Hati-hati Typo banyak bertebaran.
Happy Reading.
~~~~
Keringat dingin mulai membanjiri kening Jimin, wajahnya pucat pasi dan ia sangat gugup, matanya tampak memerah menahan tangis yang ingin pecah. Didalam sana Aliya sedang berjuang melahirkan kedua buah hatinya, dan ia sedang menunggu diluar. "Dia pasti bisa" ucapan Jin yang menyemangatinya hanya ia anggap angin. Ia tidak bisa menganggap semua ini baik-baik saja jika belum melihat mereka ber-3 keluar dari Ruangan itu.
"Tuan Park silahkan masuk" Jimin semakin gugup saat seorang perawat menyuruhnya masuk.
"Masuklah! Temani istrimu" Jimin mengangguk dan memasuki ruangan itu.
Pemandangan wajah Aliya yang menahan sakit adalah hal yang menyambutnya. "Jim..." Jimin berlari menghampiri Aliya saat mendengar panggilan lirih Aliya.
"Aku disini" kata Jimin dengan menggenggam erat tangan Aliya.
"Tanganmu dingin" cetus Aliya sambil menahan sakit.
"Ya! Aku sangat takut saat melihatmu kesakitan" jujur Jimin.
"Anda siap Nyonya Park?" Tanya Dokter muda yang membantu proses persalinan Aliya. Dan hanya dibalas anggukan singkat dari Aliya.
"Baiklah! Tarik nafas pelan-pelan dan dorong dengan sekuat tenaga. Dan jangan berteriak karena dengan berteriak anda hanya akan menghabiskan tenaga anda, lebih baik anda lampiaskan dengan memegang tangan Suami anda" jelas Dokter muda.
"Dorong Nyonya" Aliya mendorongnya dengan sekuat tenaga.
"Sakit..." lirih Aliya. Jimin semakin memegang erat tangan Aliya, ia semakin takut saat melihat ekpresi kesakitan Aliya.
"Kau pasti bisa sayang" kata Jimin.
"Anda pasti bisa Nyonya, dorong lagi" saat Aliya semakin kuat mendorongnya ia juga semakin merasakan sakit.
"Argh...." teriak Aliya.
"Terus Nyonya" istruksi Dokter itu.
"Kau bisa sayang" kata Jimin.
"Arghh...."
"Kepalanya sudah terlihat Nyonya, dorong lebih kuat lagi"
"Kau bisa sayang" kata Jimin.
"Arghhh...." Aliya meraskan tubuhnya seperti dibelah menjadi dua dan ia juga semakin mencengkram kuat tangan Jimin.
"Ayo Nyonya..."
"Arghh....." tangisan bayi menggema diruangan ini. Jimin tersenyum haru saat melihat bayi mungil yang berlumuran darah itu. Itu bayinya darah dagingnya. Ia mengecup berkali-kali wajah Aliya, terus mengucapkan kata terima kasih, sedangkan Aliya hanya tersenyum haru.
"Bayinya laki-laki Tuan, Nyonya" akhirnya air mata Jimin tumpah. Bayinya laki-laki, seperti yang ia harapkan.
"Jim..." Aliya kembali merasakan sakit pada perutnya.
"Dokter..." panggil Jimin panik.
"Sepertinya sibungsu juga ingin segera melihat dunia ini. Baiklah kajja, Dorong Nyonya"
"Arghhh....."
*
Senyum bahagia terlihat dari bibir semua orang, bayi kembar dan jenis kelaminya adalah laki-laki dan perempuan. Bayi mereka tampak sangat nyaman digendongan Nenek-Neneknya.
"Gumawo" Aliya mengangguk singkat.
"Dia sangat cantik" puji Taehyung pada keponakan Perempuanya.
"Tapi dia juga tidak kalah tampan" kata Lisa sambil melihat bayi laki-laki Jimin dan Aliya.
"Mereka sempurna" ujar Taeyeon dengan menggendong bayi perempuan anaknya.
"Jadi kalian beri nama mereka siapa?" Tanya Jin.
"Jimin yang akan memberi nama, jika aku lebih suka memanggil mereka Ji Twin" kata Aliya.
"Jadi siapa Jim?" Tanya Chanyeol penasaran.
Jimin tersenyum tipis. "Ji Yoon dan Ji Hyun, Park Ji Yoon untuk sisulung dan Park Ji Hyun untuk dibungsu. Lagipula Aliya ingin memanggil mereka Ji Twin jadi nama tengah mereka Ji" kata Jimin.
"Nama yang indah" puji mereka.
"Ji Yoon dan Ji Hyun, sempurna" cetus Aliya.
*
"Bukan disitu Jimin-ah" kesal Aliya saat Jimin tidak segera menemukan Diapers untuk sikembar.
"Kau taruh dimana Sayang?" Tanya Jimin bingung.
"Ditempat biasa" ujar Aliya kesal.
"Aish! Kemana?" Ji Twin baru saja mandi dan Aliya lupa mengambil Diapers dan ia meminta Jimin untuk mengambilkan Diapers tapi pria itu terus mengeluh tidak tahu.
"Yakh, cari yang benar" teriak Aliya kesal.
"Ini sudah benar" umpat Jimin.
"Hah, ketemu" Jimin langsung berjalan menuju ranjang mereka.
"Ini!"
"Dasar lelet" kesal Aliya sambil memakaikan Diapers pada si kembar. Sedangkan Jimin hanya mendengus kesal.
"Wae Aegi?" Tanya Jimin pada Ji Hyun yang terus mencoba meraih tanganya.
"Mau ikut Appa Nde?" Baru saja Jimin hendak meraih Ji Hyun tangan Aliya lebih dulu mencegahnya.
"Dia harus berpakaian dulu" kata Aliya sambil memakaikan pakaian pada Putrinya.
"Sabar Hyunie" kata Aliya pada Putrinya yang terus bergerak.
"Kau boleh ikut Appa, tapi pake dulu bajunya Hyunie" ujar Aliya.
"Appa tidak pergi jauh sayang, Appa ada disini" kata Jimin sambil mengusap pipi Chubby Ji Hyun.
"Nah selesai" Jimin langsung meraih Ji Hyun dan bayi 14 hari itu langsung tersenyum.
"Kau senang hem?" Tanya Jimin dengan mengecup sayang pipi Putrinya. Sedangkan Aliya meraih Ji Yoon untuk disusui.
"Cah Yoonie minum dulu nanti baru Hyunie" Ji Yoon langsung menghisap dengan semangat sumber makananya.
Walaupun mereka kembar, tapi sifat mereka jauh dari kata sama. Walaupun umur mereka baru 14 hari tapi perbedaan itu sudah terlihat jelas. Jika Ji Yoon cenderung tenang lain halnya dengan Ji Hyun yang sangat tidak bisa diam. Ji Hyun akan menangis jika tidak menemukan Jimin saat bangun tidur, sementara Ji Yoon hanya diam sampai ibunya menyusuinya.
Ji Hyun tidak bisa tidur jika tidak mendengar suara Jimin sedangkan, Ji Yoon akan langsung tidur jika sudah disusui. Ji Hyun sering menangis dan Ji Yoon jarang sekali menangis. Dan yang paling membuat Aliya pusing adalah saat Ji Hyun tidak mau gantian untuk minum asi dengan kakaknya, alhasil Jimin harus turun tangan untuk mengatasi Putrinya dan beruntung saat Jimin jika Jimin tidak ada? Bisa pusing setengah mati Aliya.
Mata sipit Ji Yoon perlahan mulai sayu, bayi laki-laki itu juga sudah tidak menghisap sumber makananya. "Ini masih pagi dan kau mau tidur lagi?" Kata Jimin sambil mengusap pipi Chubby Putranya.
"Dia sangat suka tidur" cetus Aliya.
"Ya! Sama sepertiku" ujar Jimin sambil terkekeh.
"Keundae Jimin-ah, apa tidak sebaiknya kita tinggal dengan Eomma atau Eommaniem dulu, kasihan mereka jika harus berjauhan dengan cucunya. Memangsih Ji Hyo Eonni hamil tapi kan kandunganya baru berusia 5 minggu dan itu masih lama untuk melahirkanya" pendapat Aliya, Chanyeol akan berangkat ke LA, mereka menyusul Keluarga Lee dan mereka akan menetap disana selama 2 tahun dan kasihan Taeyeon karena tidak ada yang menemani.
"Aku juga memikirkanya tapi apa tidak merepotkan?" Tanya Jimin.
"Sebenarnya iya, tapi mereka sendiri yang memintanya dan lagi pula aku akan sangat kerepotan saat kau berangkat kerja, Ji Hyun akan sangat rewel dan aku tidak bisa menenangkan 2 bayi sekaligus. Dan jika kita tinggal dirumah Eomma atau Eommaniem kan ada yang bisa kuajak gantian" mereka sepakat tidak menyewa jasa Baby Sister, Aliya tidak akan suka jika Anaknya disentuh oleh orang yang tidak terlalu dikenal. Lagipula banyak kasus kejahatan yang menimpa bayi akhir-akhir ini dan Aliya tidak mau sampai kasus seperti itu menimpa kedua anaknya.
"Baiklah jika itu maumu" setuju Jimin.
"Kita akan membaginya secara adil, 1 minggu di Rumah Keluarga Park dan 1 minggu di Rumah Keluarga Kim otte?" Tawar Aliya dan dibalas anggukan oleh Jimin.
"Baiklah, kapan kita pindah?" Tanya Jimin.
"Setelah pernikahan Taehyung Oppa, lagipula Chanyeol Oppa akan berangkat paginya" Jimin mengangguk.
*
Mengetahui jika Jimin dan Aliya akan pindah Kerumahnya, Taeyeon sangat senang, ia juga sudah menyiapkan kamar sikembar dan Taeyeon juga sudah menyediakan dua Box nayi untuk kedua cucunya di kamarnya. Ia juga ingin tidur dengan sikembar. "Jadi kapan mereka kesini?" Tanya Jungsoo.
"Akhir pekan ini" jawabnya semangat.
Dan benar akhir pekan ini Jimin dan Aliya pindah Kerumah Keluarga Park, Taeyeon langsung antusias, bahkan saat Jimin dan Aliya baru sampai diteras ia langsung mengambil alih kedua cucunya dari gendongan Aliya.
"Aigoo kalian manis sekali, kajja masuk Sayang" Jimin membawa perlengkapan mereka sementara Aliya mengekor dibelakang Taeyeon.
"Baby Ji" Kevin berteriak saat melihat Ji Twin digendongan Neneknya.
"Halmonie aku mau lihat" rengek Kevin pada Taeyeon.
"Sebentar Sayang" kata Taeyeon.
"Oh Anyeong Imo" sapa Kevin saat melihat Aliya.
"Kau semakin tinggi" ujar Aliya sambil memeluk Kevin.
"Aku banyak makan"
*
Pesta pernikahan Taehyung dan Lisa digelar begitu meriah di Hotel berbintang lima. Lisa tampak cantik dengan Gaun warna pastel sedangkan Taehyung sangat tampan dengan balutan jas. Senyum manis selalu terukir dari bibir mereka saat pesta ini. "Jadi berapa?" Tanya Jimin sambil mengendong Ji Hyun.
"Berapa? Apanya?" Tanya Taehyung bingung.
"Anak" jawab Jimin enteng.
"Kami baru menikah dan kau sudah bertanya tentang anak? yang benar saja!" kesal Taehyung.
"Lebih cepat lebih baik Taehyung-ah" kata Jin.
"Oppa benar" angguk Lisa.
"Keundae, Aliya eodi?" Tanya Taehyung saat tidak melihat adiknya.
"Mengambil makanan bersama Keponakan dan Kakak iparmu" jawab Jin.
"Jadi kalian akan pindah-pindah?" Tanya Jin.
"Nde Hyung! Kasihan Eomma karena ditinggal Chanyeol Hyung, dan lagipula Aliya butuh orang untuk membantu mengurus Ji Twin" jawab Jimin.
"Wah aku jadi bisa main dengan bayi lucu ini" kata Taehyung sambil mencium gemas pipi Ji Hyun.
"Tidak, kau buat anak saja sendiri" ujar Jimin, sedangkan Taehyung mendengus kesal.
"Oppa bawa Ji Hyun kemari, ini sudah malam dan mereka harus tidur" teriak Aliya.
"Aku pergi dulu eoh" pamit Jimin pada ketiga iparnya.
*
"Jadi bagaimana?" Tanya Jimin.
"Apanya Jimin-ah?" Balas Aliya bingung.
"Kau lupa?" Kesal Jimin.
"Lupa apa?" Jimin mendengus.
"Tiket ke Maldiv itu" cetus Jimin.
"Oh, sepertinya kita tidak bisa pergi ke sana, Ji Twin masih terlalu kecil" cetus Aliya.
"Bagaimana jika kita ajak mereka?" Tawar Jimin.
"Tidak jika dengan yang lain" cetus Aliya.
"Boleh juga" Aliya tampak berfikir.
"Bagaiamana jika kita ke Italia? aku ingin mengunjungi Mina!" kata Aliya, wajah Jimin langsung asam saat mendengar ucapan Aliya.
"Baiklah aku akan atur jadwal kita" ujar Aliya.
"Yakh, aku belum setuju" protes Jimin.
"What Ever! Jika kau tidak suka, ya jangan ikut" ketus Aliya sambil memunggungi Jimin.
*
Lisa tampak sangat gugup saat Taehyung terus menatapnya, ini malam pertama mereka dan ia sangat gugup. "Kau gugup?" Tanya Taehyung saat melihat gerak-gerik istrinya.
"Ehm...aku...aku...Oppa...Op...emphh" Lisa tidak bisa meneruskan ucapanya saat Taehyung lebih dulu membungkam bibirnya.
"Emph..." Lisa sedikit mendesah saat Taehyung meraba tubuhnya.
"Oppahhh" Taehyung melepas ciumanya. Mereka kehabisan pasokan oksigen.
"Kau belum siap ternyata, baiklah aku tidak akan memaksa. Kajja kita tidur" Taehyung menuntun Lisa menuju ranjang.
"Tidurlah!" Taehyung mengambil posisi disamping Lisa dan segera menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka.
"Oppa marah?" Tanya Lisa saat Taehyung merengkuh tubuhnya.
"Ania!"
"Tapi...."
"Tidurlah" Lisa mendongak menatap wajah tampan suaminya, mata indah suaminya terpejam sempurna tapi Lisa yakin jika suaminya ini tidak tidur. Dengan bermodalkan gugup Lisa mengecup singkat Taehyung.
Taehyung tetap terpejam, Lisa kembali mengecupnya dan hasilnya masih sama, dan untuk ketiga kalinya Lisa mengecup bibir Taehyung tapi kali ini lebih lama dan disertai lumatan.
Taehyung yang awalnya tidak ingin membalas Lisa mulai ikut terpancing, bibir Lisa yang bergerak lembut dibibirnya mulai ia lumat dengan dalam dan ganas tentu saja Lisa kewalahan, tapi ia mencoba mengimbangi ciuman Taehyung.
"Oppahhh" Lisa mendesah saat Taehyung meraba punggungnya. Dan dengan mudah Taehyung mengubah posisi Lisa menjadi dibawahnya.
Nafas mereka terengah karena ciuman tadi. "Kau yang memancingku, jadi terima akibatnya" Taehyung kembali melumat bibir plum Lisa, kali ini lebih ganas dan b*******h, dengan sekali tarik ia menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka.
"Haah! Ah"
"Yeah! Babyhh!"
"Oppah!"
"Ephm!"
"s**t! f**k!
"Arghhhhhhh"
*
Jin tampak nyaman memeluk tubuh ramping istrinya. Mereka belum tidur karena Ji Hyo tidak bisa tidur dan Jin dengan suka rela menemani istrinya. "Oppa" panggil Ji Hyo pelan.
"Wae?" Tanya Jin.
"Mianhae!" Lirih Ji Hyo.
"Untuk?" Tanya Jin.
"Semuanya! Aku jadi sering merepotkan Oppa, meminta ini-itu pada Oppa dan selalu menyusahkan Oppa" Jin tersenyum tipis. Ji Hyo semakin manja saat hamil dan Jin harus siap dengan keinginan aneh Ji Hyo. Dari mulai masak, menemani berbelanja pakaian dalam, makan lobak mentah, menari ala Boyband dan masih banyak lagi dan itu semua adalah keinginan istrinya.
"Tak apa! Jika kau senang, kenapa tidak?" Tanya Jin.
"Tapi tetap saja" lirih Ji Hyo.
"Sudahlah, sekarang kau tidur, ini sudah malam" kata Jin.
"Baiklah! Gumawo Oppa" Jin tersenyum saat Ji Hyo mencium singkat bibirnya.
"Kau semakin berani Nyonya Kim" kata Jin sambil merapatkan tubuhnya pada Ji Hyo.
"Ehm, Oppa" Ji Hyo mencoba menahan tubuh Jin yang mulai menindihnya.
"Wae?" Jin semakin merapatkan tubuhnya pada Ji Hyo, ia sangat suka saat melihat wajah gugup Ji Hyo.
"Aku ingin memasukimu" lirih Jin dengan mata yang sudah berkabut gairah.
"Oppa~~~"
"Nyonya Kim Ji Hyo" Jin langsung meraup bibir Ji Hyo dengan semangat, ia mencium berulang-ulang bibir Ji Hyo, merasakan manis pada bibir yang selalu menjadi candunya ini.
"Oppahhh~~~"
*
Junjae memeluk erat Gyuri, dalam sebuah Apartemant sederahana ini mereka sangat nyaman berbagi kehangatan. Gyuri membatalkan keberangkatanya ke Belanda ia menerima kembali Junjae dalam hidupnya. Walaupun mereka belum menikah secara resmi tapi mereka sudah tinggal bersama.
Awalnya Aliya langsung menolak mentah-mentah keputusanya, tapi saat Junjae datang langsung kehadapan Aliya dan mengutarakan keinginanya untuk kembali bersama Gyuri, Aliya masih kekeh pada pendirianya, ia tidak ingin Gyuri kembali ke Masa lalu, tapi saat Jimin dan yang lain memberi nasihat, akhirnya Aliya memberikan restu pada mereka, walaupun dengan ancaman jika mereka dalam pengawasan Aliya penuh.
Gyuri memutuskan untuk ikut Junjae tinggal di Apartemant ini, ia tidak bisa selamanya mengantungkan hidup pada Aliya, ia ingin mandiri dengan Junjae. Aliya kembali menolak usulan Gyuri, Aliya bilang jika ia tidak bisa jauh dari Kakaknya tapi saat Gyuri kembali bicara pada Aliya, akhirnya Aliya mengijinkanya dengan syarat Gyuri harus mengunjunginya seminggu 2 kali. Gyuri menyanggupi permintaan adiknya.
"Kapan kita akan bilang jujur pada Aliya?" Tanya Junjae sambil mengusap perut datar Gyuri.
"Entahlah! Aku bingung" jawab Gyuri.
"Aku ingin kita menikah, setelah anak kita lahir aku ingin menjadikanmu sebagai milikku yang sah Gyuri-ya" kata Junjae.
"Kau yakin?"
"Sangat!"
"Akhir bulan ini kita akan bicara pada Adikku" Junjae mengangguk dan semakin mengeratkan pelukannya.
*
Momo memandang gelisah pada sepucuk surat ditanganya. Ia sangat Gugup kali ini. "Sayang Hyena menangis" teriak Namjoon dari dalam kamar, dan buru-buru Momo menyimpan surat itu kedalam sakunya dan berjalan keluar.
"Kenapa lama sekali? Hyena sudah menangis dari tadi" kata Namjoon sambil menggendong putrinya.
"Mianhae Namjoon-ah, aku ada masalah perut" belanya sambil mengambil alih Hyena dari gendongan Namjoon.
"Dia sepertinya lapar" Momo mengangguk dan menyusui bayi 13 bulan itu.
"Kau kenapa?" Tanya Namjoon saat Momo hanya diam.
"Ania, aku baik-baik saja!" Namjoon bukan orang bodoh, ia sangat tahu jika istrinya ini sedang memikirkan sesuatu.
"Katakan padaku!" Momo menatap Namjoon lama.
"Aku takut Namjoon-ah" dahi Namjoon berkerut heran.
"Apa yang kau takutkan?" Tanya Namjoon bingung. Momo tampak memghela nafas pelan dan mengambil surat yang ia simpan tadi dan memberikanya pada Namjoon.
"Apa ini?"
"Baca saja" Namjoon membaca satu persatu huruf yang ada disana dan matanya tiba-tiba ia terbelalak.
"Kau..."
"Ya! 3 minggu" lirihnya.
"Jadi~~~" Namjoon tidak bisa melanjutkan ucapanya.
"Ottokheyo Namjoon-ah? Hyena masih kecil dan akan ada lagi bayi nanti" Ujar Momo khawatir.
"Kita akan membesarkanya bersama-sama" tegas Namjoon.
"Tapi aku takut" lirih Momo.
"Kita pasti bisa, Aliya dan Jimin saja bisa mengurus bayi kembar mereka dan kenapa kita tidak bisa mengurus dua bayi, lagipula Hyena sudah tidak terlalu kecil untuk mempunyai adik" kata Namjoon.
"Tapi~~~"
"Kita pasti bisa" Momo mengangguk singkat.
"Gumawo" kata Namjoon sambil membawa Momo kedalam pelukanya.
"Aku yang harusnya berterima kasih"
*
Selama perjalanan menuju Italia Jimin terus merengut, ia masih sangat kesal karena Aliya tidak mengidahkan protesanya. Dan yang lebih parah semua orang Keluarga Kim ikut. "Pegang Ji Hyun dengan benar" kesal Aliya saat Jimin terus merengut.
"Menyebalkan" Aliya dapat mendengar jelas gerutuan Jimin, peduli? Tidak. Aliya hanya ingin mengunjungi sanak saudaranya yang jauh, dan kenapa Jimin harus marah? Lagipula Mina juga sudah melepas Jimin! Tak masalahkan ia ingin menjalin hubungan baik dengan Keluarga Jung.
"Bibirmu akan seperti hidung pinokio jika kau terus majukan" Jimin hanya melengos dan memainkan jari Ji Hyun.
"Hyung, berikan Ji Hyun padaku" Taehyung mengambil alih Ji Hyun dari pangkuan Jimin.
"Dan Ji Yoon denganku" kata Ji Hyo sambil mengambil alih Ji Yoon dari gendongan Aliya.
"Kalian istirahat saja Nde? Anak-anak kalian aman!" Ji Hyo dan Taehyung kembali menuju kursinya dan hanya menyisakan Aliya dan Jimin.
"Jimin-ah~~~"
"Ayolah Tuan Park~~~" Jimin masih betah pada posisi bungkamnya, dan karena kesal Aliya langsung menarik wajah Jimin dan menyatukan bibir mereka dan tentu saja Jimin terkejut akan hal itu.
"Emph..." Jimin merinding saat mendengar desahan Aliya.
"Jimin-ah" Lirih Aliya.
"Kau mencoba menyogokku eoh?" Tanya Jimin sambil menatap tajam Aliya.
"Ania! Aku hanya kesal karena kau terus cemberut" kata Aliya.
"Jangan harap kau bisa keluar kamar nanti, Ji Twin akan aku berikan pada Eomma dan yang lain" Aliya tersenyum tipis saat mendengar ucapan Jimin.
"Aku memang menunggunya"
*
Keluarga Jung terkejut saat melihat rombongan Keluarga Kim yang terlihat dipekarangan rumah mereka. "Bukankah itu Paman Kim?" Tanya Mina kaget.
"Eonniiii~~~" Aliya berteriak memanggil Mina. Dan benar saja Keluarga Jung langsung keluar.
"Kalian ke sini?" Tanya Taejun kaget.
"Aku perlu jalan-jalan" kata Yuri.
"Aigoo, Ini bayi kalian? Kembar" tanya Hyeri sambil melihat Ji Yoon dan Ji Hyun.
"Nde imo" jawab Aliya.
"Lucunya" Hyeri mengambil alih Ji Yoon dari gendongan Yuri. Taejun juga langsung mengambil alih Ji Hyun dari gendongan Jungwoon.
"Kajja kita masuk"
*
"Bukankah lebih baik dipercepat Hyeri-ya?" Tanya Yuri pada Hyeri.
"Aku juga ingin begitu, tapi Mina yang mau menunggu" kata Hyeri.
"Nam Taehyun, CEO dari Nam Company kan?" Tanya Taehyung.
"Nde Taehyung-ah, anak dari Nam Ah Yu dan Ji Sena" Jungwoon dan Yuri mengangguk, mereka mengenal baik Keluarga Nam.
"Apa yang membuatmu meminta waktu lama Mina-ya?" Tanya Jin.
"Aku masih ingin merasakan kebebasan dulu Oppa, lagipula Taehyun mau menungguku" jawab Mina.
"Ck! Tidak mau menikah tapi sampai diranjang" cetus Aliya.
"Yakh~~~" Mina memekik kesal saat mendengar ucapan Aliya.
"Apa yang kau bicarakan Sayang?" Tanya Hyeri bingung.
"Imo tanya saja pada Mina Eonni dan jika dia tidak menjawab, tanya saja pada Taehyun dia pasti akan menjawabnya dengan lantang" cetus Aliya. Taehyun dan Aliya memang dekat, sejak Taehyun tahu jika Aliya adalah sepupu Mina, Taehyun langsung mendekati Aliya, itu bertujuan untuk menjalin hubungan baik dengan Keluarga Calon istrinya.
"Kau tahu sesuatu?" Tanya Jin.
"Distudio Balet me~~~" Mina langsung membungkam mulut Aliya, ia tidak mau rahasianya terbongkar.
"Diamlah!" Aliya mencoba melepaskan tangan Mina. Sejak menjalin hubungan baik, mereka jadi dekat dan lama-kelamaan sifat mereka berubah menjadi kakak-adik dan berakhir sering bertengkar seperti kucing dan tikus.
"Mina lepaskan tanganmu dan biarkan Aliya berbicara" kata Taejun.
"Jung Mina" Mina menghela nafas dan melepaskan tanganya dari Aliya.
"Lanjutkan sayang" kata Hyeri.
"Distudio balet mereka~~~" Aliya menggantungkan ucapanya dan ia melirik Mina yang tampak gugup.
"Mereka apa?" Tanya Taejun bingung.
"MerekamembuatadikuntukJiTwin" mereka terkejut saat mendengar ucapan Aliya.
"Coba ulangi sayang?" Aliya menggeleng.
"Imo tanya saja pada Mina Eonni Nde! Aku lelah dan mau tidur. Dan ya Ji Twin tidur dengan Eomma saja Ne? Aku ingin tidur nyenyak" Kata Aliya sambil berjalan menuju kamar yang disediakan Keluarga Jung.
"Jadi kalian sudah~~~" Taejun tidak melanjutkan ucapanya.
"Hubungi Keluarga Nam dan percepat pernikahan mereka"
"Eommmaaa~~~"
*
"Yeah..." Jimin kembali menyatukan tubuh mereka. Aliya yang berniat tidur tapi justru diserang Jimin, bahkan mereka sampai tidak ikut makan malam.
"Jimin-ahh" desah Aliya menahan kenikmatan.
"Aku mendengarkanya Sayang" kata Jimin dengan menggerakkan tubuh mereka.
"Faster Please" Jimin mempercepat gerakan tubuh mereka, kejantananya keluar masuk dalam rahim Aliya, dan ia sangat menikmati itu. Ini adalah penyatuan pertama mereka setelah kelahiran Ji Twin.
"Shit...Shit...kaauh...yeahh" Jimin merasakan kenikmatan yang luar biasa saat penyatuan mereka. Kewanitaan Aliya semakin terasa sempit setelah melahirkan.
"Jhimm..." Desahan Aliya terus mengalun saat Jimin semakin mempercepat gerakan tubuh mereka.
"Hah! Ah, Jhim..." pandangan Jimin semakin berkabut, matanya menatap tubuh polos Aliya yang ada dibawahnya. Aliya semakin cantik setelah melahirkan, beberapa bagian tubuh Aliya juga semakin besar.
"Ah!" Aliya mendesah saat Jimin memanggut n****e-nya dalam mulut panas Jimin. Sementara Jimin menyesap kuat n****e Aliya, ada air s**u yang mengalir didalam mulutnya dan tanpa jijik ia meminumnya dengan semangat.
"Jim..aku...mau..keluarhh" Jimin mempercepat gerakanya, ia juga akan sampai.
"Bersama Sayang...Arghhhh" Jimin memejamkan matanya saat kenikmatan itu datang. Nikmat, Basah dan Hangat.
"Gumawo!" Jimin melepas penyatuanya dan berbaring disamping Aliya.
"Kau tahu dari mana soal Mina?" Tanya Jimin.
"Taehyun sengaja bilang pada padaku, dia bilang hanya itu yang bisa membuat Mina Eonni mau menerima ajakan pernikahanya" kata Aliya.
"Kalian semakin dekat!" Cetus Jimin.
"Wae? Kau tidak suka?" Ketus Aliya.
"Tentu saja! Kau istriku dan kau malah berhubungan baik dengan Namja lain" kesal Jimin.
"Namja lain pantatmu. Taehyun itu calon ipar kita Pabo" kesal Aliya.
"Tapi itu belum terjadi" kata Jimin.
"Terserah kau saja Jimin-ah. Aku lelah dan mau tidur" ketus Aliya sambil memunggungi Aliya.
"Kau~~~"
*
"Otte?" Tanya Aliya pada Taehyun.
"Kau memang Daebak" puji Taehyun.
"Tepati janjimu" Taehyun mengangguk semangat.
"Beres, tiket liburan ke Paris selama 2 minggu akan segera kukirimkan, tas, sepatu dan baju keluaran terbaru Chanel akan segara sampai di Korea" Aliya memekik senang.
"Oh ya jangan lupa untuk keponakanmu juga, mereka juga ikut andil disini" Taehyun menghela nafas, ia sudah mengira jika Aliya akan mengambil keuntungan dalam kesempatan ini.
"Baiklah! Ji Twin juga dapat" Aliya kembali memekik senang.
"Aku dengan Ji Yoon-ah, kau dan Hyunie akan diberikan hadiah oleh Paman Taehyun" kata Aliya pada Ji Yoon.
"Baiklah! Saudara ipar aku pergi dulu. Ji Hyun sudah menungguku. Anyeong" Aliya berjalan keluar dari sana meninggalkan Taehyun yang mendengus kesal.
"Selalu saja begini" keluhnya.
*
Sorakan heboh para tamu terdengar saat melihat Mina dan Taehyun berciuman, mereka barus saja mengucap janji suci dan ini adalah prosesi akhir pernikahan mereka.
"Mimpimu jadi kenyataan" bisik Jimin.
"Nde! Semua berjalan dengan semestinya" kata Aliya.
"Aku dengar jika Momo dan Gyuri Noona hamil juga" kata Jimin.
"Ya, mereka sudah bilang padaku" kata Aliya.
"Aku mencintaimu" Aliya menatap Jimin dalam.
"Aku juga mencintaimu" balas Aliya dengan mengecup bibir Jimin dengan senyum tipis Jimin membalas ciuman Aliya. Mereka berciuman diantara pasangan pengantin baru yang juga berciuman. Mereka masih menikmati waktu berciuman mereka sampai tangisan Ji Twin yang bersautan terdengar, sontak mereka menghentikan ciuman mereka, mata mereka saling bertatapan dan tertawa bersama.
End.