A Date at The Villa

1103 Words
Mobil mahal itu melaju memeblah jalanan ibukota. Melewati jalan hambatan menuju ke suatu tempat. Semakin jauh perjalanan, gedung-gedung bertingkat berganti dengan pepohonan di sepanjang jalan. "Kita mau kemana, Tuan?" tanya Tiffany saat Kenhart memaksanya ikut. Gadis itu awalnya menolak, namun Marry memberi izin. Bibinya itu bahkan mengeluarkan beberapa gaun casual dari lemari. Miliknya dulu saat masih remaja. Dia merasa kasihan karena hampir semua gaun Tiffany terlihat kumal. Jam menunjukkan pukul enam sore saat mereka berangkat dari rumah besar itu. Kenhart sengaja pulang lebih cepat dan membiarkan Christian menyelesaikan sebagian pekerjaan. Sesekali, sahabatnya itu harus mengerjakan lembur, jangan hanya tahu bersenang-senang di klub. "Kami memiliki Villa di ujung kota. Aku ingin mengajakmu melihatnya. Suasana di sana sangat sejuk karena dekat dengan pedesaan. Mungkin mirip dengan tempat asalmu," jelas Kenhart. Sengaja, padahal dia bermaksud lain. Menghabiskan waktu berduaan dengan Tiffany, itulah yang diinginkannya. "Apakah jauh?" tanya gadis itu lagi. "Satu setengah jam perjalanan. Jika kau mengantuk, berbaringlah. Pejamkan mata. Aku akan membangunkanmu jika kita sudah sampai." Tangan Kenhart fokus mengendalikan setir, sementara itu matanya mencuri pandang. Menatap si manis dengan gaun bermotif bunga yang pas di tubuh. Tak bisa Kenhart bayangkan, bagaimana rasanya jika dia bisa membuka itu. Ah, pikirannya memang selalu kotor jika berdekatan dengan gadis ini. "Baiklah. Aku mual." Gadis itu mulai merebahkan kepala di sandaran kursi dan memejamkan mata. Kepalanya pusing saat mencium aroma mobil ini saat masuk tadi. Padahal bsunya harum sekali, namun itu justeru membuat isi perutnya bergolak. Dasar, orang desa. Selama ini hanya mobil pick-up pengangkut hewan-hewan peternakan yang pernah ditumpanginya. Juga mobil angkutan umum jika mereka hendak ke kota saat berbelanja. Itupun hanya sesekali. Ayahnya begitu ketat menjaga. Dia jarang diizinkan keluar rumah jika tidak perlu sekali. Ibunya yang lebih banyak beraktifitas di luar. Tiffany beberapa kali ikut membantu di peternakan juga, namun hanya hari tertentu. Karena itulah dia belum pernah bertemu dengan keluarga Anderson sebelumnya. Hanya mengetahui nama dan silsilah dari cerita ibunya. Lagi pula, hubungan darah mereka jauh. Ayahnya digaji sebagai pekerja di situ, sekalipun ada beberapa fasilitas berbeda yang diberikan dibanding dengan pekerja yang lain. Bonus tahunan salah satunya, juga hak pinjam mobil untuk keperluan tertentu. Mengapa kehidupan begitu tidak adil. Di satu sisi ada orang yang sangat kaya raya sehingga isi dunia sanggup dibeli. Sementara di sisi lain, ada orang yang bahkan untuk makan setiap gari begitu kesulitan. Apakah Tuhan telah pilih kasih kepada ciptaan-Nya? Tiffany sendiri selalu menyukuri semua pemberian Tuhan kepada keluarga mereka. Baginya keluarga yang utuh dan lengkap sudah lebih dari cukup. Kini, dia harus berpisah dan bekerja disini. Satu tahun ini, ayahnya mulai sakit-sakitan. Kedua kakaknya yang sudah berkeluarga dan sibuk dengan urusan masing-masing. Ayah butuh biaya yang tidak sedikit untuk berobat. Tidak mungkin membebani anak-anaknya untuk meminta uang. Saat keadaan terdesak itulah, tiba-tiba saja dia mendapatkan ide untuk bekerja, membantu ekonomi keluarga. Awalnya semua orang keberatan. Di kota kehidupan sungguh keras, namun dia memohon dengan sangat agar diizinkan. Dia tidak mau meminjam uang kepada rentenir dan menjadi bayaran jika tak tak mampu membayar. Akhirnya, ayah meminta bantuan kepada Tuan Jack untuk menampungnya. Dan sekarang, disinlah dia berada. Di kediaman keluarga salah satu orang kaya dan terpandang di kota ini. *** "Kita sampai." Kenhart menepuk pipinya. Mata Tiffany terpana saat melihat sebuah bangunan kayu nan mewah di hadapannya. Dalam hati berpikir, apakah ini mimpi atau nyata. "Kau kenapa?" tanya Kenhart keheranan. Lelaki itu mengernyitkan dahi saat melihat ekpresi wajah Tiffany yang sedang terbelalak dengan mulut menganga. Gadis itu merasa malu dan menundukkan wajah yang merona karena terlihat norak melihat pemandangan seperti ini. "Ayo masuk." Kenhart menarik tangannya. Membawa gadis itu ke dalam. "Tuan Kenhart," sapa seorang penjanga Villa saat melihat kedatangan mereka. Lelaki paruh baya, mungkin hampir seumuran dengan Tuan Jack. "Mark. Kami akan menginap," kata Kenhart tenang. Apa? Mata Tiffany terbelalak untuk kedua kalinya. "Baik, Tuan. Aku akan mempersiapkan kamar," kata lelaki itu patuh. "Dua." Kenhart menjunjukkan jarinya menyerupai angka itu. Tandanya, Mark harus menyipakan dua kamar. "Aku pikir hanya satu," Lelaki tua itu melirik Tiffany. Biasanya, jika tuannya ini datang membawa seorang gadis dan menginap, itu berarti hanya satu yang disipakan. Bukankah sepasang kekasih yang sedang ingin memadu kasih akan tidur di kamar yang sama? "Kami tidur di kamar terpisah. Aku hanya ingin mengajak Tiffany melihat kebun teh besok pagi," jawab Kenhart. Ada kelegaan di dalam hati gadis itu. Untunglah lelaki ini tak berniat macam-macam. Hanya dia harus tetap waspada. Bisa saja tuannya menyusup diam-diam saat dia sedang tertidur. "Jangan percaya ucapan lelaki. Mereka menginginkan tubuhmu jika mereka menyukaimu." Begitulah pesan ibunya sebelum berangkat. Ada sedikit kekhawatiran dalam nada suaranya. Tiffany tahu itu dengan pasti. Mereka duduk di sofa setelah cukup lama Kenhart berbincang dengan Mark. Lelaki itu meminta dipersiapkan segala sesuatu selama mereka berada di sana. Mulai dari hidangan dan juga kendaraan menuju area perkebunan. Kenhart tidak mau menyetir saat menikmati pemndangan besok pagi. Dia ingin duduk di samping Tiffany sambil menggenggam tangannya. "Ini kamarmu. Masukkan tas dan beristirahatlah. Sebentar lagi makan malam siap." Kenhart membuka pintu sebuah kamar dan menyuruh gadi masuk. Gadis itu menatap ruangan besar di hadapannya. Sekalipun kayu, ini masih lebih baik dari rumah mereka, atau kamar pelayan di rumah Anderson. "Kau lapar?" kenhart tertawa geli saat mendengar suara perut Tiffany. Gadis itu langsung mengangguk. Jika berhubungan dengan makanan, dia tidak akan malu. Selama dia tinggal, semua hidangan di rumah megah itu sangatlah lezat dan menggugah selera. "Mandilah. Berdandan yang cantik. Aku akan mengetuk pintu kamarmu jika semua sudah siap." Kenhart berlalu meninggalkannya. Dia menuju kamarnya sendiri di sebelah ujung. Tiffany mengintip. Untunglah jarak kamar mereka cukup jauh, jadi dia merasa aman. Tak perlu mengkhawatirkan segala sesuatu. Gadis itu segera berganti pakain dan mulai membersihkan diri. Air dingin yang mengalir dari keran membuatnya mengigil. Ini sudah malam, harusnya ada keran air hangat. Tapi sepertinya sengaja di design seperti itu. Sehingga aroma pedesaan sangatlah kental. Mungkin nanti dia akan meminta Mark menyiapkan air hangat untuk mandi atau membuatnya sendiri. Pukul sepuluh malam, pintu kamar diketuk. Lama menunggu perutnya sudah melilit. Namun, terasa sungkan untuk keluar duluan. Dia sabar menunggu. "Ayo makan." Lagi, Kenhart menarik tangannya dan menautkan jemari mereka. Untuk yang ketiga kalinya mata Tiffany terbelalak saat melihat apa yang tersaji. Semua disulap seperti sebuah dinner di sebuah restoran, walaupun lebih sederhana. Pantas saja persiapannya cukup lama. Ada steak lengkap yang harum, sebotol wine, juga bebrapa dessert yang membuat air liurnya hampir menetes. "Kita berkencan malam ini. Anggap saja begitu." Kenhart sebuah menarik kursi untuknya. Gadis itu tersenyum, dan kemudian duduk bak putri yang sedang bersama seorang pangeran. Lalu makan malam dimulai dalam diam. Entah mengapa kali ini Kenhart mati kutu menghadapai seorang wanita. Sepertinya benih-benih cinta mulai bermekaran di hati. Ini indah sekali.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD