“Pengacaranya sudah siap, Dave.”
Ucapan Mona itu meluncur begitu saja, seolah ia sedang membicarakan sesuatu yang kurang penting. Baginya perceraian bukan sesuatu yang besar, yang penting ambisi dan inginnya terpenuhi. Dave yang duduk di hadapannya hanya terdiam mematung, jemarinya mencengkeram cangkir kopi yang sudah dingin.
“Prosesnya bisa dipercepat. Tinggal tanda tangan kalian berdua,” lanjut Mona menjatuhkan map berisi dokumen untuk pengajuan cerai di meja.
“Berapa pun biayanya, Mama sanggupi. Lebih cepat lebih baik, ‘kan?” Mona tersenyum getir. Suasana hatinya yang campur aduk belakangan ini dibuat lebih baik karena Dave sebentar lagi melepas Mawa.
“Aku cuma mau tanya satu hal, Ma.” Dave menghela napas panjang, rahangnya mulai mengeras karena emosi, tetapi tertahan sejenak.
“Apa?” balas Mona menyandarkan punggungnya, menyilangkan tangan di depan d**a.
“Mama sudah berdiskusi dengan Kakek? Walau bagaimanapun, pernikahan kami diatur oleh Kakek, Ma. Aku takut Kakek syok dan penyakitnya kambuh lagi,” ujar Dave cemas.
“Urusan kakekmu biar Mama yang urus. Yang penting kalian cerai dulu, baru Mama kabari beliau. Kakek pasti akan menerima keputusan ini kalau sudah terjadi. Apa yang orang tua itu bisa lakukan?” jelas Mona santai.
“Ma, astaga. Apa-apaan ini? Aku jadi terkesan jahat karena menceraikan Mawa.”
“Sekarang Mama yang tanya ke kamu, Dave. Apa perasaan kamu ke Mawa sebenarnya?” Mona berbalik, memetik sepucuk bunga segar yang baru diganti oleh Sari.
“Perasaan? Aku juga bingung, Ma.”
Dave membuka mulut, lalu menutupnya kembali. Ribuan kata menari-nari di benaknya, tetapi tiada satu pun yang dirasa pantas untuk diucap. Serba salah, tidak ada jalan tengah. Dave kembali mengingat hari di mana ia menikahi Mawa, sosok gadis yang ramah, sopan, dan senyum tulus tanpa memaksa.
“Aku merasa nyaman, Ma, karena dia terlalu baik.”
“Bukan itu yang Mama tanya, Dave. Kamu cinta atau tidak?”
Hening cukup lama, hanya terdengar deru napas mereka yang memburu. Dave menghela napas panjang, lidahnya terasa kelu.
Dave menunduk, menatap pantulan dirinya di meja kaca.
“Aku bingung, Ma. Aku tidak tahu.”
“Kalau kamu ragu, berarti jawabannya sudah jelas.” Mona tersenyum tipis, mendapat jawaban yang ia tunggu sejak lama.
Dave mengangkat kepala, menatap sang ibu dalam.
“Kamu masih mencintai Julia dan Mama tahu itu.”
Nama itu kembali terucap, menusuk relung kalbunya yang paling dalam. Kenangan memutar kembali memori indah di masa lalu, terus mengikis perasaannya meski sudah berusaha dikubur dalam-dalam. Sejak hari di mana ia diabaikan, Dave membuang jauh-jauh harapan itu untuk bersama dalam ikatan pernikahan.
“Mau sampai kapan kamu begini, Dave? Terjebak dalam perasaan yang mengambang? Kalau ragu, berarti jawabannya jelas, kamu tidak pernah mencintai Mawa!” tegas Mona membuat Dave perlahan keluar dari perasaan buntunya.
Dave terdiam lama. Pada akhirnya, ia manggut-manggut pelan.
“Ok, fine. Fine, Ma, aku kalah kali ini,” katanya pasrah, “kirimkan berkasnya.”
***
Malam itu, Dave berdiri di depan pintu kamarnya sendiri, membawa map cokelat yang isinya tidak banyak. Jantungnya berdebar tidak keruan. Ingin menemui sang istri, harusnya biasa saja tanpa takut sedikit pun. Namun, kali ini berbeda. Rasanya lebih menegangkan dibanding pertemuan pentingnya dengan orang-orang berkuasa itu.
Mawa sedang duduk di tepi ranjang ketika Dave masuk. Ia sedang melipat pakaian, kebiasaan rutin yang selalu ia lakukan meski rumah itu dipenuhi asisten. Mawa menoleh dan tersenyum halus. Melihat sesuatu yang dibawa sang suami, firasatnya mengatakan ada yang tidak beres.
“Baru pulang, Mas? Lelah sekali, ya?” sapa Mawa yang tidak akan ditanggapi suaminya.
“Mawa, kita perlu membicarakan sesuatu.”
“Tentang apa, Mas? Kok mendadak serius begitu?”
Dave meletakkan map itu di atas meja. Perlahan, ia mendorongnya ke arah Mawa.
“Aku mau kamu tanda tangan ini.”
Mawa menatap map itu lama, berharap isinya berubah jika ia mau menunggu. Namun ketika ia membukanya, jemarinya langsung gemetar hebat. Bulir-bulir itu perlahan mengalir dari sudut mata, menandakan apa yang tak pernah ditunggu akhirnya terjadi juga.
Surat cerai.
Mawa mematung, tidak merespon untuk beberapa saat. Baginya hanya mimpi, tetapi mimpi apa yang terasa nyata dan menyesakkan d**a?
“Jadi … akhirnya sampai juga di sini,” bisik Mawa serak, menahan tangisnya luntur.
Dave berdiri kaku, ia bahkan tak mampu menatap istrinya itu.
“Aku minta maaf.”
Mawa menggeleng pelan sambil menyeka air mata yang jatuh tanpa bisa ditahan lagi.
“Kamu tidak perlu minta maaf, Mas. Aku sudah siap sejak lama.”
Dave tidak berkutik. Tidak menyangka kalimat yang terucap dari bibir Mawa menusuk relung hatinya. Mengapa tidak ada perlawanan? Atau setidaknya menuntut alasan?
“Mawa.”
Dengan tangan gemetar, Mawa meraih pulpen di nakas. Air mata menetes di kertas ketika ia membubuhkan tanda tangan.
“Kamu jangan khawatir. Aku akan tetap memberimu tempat tinggal yang layak dan kebutuhan bulanan.”
“Semoga kamu bahagia, Mas Dave,” ucapnya lirih, meletakkan pulpen itu lagi.
Dave tak sanggup menatapnya lebih lama, pria itu langsung pergi setelah mengambil kembali dokumennya.
Dan satu bulan kemudian, Februari 2026.
Mawa kini tinggal di sebuah perumahan elite yang tenang, jauh dari hiruk-pikuk pusat kota. Rumah itu berukuran sedang, sudah sangat cukup sebagai tempat tinggalnya sekarang. Nyatanya ia tidak sendirian di sana. Kakek dan nenek Dave memilih tinggal bersamanya.
Tiada kata yang lebih menusuk selain rasa kecewa kepada Dave yang terkesan tega membuang istrinya saat ini demi Julia. Alih-alih menjauhi, kakek dan nenek Dave semakin menyayangi Mawa seperti cucu kandungnya sendiri.
Mawa merawat mereka dengan penuh kasih sayang. Menyiapkan makanan, memandikan, bahkan diajak jalan-jalan sore agar tidak bosan. Sekalian mengalihkan perhatian agar sakit dibuang suami sendiri itu perlahan hilang.
“Kamu terlalu baik untuk cucu kami. Mungkin memang tidak berjodoh,” gumam sang nenek suatu sore.
“Saya hanya melakukan apa yang seharusnya. Tidak perlu menatap masa lalu, Nek. Semua sudah ditakdirkan,” balas Mawa berlapang d**a.
“Sabar, ya, Nak. Nenek yakin suatu saat nanti akan ada pria yang lebih sempurna datang dengan tulus ingin hidup bersamamu.”
Mawa tersenyum kikuk, saat ini ia bahkan tidak terpikirkan untuk menikah lagi. Trauma pernikahan sebelumnya terus menghantui, pintu hati pun ditutup sangat rapat. Ia sendiri tidak tahu kapan memulai membuka hati. Ataukah tidak sama sekali?
***
Kediaman Dave Anderson, pukul 21:00.
Saat itu, setelah pesta makan malam antar dua keluarga besar yang sudah lama mengenal, Dave berdiri di tengah-tengah mereka sambil memegang gelas wine. Sementara Julia berbincang santai dengan keluarga yang lain.
Mona tiba-tiba berdiri dan mengetuk gelasnya, lumayan menyita perhatian beberapa orang.
“Ada yang ingin saya sampaikan,” katanya lantang.
Seluruh pasang mata tertuju padanya.
“Dave sudah resmi bercerai.”
Beberapa tamu bertepuk tangan pelan, tetapi reaksi lainnya cenderung syok dan tidak menyangka. Tanpa kabar dan aba-aba, tiba-tiba saja Dave dinyatakan berpisah dengan Mawa.
“Karena itu, saya harap keluarga bisa segera menentukan tanggal pernikahan Dave dengan Julia, teman lamanya.”
“Ma, jangan buru-buru. Biarkan kami bernapas lega dulu,” bisik Dave membuat Mona mengerutkan kening.
“Maksudmu? Lebih cepat lebih baik, Dave. Mama ingin cucu, jangan ditunda-tunda!”
“Ah, sialan,” umpat Dave lalu memilih untuk duduk kembali.
Ketika ia hendak mengambil minum, ponsel di saku celananya berbunyi tanda ada pesan masuk. Nama Arthur muncul di layar, membuat Dave terdiam mematung seketika.
[Tuan, saya lihat Nyonya … maksud saya, Mawa, sedang bersama seorang laki-laki di mall. Mereka kelihatan akrab dan bergurau.]
Dengan cepat Dave membalas pesan itu. [Siapa? Kamu kenal orangnya?]
[Kenal. Rival abadi Tuan. Pak Ares Vandermont.]