Luther

3680 Words

“Apa pernah terpikirkan olehmu kalau cinta itu membutuhkan korban? Sepaham kah kau dengan stigma itu?” Angin menyapu rambut Luther secara lembut dari balik jendela rumah sakit yang sedikit terbuka. Sengaja memang sebab dia membutuhkan udara segar untuk dihirup. Selain karena bosan dengan bau klorin dan obat-obatan paling tidak dia butuh udara luar untuk menemaninya. Mulanya dia memang menatap keluar jendela pura-pura tidak peduli pada sosok Wanita yang sudah duduk di tepi ranjangnya. Jujur saja Luther tidak bisa untuk menatap sorot mata itu lebih lama lagi. Terlebih meski dia sendiri yang mengatakan ujaran yang membutuhkan jawaban. Seyogyanya Luther tidak siap untuk mendengar sendiri sekaligus melihat ekspresi macam apa yang akan Zelda buat untuk dirinya. “Mungkin,” dan tepat seperti a

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD