kembali menuju kursi sang ibu dan mengecup pipinya. "Aku berangkat," bisiknya. Mengabaikan semua orang di sana termasuk istrinya. Marry menarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan. Sudah hampir dua tahun ini sikap suaminya berubah. Sejak ada orang ketiga di dalam kehidupan rumah tangga mereka. "Aku berangkat, Mom." Satu per satu putranya berjalan meninggalkan ruang makan. Seperti kebiasaan di dalam rumah ini, mereka akan mengecup lembut pipi sang nenek sebelum berangkat. Wanita tua itu akan terkekeh ketika sang cucu menggodanya dan mengatakan bahwa dia tetap cantik sekalipun usianya sudah mendekati satu abad. "Antar aku ke kamar, Marry." Susan, itulah nama sang nenek. Dia adalah ibu kandung dari Jack. Marry adalah menantu kesayangannya, karena itu dia memilih untuk tinggal bersama mereka. "Mommy mau tidur?" tanya Marry setelah membersihkan mulutnya dan menghabiskan segelas s**u. "Hem. Cuaca hari ini mendung, aku ingin merebahkan tubuh tuaku di kasur empuk." Dia meletakkan lap di meja. Menyusun sendok bersilangan dengan garpu. Gaya khas para kaum bangsawan yang sangat mengerti etika di meja makan. "Tiffany!" Marry berteriak memangil. Tak lama gadis yang dimaksud datang dengan langkah cepat. "Yes, Madam?" "Bawa Grandma ke kamar." Dia memerintahkan agar si gadis mendorong kursi roda milik Susan. Wanita tua itu sudah tak kuat berjalan. Kakinya lemah, tulangnya rapuh, karena itulah Marry mengambil Tiffany untuk mengurusnya. Gadis itu sudah tamat sekolah dan tidak punya biaya untuk melanjutkan pendidikan. Jadi, Marry berbaik hati memberikannya pekerjaan. Lagipula, karena mereka masih ada hubungan darah, dia memberikan fasilitas yang berbeda dari maid lain yang bekerja di rumah mereka. "Baik, Madam." "Hei, jangan memanggilku seperti itu. Kau keponakanku. Panggil aunty," kata Marry tak suka. Dia memang tipikal wanita yang angkuh, sama seperti suaminya. Hanya saja, untuk beberapa hal, dia masih memiliki toleransi. "Baiklah, Aunty," jawabnya patuh. "Kau sudah makan?" tanya Susan menimpali. "Sudah, Grandma." Tangannya bergerak meraih gagang kursi roda. Bersiap hendak membawa wanita tua itu kembali ke kamar. "Baiklah, bawa aku ke kamar. Aku ingin berlayar menemui Grandpa." Ucapan ibunya tadi membuat hati Marry terhenyak. Beberapa bulan ini, sang ibu sering menyebut mendiang ayahnya. Dia takut dan mulai berprasangka, apakah wanita ini akan meninggalkannya dalam waktu dekat. "Jangan bicara begitu, Mom," lirihnya. "Aku memang selalu memimpikannya, Marry. Dan hanya itulah yang membuatku bahagia." Tangganya memberi kode agar Tiffany segera mendorong kursinya. Gadis itu dengan patuh menuruti perintah sang majikan. Marry menatap sang ibu dari kejauhan. Dia sendiri memilih untuk kembali ke kamarnya. Hari tidak ada pertemuan apapun dari berbagai kumpulan sosialnya. Jadi, dia bisa bebas menonton serial terbaru dari channel favoritnya. "Aunty, boleh aku masuk?" Suara seseorang terdengar di depan kamarnya. "Masuk, Tif," jawabnya. "Eh, itu ..." "Ada apa?" "Aunty, apa yang harus aku kerjakan lagi?" "Beristirahatlah. Kau baru saja datang dari desa." Marry menatapnya heran. Tiffany terdiam sesaat, sepertinya ingin mengatakan sesuatu tetapi niatnya urung. "Ada apa?" tanya Marry lembut. Mungkin sikapnya yang sedikit keras membuat gadis ini takut. "Bolehkah aku ... bermain di taman belakang?" ucapnya ragu. "Tentu saja boleh. Kalau bebas bermain sesukamu. Hanya satu area terlarang. Kau tau, bukan?" Senyum manis terukir di bibirnya. "Baiklah." Dia berbalik, hendak berjalan keluar ketika Marry mengatakan sesuatu. "Kamar anak-anakku berdekatan dengan taman belakang. Jangan coba-coba mendekatinya." ucapnya tegas. Tiffany menoleh lalu mengangguk. Mengerti apa yang baru saja bibinya ucapkan. Kamar para penerus Anderson adalah daerah terlarang bagi semua maid wanita di sini. Entah mengapa mereka menetapkan hal itu. Untuk kebersihan area terlarang itu setiap harinya, keluarga ini mempekerjakan pengurus laki-laki. Banyak bisik-bisik yang terdengar, bahwa para bujangan Anderson sering membawa wanita penghibur untuk berkumpul di sana. Semacam mengadakan pesta tertutup untuk bersenang-senang. Tiffany sendiri merasa takut saat mendengar perbincangan beberapa maid saat di dapur tadi. Mereka mengatakan bahwa, tadi malam tiga orang Anderson sedang berpesta-pora merayakan sesuatu. Sungguh dia tidak menyangka bahwa keluarga yang dipuja puji penduduk desa karena kesuksesannya ini melakukan tindakan amoral di rumah pribadi. Ah, tapi bisa saja itu hanya rumor. Dia sendiri tak tahu dengan pasti. Kakinya melangkah pelan memasuki taman yang indah itu. Luasnya bahkan hampir tiga kali lipat dari kamarnya di depan. Berbagai macam bunga musim semi tumbuh subur. Pasti uncle dan aunty-nya mengeluarkan dana yang tidak sedikit untuk biaya perawatannya. Orang kaya memang bebas melakukan apa saja semaunya. Dia sendiri sudah sangat beruntung karena mendapatkan pekerjaan ini. Grandma tidaklah rewel untuk seorang nenek tua yang sudah sepuh. Dia hari ini bahkan dia hanya duduk sendirian karena tak diizinkan ke dapur. Tangannya bergerak memegang satu-persatu bunga cantik aneka warna itu. Lalu tanpa sengaja memetiknya satu dan menyelipkan di telinga bagian kanan. Saat hendak berbalik untuk melihat bunga yang ada dibelakang, tiba-tiba saja tubuhnya ditarik ke dalam dekapan seseorang. "Di sini dilarang memetik bunga, Nona." Suara itu berbisik di telinganya. Tiffany menutup mulut saat melihat siapa yang melakukan hal itu. "Tapi, itu ... aku tidak sengaja," jawabnya gugup. "Kau terlihat cantik sekali. Apa tidak ingin menyapa sepupumu ini?" bisiknya kembali. "Umm, hai ... Kenhart."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD