#Almeira
Kenapa mesti ketemu Daka, sih?
Aku terus menggerutu selama di dalam lift. Padahal tadi aku sudah tenang karena dia sibuk dengan Kak Lala di dalam perpus. Aku sebenarnya nggak niat ke kantin atas saat jam istirahat karena harus mengerjakan pekerjaan rumah yang belum selesai dikerjakan tadi malam. Tadi setelah pembagian kelompok belajar di ruang guru, Fares mengajakku mendatangi lantai tiga untuk mencari kakaknya yang akan menjadi salah satu asisten guru Fisika untuk kelas sepuluh A. Saat di lantai tiga aku berpapasan dengan Kak Titan. Aku kira dia akan berlagak nggak kenal padaku karena pada saat itu sedang bersama teman-temannya. Ternyata dia malah menyambutku dengan mata berbinar sambil menggiringku ke kantin. Ketika aku berpamitan pada Fares, cowok jangkung itu hanya menunjukkan jempolnya lalu kami berpisah karena berbeda arah tujuan.
Saat ini aku berjalan gontai menuju kelas. Badanku terasa lemas karena tadi pagi hanya sarapan roti gandum tanpa toping apa pun. Di kantin atas tadi aku hanya makan satu buah apel dan air mineral satu botol ukur 250ml karena sedang bersama Kak Titan. Jadi, tuh, salah satu teman Kak Titan pernah menawarkan aku untuk bergabung dalam tim cheerleader sekolah yang tentunya akan sering bersinggungan dengan tim futsal Kak Titan. Sayangnya postur tubuhku kurang memadai. Saat tes kesehatan berat badanku nggak memenuhi syarat karena nggak sesuai dengan tinggi badanku. Akhirnya Kak Titan menyarankan aku supaya diet karena badanku terlalu bantet katanya. Padahal selama ini nggak ada yang pernah protes pada bentuk badanku. Tapi nggak apa-apa juga. Demi kebaikanku kata Kak Titan. Kalau dibiarkan badanku bakal semakin nggak beraturan. Dia juga menyarankan padaku supaya melakukan olah raga yang bisa membuat badanku sedikit lebih tinggi. Katanya lagi sebelum usiaku masuk 17 tahun.
Sudah dua minggu lebih aku melakukan diet karbo dan menghindari gula terutama coklat dan turunannya, seperti yang disarankan Kak Titan. Jadi sehari-hari aku hanya makan buah, sayur, dan minum air putih. Nasi hanya satu kali sehari, dalam porsi secukupnya dan tentunya nggak boleh lewat dari jam tujuh malam. Bulan depan akan dilakukan seleksi ulang tim cheerleader sekolah. Dan aku optimis bisa menjadi salah satu member tim yang bisa dibilang hanya siswi-siswi tertentu saja yang bisa masuk ke tim itu.
Dalam satu minggu ini berat badanku berhasil turun karena juga diiringi olahraga rutin seperti bersepeda. Tapi siang ini perutku terasa sakit. Padahal kemarin-kemarinnya nggak kayak gini rasanya. Aku lalu merebahkan kepala di atas meja dengan memegangi perutku, sambil menunggu jam pelajaran berikutnya. Tiba-tiba terdengar suara dari samping jendela kelasku. Ketika aku menoleh Daka menunjukkan wajah konyol dari balik kaca lalu nyengir kambing saat aku menjulurkan lidah padanya.
“Udah makan lo?” tanya Daka setelah aku menggeser kaca jendela.
“Udah. Tadi lo liat gue di kantin atas, kan? Lu kira gue ngapain? Beternak ayam?” jawabku asal. Aku nggak mau sampai Daka bisa melihat kondisiku yang sedang lemas dan sambil menahan sakit di perut.
Daka tertawa awalnya mendengar jawabanku. “Tapi gue nggak lihat bekas makan lo di meja kantin,” jawabnya.
“Baru diambil sedetik sebelum lo datang.” Astaga, Daka kalau sudah curiga lebih mengerikan dari agen CIA investigasinya.
“Bukannya gue nyampe kantin atas baru aja istirahat? Lo dari jam berapa di kantin kalo gue datang baru selesai makan?”
Kalau dibiarin makin panjang kali lebar sama dengan luas nanti.
“Bawel banget lo! Lama-lama kayak Ibu!”
Akhirnya Daka berhenti bertanya-tanya soal aku sudah makan atau belum.
“Buat lo,” ujar Daka sambil menunjukkan sebungkus coklat padaku.
Aku menggeleng dan menunjukkan ekspresi acuh tak acuh saat melihat sebungkus coklat favoritku yang begitu menggiurkan itu. “Lagi sakit gigi gue,” jawabku setelah ingat kalau sedang diet.
Sambil berdecak Daka menyingkir dari samping jendela. Benar saja dugaanku. Ternyata dia berputar lalu masuk ke kelasku. Aku hanya menatap malas saat dia duduk di kursi depan kursiku sambil menghadap ke belakang.
“Lo kenapa? Kalo sakit gigi gue antar lo ke UKS sekarang, ya?” tawar Daka. “Atau lo mau langsung pulang sekalian?”
Aku menggeleng kemudian mengeluarkan kotak pensil beserta buku tulis untuk bidang studi jam berikutnya. “Nggak terlalu sakit. Tapi kalo dibuat makan coklat yang ada malah tambah sakit.”
Daka mengangguk paham menerima penjelasanku sambil memutar kepala. Seperti sedang mencari seseorang. Tapi aku malas bertanya karena badanku benar-benar lemas saat ini berurusan sama dia. Dari pintu Angel dan Zara masuk barengan. Daka melambaikan tangan meminta kedua temanku itu datang padanya.
“Apaan?” tanya Zara. Temanku yang polos dan memang paling sering dikerjain Daka.
“Buat lo,” ujar Daka sambil menyodorkan coklat yang tadinya hendak ia berikan padaku.
“Tumben baik lo? Pasti minta gue buat jadi detektif? Ya, kan?” balas Zara sambil menerima coklat pemberian Daka. Nggak lama kemudian Angel membekap mulut Zara dan membawanya pergi dari hadapanku.
Aku mengernyit heran mendengar pernyataan Zara. Namun belum sempat aku bertanya lebih jauh Angel sudah membawa Zara menyingkir dari hadapanku bahkan keluar dari kelas.
“Nanti pulangnya bareng, yuk. Trus maen ke rumah kreatif,” ucap Daka mengambil salah satu bolpoin milikku kemudian memainkan dengan cara memutar bolpoin tersebut dengan jemarinya. “Dicariin Ganes lo. Udah lama katanya nggak lihat elo.”
“Gue ada kelompok belajar nanti abis bubaran sekolah,” jawabku malas.
“Emang udah mulai? Bukannya pembagian kelompoknya masih hari ini?”
“Ya, emang. Kelompok gue mulainya hari ini.”
“Ketat banget? Minggu depan aja kenapa? Sekarang udah hari Kamis.”
“Suka-suka gue-laaah…”
“Lo kenapa, Ai? Gue ada salah sama lo?” tanya Daka sambil menatap lurus padaku.
Aku menggeleng malas lalu memintanya pergi dari hadapanku. Awalnya dia masih ingin bertanya. Namun bel masuk terdengar nyaring. Membuat Daka mau nggak mau harus meninggalkan kelasku.
Ketika kelas bubar aku semakin lemas beranjak dari kursi. Namun aku harus memaksakan diri karena nggak ingin kelihatan lemah nggak berdaya di depan teman-temanku. Karena bisa dipastikan salah satu dari mereka pasti akan segera lapor pada Daka. Akhirnya begitu bel pulang berbunyi diikuti guru mata pelajaran terakhir meninggalkan kelas, aku menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan tenaga lalu segera bangkit dari kursi. Aku nggak peduli meski Angel dan Zara meneriakkan namaku berkali-kali. Yang ada dalam pikiranku adalah segera sampai di loker, ambil tas lalu bergegas menuju mobil Kak Titan.
Syukurnya Kak Titan sudah menungguku di samping mobilnya. Sehingga aku nggak perlu menunggu waktu lama-lama untuk duduk nyaman sambil merebahkan badanku. Setelah berada di dalam mobil kening dan leherku dipenuhi oleh bulir keringat yang terus mengalir membasahi punggung.
“Kenapa kamu ngos-ngosan, Almeira?” tanya Kak Titan.
“Nggak apa-apa, Kak. Biar nggak diikutin temenku,” jawabku masih dengan napas tersengal.
Sebelum menyalakan mesin mobil terlebih dulu Kak Titan meraih dua lembar tisu kemudian mulai mengeringkan keringat yang ada di keningku. Baru kemudian dia memberiku satu botol air mineral untuk kuminum. Setelah napasku mulai teratur barulah Kak Titan menyalakan mesin mobil dan melajukan meninggalkan halaman belakang sekolah. Tempat aku biasa janjian dengan Kak Titan.
“Kamu kenapa diam aja?” tanya Kak Titan.
Aku menggeleng sembari melempar senyum pada Kak Titan saat dia menoleh dan tatapan kami saling bersirobok.
“Lagi nggak enak badan? Kalau kamu sakit nggak usah ikut latihan aja,” ujar Kak Titan. Dia memang menawarkan seperti itu. Tapi wajahnya menunjukkan seperti orang sedang kecewa.
Hari ini Kak Titan memang mau mengajakku gabung di studio latihan band-nya. Tapi sepertinya badanku benar-benar nggak bisa diajak kompromi. Daripada semakin nggak karuan lebih baik aku batal ikut menemani Kak Titan latihan saja.
“Nggak apa-apa kalau aku kali ini nggak ikut? Tiba-tiba lemes,” ujarku jujur.
“Kamu mau istirahat di apartemenku dulu? Latihannya bisa diundur sejam lagi. Studionya juga deket apartemenku. Mungkin setelah kamu istirahat sebentar udah agak segeran.”
“Apartemen Kak Titan?”
Kak Titan mengangguk diiringi senyum. “Aku tinggal sendirian. Apartemen aku juga bersih. Meski cowok aku seneng kebersihan. Aku nggak suka ruangan yang berantakan.”
“Tapi, Kak…”
“Kamu coba aja dulu. Kalau nggak bisa istirahat nanti aku antar pulang. Gimana?”
Setelah aku pertimbangkan beberapa kali, akhirnya aku menuruti permintaan Kak Titan. Dia mengacak pelan puncak kepalaku. Kemudian aku juga merasa kalau dia membelai rambut panjangku yang sekarang dalam posisi dikucir ekor kuda.
“Besok-besok kalau pas lagi bareng sama aku, rambutnya nggak perlu dikuncir gitu ya. Aku lebih suka lihat rambut kamu digerai. Kelihatan lebih cantik dan kalem,” kata Kak Titan.
Aku mengangguk malu-malu. Hatiku berbunga-bunga saat ini. Aku dibilang cantik sama Kakak kelas, Ketua OSIS, dan yang pasti cowok paling digilai seantero BHS. Hanya berteman dekat seperti ini saja aku udah sebahagia ini. Apalagi kalau jadi pacarnya Kak Titan. Bisa-bisa aku senyum-senyum terus seperti orang gila.
~~~
^vee^