Jordy adalah mahasiswa seni rupa dari kampus ITM yang sering disalahpahami karena penampilannya yang lembut, modis, dan pembawaannya yang feminin. Publik kampus berpikir dia pasti gak suka cewek Namun, hati Jordy sebenarnya masih tertuju pada perempuan, khususnya Karina, mahasiswi psikologi yang cerdas dan mandiri.
Aroma kopi blended dan cat minyak selalu menjadi aroma favorit Jordy setiap sore di kantin Fakultas Seni. Hari itu, Jordy duduk menyilangkan kaki, sibuk memoles kuku jarinya dengan clear coat transparan agar terlihat bersih. Kardigan rajut berwarna lavender longgar yang dipadukan dengan celana kulot kain membuatnya tampak mencolok, namun elegan.
Banyak orang mengira hidup Jordy mudah karena dia selalu dikelilingi teman-teman wanita. Mereka mengira Jordy adalah "aman" karena dia feminin. Padahal, di dalam hatinya, Jordy adalah laki-laki biasa yang tahu cara mengagumi seorang wanita."Jordy!"Sebuah suara lembut memecah lamunannya. Karina berjalan mendekat membawa beberapa buku tebal. Rambut hitamnya di kuncir kuda, tanpa riasan berlebih, namun di mata Jordy, Karina adalah definisi keindahan yang mutlak. Jantung Jordy berdegup kencang, reaksi alami seorang laki-laki yang sedang jatuh cinta."Hei, Rin. Sini duduk," Jordy menggeser tas jinjing kanvasnya, memberikan ruang."Kamu belum pulang? Katanya mau lanjut proyek maket?" tanya Karina sambil tersenyum manis. Senyum yang selalu sukses membuat lutut Jordy lemas."Sebentar lagi. Menikmati angin sore dulu," jawab Jordy lembut, menyembunyikan getaran di suaranya. Dia sangat ingin menggandeng tangan Karina, bukan sebagai 'sahabat feminin', tapi sebagai seorang pria. Namun, Jordy terlalu takut ditolak dan merusak persahabatan mereka.Baru saja kehangatan menjalar di d**a Jordy, sebuah bayangan tinggi besar tiba-tiba menghalangi sinar matahari sore."Jordy, dicariin dari tadi ternyata di sini."Itu Galang. Ketua Senat Fakultas Teknik yang bertubuh tegap, berwajah tegas, dan selalu memancarkan aura maskulin yang kuat. Ironisnya, Galang yang ditaksir banyak mahasiswi di kampus, justru hanya memiliki mata untuk Jordy. Galang tidak pernah peduli dengan rumor, dia menyukai kelembutan Jordy dan merawat Jordy dengan perhatian yang luar biasa terang-terangan.Galang meletakkan satu kotak s**u strawberry dingin—kesukaan Jordy—di atas meja, tepat di depan Jordy."Jangan telat makan siang lagi. Nanti maag kamu kambuh," kata Galang dengan suara beratnya, lalu melirik Karina dengan tatapan sopan namun penuh sinyal protektif atas Jordy.
Jordy ingin menahan Karina, ingin berteriak bahwa dia ingin Karina tetap di sana. Namun, saat dia melihat mata Galang yang menatapnya dengan ketulusan dan rasa sayang yang begitu besar, Jordy mendadak kelu. Galang sangat baik padanya. Di saat orang lain merundung sifat feminin Jordy, Galang adalah orang pertama yang pasang badan membela.Jordy menatap s**u strawberry di depannya, lalu menatap punggung Karina yang menjauh. Di dalam kepalanya, badai kebingungan mulai berkecamuk. Di satu sisi ada Karina, wanita yang mengetuk pintu hatinya sebagai seorang lelaki. Di sisi lain ada Galang, laki-laki yang menawarkan perlindungan dan cinta tulus yang belum pernah Jordy rasakan dari siapa pun.Jordy terjebak di tengah-tengah ego, identitas, dan rasa bersalah.
Malamnya, area parkir Fakultas Seni Rupa mulai sepi. Jordy masih duduk di koridor luar studio, menatap maket arsitektur yang belum selesai. Pikirannya melayang. Kata-kata Galang sore tadi dan senyum canggung Karina terus berputar seperti kaset rusak di kepalanya.
Jordy menghela napas panjang. Dia mengeluarkan sebuah cermin kecil dari tasnya, menatap wajahnya sendiri. Seringkali dia bertanya pada cermin itu, kenapa aku harus lahir dengan kelembutan ini jika dunia menuntut ku untuk menjadi kaku?"Belum pulang, Dy?"Jordy tersentak. Karina berdiri di sana, menenteng tas belanja berisi beberapa botol minuman soda dan camilan. Dia tidak jadi pulang, melainkan kembali ke kampus setelah urusan perpustakaannya selesai."Eh, Karina? Belum. Tanggung, tinggal pasang atap maketnya," jawab Jordy, buru-buru memasukkan cerminnya kembali ke tas. Ada rasa hangat yang tiba-tiba menjalar di dadanya melihat Karina kembali.Karina duduk di lantai koridor yang bersih, tepat di sebelah Jordy. Bau parfum vanila dari tubuh Karina membuat jantung Jordy berdebar tidak keruan. Ini adalah debaran yang hanya bisa diberikan oleh seorang wanita. Debaran yang membuktikan bahwa terlepas dari pakaian lavender atau kuku yang rapi, Jordy adalah seorang pria yang menginginkan wanita."Kamu... dekat ya sama Kak Galang?" tanya Karina tiba-tiba. Pertanyaan itu terdengar kasual, tapi Jordy bisa merasakan ada nada penasaran di sana.Jordy menelan ludah. "Kak Galang cuma... sering bantu aku, Rin. Dia orang baik.""Iya, dia baik banget. Anak-anak kampus sering ngomongin kalian," Karina tersenyum, tapi matanya menatap lurus ke depan. "Mereka bilang, Kak Galang tuh sweet banget ke kamu. Jujur, awalnya aku kaget. Tapi melihat cara dia jagain kamu sore tadi... aku mikir, kalian kelihatan serasi."Bagai disambar petir di malam hari, d**a Jordy terasa sesak. Serasi? Kata itu keluar dari mulut wanita yang dia cintai. Karina menganggapnya cocok dengan seorang laki-laki. Di mata Karina, Jordy sudah sepenuhnya dicap sebagai pria yang menyukai sesama jenis."Rin, tapi aku—" kalimat Jordy menggantung di udara. Dia ingin berteriak, 'Aku menyukaimu, Rin! Aku laki-laki yang menyukai perempuan!' Tapi lidahnya mendadak kaku. Ketakutan akan penolakan dan perubahan sikap Karina membuat nyalinya menciut.
Sebelum Jordy sempat melanjutkan kata-katanya, sebuah lampu sorot mobil sport menerangi koridor tempat mereka duduk. Klakson berbunyi pendek. Itu mobil Galang.Galang turun dari mobil, masih memakai jaket denim organisasi senatnya. Dia berjalan tegap ke arah mereka, membawa sebuah paper bag besar berisi makanan cepat saji."Aku tahu kamu bakal lembur sampai malam, Dy. Makanya aku balik lagi ke kampus," kata Galang sambil tersenyum hangat, mengabaikan hawa dingin malam. Dia kemudian melirik Karina, "Eh, ada Karina juga. Mau gabung makan malam?"Karina langsung berdiri sambil mengibaskan roknya. "Ah, enggak Kak, makasih banyak. Aku justru mau pamit pulang, udah dicariin orang rumah. Jordy, aku duluan ya!" Karina melambaikan tangan, memberikan senyuman penyemangat yang terasa hambar bagi Jordy.Jordy menatap punggung Karina yang menjauh dengan rasa frustrasi yang memuncak. Di sampingnya, Galang duduk dan membuka kotak ayam goreng, lalu menyodorkannya pada Jordy."Nih, makan dulu. Kamu pucat banget, Dy. Jangan terlalu dipaksain tugasnya," ucap Galang lembut. Tangan kekar Galang bergerak mengusap rambut Jordy dengan penuh kasih sayang.Sentuhan Galang itu membuat Jordy membeku.
Di satu sisi, perhatian Galang terasa seperti tempat berteduh yang sangat aman di tengah kerasnya lingkungan kampus. Galang tidak pernah menuntut Jordy untuk berubah menjadi maco. Galang menerima kelembutan Jordy apa adanya. Namun di sisi lain, hati Jordy menjerit karena dia tahu dia sedang memupuk harapan palsu di hati Galang, sementara jiwanya merindukan Karina.Jordy menatap ayam goreng di tangannya dengan pandangan kabur. Dia terjebak dalam labirin emosi. Menolak Galang berarti menyakiti satu-satunya orang yang melindunginya secara tulus. Tapi mengejar Karina berarti dia harus meruntuhkan seluruh "identitas" yang telanjur dipercayai orang-orang kampus tentang dirinya.