Mimpi yang Terus Berulang

1502 Words
Brakkk. Diana membanting pintu kamar adiknya yang tertutup namun tidak terkunci. "Mas Seno, Nana, apa yang sedang kalian lakukan?" Seno menghempaskan Nana begitu saja, membuat Nana jatuh terhuyung ke ujung tempat tidur. "Diana. Dengerin aku. Aku bisa jelasin. Yang terjadi tidak seperti apa yang kamu lihat. Nana yang menggodaku duluan," Seno kemudian langsung menghampiri Diana sementara Nana yang sudah berhasil duduk tegak di sudut ranjang, tergesa mengancingkan kembali kemeja sekolahnya. "Apa yang terjadi, Nak?" Bapak tergopoh masuk mendengar keributan dari dalam rumah. Sementara Ibu dan Danu-anak sulung mereka mengikuti dari belakang. Mendapati Nana dengan seragam sekolahnya begitu berantakan, juga rambutnya yang berantakan tak terikat, Danu segera menghampirinya, mengambil ikat rambut di lantai dan menyerahkan ke adiknya, lalu membantunya mengenakan kerudung yang juga tergeletak sembarangan di lantai. Melihat kekacauan pada adiknya, Danu sudah bisa menebak kejadian apa yang barusan terjadi. Amarahnya memuncak. Ingin rasanya ia memberi pelajaran pada calon adik iparnya. Namun Danu juga melihat Nana, adik bungsunya, lebih membutuhkan perlindungan darinya saat ini. Ia membimbing Nana ke ruang depan dan duduk di sofa, kemudian membiarkan sang adik menangis di pelukannya. "Diana sayang, kamu harus dengerin aku. Selama ini aku hanya mencintaimu. Dua tahun terakhir kita pacaran, aku tak pernah sekalipun selingkuh darimu. Bahkan kita juga berencana mau menikah dalam waktu dekat bukan? Kamu lihat, kan, selama ini aku mana pernah masuk ke dalam rumah kalau tidak ada orang tuamu di rumah? Aku tadi kesini pun menunggu dari luar karena kulihat rumah sepi, ucapan salamku tidak ada yang menjawab. Eh tiba-tiba Nana pulang, dan dia memaksaku untuk ikut ke kamarnya. Dia memang gadis seperti ular. Lagaknya aja sok alim dengan jilbabnya, sok pamer prestasi sekolah padahal hanya topeng. Bayangin ajalah, sayang. Mana mungkin aku tertarik dengan bocah ingusan yang bahkan sekolah aja belum lulus? Aku selama ini sudah menganggapnya seperti adik sendiri," "Astaghfirullah, nggak nyangka ya Nana yang dari kecil alim ternyata kelakuannya begitu," "Ya ampun kasihan sekali Pak Harun dan Bu Rani dipermalukan sama anak gadisnya," "Na'udzubillah, amit-amit penampilan doang syari tapi kelakuan memalukan," Para tetangga yang langsung datang berkerumun saat mendengar keributan di rumah, saling berbisik dan menghujat Nana. Meski sebagian orang tidak percaya, tapi lebih banyak yang lebih mempercayai ucapan Seno. Terlebih lagi, sejauh ini tindak tanduk Seno memang sangat sopan dan menjaga adab dengan tetangga sekitar setiap kali datang ke rumah. "Demi Allah, semua tuduhan Mas Seno dusta, Pak, Bu. Mas Danu percaya kan sama Nana? Mbak Diana tolong percaya sama aku. Aku sayang sekali sama Mbak Diana, mana mungkin aku tega melakukan hal keji tersebut, Mbak?" Terbata-bata Nana membela diri sambil terisak. Air matanya mengalir deras membasahi wajah dan selimut yang menutupi tubuhnya. Dadanya sungguh sesak. Meski di sisi lain Nana lega hal menakutkan yang hampir saja menimpa dirinya tidak terjadi karena Diana keburu memergoki mereka sebelum Seno berbuat lebih jauh, tapi hatinya sakit sekali mendengar tuduhan Seno yang sangat pandai memutarbalikkan fakta. "Stop! Berhenti pura-pura jadi korban! Jangan pernah menganggapku sebagai kakakmu lagi. Jangan pernah pula berpikir kalau air mata buayamu akan membuatku percaya. Aku tidak sudi memiliki adik yang keganjenan dan tega merayu calon suamiku di belakangku. Aku kecewa sama kamu. Aku benci kamu! Bapak, Ibu dan Mas Danu jangan diam saja, dong! Usir Nana dari rumah atau aku yang pergi? Dia udah bikin malu keluarga. Mau jadi apa kamu, hah?" Diana teriak histeris sambil mengacungkan jari telunjuknya ke wajah sang adik. Amarahnya membuncah. Danu terus mendekap Nana dengan erat, sambil tangannya menghalau Diana yang hendak menyerang. "Diana, Nak, sabar sayang. Biarkan adikmu tenang dulu. Kita bicarakan baik-baik, ya, Nak. Biarkan emosimu mereda dulu," air mata mengalir dari mata Bu Rani. Ia berusaha menenangkan amarah Diana. "Ibu bilang bicarakan baik-baik? Diana lihat dengan mata kepala sendiri kalau Mas Seno ada di kamar dia. Kalau bukan yang punya kamar yang mempersilahkan, siapa lagi, Bu? Masuk ke kamarku saja Mas Seno tidak pernah. Aku pacaran dengan Mas Seno sudah lama. Aku paham betul kalau Mas Seno bukan laki-laki b***ngan," Diana semakin marah. "Diana cukup! Nana adikku, kamu juga adikku. Seharusnya kamu lebih paham bahwa adik kandungmu jelas bukan perempuan murahan seperti tuduhanmu. Selama ini, Nana udah menunjukkan banyak prestasi yang ia miliki, yang membuat kita semua bangga. Kamu dan Seno hanya baru pacaran dua tahun. Tapi kamu dan adikmu sudah bersama belasan tahun lamanya, sejak ia terlahir dan usiamu enam tahun, lalu kita sama-sama tumbuh bersama, bermain bersama, berbagi kasih yang sama dari bapak ibu, dan sekarang kamu dengan tega menuduhnya berbuat hal keji seperti itu? Aku jadi yakin, kalau Seno jelas bukan calon imam yang baik. Lebih baik kamu putuskan saja si Seno. Aku nggak sudi punya adik ipar yang hampir saja menghancurkan masa depan adikku." Danu akhirnya ikut bicara panjang lebar, berharap Diana terbuka hatinya dan bisa mengambil kesimpulan yang bijak. "Apa yang dikatakan Mas Danu ada benarnya, Nak. Bapak sungguh kecewa dengan Nak Seno. Lebih baik kalian batalin rencana pernikahan kalian. Bapak tidak mau anak bapak malah sakit hati lebih dalam lagi. Dan juga mengenai Nana, Bapak sunggguh tidak terima atas perlakuan Seno padanya," "Ok fine! Semua orang belain Nana. Lebih baik aku yang pergi dari rumah ini," Diana berteriak marah dengan air mata berurai. "Astaghfirullahal'adziim," Nana terbangun dari tidur. Refleks ia bangun dan duduk di tepi kasur. Peluh membanjiri wajahnya. Ia masih terus melantunkan istighfar, berusaha menepis mimpi buruk tersebut. Setelah meneguk segelas air putih dari dispenser, Nana beranjak mengambil air wudhu dan mengerjakan shalat sunnah 2 rakaat. Sekaligus mengadu pada-Nya, meminta perlindungan terbaik dari-Nya. *** Nana mengerjapkan mata perlahan sebelum akhirnya terbelalak mendapati jam dinding di kamarnya sudah menunjukkan waktu jam setengah sembilan pagi. Nana panik bukan main. Sebab jam sepuluh nanti ia harus bertemu klien untuk presentasi. Apalagi hal tersebut merupakan kesempatan emas pertamanya. Kalau sampai klien tersebut marah dan membatalkan kerjasama dengan perusahaan tempatnya bekerja, pasti atasannya akan marah bahkan bisa memberikan sanksi tegas untuknya hingga pemecatan sepihak. Duh, membayangkannya saja Nana merasa ketar-ketir. Nana bergegas membersihkan tubuhnya, kemudian memakai baju kerja yang untungnya sudah biasa ia siapkan pada malam harinya sebelum beranjak tidur. Sebuah rok panjang semata kaki berwarna pink dusty, dengan kemeja dan pashmina berwarna senada yang membuatnya tampak anggun. Sambil menyiapkan laptop dan charger ke dalam tas, Nana sekaligus memesan taxi online. Setelahnya baru ia memoles wajahnya dengan make up minimalis, namun tetap terlihat anggun dan cantik. Nana memang tidak suka dengan make up yang tebal dan menor. Setelah memastikan penampilannya sempurna dan berkas penting tidak ada yang terlupa, Nana pun segera bergegas keluar dari kos-nya, mengunci pintu dan keluar dari gang sempit menuju minimarket yang menjadi patokan, tempat dimana ia biasa menunggu jemputan saat memesan taxi online atau ojek online. "Pak, posisi saya sudah di depan minimarket, ya!" "Baik Kak mohon ditunggu ya. 5 menitan lagi saya sampai. Mobil saya warna merah," Nana mengetik pesan ke driver pada applikasi pemesanan taksi onlinenya. Meski masih cukup waktu baginya menuju lokasi meeting di sebuah kafe di bilangan Jakarta Barat, tapi menunggu taksi online yang dipesannya tak kunjung datang membuat Nana sedikit gelisah. Belum lagi perasaan deg-degan menghadapi presentasi langsung dengan klien untuk pertama kalinya, seorang diri tanpa ditemani seniornya di kantor seperti biasanya. Terlebih, pagi tadi ia malah ketiduran usai shalat subuh gara-gara tengah malam terbangun karena mimpi buruk, yang berakibat ia susah untuk kembali tidur usai menunaikan shalat malam. Ia hanya bisa berharap dan merapal doa dalam hati tanpa henti, agar ia dimudahkan dalam presentasi nanti, dan tidak satu halpun lewat atau terlupa. Bagaimanapun, pengalaman pertama ini membuatnya sangat gugup. Pengalaman pertama yang sekaligus akan menjadi batu loncatan untuk menentukan nasib karirnya ke depan. *** Nana langsung masuk ke dalam mobil merah yang berhenti tepat di depannya. "Pak langsung jalan saja ya, kita ke kafe De'Java," Nana berucap setelah masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi belakang. Laptop dan berkas yang ia jadikan ke dalam satu tas jinjing, ia letakkan di sampingnya. "Siap, Nona. Dengan senang hati," sahut si pengemudi di depan. Baru saja mobil yang ia tumpangi melaju, tiba-tiba ponselnya berdering pertanda ada telepon masuk. Nana pun segera menekean tombol hijau dan menerima panggilan tersebut. "Halo, kak. Saya sudah di depan minimarket yang tadi disebutkan. Kak Eva posisinya dimana, ya?" deg. Nana kaget bukan main. Jika sopir taksi online yang dipesannya barusan menelepon, lalu siapa pengemudi yang mobilnya sedang ia tumpangi ini? Duh rasanya malu sekali sudah salah naik mobil orang. Dan jangan-jangan, orang tadi sengaja tidak memberitahukan kalau dia salah naik dan hendak menculiknya? Di jaman sekarang, bukan tidak mungkin kan kemungkinan tersebut terjadi? Nana mendadak panik. Tapi ia harus berusaha untuk tidak kelihatan panik supaya orang yang tengah mengemudi di depan tidak curiga. Nana langsung mematikan telepon dan mengirimkan pesan kepada driver taksi online yang tadi dipesannya. "Pak mohon maaf saya salah naik mobil orang. Maaf saya batalin pesanannya ya pak. Bisa minta tolong kirim nomor rekeningnya biar saya tetap bayar sebagai bentuk permohonan maaf. Nanti saya kirim buktinya ke nomor yang tadi bapak gunakan untuk menelepon, ya." klik. Nana mengirimkan pesan tersebut segera, lalu tidak lupa meng-capture nomor rekening yang diberikan sang driver sebelum akhirnya ia membatalkan pesanan taksinya tadi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD