Awal baru

1395 Words
Kata orang senja, adalah waktu yang tepat untuk meminta kepada sang pemberi kehidupan. Namun, banyak kejadian menyakitkan yang Arum simpan rapat-rapat di bilik memori dan tak pernah ingin Arum buka lagi. Namun, pada saat tertentu, kenangan menyakitkan itu muncul begitu saja dan membuat Arum tak berdaya untuk menepisnya. Pada saat ini, wanita itu menyadari kalau tak bisa berpura-pura bahwa dirinya sedang tidak baik-baik saja. Semua kenangan itu tak bisa dihapus dari ingatannya, seorang istri yang tak diinginkan. Arum merindukan ayah juga Ibunya yang sudah lama pergi. Selama menjadi istri Damar memang tak sekalipun ia kasar padanya. Tapi tidak dengan keluarganya justru bertindak sebaliknya selalu menyakiti. "Damar, kenapa kau menikahi perempuan yang tidak tahu asal usulnya." Suara sang Ibu meninggi membuat Arum begitu sesak. "Bu, sudahlah!" Damar mencoba untuk meredam emosi Ibunya. "Enak ya, sudah ga jelas. Untung, Damar sudi menikahimu." Seketika genangan air mata Arum mengalir deras. "Bu!" Bentak Damar membuat sang Ibu semakin murka. "Kenapa, orang, Ibu benar kok." Wanita itu hanya diam, apa ada yang tidak diketahuinya selama ini tentang ayah dan Ibunya, namun kata Elang jika Ibu mereka meninggal karena kecelakaan. "Aku minta maaf. Bu." Lagi, keraguan menyelimuti hati Arum. disertai rasa nyeri yang terasa begitu menyiksa. Karena Arum sendiri tak pernah tahu, bagaimana bisa melalui hari-harinya tanpa sang Ibu di sisinya. Namun, ia sudah terlalu lelah hanya berperan sebagai bayangan yang seakan tak memiliki arti. Arum menatap kosong ke depan, genangan air mata membasahi wajahnya. Bibi Fatma datang dan memeluknya dari belakang, ia tahu jika Arum begitu terluka. Ia membutuhkan pelukan darinya. "Sayang, sudahlah jangan bersedih lagi ya, ada, Bibi disini." "Arum tidak kuat, Bi, pengen ketemu, Ibu," ucapnya sambil menangis. "Tenang ya, sudah ada, Bibi yang ada buat kamu." Sesak dirasakan Bibi Fatma melihat Arum yang begitu rapuh. Andai saja ia bisa jujur kepada Arum, mungkin bebannya akan sedikit berkurang. "Sabar, semua pasti akan berlalu, Rum, percayalah. Allah akan membantu hamba-Nya yang sabar." "Arum tidak kuat, Bi." "Kuat pasti kamu bisa, Bibi akan membantumu ya." Rasa yang entah ... namun berharap jika sang pemberi kehidupan memberikan kesempatan untuknya membenahi kesalahannya dimasa lampau. Dan berkata jujur kepada Arumi. Sang Bibi memeluk tubuh ramping Arum sembari mengelus rambutnya. Berharap jika kehidupan Arum akan membaik setelah ini. - Jam menunjukkan pukul tujuh pagi wanita itu telah siap berangkat kerja. Karena ada panggilan kerja, sudah saatnya ia belajar mandiri karena tak enak jika menumpang hidup bersama sang Bibi. Sejenak wanita itu berdiri di depan cermin yang ada di ruangan itu. Kemudian memakai bedak tipis juga lipgloss, berharap kehidupannya akan baik-baik saja kedepannya. Arum menghela napas pelan. Sekali lagi tersenyum dan melangkah keluar kamar. Udara pagi masih begitu cerah, sinar matahari yang mulai masuk melalui ventilasi jendela membuat Arum tersenyum dan berusaha untuk tegar dan kuat menjalani kehidupannya. Arum keluar dan menemui Bibi Fatma yang masih sibuk menyiram bunga. Ya beliau mempunyai bisnis bunga online lumayan buat kehidupannya sehari-hari. "Rapi sekali, Rum? Mau kemana?" tanya Bibi yang baru selesai dengan bunga-bunganya. "Kerja, Bi. Alhamdulillah, Rum dapat panggilan," jawabnya. "Kerja? Kau yakin akan baik-baik saja, Nak?" Arum mengangguk. Lagian saatnya Arum meninggalkan kesedihannya, tak pantas juga laki-laki itu ditangisi. "Bismillah, Rum yakin, Bi tenanglah," ucap Arum tersenyum kearah Bibinya. "Baiklah, tapi satu pesan, Bibi, kamu tidak boleh keluar rumah ini, karena ini juga rumah kamu, Nak." Mata Arum menyipit? Rumahnya? Bibi mungkin bercanda. Toh beliau juga tidak punya siapapun. "Ah, apa, Rum enggak merepotkan, Bi?" Wanita paruh baya yang cantik itu tersenyum. "Tidak, pintu rumah ini terbuka untukmu, Rum." "Baiklah, aku berangkat dulu ya, Bi." Arum mencium punggung tangan Bibinya. "Sekarang?" "Iya. Nanti mau naik angkot lama nunggunya, Bi." Bibi Fatma tersenyum. " Pakailah mobil Bibi, Rum." "Tidak usah lah, Bi." "Kalau tidak tuh motor, kelamaan nanti kalau naik angkot." "Enggak papa, Bi?" tanya Arum senang. "Boleh Bi." "Ya, boleh lah, ya sudah. Hati-hati." Arum membawa motor dan berlalu meninggalkan rumah sang Bibi. Angin pagi ini, membuainya. Menebarkan damai di penjuru hati. Perlakuan Bibi sama seperti seorang Ibu kepada anaknya. Arum tersenyum entahlah ... yang jelas pelukan hangat Bibinya begitu membuat Arum tenang. Arum terus saja melajukan sepeda motor. Dan berbelok serta memarkirkan sepeda motor dan menemui Lestari sahabatnya. Lestari sudah tersenyum sembari melambaikan tangan. "Astaga, Rum, apa kabar? Kamu ini ya, makin cantik saja?" tanya Lestari antusias sambil memeluk erat tubuh sahabatnya. "Tanyanya satu-satu atuh, Tari. jadi bingung jawabnya." Lestari mengulum senyum. "Habisnya rindu, Rum. Bagimana siap bekerja." "Siap sih siap, tapi kalau enggak diterima bagaimana? Duh aku sudah keringat dingin begini, Tari.... " "Mudah-mudahan diterima, ingat kan lowongannya pas di kamu kok." "Yakin?" "Yakin. Sudah ayo." Arum menatap takjub bangunan yang menjulang tinggi, juga tempat yang begitu indah. Tertata rapi penuh bunga juga terlihat sejuk, mereka berjalan di atas paving yang tertata sempurna dengan banyak pohon palm di setiap ujung sekilas tampak sempurna setidaknya dimata Arum. "Maaf, Mbak. Ini lamaran teman saya dan titip ya." Lestari bicara dengan hati-hati. "Oh, iya. Sebentar, ya, silahkan tunggu di situ mbak." Wanita itu menunjuk ke kursi. Wanita itu duduk, keringat dingin keluar dari tubuhnya. Menunggu panggilan sambil mengamati sekeliling dengan d**a berdebar-debar. "Maaf, Rum. Aku harus bekerja dulu ya, ingat Bismillah semoga diterima ya." "Iya, terima kasih sebelumnya, Tari." "Sama-sama. Semangat." Lestari adalah sahabat yang sangat ramah. Arum tersenyum. "Ok." Menunggu hingga d**a Arum tak berhenti berdetak, menanti panggilan rasanya begitu was-was. Semoga saja nasib baik berpihak kepadanya dan wanita itu mendapatkan pekerjaan agar lukanya sedikit terobati karena sibuk. "Arumi Syahilla ... silahkan masuk ke ruangan." Mbak itu tersenyum. Lalu mengajak Arum memasuki sebuah ruangan dan mulai untuk di wawancara. "Namanya, Mbak Arumi Syahila ya?" tanyanya sambil membuka sebuah lampuran lamaran Arumi. "Benar. saya Arumi Syahila." "Data anda lengkap dan sepertinya, perusahaan kami sedang membutuhkan bidang yang Anda tekuni selama ini, baiklah selamat bergabung. Semoga bisa bekerja sama. Anda kami terima." Pria itu berkata membuat Arum tak percaya. Deg "Apa diterima, Pak?" Lelaki itu mengangguk. "Iya." Arum tersenyum lega, ini pertamakalinya ia bekerja. "Iya pak Alhamdulillah." "Bekerja dengan baik ya." Arum mengangguk. "Baik, Pak permisi." - Arum pikir setiap luka pasti meninggalkan darah ... nyatanya, tidak. Luka yang Damar tinggalkan hanya berupa perasaan kalah dan putus asa, lalu menjelma menjadi kebencian yang begitu mendalam. Kali ini wanita itu tengah duduk di kursi kerjanya dengan setangkup harapan, berharap akan ada secercah harapan untuknya. Ia mulai memainkan jemarinya dilayar keyboard yang sudah lama tidak ia sentuh. "Rum, selamat ya kamu diterima? filenya sudah jadi belum?" tanya Lestari. Arum mendongak mencari arah suara. "Iya sebentar lagi ... makasih berkat kamu juga kan." "Bagaimana pernikahanmu?" Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut Lestari. Hening. "Talak tiga." Lestari melotot kaget. "Apa ... gila. Sudah hentikan isak tangismu itu, terdengar bos bisa dipecat nanti. Lagian dunia juga belum kiamat kan jika kamu tidak bersamanya." "Iya maaf." "Kau terlalu baik untuk disakiti Rum, bagaimana Damar dulu berjuang mendapatkanmu melawan mas Elang, dengan mudahnya ia berbuat seperti itu." Arum tersenyum miris. "Iya, Tari." "Arum, Tari." "Kamila. Astaga ini kamu?" "Iya ini gue." Mereka saling berpelukan, setelah sekian lama tak bertemu. mereka adalah teman SMA dan saat ini mereka juga satu kantor. - Mobil Damar melaju membelah jalan raya menuju ke perusahaan untuk mengadakan presentasi. Ia sudah tiba di parkiran perusahaan. Damar langsung mengarahkan ruangan yang sudah siapkan. Meeting selesai Damar dan tim memenagkan tander yang besar, Damar tersenyum bahagia. Namun tidak dengan hatinya. "Kamu memang hebat Damar, aku bangga padamu." Kata pemimpin perusahaan. "Terima kasih, Pak," ucap Damar pelan. "Kita rayakan, kau yang terhebat dan cerdas?" "Baik, Pak. " Mereka menasuki area kafe, dan ketiga orang satu tim masuk bersamaan memesan nasi juga lauk ikan bakar gurami. Namun saat mamasuk sudut mata Damar menangkap bayangan seseorang wanita. "Arum...?" Damar menggosok matanya dan kembali melihat ke arah tadi, namun sosok itu sudah hilang. Mungkin karena rindunya ia dengan Arum. Acara selesai hingga malam, mereka kembali pulang. Akhirnya Damar tiba di rumah. Sudah sepi, pastilah soalnya sudah tengah malam. Damar masuk melihat rumahnya begitu berantakan, sepertinya baru ada pesta, minuman juga piring berserakan diatas meja. Lihatlah kelakuan keluarganya, waktu ada Arum rumah ini tidak ada satupun debu yang menempel. "Arum di mana kamu? Lihatlah aku begitu rapuh tanpamu." Damar mengacak rambutnya kesal. Damar bergeming lirih "Aku membutuhkanmu." Damar sadar ia lalu duduk. Di pojok kamarnya, rasa bersalah hinggap lagi dalam pikirannya. Terus saja ia meyakinkan diri bahwa Arum pasti kembali, meski di dalam d**a sungguh terasa hampa dengan keheningan yang kapan saja bisa membunuh Damar secara perlahan-lahan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD