Ini memang gila! Kenal dalam hitungan hari, kemudian berubah menjadi kekasih. Aku tersenyum sendiri mengingat tingkah nekad-ku ketika di apartemen Buana. Aku menyadari mungkin dia tidak memiliki perasaan yang sama seperti perasaanku padanya, namun aku akan berusaha keras menumbuhkan rasa di hatinya.
Kemarin malam Buana mengantarku pulang, kemudian ia langsung balik ke rumahnya. Aku rasa itu adalah malam pertamanya pulang ke rumah ayahnya dalam keadaan sadar setelah lebih dari 3 tahun. Tadi pagi-pun, ia terlihat baik-baik saja ketika bangun lebih pagi untuk menjemputku.
"Mbak Masayu.. ish pagi-pagi udah ngelamun aja!" Mega sudah berdiri di depan mejaku sambil melipat tangannya di d**a dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
Aku hanya tersenyum malu-malu tapi tak menjawab apapun.
"Eh.. bahagia banget ya mbak di-antar-jemput cowok yang kemaren itu?" Siti ikut nimbrung dan langsung bertanya blak-blakan.
"Emang kalian lihat?" Tanyaku melongo.
"Ya lihatlah.. masuk beritanya di group lambe curah kantor!" Jelas Mega
"Mbak.. tapi yang antar jemput mbak itu siapa sih? pake helm fullface gitu gak kelihatan wajahnya. Ngganteng ga? jadi penasaran. Walapun kalau dilihat dari matanya, kayaknya ganteng banget!"
Siti mulai kepo.
"Ada deh..!" Jawabku sambil tersenyum membayangkan reaksi Mega dan Siti jika melihat langsung seperti apa pria di balik helm fullface itu.
Di tengah asik-asiknya ngobrol, Andres datang dengan sikap arogan-nya dan langsung memberi instruksi dengan emosi.
"Lagi kumat" Celetuk Siti.
"Akhir-akhir ini emang sering kumat yah dia" Sambung Mega.
"Hus.. kerja.. daripada dimaki nanti" Ujarku sambil tetap tersenyum.
Serunyam apapun menghadapi Pak Andres nanti, aku tetap tak bisa mengenyahkan senyum lebarku ini. Belum apa-sudah kangen Buana, tell me bagaimana caranya aku menahan rindu hingga sore nanti?
***
Seharian ini sikap pak Andres uring-uringan. Setiap yang aku kerjakan pasti salah di matanya. Aku sih mencoba memahami saja, mungkin ia sakit hati karena ditolak. Ya ampun.. aku baru sadar loh kalau aku kemarin menolak sang direktur. Semoga Pak bos marahnya tidak berlarut-larut.
Selagi aku merevisi beberapa draft surat, suara ketukan sepatu terdengar menggema di lorong. Makin lama makin jelas. Ketika aku menolehkan wajah, ternyata si 'mbak kunti' yang bahkan namanya sampai saat ini aku tidak tahu.
Belum sempat aku melarangnya masuk, telepon di mejaku berbunyi, dari Pak Andres yang ternyata sudah tau kalau 'mbak kunti' datang.
"Selamat sore nona Rea.. silakan sudah ditunggu bapak di dalam" Ujarku sambil menunjukkan pintu ruangan pak Andres, yang hanya diabaikan oleh 'mbak kunti'. Tadi Pak Andres bilang namanya Rea. Nasib.. alamat kena beresin ruangan lagi nih.. Hal-hal seperti ini bisa dilaporin ke HRD nggak sih? udah mengganggu loh ini.
"Selama ini nggak ada yang ngelapor apa Meg?" Kebetulan Mega sedang berjalan melintasiku, langsung saja aku tanyakan.
"Udah pernah mbak.. ada yang lapor ke Bu Icha. Eh besokannya ga pernah masuk kantor lagi." Jawab Mega sambil berbisik.
"Hah? Serius?" Aku menatap tak percaya.
"Iya mbak.. semua karyawan di sini udah pada tahu. Cuma ya nggak tahu gimana kok di pusat bisa-bisanya malah mengidolakan dia." Bisik Mega lagi.
"Iya.. di pusat dia dapat nama banget!" Ujarku.
Bukan aku iri, hanya saja ini menyalahi aturan. Perusahaan ini kan bukan punya bapaknya ya. Kok bisa seenaknya begitu sampai HRD pun takluk.
"Udah mbak.. nggak usah dipikir, sejam lagi pulang." Kata Mega.
"Ya kali.. disuruh beresin jejaknya pasti ini." Aku menggerutu.
"Langsung kabur aja mbak. Kan paling 2 jam lagi baru keluar ruangan." Aha! benar juga kata Mega.
Kami segera lembali ke meja masing-masing untuk fokus menyelesaikan kerjaan.
Kurang 5 menit lagi, jam 5 sore, telepon di mejaku berdering.
"Masayu! ah.. ah.." Suara pak Andres lagi ngos-ngosan. Ih.. jijik! tapi aku tetap mendengarkan.
"Ya pak.." Jawabku.
"Kamu, Mega dan Siti silakan pulang saja. Ssshh.. Cuma aah.. suruh OB stand by ya jam 6 bersihkan ruangan saya.. oh yeah Reaahh.." Ya ampun, panas kupingku.
"Baik pak!" Nggak pakai pikir lama, langsung kututup telepon, kemudian menghubungi OB, mengabari sesuai pesan Pak Andres.
Hii.. aku bergidik mendengar suara desahan-desahan seperti itu. Aku bukan wanita alim, tapi juga tidak sebebas itu. Apalagi melakukannya di sembarang tempat.
"Meg, Sit.. ayok pulang! Udah disuruh pulang tadi!" Panggilku.
Mereka berdua terlihat sumringah kemudian kami masuk bersama menuju lift.
Aku menunggu Buana di lobby bersama Mega dan Siti. Mereka ngotot mau menungguiku katanya untuk melihat Buana walaupun tetap tidak bisa melihat wajah Buana.
Sebuah mobil mewah Audi Q8 berhenti tepat di depanku. Seorang pemuda ganteng bermodel rambut 'comma hair' turun dan menyapaku.
"Ayo naik Ayu.." Ujar pemuda yang ganteng maksimal itu.
"Loh, mas Buana?" Aku terkejut. Kemana rambut gondrongnya? kemana motor ninja sport nya?
Ia menangguk.
"Mega, Siti, aku duluan yah.." Pamitku. Sedangkan Mega dan Siti hanya terbengong-bengong menatap Buana. Ilernya Siti bahkan sudah tampak menggantung di sudut bibir.
Mega menepuk pundak Siti hingga Siti tergagap kemudian menghapus ilernya. Kacau Siti ini!
"Eh iya, Mega, Siti.. ini Buana. Mas, ini Mega dan Siti, rekan kerjaku." Aku memperkenalkan mereka sebelum akhirnya kami berpamitan pulang.
Seperti kemarin, kami akan ke apartemen Buana lagi, menghabiskan waktu dengan makan bersama, kemudian pulang.
"Mas Buan, motornya kemana?" Tanyaku penasaran dengan semua perubahan ini.
"Ada di apartemen" Jawab Buana sambil tetap fokus mengemudi.
"Mobil baru kan ini? kapan belinya?" Jiwa kepo-ku kembali muncul.
"Semalam, tapi baru diantar siang tadi"
"Kok beli yang ini mas? kan mahal banget ini"
"Beli yang R8 juga aku mampu kok Ayu. Cuma mending selisihnya buat modal usaha kan?"
"Mas Buana dapat uang dari mana beli yang mahal-mahal begini?"
"Nanti juga kamu tahu Ayu. Pelan-pelan yah.."
Aku mengangguk. Jawaban Buana terakhir tadi membuatku berpikir dia sudah sangat berusaha untuk bersikap terbuka. Aku tidak boleh buru-buru kalau tidak ingin dia pergi.
"Mas ganteng deh rambutnya dipotong pendek begini" Puji-ku.
Buana tersenyum. "Kamu suka?" Tanyanya.
Aku menganggu-angguk dengan cepat.
"Jadi kalau pas gondrong kemarin, nggak ganteng?" Goda Buana.
"Yaa.. ganteng juga. Cuma kalau kayak gini jadi lebih segar, lebih semangat gitu.." Jawabku dan Buana hanya menjawab dengan 'oow'.
Mobil berhenti di parkiran tepat di samping motor kesayangan Buana itu. Aku buru-buru ingin turun sampai lupa melepaskan sabuk pengaman.
"Aauuww.." Teriakku begitu sabuk menarikku kembali.
"Ck.. pelan-pelan napa?" Decih Buana. Aku manyun mendengar perkataan Buana. Mentang-mentang mobil baru, nggak boleh dikasarin.
Buana membuka sabuk-ku dan dirinya kemudian keluar dari mobil duluan. Aku buru-buru menyusul, tapi hanya diam saja.
Tiba di dalam apartemen kami-pun masih diam. Aku berpikir Buana mungkin masih marah karena sikap buru-buruku bakal merusak mobilnya tadi. Aku langsung duduk di sofa kemudian menyandarkan diri sambil menutup mata.
"Ayu nggak mandi dulu?" Tanya Buana sambil menjatuhkan diri duduk disampingku.
Aku menggeser dudukku menjauhinya. "Nggak bawa baju!" Jawabku ketus. Tapi itu bohong. Aku sudah menyiapkan baju ganti. Hanya saja mood-ku hilang karena kejadian tadi.
"Pakai bajuku saja kalau begitu" Enteng banget Buana menjawabnya.
"Nggak usah, mas!" Ujarku pelan. Kemudian kembali memejamkan mataku.
Aku merasakan sofa bergerak, sepertinya Buana menggeser duduknya agar dekat denganku.
"Kenapa?" akh.. akhirnya Buana bertanya. Aku pikir mahkluk tidak peka ini akan diam saja terus.
"Eh.. aku nanya loh ini!" Suara Buana terdengar menuntut jawaban.
Aku masih diam saja.
"Katanya kemarin kita ini kekasih? Tapi kok malah aku dicuekin?" Tanya Buana kali ini dengan pelan, akhirnya aku membuka mataku dan memandang Buana yang memang ada di sampingku.
"Belum juga 24 jam jadian, udah nggak dipeduliin, gimana besok-besok ya?" Kompor emang Buana ini. Perkataannya seolah membuatku jadi yang bersalah.
"Makanya mas Buana jangan nakal!" Ujarku sambil cemberut.
"Nakal apa sih, Ay?" Buana terlihat belum paham.
"Tadi itu.. Kenapa Ayu didecakin gitu gegara sabuk pengaman? Ayu tahu itu mobil baru, tapi Ayu kan nggak sengaja. Kok reaksi Mas mas langsung begitu?" Langsung panjang deh.. emang aku ini nggak bisa nyimpan emosi terlalu lama, pasti langsung akan aku sampaikan.
Buana bengong sebentar, kemudian tersenyum. Ia langsung menarik tubuhku untuk duduk diatas pangkuannya. Aku sih nurut aja, duduk dipangkuannya menyamping. Tanganku tetap mengalung di lehernya, tapi aku membuang muka ke depan. Kesannya kayak aku nggak mau, tapi sebenarnya mau banget haha..
Tangan Buana merayap di pinggang kiri-ku, kemudian menekan dengan lembut.
"Aww.." Ringisku. Wah kenapa kok sakit?
"Sakit kan?" Tanya Buana.
"Iya mas.. lebam kali ya. Kok aku baru nyadar ya?" Kataku sambil memikirkan datang dari mana sakit ini.
"Kamu terlalu fokus sama decakanku, Ay.. sampai lupa kalau pinggang kamu juga terbentur." Jelas Buana.
"Laki-laki itu memang kebanyakan akan fokus ke otomotif, kendaraan apa yang ia punya, akan dijaga banget. akupun begitu. Tapi, tadi itu aku berdecak bukan karena mobil, tapi tubuh kamu bakal kena benturan terus kalau kamu tidak hati-hati Ayu." Aku terhenyak. Aku mulai menatap Buana.
"Mobilku nggak akan rusak kalau cuma masalah sabuk nya ketarik. Tapi tubuh kamu? akan rusak kalau kamu selalu terburu-buru. Aku nggak mau tubuh kekasihku ini, jadi sakit, luka, atau apapun yang buruk. Jadi.. sorry ya kalau tadi malah buat kamu jadi tersinggung" Penjelasan Buana yang panjang itu sambil menatapku dalam, membuat aku jadi meleleh. Ah.. unyu banget kamu mas..
Aku mengangguk, sambil mengeratkan pelukanku ke leher Buana dan membenamkan kepalaku di sana.
"Maaf ya mas.. Ayu udah salah paham ke mas" Kataku masih menyembunyikan wajahku di lehernya. Buana hanya menepuk pundakku.
Beberapa detik seperti itu, aku kemudian mendongakkan kepalaku, memandang sisi wajah Buana dari samping.
"Love you, mas.." Bisikku lirih kemudian mengecup pipi Buana berkali-kali karena gemes.
"Ih Ayu.. jangan mancing deh, bisanya cuma PHP doang!" Kata Buana.
Aku tertawa kemudian turun dari pangkuannya, kemudian menuju ke kamar mandi.