“Nyaman?” tanya Ihsan dengan tatapan hangatnya dan dia tetap bergerak maju mundur dari samping. “Ya.” Mia menjawab disertai desahan. “Kalo kurang nyaman kita bisa ganti posisi yang lebih nyaman,” ujar Ihsan lembut. Mia tersenyum, merangkul erat leher Ihsan. “Aku milikmu, Om,” ujarnya lirih, dan Ihsan mempercepat gerakannya. Mia mengerang berulang kali karena tubuhnya yang terdesak setiap kali disentak, dan Ihsan yang tersenyum hangat, senang Mia yang sangat menikmati malam pertamanya. “Capek?” tanya Ihsan saat gerakannya melambat. “Nggak, Om. Nggak,” ujar Mia dan dia yang sudah merasakan panas di dalam tubuhnya. Ihsan menarik pinggulnya dari tubuh Mia, mengganti peran miliknya dengan tangan dan memainkan milik Mia sambil berancang-ancang untuk menyerang lebih kencang. “Oooh,” l

