Dengan tergesa-gesa, aku bergerak meninggalkan pohon untuk berjalan lebih dekat ke rumah itu – rumah Kate. Aku merasakan sesuatu menggelitik perutku saat kakiku menginjak terasnya. Aku menaiki tangga dan berhenti di depan pintu masuk. Mataku menatap ke sekitar, aku menyadari bahwa tidak ada orang yang berdiri di sana. Sapuan angin menerpa wajahku dengan lembut. Aku menekan bel dalam usaha yang sia-sia. Tidak ada seseorang di dalam rumah itu, jadi aku meraih kenop pintu dan memutarnya. Yang membuatku terkejut, rumah itu tidak dalam keadaan terkunci. Pintunya terbuka lebar untukku dan dari tempatku berdiri, aku menyaksikan sebuah lubang perapian yang hangat mengintip dari dalam. Sofa panjang berlengan menatap ke arah dinding bata, dan sebuah tangga melingkar yang kosong memperlihatkan kege

