Dokter tersenyum mendengar pertanyaan Mia, dan dia memaklumi. “Nanti di usia kehamilan delapan belas minggu baru bisa diketahui,” jelasnya. “Oh.” “Mau apa nih?” Dokter bertanya dengan senyum usilnya. “Perempuan, tapi mamaku maunya laki-laki.” “Oh, haha, sama saja, Bu Mia. Laki-laki atau perempuan ... ya?” Mia mengangguk mengerti, dia menoleh ke Ihsan yang senyum-senyum. “Tapi jangan salah lo, dulu saya punya pasien … sudah diperiksa di dokter lain dan dinyatakan perempuan, eh, pas lahir laki-laki lo.” Mia dan Ihsan terkesima mendengar cerita dokter perempuan itu yang ternyata berasal dari Jakarta dan bertugas di Johor. “Ya, kadang teknologi tidak menjamin kebenaran, meskipun sudah diperiksa berkali-kali. Sampai sekarang saya saja masih heran, karena laporan dari dokter sana sudah

