Adrien sudah benar-benar tertidur. Film bahkan belum berhasil masuk ke dalam sebuah klimaksnya sebelum dengkuran halus pria itu dengan tenang memenuhi seluruh penjuru ruangan. Aku menghela napas dengan tajam, tidak yakin apa yang harus kulakukan sekarang. Film ini benar-benar tidak aku tonton sama sekali. Sejak awal aku memang tidak punya niatan untuk menonton televisi, apalagi sekarang kondisinya hanya aku sendiri yang terjaga. Malah kini mataku lebih memilih untuk terpaku pada seorang pria yang tengah terlelap di bahuku. Aku senang sekaligus lega bahwa rona di wajahnya tampaknya sudah kembali ke asal lebih baik tentu saja. Rambut yang lebih mirip seperti sarang tikus yang berantakan jatuh di bahuku juga di matanya. Tanpa memikirkan apapun, aku menggunakan jemariku sendiri untuk menyingki

