Ihsan menatap wajah Mia lekat-lekat, dan pikirannya tertuju ke keinginan sang mertua. “Hm, mungkin memang harus kita persiapkan dari sekarang, maksud Om … kita pelajari segala sesuatunya tentang kelahiran. Om ingat dulu Om yang nggak tau apa-apa, kedua orang tua kita masing-masing yang berjauhan, papa dan mama tante Dian yang jauh di Canada, kita yang kurang komunikasi dengan orang tua Om. Ada banyak hal—” “Benar, Om. Mama dan papa dulu menikah dan tinggal di Jakarta, orang tua papa sudah meninggal dan waigong waipoku juga sedang berada di Beijing. Persiapan apa adanya, dan mama yang mungkin sembrono waktu hamil aku sampai akhirnya aku lahir, dan dia … dia trauma.” “Hei, jangan sembarangan menuduh begitu, Mia. Kamu ini,” ujar Ihsan, tidak setuju dugaan Mia yang mengatakan mamanya sembron

