Sweet Dream or Nightmare?

956 Words
“Di sini, Bee.” Adi tersenyum manis dan melambai-lambaikan tangannya di udara untuk memanggil Bintang. Bintang menggenggam erat lengan Patricia, ia merasa gugup seperti anak kecil yang merasa panik saat dipanggil ke depan kelas untuk mengerjakan soal matematika di papan tulis. Patricia menggeleng-gelengmelihat sahabatnya yang sangat berbeda dari dirinya yang biasanya sangat keras kepala dan berani. “Kamu cantik, Bee.” Adi menarik kursi dan mempersilahkan Bintang duduk. “Ehhemm … Ehem … Ada aku loh.” Patricia berdehem keras menyadarkan Adi yang sedari tadi tidak menyadari kehadirannya. “Eh, iya ada Nona Patricia yang cantik,” Adi tersenyum ramah, “Maaf ya, silahkan duduk Miss popular.” Lanjutnya lagi. “Apaan sih, Kak Adi!” Patricia mengerucutkan bibir saat mendengarkan Adi memanggil nama julukan masa SMAnya, sedang Bintang dan Adi terkekeh pelan. “Sorry, Di. Jalanan macet.” Suara seorang lelaki membuat Bintang bergendik ngeri, ia menoleh ke sumber suara dan mendapati lelaki yang tengah menepuk pundak Adi. Ia tengah mengatur nafas yang terengah-engah. “Cewek gila!” lelaki itu berkata dengan sedikit berteriak saat pandangan matanya bertemu dengan Bintang. ”Cowok rese!” Bintang menaikkan suara, kata-kata itu keluar secara bersamaan dengan kata-kata yang keluar dari mulut lelaki yang terlihat tidak kalah terkejutnya dengan Bintang. Lelaki itu mengeraskan rahang, merasa terjebak dengan wanita yang paling dibencinya, Bintang mengertakkan gigi merasa bagaikan mengalami mimpi buruk saat terjebak dengan lelaki yang paling di bencinya. “Kalian udah saling kenal?” Adi tersenyum polos, ia tidak tahu situasi apa yang diciptakannya untuk kedua orang yang saling melotot itu. “Ini apa maksudnya, Di? Lo bilang cuma mau nonton, nggak bilang bakalan ada cewek gila ini di sini.” Bastian mendengus kesal. “Ini apaan maksudnya, Kak? Maaf, Kak. Aku mau pulang aja, lain kali aja kita nontonnya.” Bintang tidak kalah kesalnya dengan Bastian, ia berdiri hendak meninggalkan tempat itu, tapi tangan Adi dengan cepat menarik lengannya dan memintanya duduk kembali. “Maaf, Bee. Aku nggak tahu ada apa di antara kalian berdua, aku nggak mau nanti Patricia merasa dicuekin, makanya aku ajak Bastian buat nonton bareng kita. Maaf kalau keputusanku malah buat keadaan di antara kalian semakin memburuk.” Adi menggenggam tangan Bintang dengan erat, ia memandang Bintang dengan tatapan yang bersalah. Bintang tahu jika Adi hanya memikirkan kebaikan Patricia, tapi Bintang tidak sanggup jika harus berada di dekat lelaki angkuh itu. “Gue pulang, Di.” Bastian tidak kalah kesalnya dengan Bintang. “Jangan gitu dong, Bas. Maafin gue yang nggak bilang dulu sama lo, tapi gue mohon lo lupain masalah lo dengan Bintang untuk satu hari ini aja.” Adi berkata lirih, ia tidak ingin kesempatannya untuk mendapatkan hati Bintang hancur begitu saja. Bintang dan Bastian menghela nafas panjang secara bersamaan. Adi lelaki gentle dan lembut, satu-satunya lelaki yang tidak dengan mudah bisa mereka tolak keinginannya. Adi tersenyum lebar saat melihat Bintang dan Bastian sudah duduk dengan santai di tempat mereka masing-masing. “Kenalin ini sahabat aku, Pat. Namanya Bastian Hendrawan.” Bastian dengan wajah datar mengulurkan tangan kepada Patricia. “Aku Patricia Agatha. Kamu bisa panggil aku Patricia atau singkatnya Pat.” Patricia menyambut tangan Bastian dan tersenyum ramah. “Yang ini pasti udah kenal, ‘kan? Ini Bintang Mahesti.”  Bintang dan Bastian hanya saling menatap tajam, Adi menyikut lengan Bastian untuk mengulurkan tangannya pada Bintang, dengan kesal Bastian mengulurkan tangannya pada Bintang. “Bintang.” Bintang menyambut tangan Bastian dan tersenyum masam. “Jadi kita semua udah saling kenal, ‘kan? Kita nonton yuk!”Adi tersenyum lebar Duniamu terasa hancur berkeping-keping saat mimpi indah berubah menjadi mimpi buruk dalam sekejap. *** Pertemuan yang sudah ditunggu-tunggu Bintang semenjak kemarin malam berubah menjadi acara menguji kesabaran. Bagaimana dia tidak merasa kesabarannya diuji saat Bastian selalu ketus menjawab semua pertanyaan yang dilayangkannya kepada Adi. Acara yang diharapkannya akan berakhir indah itu ternyata malah membuatnya menahan amarah seharian. “Udahlah, Bee. Dari tadi lo sama Bastian saling ngeledek kayak anak kecil aja. Inget masih ada kak Adi sama kita, lupain aja kalau Bastian itu ada sama kita saat ini.” Patricia menggenggam lengan Bintang.  Bintang sedari tadi terlihat kesal saat mulut laki-laki itu mulai berbicara. Ia menganggap semua yang dikatakan lelaki itu tidak ada satu pun yang masuk akal. Bayangkan saja, lelaki yang bernama Bastian itu tidak tahu bahwa Monas adalah singkatan dari Monumen nasional. Bintang merasa ada yang kurang pada otak lelaki itu. Bintang mengakui bahwa ketampanan Bastian. Lelaki itu memiliki hidung mancung khas orang Eropa, kulit sawo matang, rahang kokoh, rambut lurus hitam yang selalu dibiarkan sedikit berantakkan, dan juga bibir merah alami. Semua perempuan pasti mengakui ketampanannya, tapi penampilan seseorang tidak bisa membuat Bintang menyukai orang itu. Apalagi sekarang Bintang tahu bahwa pengetahuan umum Bastian sangat sangat buruk. “Ngomongin gue nggak usah sekenceng itu. Temen lo tuh dari tadi masih aja sensi gara-gara gue nggak tahu kalau monument nasional itu kepanjangan dari Monas.” Bastian berkata dengan sarkastis dan melotot ke arah Bintang, tatapan marah Bastian tidak mengalahkan tatapan marah Bintang kepadanya. Adi dan Patricia menggeleng-geleng secara bersamaan. “Bee, cinta dan benci itu bedanya tipis, loh. Jangan terlalu benci sama orang.” Patricia berbisik pelan ke telinga Bintang. Membuat Bintang bergendik ngeri membayangkan jika ia bisa jatuh cinta dengan seorang lelaki seperti Bastian. “Tapi gue yakin banget kalau perasaan gue sama dia itu adalah kebencian, benci dan cinta itu beda jauh, Pat. Gue bisa ngebedainnya.” Bintang mendengkus kesal, Patricia hanya terkekeh pelan melihat sahabatnya. “Enaknya kemana lagi ya?” Adi menghentikan langkahnya dan tampak tengah berpikir. “Ke Monas aja gimana? Nunjukin ke Bastian apa yang namanya MONUMEN NASIONAL,” Bintang tersenyum lebar sehingga memperlihatkan susunan giginya yang putih. “Gue mau pulang. Ngapain malam-malam ke Monas? Mending gue tidur.” Bastian berkata ketus dan hendak berjalan meninggalkan mereka bertiga. “Ya udah, kalau gitu sekarang kita semua ke Monas.” Adi tersenyum lebar dan menarik tangan Bastian yang hendak pergi meninggalkan mereka, Bintang tersenyum penuh kemenangan. “Gue nggak mau, Di.” Bastian menepis tangan Adi dengan kasar. “Yakin lo nggak mau? Mau gue tunjukin foto masa kecil lo ke mereka berdua?” Adi menatap tajam Bastian, Bisa diketawain habis-habisan gue kalau sampe cewek rese ini tahu gimana gue waktu kecil. Bastian larut dalam pikirannya sendiri. Dengan enggan ia mengangguk setuju dan mengikuti langkah Adi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD