MULAI BANGKIT

1013 Words
Bora, terima kasih sudah menyayangiku sejak kecil. Aku tidak tahu bagaimana caranya membalas budi jadi hanya cara itulah aku membalas budi. Bora, jangan menangisi aku. Bora, kita akan bertemu tapi tidak sekarang. Bora membuka mata cepat dan napas tersengal, tubuhnya basah kuyup karena keringat meskipun ac menyala kencang. Bern. Bora duduk dan memeluk kedua lutut, dahi bersandar di tengahnya. Sudah hampir satu minggu Bern datang menasehatinya bahkan menunjukan adegan-adegan yang aneh, Bern- DOK! DOK! DOK! "BORA! KALAU KAMU TIDAK BANGUN SEKARANG, AYAH AKAN MENINGGALKAN KAMU!" Bora turun dari tempat tidur dan membuka pintu kamar. "Ada apa?" Kakak tiri perempuan, Liz. Menatap rendah saudara tirinya. "Ayah sebentar lagi berangkat kerja dan kamu belum siap sama sekali?" Bora hendak mengatakan sesuatu lalu teringat dengan nasehat Bern di dalam mimpi. Jangan menyia-nyiakan waktu, Bora. Jangan menghancurkan masa depan kamu. Bora keluar dari kamar lalu menuruni tangga dan berlari menuju meja makan. "Papa!" Papa Bora yang sedang asyik makan, otomatis menoleh. "Bora?" "Papa bisa menunggu? Hari ini Bora mau ke sekolah." "Sekolah?" tanya ibu tiri Bora tidak percaya. "Kamu mau ke sekolah?" Kakak tiri laki-laki Bora juga tidak percaya dengan pendengarannya. Setelah kejadian anjingnya dibakar hidup-hidup, Bora memberontak. Yang tadinya penurut dan pendiam menjadi pemarah. Papa Bora juga tidak bisa berbuat apa-apa karena salah satu teman istrinya mengadu sudah digigit Bern, Bora yang berusaha menceritakan kebenarannya tidak dipercaya. Bora sakit hati sejak itu dan ogah-ogahan sekolah sampai harus mengulang kelas tiga SMA. Sebenarnya Bora yang dulu sangat suka belajar dan anak pintar, selalu juara sekolah, menjadi kebanggaan kedua orang tuanya. Sayang kedua orang tua harus bercerai dan hak asuh Bora jatuh ke tangan papanya. "Aku-" Bora memutar otak supaya tidak ketahuan berubah cepat. "Aku hanya ingin ke sekolah." Papa Bora mengangguk senang. "Bagus, papa tunggu." Bora loncat kegirangan lalu menaiki tangga, saat melihat kakak tirinya menuruni tangga perlahan dengan tatapan mengejek, mengira Bora sedang memberikan alasan ke papa. Bora melewatinya dan naik tangga dengan tenang. Tahun ini dirinya harus bisa lulus sekolah seperti nasehat Bern. Bora menggenggam kalung berisikan foto Bern. Setibanya di sekolah, Bora agak terlambat tapi santai menanggapi hukuman guru kelas dengan berdiri di luar, saat guru mulai menjelaskan. Bora mendengar dengan seksama. Jam istirahat tiba, Bora bergegas masuk perpustakaan sekolah dan meminjam buku-buku yang dibutuhkan. Saat menunggu jam istirahat selesai, Bora duduk di bangku depan kelas sambil membaca buku, para siswa yang lewat menatap aneh perubahan Bora. Satu tahun terakhir Bora yang dikenal pendiam menjadi beringas dan dikenal suka mencari masalah, bahkan Bora masuk ke salah satu geng sekolah anak nakal di luar sekolah yang anggotanya masih SMA. Kedua teman yang dekat dengan Bora dulu pun memilih menjauh dan tidak menyapanya lagi, saat lulus pun menertawakan kebodohan Bora di belakang. Bora yang marah, bertengkar dan mencakar wajah mereka berdua hingga polisi harus turun tangan atas kasus perundungan yang dilakukannya. Bora merasa tidak adil, papa tidak bisa datang dan hanya ibu tiri yang mengomel di sepanjang perjalanan. Bora sudah tidak peduli lagi. Bora coba mengingat visi yang diberikan Bern di dalam mimpi, seperti ada pernikahan lalu wajah dirinya yang terlihat bahagia, kedua orang tuanya pun berkumpul. Aku menikah dengan siapa? --------- "Mungkin ada pesan yang mau disampaikan ke Bora," kata dokter Ditya begitu mendengar curahan hati Bora setibanya di shelter. Bora dekat dengan dokter Ditya karena waktu itu membantu dirinya evakuasi tubuh Bern, tubuh Bora yang sudah kotor dipeluk perawat hewan wanita yang datang bersama Ditya. Bora ingat kalimat dokter begitu datang pertama kalinya. "Tenangkan dulu pemiliknya, biar saya yang mengurus anjing ini." Bora yang menangis, tidak mau mengalihkan tatapannya ketika dokter Ditya bersikap lembut pada Bern padahal saat dibakar, orang-orang menatap jijik Bern. Bern, apa salah kamu sampai orang-orang bersikap jahat dan menyiksa? Sambil terisak, Bora mengadu pada Ditya. "Nama kamu Bora?" Bora mengangguk kecil. "Terima kasih sudah sayang sama Bern. Tapi sayang sekali, kita yang bangga karena Indonesia merupakan negara beragama malah menjadi peringkat pertama di dunia tentang konten penyiksaan hewan di media sosial." Bora tercengang. Ditya tersenyum sedih sambil menutup Bern dengan kain putih bersih. "Sisi gelap Indonesia, kita tidak bisa berbuat apa pun jika kita tidak kuat." "Tidak... kuat?" tanya Bora dengan nada lirih. "Ya, untuk melindungi hewan peliharaan maka pemilik harus kuat mental juga. Tidak semua orang suka hewan, sebagai pemilik- kita harus bisa menjaga hubungan baik dengan manusia sekaligus pelindung hewan kita. Karena hidup mereka bergantung kepada pemilik." Bora menghapus kedua air mata dengan tekat, tidak akan lemah dan kalah. Dari situlah perubahan Bora. Kita kembali ke saat ini. "Bern ingin menunjukkan sesuatu?" "Sejak kapan mimpi itu?" Bora baru ingat, Bern muncul tepat di hari kematiannya. Itu berarti ulang tahun yang sudah dilupakan. "Coba setiap kamu bangun, dicatat. Mimpi apa saja yang ditunjukkan." "Tapi, bukankah mimpi hanya bunga tidur?" "Ya, jika siang hari tapi malam hari terutama jam tiga pagi- bisa jadi-" Ditya menunjuk ke atas dengan jari telunjuk. "Tuhan memberitahu melalui Bern." Bora menggigit bibir bawah dengan cemas. "Bagaimana jika bukan itu?" "Dicoba saja dulu. Ini Bern, tidak mungkin setan. Setan benci sama anjing." "Bo- bolehkah kita percaya itu dokter?" "Kenapa tidak boleh?" Bora teringat dengan ceramah keluarga tirinya mengenai anjing adalah hewan haram untuk dipelihara, padahal haram itu kan untuk dimakan. Bukankah hewan haram itu juga punya arti buruk di mimpi? Ditya menghela napas panjang. "Bora, jika mau kamu abaikan tidak masalah. Ikuti kata hati kamu saja, lagi pula apakah keluarga kamu suka makan anjing?" Bora menggeleng ngeri. "Habisnya kenapa mereka bahas soal haram, haram? yah memang sih dilarang pelihara dalam rumah tapi bukan berarti mereka harus benci dan menyakiti! Aku masih kesal dengan kasus Bern tapi tidak bisa berbuat apa-apa karena ditutup dan korban mau memaafkan." Bora hendak bicara. "Lagipula anjing jenis golden retriever itu ramah ke siapa pun, yang sangat aku sayangkan- Bern adalah anjing terapi. Jika mereka tidak mau, bisa diberikan ke keluarga lain." Ya, Bern ada karena Bora sempat mengalami depresi karena kekerasan rumah tangga yang dilakukan papanya. Sejak menikah dengan ibu tiri, papa berubah banyak dan mengambil alih hak asuh Bora karena merasa bersalah dengan masa lalu. Bora pun tidak mempermasalahkannya asal bersama Bern, tidak disangka anjing terapinya malah disiksa sampai mati.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD