“Apa yang Mike lakukan disini!” Sania hampir mengeluarkan dua bola mata saat melihat Mike sedang duduk di lobi bersama Khaira. Mereka terlihat akrab saling mengobrol. Sekuat tenaga Sania berusaha melewati ruangan tersebut agar berhasil masuk ke dalam lift menuju lantai atas. Saat ini Sania bekerja di perusahaan mertua di bidang properti. Dan dia mendapatkan jabatan sebagai manajer pemasaran. Tentu saja dia ada di posisi itu karena memiliki pengalaman cukup baik sebelum menjadi menantu dari Ayah Adam. “Apa dia sengaja mencariku di tempat ini!” Dalam hati Sania terus menggerutu, sambil berjalan ke arah lift.
“Sania?” Panggil Khaira, membuyarkan semuanya. Dengan wajah tersenyum licik, Khaira beranjak berdiri untuk menghampiri Sania. Padahal hampir saja wanita bertubuh mungil itu berhasil menyelesaikan misi pagi ini. “Kita memiliki klien yang sangat luar biasa. Kemarilah!”
Sania menggeleng cepat untuk menyadarkan diri. Tidak seharusnya dia mencampuri urusan hati dengan pekerjaan. Perlahan, Sania mendekati Mike, yang sepertinya sudah mengetahui keberadaan Sania yang bekerja disini.
Sania menatap Mike. Dia sedikit terpukau oleh penampilan Mike yang sangat mempesona. Lagi, dia menggelengkan kepala untuk segera kembali ke pikiran normal.
“Hai? Kita bertemu lagi?” Sapa Mike, menyodorkan sebelah tangan ke arah Sania.
“Maksud Anda? Bahkan Anda juga mengenal Sania?” Khaira penasaran. Entah, tapi ekspresi di wajahnya aneh.
“Dia mantan kekasihku.” Sahut Mike terdengar tanpa dosa.
“Hentikan, Mike!” Sela Sania dengan nada kasar, membuat beberapa orang harus menoleh ke arahnya. Menggunakan tatapan kesal.
“Sania, kamu harus bersikap sopan dengan klien!” Ucap Khaira. “Cepat minta maaf pada Pak Mike.”
Sania tidak menuruti perintah Khaira. “Aku atasanmu disini, ingat!”
“Aku tidak peduli dengan posisimu.” Sania menyunggingkan sudut bibir, tersenyum kecut. “Aku tidak akan meminta maaf juga pada Mike. Aku tidak salah.”
“Lupakan masalah ini. Aku sungguh baik-baik saja.” Mike berusaha melindungi Sania.
“Apa kamu masih memiliki rasa pada Sania. Sikapmu sangat jelas terlihat, bahkan caramu menatap Sania?” Tanya Khaira tanpa berpikir panjang, membuat Mike batuk karena terkejut akan kalimat yang baru saja ia dengar.
Sania mendelik tajam pada Khaira, berniat ingin membunu*nya dalam hitungan detik.
Mike akan menjawab namun Khaira segera memotong dengan cepat. “Ucapanku benar, kan?”
Sania mengepalkan kedua tangan. Saat dia akan maju mendekati Khaira, tiba-tiba Adam muncul di antara mereka. Entah sejak kapan dia datang.
Adam menahan tubuh Sania—seperti tahu kalau Sania ingin memukul Khaira, suami Sania itu segera memeluk tubuh Sania dari belakang dengan cukup erat.
“Apa yang kamu lakukan?” Ucap Sania setelah tahu siapa orang yang menahan tubuhnya itu.
“Jaga sikapmu di kantor.” Bisik Adam sangat lembut sambil melepaskan pelukan. Lalu dia mengusap bahu Sania beberapa kali.
“Maaf atas semua kejadian ini Bapak Mike.” Adam membungkuk menghadap Mike dengan sopan. “Saya juga meminta maaf kalau istri saya berbuat hal yang menyakiti Anda.”
“Istri?” mendengar kata “istri”, Mike seperti tersambar petir di siang bolong. Meski dia tahu akan status Sania yang sudah menjadi istri orang lain namun dia tetap kecewa mendengar langsung di depan mata, bahkan bertemu dengan suami Sania. Mike masih saja membeku, membisu menatap Sania.
“Bapak Mike?” Adam menggoyangkan bahu Mike beberapa kali hingga dia sadar.
“Aku permisi dulu. Besok saya akan kembali kesini.” Mike segera pergi begitu saja meninggalkan mereka bertiga.
“Kamu masih ada rasa dengan Mike?” Khaira masih saja mengganggu Sania. Dia tidak akan menyerah untuk membuat Sania kesal. “Sikapmu tadi terlihat jelas kalau kamu masih suka dengan Mike?”
“Kalau memang benar apa urusanmu?” Tantang Sania dengan nada kasar.
“Tentu saja aku tidak terima. Kamu itu istri Kakakku. Bagaimana bisa kamu mencintai pria lain? Itu sama saja dengan selingkuh? Apa kamu masih tidak paham arti dari selingkuh?”
Adam diam mendengar ocehan Khaira sambil menghela napas panjang. Dia bahkan tidak marah saat Sania membenarkan ucapan Khaira.
“Kenapa kamu diam saja? Apa kamu tidak punya harga diri?” Khaira menarik jas Adam sampai tubuh Adam bergerak maju. “Jangan diam saja!”
“Apa yang harus aku lakukan?” Tanya Adam pada Khaira. “Haruskah aku menceraikan dia? Bukankah kamu yang menyuruhku menikahinya? Sekarang kamu memintaku untuk menceraikan dia?” Adam kesal namun nada bicara masih tetap normal, tidak ada emosi sedikitpun.
“Bukan seperti itu maksudku.” Jawab Khaira bingung. Sebenarnya dia ingin ada pertengkaran antara Sania dan Adam, sayang itu tidak terjadi sama sekali. “Seharusnya kamu memarahi Sania atau melakukan hal yang membuat dia takut denganmu.”
“Aku tidak akan takut dengan siapapun termasuk kamu!” Sela Sania.
“Kamu benar-benar istri tidak tahu malu. Kamu tidak pantas menjadi seorang manajer.”
“Pecat saja aku. Aku tidak peduli sama sekali.”
“Cukup, aku mohon cukup!” Ucap Adam, meremas rambut menggunakan kedua tangan. Kelopak matanya terpejam menahan sakit kepala. “Kamu jangan pernah mencampuri urusan rumah tanggaku, Khaira!”
“Aku harus melakukan itu. kamu terlalu mudah diperdaya oleh wanita.”
“Aku sudah dewasa Khaira!”
“Ya Tuhan, apa yang aku lakukan disini? Aku sedang melihat drama yang membosankan.” Ucap Sania sebelum pergi meninggalkan mereka berdua.
“Sania, kita harus berbicara.” Adam mengejar Sania.
“Aku sibuk. Aku memiliki pekerjaan yang menumpuk. Sampai jumpa besok.”
“Malam ini kamu mau kemana?” Tanya Adam penasaran.
“Aku akan bermalam dengan—,”
“Mike?” Lagi, Khaira menyela dengan gaya yang menjengkelkan.
“Kamu pikir aku w************n? Meski aku tidak mencintai Adam, aku tidak akan pernah tidur dengan pria lain.”
“Tentu saja. Karena kamu akan meniduri seorang wanita.”
“Kamu benar-benar keterlaluan, Khaira!” Sahut Sania setelah mendaratkan telapak tangan ke pipi Khaira.
Khaira berniat membalas perbuatan Sania, namun Adam segera mencegah hal itu.
“Cukup!” Akhirnya Adam mengeluarkan tenaganya untuk berteriak. Itu membuat Sania pergi begitu saja, meninggalkan Adam dan Khaira.
“Lihat! Lihat sikap istri tercintamu itu?”
“Bahkan kamu sendiri yang mencarikan wanita seperti Sania untukku? Kenapa kamu terkejut?” Adam menggeleng heran dengan sikap Khaira yang begitu membenci Sania. Adam pikir mereka berteman baik. Namun mereka sama sekali tidak pernah akrab.
***
Sebuah mobil Ferrari warna biru segera meninggalkan sebuah gedung yang memiliki 4 lantai. Seorang wanita yang mengenakan kacamata hitam tengah mengendalikan setir sembari menetes air mata. Meski terlihat tegas dan kuat, Sania masih bisa menangis. Dia bingung akan keadaan ini. Sania sungguh ingin kembali ke pelukan Mike, namun itu tidak mungkin terjadi. Sania sudah memiliki perjanjian pernikahan dengan Adam. Dengan kesal, Sania mencengkram setir dengan kuat. Perlahan, dia menepikan mobil yang masih berjarak 100 meter dari kantor. Sania terkejut melihat Mike mengetuk kaca mobil. Sejak kapan pria itu disini.
Sania enggan membuka pintu atau menurunkan kaca mobil. Dia hanya menatap acuh dari dalam mobil. Namun, Sania berteriak ketika Mike terjatuh di samping mobilnya. Sebuah mobil baru saja mengenai tubuh Mike dengan laju yang kencang.
“Apa kamu baik-baik saja?” Tanya Sania seraya menurunkan kaca mobil. “Apa yang harus aku lakukan?” Lanjutnya, terlihat panik melihat Mike jatuh tersungkur.
“Aku baik-baik saja.” Mike tersenyum lebar. Lalu, dia membersihkan tanah yang menempel di baju atau beberapa bagian tubuhnya. “Aku senang kamu masih perhatian denganku.”
“Kamu menipuku?” Ucap Sania ketus. Wajah paniknya berubah menjadi merah menahan amarah.
“Ah, aku sungguh sakit. Jangan tutup kaca mobilnya.” Mike berusaha menahan kaca mobil agar tidak tertutup rapat.
Sania menghembuskan napas kesal. Menuruti keinginan Mike.
“Bagaimana kalau kamu mengantarku ke rumah sakit?”
Sania menggeleng cepat. “Lupakan. Aku tidak punya waktu untuk mengurusimu.” Tegas Sania.
Dengan cepat, Mike berpindah posisi ke bagian kursi penumpang bagian depan.
“Ayolah! Jangan berlebihan, Mike!” Bentar Sania. “Aku tidak bisa melakukan ini.”
“Hanya mengantar ke rumah sakit saja. aku baru saja mengalami kecelakaan.” Mike menunjukkan luka bagian siku yang ternyata sangat parah. Banyak darah yang keluar.
Sania terkejut dan menjadi panik. Terpaksa dia menyalakan mesin mobil. Namun saat kakinya akan menginjak rem, Sania terperangah melihat Adam berdiri di depan mobil dengan memasang wajah kecewa.
“Adam?” Ucap Sania setengah berbisik. Jantungnya langsung mencolos keluar. Bahkan dia tidak sanggup melihat raut wajah suami yang terbakar amarah.