“Kapan kau berangkat, Lansa?” Yiska bertanya pada Lansa ketika pagi ini laki-laki itu bersiap dengan celana jeans yang sudah lusuh. “Begitu Lanu selesai berkemas, aku akan berangkat. Kamu ingin sesuatu?” Lansa bertanya pada Yiska yang terlihat jauh lebih sehat dari sebelumnya. Perempuan itu menggeleng. Lansa mendekat pada Yiska yang sedang berdiri di dekat jendela biliknya, menatap ke kebun apel yang menghampar di belakang rumah besar Lansa. “Maaf karena harus menempatkanmu di sini saat hamil, Yiska. Tapi aku bisa mengantarmu ke kota jika memang kau ingin tinggal dan melahirkan di sana,” Lansa berkata lirih sambil menyemtuh bahu Yiska, memberinya kecupan ringan membuat Yiska tersenyum. Perempuan itu menggeleng. “Apapun yang terjadi, aku ingin melahirkan seorang bayi indian di sini, La

