Aku anak bungsu dari lima bersaudara. Kakak pertama dan kedua laki-laki kembar, ketiga perempuan dan keempat laki-laki.
Ada cerita yang sangat disayangkan yang pernah aku alami dengan semua kakakku. Bodohnya aku yang tidak menyadari kalo itu adalah tindakan pelecehan.
Kakak pertama dan kedua diceritakan hampir sama hanya berbeda waktu dan tempat. Maaf ya tidak bisa menyebutkan namanya :)
“Ra, bisa sini bentar gak?”
“Ada apa kak aku lagi nonton tv nih”
“Ya pokonya cepetan sini” Aku tentu saja menghampiri kakakku “Ada apa kak?” Aku bertanya dengan polosnya padahal aku sudah menyaksikan kakakku tidak memakai celana. “Tolong emutin punyanya kakak dong?”
“Gak mau kak, nanti kalo kakak ngompol pas dimulut aku gimana?” Jawab polosku.
Tentu aku tidak menuruti kemauan kakakku dan akupun langsung melanjutkan menonton tv.
Kejadian ini terjadi di ruang keluarga dan sialnya di rumah tidak ada siapa-siapa.
Hampir mirip dengan yang di perintahkan kakakku yang kedua. Kalo dia ada di kamarnya dan anehnya aku malah memegang k*********a itu dan menciumnya sungguh memalukan bukan.
Selang beberapa minggu, orang tuaku pergi selama sepekan. Mungkin ada pekerjaan. Selama satu minggu itu aku tidur sekamar dengan kakak perempuanku. Disinilah kesempatan dia untuk memulai aksinya. Saat malam tiba tidak biasanya aku tidak bisa tidur. Hanya memejamkan mata agar terlihat lelap oleh kakakku. Saat itu aku terkejut, tiba-tiba ada tangan yang meraba pinggangku. Pikiranku mungkin kakakku mimpi berpelukan dengan pacarnya. Tapi anehnya kenapa sangat lama dan dia meraba ke bagian d**a dan terus berlanjut ke bagian bawah pinggangku. Dia melucuti celana tidurku dan celana dalamku. Aku tidak bisa bergerak karena merasa aneh dan bingung. “Apa yang harus ku lalukan?” Batinku. Dia meraba bagian intim, lalu dia menggosokan k*********a ke pahaku. Setelah puas dengan ritualnya akhirnya dia menjauh dan tidur.
Hari besok pun tiba. Dan aku merasakan kelegaan setelah sore pulang bermain, saudaraku akan menginap di rumah.
“Ra, aku boleh nginep di rumah kamu gak?” Kata Tyas. “Iya Ra kita mau nemenin kamu, kasian om sama tante belum pulang” timpas Sela. “Beneran kalian mau nginep?” Antusiasku. Akhirnya malam ini aku terbebasdari ritual kakakku.
Tapi tidak berakhir disini. Saat malam tiba aku tetap tidak bisa tidur. Aku merasakan pergerakan kakakku. Aku takut, aku tidak mau seperti malam kemarin lagi. “Kok diam ya kakakku, apa dia tidur lqgi kali ya?” Batinku. Rasa penasarannu mendorongku untuk melihat ke belakangku dan kaget setengah mati saat aku melihat kakak sedang memeluk Tyas. Aku yakin dia sedang melakukan ritualnya itu.
Hari-hari berikutnya, saudaraku bergiliran untuk menginap dirumahku, dan itu membuatku lega sampai akhirnya orang tuaku pulang.