Bab 1

3617 Words
Lexington, Manhattan, New York City Senin, 6 November 2017   -- Kereta menuju Pelham melaju pesat di hadapanku. Aku melihat orang-orang menunggu di jalur dua. Mereka menunggu hingga lampu penyebrangan berganti warna hijau sebelum bergerak cepat ke jalur satu. Tas kerja mengayun di satu tangan mereka. Aku memperhatikan langkah kaki mereka yang tergesa-gesa ketika meninggalkan jalur. Suara-suara mendengung mesin kereta yang meninggalkan stasiun dan suara ribut langkah kaki yang saling berlomba-lomba untuk tiba lebih awal di tangga keluar. Kuperhatikan tiga orang yang berjalan di jalur dua. Anak-anak muda yang tertawa cekikan dengan sebuah ponsel di tangan mereka. Dua dari remaja itu adalah wanita berambut kecoklatan, satu bertubuh gemuk, satu kurus dan jangkung. Sementara seorang dari mereka adalah laki-laki, usianya sekitar lima atau tujuh belas tahun. Aku melihatnya tersenyum ke arah si jangkung, mereka bertukar tatapan. Sementara si gemuk kelihatan sibuk dengan ponselnya. Ia sedang mengetikkan sesuatu dan tidak menyadari bagaimana kekasihnya bertukarpandang dengan sahabatnya. Wajah mereka tidak asing untukku. Bahkan rasanya, aku sudah mengenal mereka. Bob, Bill, dan Marie. Begitulah aku menamai mereka. Bob adalah kekasih Bill yang diam-diam menyukai Marie. Aku suka melihat mereka – aku suka membayangkan diriku seperti mereka: berjalan di stasiun, menggenggam tangan kekasihku, atau sebutlah kekasih dari temanku. Aku ingin tahu seperti apa rasanya dikhianati, aku ingin tahu bagaimana rasanya menghianati. Ketika Bill berbalik, Bob nyaris tersentak. Spontan saja dia melempar tatapannya dari Marie ke sembarang arah. Aku melihat Bill menyeringai ke arah Bob dan dengan polosnya memeluk Bob. Aku menyadari perubahan dalam raut wajah Marie yang malang – atau Marie si pengkhianat. Gadis yang tidak cukup beruntung. Bagaimanapun Marie tetap menarik. Dia tidak segemuk Bill dan wajahnya berbentuk bulat sempurna. Sudut dagunya lancip dan gadis itu memiliki tulang hidung kecil yang akan disukai pria manapun. Sekilas Bob menaikkan sebelah alisnya ke arah Marie, rona merah kemudian memenuhi wajah pucat Marie. Aku tersenyum. Aku membayangkan Bob menghianati Bill dan pergi bersama Marie, mereka akan menjadi pasangan yang serasi. Kubuka buku tebal yang sedari tadi kuabaikan di pangkuanku. Aku mulai membalik halamannya satu persatu, mencari dan mencari hingga aku berhenti di halaman sepuluh. Aku menulis nama Bob, Bill dan Marie di atasnya. Lukisan mereka baru setengah jadi. Aku menuliskan tanggal terakhir ketika aku melukis gambar itu: 1 November. Itu artinya baru tiga hari yang lalu aku melihat mereka. Aku belum sempat menyelesaikan lukisan itu, tapi aku sudah membayangkan hasil akhirnya. Aku akan melukis Bob yang sedang memeluk Bill sedang matanya tidak bisa berhenti menatap ke arah Marie. Aku tersenyum. Aku tidak ingat kapan terakhir kali aku merasakan perasaan yang meletup-letup seperti sekarang. Aku suka membayangkan kehidupan orang-orang. Aku suka menebak apa yang mungkin terjadi pada mereka. Hari ini, Bob dan Marie membuat aku bersemangat. Aku mengangkat pensil yang kuselipkan di buku itu dan mulai melukis lagi. Aku akan menyelesaikan lukisan itu hari ini sehingga aku bisa menggantungnya bersama lukisan lain di kamarku. Malam nanti aku akan tertidur dan membayangkan Bob dan Marie. Aku sudah tidak sabar untuk itu. Kereta berikutnya datang. Suara berderit roda kereta yang menggilas permukaan besi terdengar familier. Aku menyukai suara itu. Aku suka menghabiskan waktu berjam-jam untuk duduk di sana, menyaksikan kereta datang dan bergerak melambat, kemudian para penumpang berbondong-bondong turun dari pintu kereta. Masing-masing dari mereka tampak sibuk dan terburu-buru. Aku pikir mereka ingin pergi secepat mungkin meninggalkan tempat yang berbau apak itu. Udaranya panas di bawah sini. Suara keributan hadir dimana-mana. Suara lembut mikrofon yang memberitahu keberangkatan kereta berikutnya, suara gemuruh mesin yang berisik, langkah laki yang tergesa-gesa. Aku rasa, aku satu-satunya orang yang berharap tinggal lebih lama di sini. Sebuah kereta memasuki jalur dua, pelan dan tenang. Mesinnya bergerak melambat dan berhenti secara bertahap. Kereta itu menghalangi pandanganku dari Bob, Bill dan dan Marie. Mataku mencari-cari dan ketika aku melihat pintu kereta yang bergeser terbuka, aku merasa lega saat menyaksikan Bob telah duduk di samping Bill. Marie ada di seberang. Ia sedang memasukkan ponsel ke tasnya ketika kereta itu bergerak pergi. Kini yang tersisa hanya sejumlah penumpang yang memadati jalur dua. Mereka bergerak beriringan menuju tangga. Sepatu mereka yang halus dan mengilap, berbunyi ketika menghantam aspal di jalur dua. Mereka menuruni tangga secara bergiliran dan perlahan-lahan jalur dua kembali kosong. Aku memejamkan mata saat merasakan tenggorokanku kering. Seandainya aku ingat untuk membeli alkohol. Tapi aku tidak ingin mengambil risiko jika Nick tahu. Pagi ini cukup berat. Aku baru saja melewati sesi terapi sekitar satu jam yang lalu dan aku membutuhkan diriku untuk tetap sadar. Jadi, aku tidak meneguknya sedikitpun sejak pagi tadi. Aku tidak ingin Dokter Lou melihatku mabuk dan mengatakannya pada Nick. Aku pikir aku bisa menyimpan alkoholku untuk nanti malam. Sembari menjilati bibirku yang kering, aku mendengar suara yang keluar dari mikrofon. Suara itu lembut dan sedikit serak. Petugas hendak memberitahu kalau keretaku akan tiba dalam beberapa menit. Aku segera bersiap. Kututup kembali buku itu kemudian kuletakkan di dalam tas hitam yang selalu kubawa. Tanganku meraih tali yang mengantung kamera di bahuku. Aku selalu memastikan kamera itu berada di sana. Saat keretaku akhirnya memasuki jalur, aku menunggu hingga pintu dibuka kemudian aku berjalan masuk ke gerbong nomor 3. Aku selalu memilih tempatku di sudut paling kiri. Aku menyukai tempat itu karena dari sana, aku bisa melihat keluar jendela. Aku menunggu dengan tenang saat pintu otomatis tertutup, kemudian kereta melonjak dan perlahan menarik tubuhku ke belakang saat rodanya berputar maju. Suara yang keluar dari mikrofon itu kemudian memberitahuku kalau aku menaiki kereta yang bergerak menuju Brooklyn Bridge - City Hall. Selalu tempat yang sama. Aku merasa lega mendengarnya. Kusandarkan kepalaku tiang besi. Ini adalah apa yang selalu kulakukan. Terbangun di pagi hari, menunggu kemudian pergi ke stasiun. Keretaku selalu tiba lebih pagi, hari ini ia tiba pukul tujuh tiga puluh, kereta berikutnya akan berangkat sekitar pukul sembilan. Terkadang ketika aku terlambat, aku harus menunggu dua jam untuk keberangkatan berikutnya - meskipun aku tidak keberatan sama sekali. Aku senang berada di stasiun. Aku senang melakukan perjalanan dengan kereta dan ini sudah kulakukan sejak lama. Sekitar tiga puluh menit kemudian, keretaku tiba di Brooklyn Brige - City Hall. Aku telah berdiri di depan pintu, menyaksikan wajah pucatku di kaca pintu yang gelap dan menyadari kalau seseorang pria yang berdiri di belakang sedang memerhatikanku. Aku merasa bergidik hingga pintu otomatis itu terbuka. Udara panas di stasiun langsung menerpa wajahku. Aku menyeret kakiku dengan cepat meninggalkan gerbong kereta. Saat aku sudah beberapa langkah jauhnya, aku berbalik dan melihat pria yang memandangiku tadi telah menghilang di jalur tiga. Stasiun itu tampak padat. Orang-orang yang berjalan di jalur yang sama denganku, bergerak dengan tergesa-gesa. Beberapa dari mereka tanpa sengaja menyikut bahuku. Beberapa di antaranya menggerutu karena langkahku yang lamban. Aku tidak peduli, aku sudah belajar untuk tidak mengacuhkannya. Aku sudah terbiasa dengan rutinitas ini. Aku membawa diriku perlahan berjalan meninggalkan jalur. Aku bergerak ke sudut stasiun tepat dimana dua bak sampah mengaga terbuka. Saat aku berdiri di sampingnya, bau busuk langsung menyerang hidungku. Aku berbalik dan membuka tas selempangku dengan cepat. Tanganku merogoh ke dalam hingga aku menemukan sisa anggur merlot yang kusimpan di dalam botol minum kecil. Aku meneguknya dengan cepat, diliputi perasaan menyenangkan saat cairan itu turun ke kerongkonganku. Sekilas, aku menangkap bayangan seorang petugas yang menatapku. Aku terburu-buru ketika memasukkan kembali botol itu ke dalam tas kemudian bergerak menaiki tangga yang menuju pintu keluar stasiun. Ada lebih banyak orang-orang yang berkeliaran di jalanan. Ini tidak seperti biasanya. Tapi ini adalah hari senin, hari dimana orang-orang memulai kembali rutinitas mereka setelah liburan akhir pekan. Hari yang sibuk dan tidak kusukai. Aku menatap jalur yang kosong di seberang dan segera pergi ke sana. Entah bagaimana keramaian selalu membuatku terganggu. Nick mengatakan padaku ketika aku ditempatkan di tengah keramaian, aku akan menjadi mudah gelisah dan khawatir. Aku berteriak seperti orang gila dan itu membuatnya malu. Aku merasa bersalah pada Nick. Bagaimanapun, aku tidak mengharapkan kondisi ini terjadi padaku. Aku tidak bisa mengendalikan diriku, aku kebingungan - tukang khayal yang selalu kebingungan. Ketika aku akhirnya menempati kursi panjang di tengah taman kota itu, aku mengembuskan nafas lega. Aku menatap jalur taman yang setengah kosong. Ada lebih sedikit orang-orang di sana dan udaranya tidak terlalu pengap. Aku menarik nafas panjang, memasukkan oksigen ke paru-paruku. Wangi rumput dan jalan setapak itu hampir tercium familier. Aku telah mengunjungi tempat yang sama berkali-kali, duduk di bangku yang sama, menatap ke arah patung yang sama. Entah sejak kapan aku berada di sana, tapi aku mulai merasa akrab dengan sekitarku. Aku merasa nyaman berada di sana, dan aku rasa aku mengenal orang-orang yang hadir di sana. Mereka entah bagaimana telah menjadi bagian dari diriku. Aku menyalakan kameraku. Kulihat sejumlah gambar yang baru diambil satu hari yang lalu. Gambar yang memperlihatkan patung yang berdiri tegak seperti yang kulihat saat ini. Kemudian gambar lain yang membingkai wajah wajah seorang wanita paruh baya yang sedang duduk di dekat pohon rindang dengan sebuah tas merah yang menggelayuti bahunya yang gemuk. Kugeser foto itu, kali ini aku mendapati wajahnya berputar ke arahku, sepasang mata gelap itu sedang menatapku. Nafasku tercekat, ia terlihat kesal saat menatapku di foto itu. Kurogoh tas hitamku, aku mencari-cari hingga menemukan buku kecil yang kujadikan album foto. Aku membalik halamannya dengan cepat, mencari-cari hingga menemukan cetakan foto yang sama. Di atasnya tertulis nama Jane Thornton, Januari 1954. Aku segera mengingatnya. Wanita itu bernama Jane, dan saat ini usianya 64 tahun. Aku menatap catatan yang kusisipkan di bawah fotonya. Aku membaca tulisanku yang berantakan - mungkin aku menulisnya saat sedang mabuk. Suami Jane meninggal setelah wanita itu melahirkan putri kedua mereka. Jane yang malang. Aku menatap ke sekitar dan mencarinya. Hari ini cuacanya cukup cerah tapi aku tidak bisa menemukan Jane. Kubayangkan dia sedang duduk di beranda dan menikmati teh bersama ketiga cucu laki-lakinya yang berkeliaran di rumah. Aku membayangkan diriku duduk bersamanya dan mendengar ceritanya tentang suaminya kemudian dia akan bertanya berapa anak yang kumiliki. Bibirku terkatup, hawa panas tiba-tiba menjalar di sekujur tubuhku. Aku duduk diam disana selama beberapa menit. Benakku dipenuhi oleh kejadian bertahun-tahun silam. Aku telah merahasiakan hal ini dari psikiaterku. Aku tidak ingat, tapi aku cukup yakin kalau aku tidak pernah menceritakan tentang Tom padanya. Hubunganku dengan Tom akan menjadi rahasia di antara kami berdua saja. Nick mengenal Tom dan dia mungkin akan kecewa jika mengetahui kalau aku tidak bisa meninggalkan Tom hingga sekarang. Jane adalah satu-satunya orang yang ingin kuceritakan tentang Tom. Menilai dari wajahnya, aku membayangkan dia akan menjadi satu-satunya orang yang mempercayaiku. Aku akan menceritakan padanya kalau aku tidak memiliki anak. Pernikahanku dengan Tom tertunda sejak bertahun-tahun yang lalu, tapi kami adalah kekasih yang saling dimabuk cinta. Aku akan mengaku pada Jane kalau Tom adalah cinta pertamaku. Kami bertemu pertama kali di sekolah, saat aku masih berusia enam belas tahun dan Tom satu tahun lebih tua dariku. Pada suatu malam, Tom mengajakku berkencan dan menyatakan perasaannya padaku. Suatu hari aku berbohong pada orangtuaku - pada Nick, bahwa aku akan berlibur bersama tiga orang teman wanitaku. Aku tidak pernah mengatakan pada mereka kalau aku dan Tom pergi ke sebuah pulau, Tom menyewa sebuah tempat penginapan kecil di sana. Ia menghabiskan tabungannya untuk perjalanan itu, tapi kami menikmatinya. Kami pasangan yang saling jatuh cinta. Pada satu malam, malam yang tidak akan pernah kulupakan, ketika Tom dan aku berjalan tanpa alas kaki di tengah pantai. Aku menyaksikan sejumput rambut hitamnya bergerak-gerak tertiup angin, wajahnya yang bersih dan bibirnya yang tersenyum lebar ke arahku. Ingatan itu masih terasa segar. Aku mengingat kaus longgar berwarna hijau milik Tom yang kugunakan, celana hitam pendek dan topi milik Tom yang membenam di atas rambutku yang tergerai. Kami duduk di atas pasir, menatap langit gelap yang menggantung di atas kami, kemudian Tom akan menyanyikan lagu dengan suaranya yang melengking. Dia selalu memilih lagu klasik - Tom menyukai lagu-lagu klasik dengan irama yang mengentak-entak. Aku ingat aku tertawa lepas. Aku ingat ketika dia membungkamku dengan ciuman. Itu adalah malam yang gila. Hari sudah larut ketika kami akhirnya memutuskan untuk kembali ke penginapan. Tom telah membawa persediaan bir dalam jumlah yang banyak. Aku tidak pernah memberitahu siapapun - termasuk Tom, bahwa itu adalah anggur pertama yang kuminum. Dia terlalu mabuk untuk menyadarinya, dan aku tidak peduli. Aku benar-benar hidup saat itu. Aku memiliki kekasih yang hebat, dan Tom masih mencintaiku hingga sekarang. Kami sempat berpisah beberapakali, tapi dia akan selalu kembali. Dia sibuk pada pekerjaannya sebagai akuntan saat ini. Dia tidak memiliki banyak waktu untuk berbicara denganku, tapi dalam beberapa kesempatan, Tom selalu hadir. Selalu hadir saat kubutuhkan. Aku rasa aku sudah merindukannya sekarang. Aku pikir aku akan menghubunginya malam ini, berbicara di telepon dan mendengar suaranya yang lembut juga aksen inggrisnya yang kental. Aku akan menceritakan pada Tom tentang Jane, dan aku yakin dia tidak akan melewati kesempatan untuk mendengar kisah Bob, Bill dan Marie. Aku sudah sangat bersemangat untuk itu. Pemandangan di depan menyita perhatianku. Seorang wanita sedang berjalan mengitari jalur di area itu sembari mendorong kereta bayi di depannya. Wanita itu cantik, berambut hitam dan memiliki sepasang bola mata berwarna biru yang besar. Bibir kecilnya yang berwarna merah muda itu melengkung ketika tersenyum pada sang bayi. Aku memerhatikan ketika ia mengangkat bayi perempuannya yang sedang merengek. Wanita itu membawa bayinya yang gemuk dan sehat berjalan beberapa meter mendekati patung. Satu tangannya menunjuk ke sebuah pancuran air di tengah jalur seolah ia berusaha menunjukkan sesuatu. Bayi gemuk yang mengenakan baju ketat berwarna merah itu akhirnya berhenti menangis. Ia tertawa saat ibunya menggerakan jari-jari di atas perut dan mulai menggelitiknya. Aku ikut tersenyum. Kuangkat kameraku, kuarahkan titik fokusnya pada wajah wanita itu, kemudian aku memotretnya. Sekali, duakali. Aku memeriksa tangkapan gambar di kameraku dan merasa puas dengan hasilnya. Kemudian aku membuka album foto itu. Mencari wajah yang sama hingga aku menemukan gambar yang kutangkap pada bulan Januari. Gambar yang memperlihatkan wajah Annette yang sedang mengandung putrinya. Wajahnya tampak berseri-seri, persis seperti hari ini. Tepat di sampingnya, seorang pria tinggi, bertubuh atletis, dan seorang keturunan Spanyol yang tampan melingkari satu lengannya di pundak Annatte. Mereka berjalan berdampingan ketika melewati jalur itu. Sang istri tersenyum menatap suaminya, sang suami berjalan dengan percaya diri di sampingnya. Kemudian aku membuka gambar lain, gambar yang kutangkap pada hari yang berbeda. Annette menggunakan baju biru bergaris, perutnya tampak semakin membuncit. Sang suami - aku menamainya Randall, menundukkan wajah dan mencium istrinya yang mungil. Hari ini aku tidak melihat Randall. Yang kulihat adalah bayi perempuan itu: bayi perempuan Annette dan Randall. Mereka tampak bahagia. Mereka adalah pasangan yang serasi - mereka adalah aku dan Tom. Aku suka membayangkan berjalan mengitari jalur ini dengan Tom berada di sampingku. Lengannya yang kuat melingkari bahuku. Aku menggendong bayi perempuan kami dan Tom menyanyikan lagu untuk menghiburnya. Gambaran itu tanpa sadar membuatku berjalan mendekati Annatte. Kusaksikan senyumnya yang lebar, kusaksikan wajah bayi perempuannya yang berseri-seri. Aku selalu berharap akan memiliki bayi perempuan yang gemuk seperti itu. Dia akan menangis ketika popoknya sudah penuh, dan Tom akan menghiburnya sebelum dia tidur. Annette mengayunkan bayinya. Wajahnya kini terlihat semakin jelas. Dia adalah wanita yang cantik. Aku bisa melihat lesung pipinya yang dalam. Satu-satunya perubahan yang kusadari adalah tubuhnya yang terlihat lebih gemuk dari gambar terakhir yang ditangkap kameraku pada awal Januari lalu. Tapi itu adalah gejala alami yang akan dirasakan setelah melahirkan. Itu tidak penting jika Annette tidak lagi memiliki tubuh berliuk yang membuat Randall tergila-gila, bayinya telah menjadi prioritas utamanya. Lagipula, Randall mencintai Annette apa adanya. Aku cukup yakin tentang hal itu. “Halo? Permisi!” Langkah kakiku terhenti beberapa meter darinya. Aku segera menyadari kalau dia kini menatapku heran. Tidak ada senyum di wajahnya, dia tampak marah. Bayinya merengek di pelukannya. Bayi perempuan itu memiliki sepasang mata biru yang sama seperti Annatte. Ia lebih cantik dari yang kupirkikan. Aku tidak pernah melihatnya sedekat ini. “Aku pernah melihatmu, bukan?” Annette masih berbicara padaku. Dia seolah berharap aku pergi dari sana. Aku kemudian mengangguk, merasa gugup dan disatu waktu merasa bersemangat untuk berbicara dengannya. “Aku melihatmu bulan Januari yang lalu.” “Tidak, kita bertemu dua hari yang lalu.” Pengakuan itu tidak mengejutkanku. Aku selalu lupa apa yang terjadi kemarin, atau hari sebelumnya. Aku tidak pernah ingat apapun. Aku hanya percaya apa yang kutulis dalam buku catatanku: semua kejadian yang kualami dalam satu hari. “Ya, aku melihatmu kemarin. Kau berjalan di sekitar jalur ini, kau kelihatan mabuk. Aku rasa kau memang mabuk.” Aku gugup, bingung apa yang harus kukatakan. Aku hanya ingin menggendong putrinya. Aku ingin tahu siapa nama bayi perempuan itu. Aku akan menulis nama bayi perempuan itu di bawah fotonya. “Apa dia bayimu?” Aku bodoh. Aku mengajukan pertanyaan bodoh. Sekarang, Annatte akan menganggapku aneh. Tapi dia mengangguk, dan masih berdiri diam menatapku, wajahnya tampak ketakutan. Aku tidak bermaskud menakutinya. Dia mungkin menganggapku pemabuk gila, dan dari caranya melindungi bayinya dariku, aku pikir dia sedang memikirkan kemungkinan kalau aku bermaksud menculik bayinya. Aku segera memperbaiki sikapku. “Dengar! Aku.. aku minta maaf. Aku tidak bermaksud menyakitimu atau putrimu. Aku hanya ingin mengenalnya.” “Apa kau punya rumah?” Anehnya dia mempertanyakan rumahku. “Ya, aku tinggal di Lexington. Adikku membayar sebuah tempat penginapan untukku. Aku suka berjalan di sekitar sini. Aku.. aku suka mengunjungi tempat ini. Ini tempat yang hangat.” Annette mengangguk. Tampaknya ia menyadari kalau aku tidak berbahaya. Itu sebuah kemajuan yang baik. “Siapa nama putrimu?” Aku menyadari bibirku bergetar saat mengatakannya. Aku terlalu takut dia menolak untuk menjawabnya. Tapi aku tersenyum saat mendengar jawabannya. “Joanah.” Joanah. Aku mengulanginya beberapakali, berusaha menanamkannya di otakku. Aku tidak ingin melupakan nama itu. Kelak, aku akan memberi nama putriku dengan nama yang sama. “Itu nama yang bagus. Dia anak yang cantik.” “Terima kasih.” Annette memandang ke sekitar. Ia tampak gelisah hingga mengembalikan putrinya ke dalam kereta roda. “Maaf, aku harus pergi.” “Tunggu,” aku berlari mendekatinya, sontak ia bergerak menjauh. “Apa aku boleh menggendongnya sebentar?” “Tidak, aku minta maaf. Aku harus pergi.” Annette tidak berkata-kata lagi. Kusaksikan kepergiannya. Langkah kakinya tampak terburu-buru. Ia seolah berharap seseorang akan menolongnya dariku. Aku merasakan sengatan kegembiraan dan kekecewaan di saat yang bersamaan. Itu adalah apa yang selalu dilakukan orang-orang: menjauhiku, menganggapku gila. Aku sadar - tidak setiap hari, tapi hari ini aku sadar. Aku tidak meneguk alkohol, aku mencoba bersikap normal. Tampaknya, semua orang sudah mengenaliku. Kusaksikan setiap pasang mata itu menatapku. Dua orang pemuda, satu berbaju biru dan satu yang lain mengenakan jaket abu-abu, kini mereka tersenyum ke arahku. Ketika aku menjadi semakin gelisah, mereka mulai tertawa. Aku berjalan secepat mungkin, berusaha menerobos orang-orang yang melangkah di depanku. Aku kebingungan, aku ketakutan. Udaranya terasa semakin panas dan sesak. Aku kecewa Annette meninggalkanku. Aku kecewa karena dia tidak membiarkanku menyentuh putrinya. Pikiranku kacau. Aku diliputi oleh ketakutan saat seorang pria dengan kemeja biru dan mantel hitam berlari ke arahku. Dia meraih lenganku, mencoba berbicara padaku. Aku bergerak semakin gelisah, seluruh tatapan kini tertuju padaku. Aku ketakutan. Aku bisa mendengar hiruk pikuk di sekitar sana. Beberapa orang yang terlihat familier memilih untuk mengabaikanku. Pasangan muda berambut pirang, wanita gemuk berusia tiga puluhan, ibu dengan seorang balita perempuan yang baru saja keluar dari toko kue, pria berjas hitam, juga sekawanan pemuda yang suka bermain sketboard. Mereka menatapku, menertawaiku. Kemudian aku mendengar suara itu, suara keras yang berusaha mendapatkan perhatianku. “Ma’am!” Aku mendongak, menyentak tubuhku ke belakang. Ku tarik lenganku yang digenggam, kemudian aku melihat pria berkumis itu menatapku heran. “Apa aku bisa membantumu?” “Tidak.” Dia mencoba mendekatiku, dan aku berteriak. “Jangan sentuh aku!” “Tenang.. tenang. Dimana keluargamu? Aku bisa membantumu menghubungi mereka..” Kutatap matanya, kulihat ketulusan di sana, tapi aku tidak sedang dalam suasana hati yang baik untuk menanggapinya. Aku terlalu kecewa. Aku meraih tas selempangku yang merosot, kemudian aku berlari melewatinya. Pria itu tidak berusaha mengejarku. Aku mengabaikan tatapan yang tertuju padaku. Aku berlari dengan cepat, menembus lampu lalu lintas dan terlonjak ketika suara klakson meraung keras di hadapanku. Seorang pengemudi melongokkan wajahnya dari balik kaca mobil dan meneriakiku. Aku meminta maaf, kemudian aku melanjutkan langkahku dengan cepat. Aku melewati jejeran toko dan lalu lintas yang padat. Aku berjalan di jembatan Brooklyn yang panjang dan berharap tiba lebih cepat di stasiun. Keramaian yang terjadi sekitar sana membuatku sesak. Bangunan-bangunan tinggi seakan menghimpitku. Udaranya mencekikku. Arus lalu lintas yang selalu padat membuatku terganggu dan tiba-tiba aku merasa pohon-pohon yang berjejer di tepi jalan akan ambruk menimpa tubuhku. Seseorang pria yang duduk di sebuah bangku panjang menatapku, ia membenahi posisi topinya sembari terus mengawasiku. Aku nyaris menabrak seorang anak yang sedang bersepeda. Beberapa pekikan terdengar di belakangku. Aku tidak berhenti. Kulangkahkan kakiku secepat mungkin dan sebelum menyadarinya, aku merasa lega setelah melihat papan yang bertuliskan Brooklyn Bridge – City Hall Station. Aku menuruni tangga, menerobos orang-orang yang mendahuluiku. Saat itu pukul lima sore dan keretaku akan tiba sebentar lagi. Aku masuk ke gerbong 5 dan duduk di bangku paling depan. Mataku menatap ke jendela saat kereta perlahan bergerak meninggalkan kota. Aku menyaksikan deretan bangunan bertingkat dan orang-orang di luar sana. Jembatan Brooklyn membentang di atasku. Keretaku melesat cepat melewati sungai panjang di bawah jembatan dan rumah penduduk yang berdiri di dekat sana. Aku menyaksikan deretan rumah itu. Mengingatnya dalam benakku. Aku pernah bermimpi menempati satu dari deretan rumah kayu bertingkat itu. Aku selalu memimpikan sebuah rumah di dekat danau. Aku akan tinggal bersama Tom di sana. Kami akan merawat putri kami dan hidup bahagia. Bayangan itu membuatku tersenyum. Aku merasa sedikit lega. Kekecewaanku terkikis. Pada akhirnya aku tahu kalau aku akan melupakan apa yang terjadi hari ini, percakapanku dengan Annette, orang-orang yang kujumpai, dan memulai segalanya dari awal pada esok hari. Selalu pola yang sama. Aku hanya tidak ingin melupakan Joanah. Tidak lupa aku juga akan menyelesaikan lukisan Bob, Bill dan Marie. Aku akan berbicara pada Tom. Aku ingin meneguk anggurku. Semua itu sudah tersusun di otakku. Aku hanya berharap tiba lebih cepat.  --
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD