Jeda diam di sana dan Mia mengawasi di belakangnya. “Ha? Mia, kamu?” “Ya, aku … aku belum kasih tau om Ihsan soal ini, Ma.” Ami tertawa. “Nakal sekali kamu.” “Haha, iya, Ma. Jangan kasih tau om Ihsan ya, Maaa, aku mau kasih dia kejutan,” rengek Mia. “Iya iya. Hm … tapi nanti juga dia tahu, apalagi kalo perut kamu sudah gede.” “Ya, yang penting sekarang dia belum tahu.” “Kok keburu dihapus statusmu?” “Aku sengaja nargetin Mama.” “Hei! Hahaha, Miaaa. Mama kangeeen. Hm, semoga laki-laki, Mama maunya cucu laki-lakiii.” “Ih, kalo perempuan gimana?” “Ya, kamu coba lagi dong, sampai melahirkan cucu laki-laki Mama.” “Astaga, Mama! Jadi Mama nggak sayang cucu perempuan?” “Ya, sayang juga dong. Tapi, ‘kan kamu harus berusaha kasih cucu laki-laki, biar Mama senang.” Mia tertawa membaya

