Bab 6

1303 Words
Amara menatap bingung ke arah Kaisar dan juga Reynald. Sedangkan Kaisar masih mencerna semuanya. "Iya aunty, dia kekasih ku. Tadi setelah turun arena kami di serang beberapa orang. Sialnya aku nggak tahu kalau pisau itu beracun." Di akhir kalimatnya terdengar nada menyesal dari Kaisar. Reynald yang mendengar itu tentu saja merasa aneh. Baginya ada yang janggal dari setiap penjelasan Kaisar pada Amara. Amara mengangguk mengerti, dia menepuk bahu Kaisar pelan. "Istirahat lah, dia akan baik baik saja. Racunnya sudah bisa aku keluarkan. Dan hanya menunggu dia sadar." Amara bangkit dari sana, pergi ke kamarnya yang ada sedikit ke belakang. Reynald memberikan baju ganti untuk Kaisar. Tanpa banyak bicara lagi, Kaisar segera berganti pakaian. Membiarkan Reynald menunggunya untuk memberi penjelasan. Reynald memilih menunggu di luar, tak lupa juga dia memberitahu Arka jika dia sudah bersama dengan Kaisar. Yang jelas, Kaisar belum sempat mengabari lebih detail tentang keadaannya yang sekarang. "Katakan padaku, kenapa kamu bisa tiba tiba sama dia? Lalu orang orang yang aku temui? Siapa mereka? Kamu punya musuh? Kenapa nggak bilang sama aku?" Reynald mencecar Kaisar dengan banyak pertanyaan. Sedangkan Kaisar malah duduk tenang sambil menikmati sebatang rokok. "Satu satu tanyanya, aku bingung mau jawab yang mana dulu." Reynald yang kesal, menendang kaki Kaisar dengan keras. Duk.... "Jelasin semuanya!" "Orang orang tadi menargetkan Aura. Awalnya aku mengikuti Aura karena penasaran, terlebih dia berbeda banget pas ketemu aku di keluarga Robinson sama di arena tadi. Saking aku penasarannya aku nggak tahu kalau ternyata orang orang itu mengincar tuh cewek!" Reynald sedikit bingung, orang orang tadi termasuk para preman dalam kelompok elit. Mereka bukan hanya preman yang meminta uang korbannya tapi juga menghabisi korbannya. Dan mereka menargetkan Aura. Sungguh berita yang di luar dugaan. "Dia punya musuh?" Kaisar menggeleng, tapi entah kenapa perasaannya terpaku pada satu nama yang sebenarnya enggan dia pikirkan. Mengingat apa yang terjadi di rumah itu dan juga sempat terjadi perdebatan tentang biaya pernikahan yang ada di bawah kendali Aura. "Selidiki Meisya dan juga kedua orang tuanya!" Reynald kembali terkejut dengan perintah yang di berikan Kaisar kepadanya. Terlebih kenapa harus Meisya, sedangkan Meisya saudara Aura. Kaisar yang melihat wajah Reynald bingung kemudian menceritakan apa yang terjadi di kediaman Meisya saat mereka membahas tanggal pernikahan mereka. Dan juga gerak gerik Aura yang sangat kontras dengan apa yang Kaisar lihat saat bertarung. Barulah Reynald paham, kemungkinan ada perebutan harta dan kekuasaan di keluarga Robinson. Kaisar menyuruh Reynald tidur di kamar atas, sedangkan dia akan menjaga Aura di kamar bawah. Sesuai pesan Amara, jika ada kemungkinan Aura akan tiba tiba demam nanti setelah obatnya sepenuhnya bereaksi. Kaisar melihat wajah pucat Aura saat ini. Dia mendekati ranjang lalu duduk di sebelahnya. Dari pertama kali dia melihat Aura, entah kenapa dia merasa jika ada yang aneh dengan hatinya. Perasaan itu berbeda sekali ketika saat bersama Meisya yang tak merasakan apapun. "Siapa kamu sebenarnya?" gumam Kaisar lirih. # Waktu sudah menunjukkan lewat tengah malam, Kaisar tertidur di kursi dengan kepala tertumpu pada pinggiran ranjang. Perlahan kesadarannya di tarik kembali saat mendengar suara Aura. "Nggak, jangan sentuh mamaku!" "Jangan sakiti mamaku!" Kaisar mengerutkan keningnya melihat keadaan Aura yang sedang mengigau. Keringat dingin bercucuran di wajahnya. Kaisar menyentuh kening Aura, dan benar saja jika Aira sedang demam saat ini. Kaisar mengambil kompres yang sudah disiapkan Amara. Kaisar berusaha untuk membuat Aura lebih tenang. Tapi Aura tak kunjung bisa terbangun. Lalu Kaisar berpindah ke sisi ranjang, memeluk Aura dengan posisinya yang duduk. Menggenggam erat tangan Aura sampai perlahan Aura bisa tenang. "Apa dia punya trauma masa lalu?" gumam Kaisar setelah melihat Aura kembali tenang. Perlahan sudut alis yang menyatu itu mulai hilang. Keringat dingin juga mulai berhenti. Kaisar mengusap lembut pipi Aura yang mulai kembali bersemu merah. Ada rasa tak biasa yang tumbuh di hatinya. Tapi dia masih berusaha menepisnya. # Pagi itu, Aura membuka matanya perlahan. Menatap sekitar yang bukan kamarnya. Amara masuk ke dalam kamar seraya tersenyum ke Aura. "Sudah bangun ternyata." Amara mendekat ke arah Aura, membantu Aura untuk duduk. Aura meringis saat merasakan luka di punggungnya terasa nyeri. "Pelan pelan, luka mu belum kering. Aku akan memeriksanya lagi dan mengganti perbannya." Aura menurut, dia tak banyak bertanya. Hanya saja pikirannya mulai mengingat apa yang terjadi padanya sampai ada di rumah itu. Bayangan Kaisar yang tiba tiba muncul membuatnya yakin jika Kaisar lah yang membawanya kesana. Tapi dia tak melihat Kaisar disana. "Sudah selesai, sepertinya tubuh mu terbiasa dengan macam macam racun. Sembuhnya lebih cepat dari yang aku pikirkan." Amara lalu memberikan sebuah paper bag kepada Aura. "Gantilah bajumu, Kaisar titip ini sama aunty." Aura menerima paper bag itu sambil mengangguk pelan. "Ah, aku lupa, kenalkan aku Amara. Anak nakal itu selalu memanggilku Aunty." Amara memperkenalkan dirinya dengan ramah. Aura merasa aman dengan Amara tak ada rasa tak nyaman disana. "Aunty terima kasih sudah merawat ku." ujar Aura tulus. Amara mengangguk, dia lalu keluar dari kamar Aura. Membiarkan Aura mengganti pakaian, sementara dia kembali melanjutkan menyiapkan sarapan. Aura sempat tertegun di tempatnya. "Kaisar." Aura merasa dia menemukan sesuatu yang berharga kali ini. Tatapan mata yang lembut berubah kembali menjadi dingin. # Kaisar saat ini sudah ada di kantor papanya. Papanya menatap Kaisar penuh tanda tanya. Jari jarinya mengetuk meja menunggu Kaisar menjelaskan semua yang terjadi. Tapi sebelum Kaisar menjelaskan apa yang terjadi padanya, Reynald masuk ke dalam ruangan itu membawa beberapa berkas. "Maaf om, ganggu bentar." Arka mengangguk, dia lalu penasaran dengan berkas yang di berikan Reynald pada Kaisar. Kaisar sendiri tak mengatakan apapun, tapi dia langsung membacanya. Awalnya, Kaisar membacanya biasa saja tapi lama kelamaan dia meremas kuat berkas itu. Arka yang melihat putranya dilanda kemarahan merebut berkas itu. Dia ingin membaca sendiri apa yang ada disana. "Rey, kamu nggak salah?" Reynald menggeleng, wajahnya juga berubah sendu. Dia pun syok saat mendapatkan semua info itu. Brak.... "Berengsek!" Kaisar sampai menggebrak meja karena kemarahannya yang tak terbendung. "Aku mau batalkan pernikahan itu!" Arka yang baru selesai membaca itu juga merasakan kemarahan yang tak terbendung. "Kamu nggak bisa batalin tiba tiba Kai." tegur Arka. Arka melirik Reynald untuk menutup pintu dengan rapat. Arka lalu menyalakan tombol kedal suara di ruang kerja itu. "Apa maksud papa, mereka keluarga gila. Menyiksa anaknya yang lain dan memanjakan anak yang nggak tahu diri!" Kaisar sudah meninggikan suaranya di depan Arka. "Tapi kamu pacari udah setahun lebih." ceplos Reynald. Mata Kaisar melotot ke arah Reynald yang membuat Reynald melipat bibirnya ke dalam dan diam. Kaisar mengusap wajahnya kasar. "Kaisar, kamu orang luar untuk Aura. Dan dia baru kembali kesini. Kemarin saja sudah ada orang orang yang ingin membunuhnya. Apalagi kalau kamu tiba tiba batalkan pernikahan mu dengan Meisya, apa kamu pikir mereka akan berhenti? Nggak. Yang ada mereka akan semakin gila mengejar Aura." Kaisar terdiam, apa yang di katakan oleh Arka ada benarnya. "Dengarkan papa, tiga bulan lagi kamu menikah. Gunakan waktu itu untuk membantunya. Dengan syarat dia sendiri yang datang kepadamu. Kita masih belum tahu lebih dalam tentang Aura. Apa kamu tak sadar, info yang di dapat Reynald ini hanya info kecil. Mengingat kamu cerita jika Aura bahkan mengalahkan mu di arena dan juga pandai bertarung, apa kamu pikir dia cewek polos dan mudah?" Sial, aku lupa fakta itu. batin Kaisar. Melihat keterdiaman Kaisar membuat Arka yakin jika ada sesuatu yang lain di balik Aura. Terlebih Arka juga sempat mendengar jika semua biaya pernikahan atas ijin Aura. Reynald menepuk pelan pundak Kaisar. "Om Arka benar, tapi aku ingin tahu. Kenapa tiba tiba kamu tertarik padanya, bahkan membantunya? Apa kamu tertarik padanya? Atau mungkin kamu langsung jatuh cinta kepadanya?" Reynald bertanya dengan nada yang sedikit menggoda pada Kaisar. Kaisar menepis tangan Reynald sambil memalingkan wajahnya ke arah lain. Sedangkan Reynald dan Arka terkekeh melihat sikap Kaisar. Tak biasanya dia akan seperti itu karena seorang wanita. "Kamu cukup jaga dia dari jauh saat ini kalau kamu peduli. Tapi tetap tahan diri, kecuali kalau kamu benar benar udah nggak tahan akan beda lagi!" to be continued
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD