Mike muncul di hadapan Sania sambil mengulurkan tangan.
Sania mendongak seraya mencengkram meja di belakang untuk membantunya berdiri sendiri. Gerakan kasar, Sania membuang tangan Mike.
“Aku tidak perlu bantuanmu.”
“Aku ingin memberitahumu, kalau Adam sedang bersama seorang wanita.” Adam terkekeh. “Namanya Jennifer deh kayaknya.” Tambahnya setelah menyeruput jus jeruk. Wajahnya menatap Sania tanpa berkedip, penasaran melihat ekspresi Sania setelah ini.
Sania menaikkan sebelah alis, tanpa senyum. “Aku tidak peduli.” Bisik Sania tepat di telinga Mike.
Mike malah tertawa kencang seakan ada hal lucu. Padahal tidak sama sekali.
“Ayolah… kembalilah padaku. Biarkan Adam bersama wanita lain. Kamu hanya mencintaiku, kan?” Mike tersenyum licik. Sambil menunggu reaksi Sania, dia tidak bernapas sebentar.
Sania membalas tawa Mike. Sambil mendongakkan kepala ke atas. “Aku sungguh tidak peduli dengan semuanya. Aku tidak peduli denganmu juga.”
“Kamu serius?” Mike menjambak ujung rambut Sania bagian belakang, kepalanya ia dekatkan ke wajah Sania yang kini berubah menjadi takut. “Bagaimana? Kamu masih merasakan hal yang sama?”
Mike melepaskan rambut Sania begitu saja. Sedangkan Sania terdiam setelah Mike mendaratkan bibir ke pipinya. Aneh, Sania tidak melawan sama sekali, malah dia diam seribu bahasa dan menjadi patung.
Pada hitungan ke sepuluhpun Sania masih membeku. Sebelah tangan ia usapkan ke pipi berulang kali. Dia merasakan kehangatan yang sudah lama tidak didapatkannya. Kehangatan yang hilang direbut teman dekatnya sendiri.
“Kenapa diam saja?” Mike menggoyangkan bahu Sania berulang kali sampai dia tersadar. “Kamu baik-baik saja?”
“Kenapa kamu berkhianat? Seharusnya kita tetap bersama.” Sania memukul keras d**a Mike yang terlihat lebar. Mike menghembuskan napas panjang seraya menarik tubuh Sania ke dekapannya.
“Aku sangat menyesal. Aku menyadari kalau kamu yang terbaik dalam hidupku.” Mike mengusap ujung rambut Sania, sesekali mengecupnya.
“Apa yang kalian lakukan? Berselingkuh terang-terangan di tempat ini?” Khaira muncul begitu saja, membuat Sania dan Mike salah tingkah.
“Dia terjatuh dan aku membantunya berdiri.” Jelas Mike, melindungi Sania.
“Begitukah?” Khaira bertanya sambil menaikkan sebelah alis. “Tapi kalian saling menikmati.”
Sania merapikan rambut yang sedikit berantakan. Kemeja juga ia rapatkan agar kaos dan celana tertutupi.
“Hai?” Anton menyapa Sania yang masih belum sadar akan kehadirannya.
Sania mengenal suara itu. Begitu mereka bertatapan langsung, Sania mendelik tajam. Dia langsung memeluk tubuhnya sendiri. “Dasar bre*gsek!” Teriak Sania sekuat tenaga. “Untuk apa kamu kesini?”
“Hei, dia datang untukku. Bukan untukmu!” Khaira meninggikan nada suara, membuat Sania meliriknya.
“Ada apa denganmu?” Tanya Mike berhati-hati.
“Apa kamu mengenal Anton? Rupanya kamu pemain juga ya?” Cela Khaira, sambil menggenggam tangan Anton, kekasihnya.
Sania melirik gerakan Khaira sambil menyipitkan kelopak mata. “Dia pernah—,”
“Jangan berlebihan, San!” Sela Anton dengan menaikkan sebelah alis. Wajah antagonis sangat kentara meskipun dia tampan. Banyak sekali wanita tertipu oleh sampul wajah Anton.
“Dia kenapa, cepat katakan!” Mike tidak sabar mendengar Sania meneruskan kalimatnya.
Dengan cepat Sania menggelengkan kepala.
“Aku akan menikah dengan Anton, jadi jangan mencari masalah dengannya.” Jelas Khaira pada Sania. “Dan kamu jangan mencoba menyakiti Adam. Ceraikan saja dia, lalu kembali pada Mike.”
“Aku akan melakukan itu secepat mungkin.” Jawab Sania tanpa berpikir panjang. Dia tidak ingin Anton menjadi bagian dari keluarganya. Itu hal yang menyakitkan jika benar terjadi. Bertemu dengan pria yang merusak hidupmu setiap hari. Luka yang mulai sedikit kering, terbuka kembali. Bahkan semakin melebar sayatannya, kalau dia melihat Anton setiap membuka mata.
Khaira terkekeh. Merasa puas sudah memancing Sania berkata seperti itu.
“Tidak!” Adam berkata dengan tegas. “Kita tidak mungkin bercerai.”
“Tapi Sania sudah mengatakan ingin bercerai. Kalian tidak saling mencintai. Untuk apa membangun rumah tangga?” Mike tidak ingin kalah dengan Adam.
“Dia milikku. Aku akan membuatnya jatuh cinta padaku.” Ucap Adam dengan bangga.
“Aku tidak akan jatuh cinta pada siapapun.” Sania melepas tangan Adam yang akan memegang pergelangan tangannya. “Ucapanmu tidak pernah kupercayai sama sekali.” Sania menatap Adam dengan lekat.
Mike tertawa lepas. “Kamu hanya mencintaiku meski tidak mengakui. Bahkan kamu menikmati ciumanku tadi.” Tanpa bersalah Mike berucap, membuat Adam melotot tajam
Ayunan tangan segera mendarat ke wajah Mike namun berhasil ditangkis. “Kamu benar-benar kurang ajar. Jangan pernah mengganggu istriku.”
“Istrimu menikmati. Dia hanya diam tanpa perlawanan.” Jelas Mike, di tengah tawa. Dia benar-benar merasa menang melawan Adam saat ini. “Apa perlu melihat rekaman CCTV disana?” Tambah Mike sambil menunjuk sudut ruangan.
Emosi Adam semakin tersulut. Dia menarik kerah baju Mike dengan kasar.
“S*alan! Aku tidak pernah bersikap kasar pada klienku. Tapi kamu benar-benar tidak tahu diri!” Adam mencoba mengayunkan kepalan tangan ke wajah Mike, lagi, tapi tidak berhasil juga.
“Hentikan, Adam!” Khaira berusaha memisahkan mereka berdua, dibantu oleh Anton. “Kamu tidak perlu bertengkar hanya karena satu ja*ang ini.”
“Dia wanitaku. Aku pantas memperjuangkannya.” Jelas Adam dengan tegas.
Sania menelan air liur. Mulai luluh mendengar ucapan Adam. Mulutnya terbuka lebar, tanda dia terkesima. Bola matanya tertuju pada perawakan Adam yang sangat maco.
Tanpa sadar, Sania didorong Khaira dengan kasar, membuatnya oleng. “Dasar tidak berguna!” Umpat Khaira.
“Apa yang kamu baru saja lakukan?” Sania tidak terima, dia membalas mendorong Khaira, lebih kuat. Hingga dia terjatuh. Hitungan detik, Sania menarik tangan Adam untuk keluar dari kerumunan ini.
***
Sebuah bangku taman terlihat indah dengan deretan lampu yang menerangi gelap malam ini. Air mancur di tengah lapangan menambah keindahan dengan lampu yang setengah menyorotinya. Bunyi gemercik air membuat perasaan Sania dan Adam lebih tenang. Mereka saling menghadap ke arah air mancur. Saling diam beberapa saat. Ini pertama kalinya mereka melakukan hal ini. Duduk berduaan di luar rumah.
“Apa kamu benar menikmati ciuman Mike?” Pertanyaan Adam membuyarkan lamunan Sania. “Apa kamu masih mencintai pria yang sudah mengkhianatimu? Kamu yakin akan kembali dengannya?” Bertubi-tubi Adam menghujam pertanyaan, membuat Sania mengedipkan kelopak mata.
“Katakan sejujurnya, apa kamu masih mencintainya?” Adam bertanya dengan hati-hati, tanpa merasa emosi. Bahkan setiap kata terdengar lembut membuat hati Sania terenyuh.
“Aku akan melepasmu kalau kamu masih mencintainya, tapi kamu harus terjamin bahagia sampai mati.” Tambah Adam, menatap Sania serius.
Sania tidak membalas tatapan Adam. Dia masih meluruskan pandangan tanpa ekspresi sedikitpun.
“Selingkuh itu penyakit. Aku takut kamu disakiti lagi oleh Mike. Aku tidak yakin kalau dia berubah.” Ucap Adam, menyahut tangan Sania yang terpangku di pahanya.
“Aku tidak ingin kamu tersakiti lagi oleh pria yang membuat hidupmu hancur.” Kali ini Adam menghadapkan wajah Sania ke arahnya.
Tatapan mereka saling bertemu. Napas mereka bahkan saling bertukar dengan jelas. “Kenapa aku begitu mempertahankanmu? Apa kamu lupa denganku?”
“Maksud kamu?” Sania penasaran dengan menaikkan sebelah alis. “Jelaskan apa maksud kamu?”
“Aku anak laki-laki yang menolongmu saat jatuh ke kolam.”
Sania membelalakkan kelopak mata. Bibirnya sulit bergerak untuk menjawab ucapan Adam. Dia bingung akan menjawab apa.