Mawa menggigit bibir bawahnya dengan kepala setengah tertunduk. Nada ucapan Ares memang tidak meninggi, tidak seperti seseorang yang sedang memaki. Namun, dari tatapan itu Mawa menilai sesuatu, bahwa Ares sangat tidak menyukai orang yang mengambil alih kendali hidupnya. Ataukah semua hanya karena ia membenci Dave? Perempuan itu mendesah pelan, jemarinya saling bertaut di atas pangkuan. Hujan di luar kafe kembali turun, menambah bising suasana yang membuat dadanya semakin sakit. “Iya, tapi jangan marah ke Dave, Mas. Dia mungkin khawatir karena takut aku gagal lagi,” ucap Mawa cepat-cepat memberi penjelasan sebelum amarah Ares memuncak. Ya, meski Mawa sudah menyiapkan dirinya untuk menerima seberapa besar amarah dari Ares. Segala sesuatu yang terbayang saat ini begitu mengerikan untuk dii

