Keputusan

1820 Words
Beberapa hari berlalu, class meeting selesai. Dan besok pembagian raport. Aku meyakinkan hati ku, berfikir Zidan akan berubah. Mungkin dia begitu karena perasaan sayang nya ke aku. Aku selalu berdua sama Zidan, sampai Ela dan Vanya marah. Karena Zidan menempel terus padaku. "Yang aku libur sekolah mau ke Bali, kamu mau ikut ngga yang? Bunda nyuruh aku ngajak kamu. Nanti semua bunda yang nyiapin, kamu tinggal ngikut aja yang." Zidan mengajak ku liburan ke Bali dengan keluarganya. "Ngga yang, kalian aja. Aku ngga mau ngerepotin, dan lagian ngga akan diizinin". Aku menolak ajakan Zidan sambil tersenyum, takut menyakiti hati nya. "Yah yang padahal bakalan seru kalo kamu ikut loh" Zidan memajukan bibirnya. "Zi gue boleh pinjem Nana ngga? Lo emang ngga ada temen apa zi nempel terus sama Nana?" Vanya datang dengan wajah kesalnya. "Mau ngapain sih, ganggu aja lo Nya". Lalu Vanya menarik aku pergi dari Zidan aku melambaikan tangan sambil berkata ,"Maaf ya yang". Kami turun ke bawah, Vanya mengajak ku ke kantin disana sudah ada Ela, Shinta, Chila dan teman yang lain. Kami memenangkan lomba basket Putri dan Volly putra. Dapat hadiah uang tunai dari kepala sekolah dan kami pakai untuk makan-makan di kantin. Di ujung kantin ada kelas Farhan juga, mereka menang Futsal. Mereka di ujung memainkan gitar sambil bernyanyi, tapi aku tidak melihat ada Farhan disana. Kemana ya bocah tengik reseh itu, loh kok gue nyariin dia? Batin ku heran sendiri kenapa mencari Farhan. Farhan lewat bersama Jean, yang dia bilang sudah putus tapi yang ku lihat jean menggandeng Farhan. Dia lewat dan melirik ke arah ku, aku liat Farhan mencoba melepas tangan jean dari lengan Farhan dan kelihatan Farhan risih ada jean. Kenapa? Kalo putus sama Jean yang cantik itu apa alasannya? Tanya ku dalam hati. Navy, teman Farhan datang menghampiriku. "Kak, bisa ngomong bentar ngga? Jauh dari temen kakak ngga enak." "Oh iya kenapa navy?" Tanyaku sambil jalan menjauh dari teman-temanku. "Kak boleh ngga gue ke rumah lo besok main? Sama temen-temen yang lain?" tanya Navy "Mau ngapain vy?" aku heran mau ngapain Navy sama teman-temannya ke rumah ku. "Mau main aja sih kak hehehe ngga boleh ya kak." "Oh iya boleh sih. Main aja gpp." Aku tersenyum. Kebetulan Navy sering ngobrol dengan ku, anak nya dulu dia pernah duduk bersebelahan dengan ku saat ulangan saat aku kelas 11 dan dia masih kelas 10. Sebelum aku berpacaran dengan Zidan tentunya. "Oke kak Nana besok malem ya ke rumah kak. Mau dibawin apa kak?" "Ngga usah repot-repot vy. Yang penting lo jangan bawa masalah aja hahahah". Aku dan Navy tertawa. Pembagian raport, raport ku di ambil Ibuku. Ibu ku yang cantik, rambut bergelombang, putih, tinggi dengan gaya yang seperti seusiaku dan tidak mirip dengan ku pastinya. Untung lah nilai ku tidak buruk sekali masih bisa di banggakan ke tetangga. Meskipun guru-guru selalu membandingkan aku dengan Mbak Aya yang kebetulan juga dulu bersekolah disini. Tapi ibu ku selalu berkata setiap anak punya kelebihan dan kekurangan masing-masing meski aku ngga tau apa sih kelebihanku. Malam hari nya, Navy datang bersama teman-temannya. Ku lihat Navy berboncengan dengan Farhan dan ada beberapa teman Navy lainnya. Mereka berdelapan kerumahku. "Weh apa-apaan nih? Lo mau tawuran? Rame banget." Tanyaku meledek. "Hahaha maaf kak, maklum kita jomblo semua". jawab Navy sambil menggaruk kepalanya entah kutuan atau apa. "Disitu ya,tuh di bangku rotan bawah pohon ya". Ucap ku. Rumah ku memang berada di gang sempit yang hanya muat motor dua berpapasan. Tapi lumayan halaman rumah ku lumayan untuk nongkrong kebetulan ada pohon mangga dan bangku rotan panjang. Yang biasa Kakak-kakak ku pakai juga kalau temannya datang. Rumah ku biasa di pakai Basecamp, karena ibu ku orangnya asik dan ramah selalu kalau ada teman datang dia keluarin semua makanan yang ada di dalam rumah. Mereka bersalaman ke Ibu ku mencium tangan ibuku. "Ibu cantik banget sih bu, pantas anak nya ngga bisa pergi dari otak saya bu". Ucap Farhan kepada ibuku sambil becanda. Apaan sih nih bocah tengil ngomong ke ibu begitu. Maksudnya apa coba gue ngga bisa pergi dari otak nya. Emang dia punya otak? Ngerjain ulangan aja ngga bisa sama sekali. "Na, gimana udah lo pertimbangin omongan gue tempo hari". Farhan duduk di sebelah ku, sementara temannya asik makan martabak keju dan singkong keju yang mereka bawa bukan untuk tuan rumah. "Omongan yang mana?" Jawab ku ketus. "Na lo kok kalo sama gue judes banget sedangkan sama yang lain lo asik, lo dikenal baik dan asik sama adek-adek kelas. Tapi sama gue beda banget." Farhan menatapku penuh tanya. "Gue ada salah? Apa salah gue suka sama lo? Dan pengen lo bahagia?". Dia beryanya lagi padahal pertanyaan sebelum nya saja belum ku jawab. "Lo ngga ada salah. Entah kenapa gue males aja sama lo. Apa karena gaya lo yang tengil. Dan maksud lo apa lo suka sama gue?" "Iya gue suka sama lo, waktu ulangan gue selalu merhatiin muka lo kenapa lo sejudes itu tapi muka judes lo itu malah ngga bisa pergi dari otak gue ini." "Maaf Han gue ngga bisa". Jawab ku lirih, karena hati ku masih berharap Zidan berubah. Farhan menghembuskan nafasnya kasar, lalu dia berbaur dengan teman nya seolah berpura-pura tidak ada apa-apa. Andri datang langsung mencubit pipiku, "Jelek ibu masak apa? laper gue nyokap gue pergi sama bokap ngga pulang-pulang malah gue ngga ada duit." Andri memasang muka melas. "Siapa Na? Rame banget." Tanya Andri "Adek kelas gue, biasa jomblo ngga punya tujuan. Bu nih anak pungutnya dateng mau minta makan". Jawab ku sambil memanggil Ibu ku. Tentu saja yang di panggil langsung keluar apalagi tau kalau Andri yang dateng, "Anak ganteng ibu dateng sini makan ibu cuma ngangetin masakan kemarin, kamu mau ngga nasi kering hahahah". Ledek ibu ke Andri dan di tertawakan yang lainnya Dua minggu libur sekolah, aku yang cuma di rumah makan tidur dan di datengi si biang reseh Andri, Zidan yang pergi liburan ke Bali yang sebentar-bentar menelfon ku. Dan akhirnya masuk sekolah karena semester Dua kami kelas 12 mulai persiapan untuk ujian kelulusan. Kami mulai banyak pelajaran tambahan dan pulang sore, 1 bulan setelah masuk sekolah aku jarang bertemu Zidan. Paling kalau aku ke toilet lewat kelasnya di senyum dari dalam kelas atau telponan. Karena kami juga mulai banyak Bimbel. Hari itu, Entah kenapa aku pingin sekali main ke rumah Zidan memang biasa nya seminggu dua kali aku ke rumahnya. Karena Zidan berapa kali pernah ke rumah ku dan kebelet buang air tapi dia tidak bisa, katanya karena toilet yang ku pakai adalah wc duduk sedangkan anak orang kaya seperti dia biasa pakai wc duduk. Dia bilang isi perutnya ngga bisa keluar. Entah kenapa sepanjang perjalanan aku gelisah, kaya ada sesuatu yang akan meledak di hati ini. Ku lihat di depan rumah ada sepatu seragam sekolah kami. Aku pikir mungkin teman Zidan sedan belajar bersama. Aku ketuk pintu, Mbak Tamy asisten dirumah nya keluar kaget melihat aku. "Kenapa Mbak? Kok kaget ngeliat aku mbak? Abang ada mba? Ada temennya ya mba?" Tanyaku. Aku masuk dan naik keatas seperti biasa aku datang karena biasanya Bunda pergi ke kantornya. "Mbk Nana". Mbak Tamy memegang tanganku. "Abang lagi belajar ngga mau di ganggu". Muka mbak Tamy kelihatan gelisah. "Emang Nana menggangu ya mbak? Nana jadi sedih loh mbak. Nana sebentar doang abis itu pulang." aku mesang muka sedih. Aku naik ke lantai atas ke kamar Zidan, ku ketok kamarnya tapi tidak ada jawaban. Ku buka pintu itu dan menetes air mataku, apa yang mau meledak di hati ku akhirnya aku tau. Aku melihat Zidan dan adik kelas ku Delia, mereka sedang berhubungan badan. Mereka kaget melihat aku di pintu langsung buru-buru memakai baju. Aku menutup pintu itu, aku turun dengan air mata. Aku berjalan dan mencari ojek Zidan mengejar ku dan memanggil aku tapi tidak aku hiraukan. Aku pulang, dengan hati yang terluka. Aku maafin kamu yang beberapa kali ketauan jalan sama cewek lain, aku maafin kamu yang kalau marah suka mukul aku pakai stick drum mu. Aku terima kamu ngelarang aku ini itu dengan banyak nya kesalahan mu. Tapi aku ngga terima kalo kamu selingkuh sampai berhubungan badan gitu. Aaaah s**t. Apa salah ku sama kamu Zidan. Aku benar-benar harus mengambil keputusan seperti yang Farhan bilang. Saat Andri dan Mbak Aya serta Ka Furqon pacar mba Aya menonton TV, aku di dalam kamar aku terus berfikir sambil menangis. "Dek kamu kenapa? Apa lagi ada masalah? Kayanya ibu lihat kamu kok murung banget apalagi sampai nangis gini? Kenapa? Zidan? Andri tau ngga masalah kamu? Cerita ke ibu dek kalo kamu ada masalah." Ibu memeluk ku mengusap rambutku "Adek ngga apa-apa bu cuma pingin di peluk ibu. Bolehkan bu meluk adek yang lama." "Iya sayang boleh, kalo kamu belum siap cerita ngga apa-apa". "Bu, adek tadi kerumah Zidan". "Hmmm" Ibu ku mencoba mendengarkan. "Ternyata pas sampai disana adek ngeliat kenyataan yang bikin sakit banget. Zidan lagi berhubungan sama Adek kelas kami bu." "Ya dek terus gimana? Masih pacaran udah bisa begitu mending udahan". "Ya bu, adek mau putus sama Zidan." Ibu ku tersenyum mengelus rambutku, tangisku berhenti. Ibu ku seperti sahabat ku, apapun ku ceritakan pada ibu. Aku telpon ke rumah Zidan. "Halo Assalammualaikum, ini Nana mau bicara sama Zidan." "Waalaikumsalam mbak Nana tunggu sebentar ya. Mbak Nana mbak Tamy minta maaf ya". "Loh kok mbak Tamy minta maaf kan mbak Tamy ngga salah". "Maaf ngga bisa ngehalangin mbak Nana." "Nana makasih banyak sama mbak Tamy, Nana jadi sadar mbak. Mbak kasih ke Zidan ya, Hp Zidan ngga aktif soalnya. Terimakasih mbak Tamy." "Yang, maafin aku yang. Semua ngga kaya yang kamu liat yang, Delia ngegodain aku, dia dateng ke rumah terus di.." Zidan mencoba menjelaskan tapi ku potong ucapannya. "Iya ngga apa-apa kok, aku maafin kamu. Tapi aku mau kita udahan Zi. Aku mau mau bahagia, udah cukup zi." Ku tutup telpon itu, ku tarik nafas panjang supaya tenang. Besok nya di sekolah, Zidan datang ke kelas ku. Menarik tangan ku paksa keluar dari kelas dia memohon untuk tidak putus. "Maaf aku ngga bisa, kamu lanjutin aja sama delia". "Ngga aku mau nya sama kamu ya Na!" Bentak Zidan sambil meremas lengan ku. "Sakit Zi aww". Buugh tiba-tiba Zidan di tonjok Farhan, "b*****t lo ya, busanya cuma nyakitin perempuan! Anak mami kaya lo mending ngetek sama mami lo kenapa lo bikin anak orang nangis b*****t". Berkali-kali Farhan memukul Zidan dan mereka berkelahi. Aku mencoba memisahkan mereka, tapi tidak ada satu pun yang mengalah sampai akhirnya ada guru BK datang Pak Santoso dan membawa mereka dan aku ke ruang BK. Mereka berdua dapat surat peringatan, tapi karena Zidan kelas 12 dia tidak di skors. Farhan kena skors 3hari karena dia juga yang memulai perkelahian itu. Kami keluar dari ruang BK, Zidan mencoba berbicara dengan ku. "Na kasih aku kesempatan 1 kali lagi." "Hhh Nana udah ngga mau jangan di paksa, kalo lo berani ganggu Nana urusan sama gue". Nyinyir Farhan sekaligus menantang Zidan "Siapa lo". Zidan menatap tajam Farhan. "Udah gue pusing sama kalian, kalian berdua jangan ganggu gua lagi brengsek." Aku meninggal kan mereka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD