Bekas tangis Khumaira sudah berkurang. Ayahnya sudah meminta maaf dengan penuh sesal dan kerendahan hati. Rapat menegangkan itu juga sudah usai dengan hasil yang bagi Khumaira pribadi cukup menyisakan trauma. Demi Tuhan, ia tak mau melihat Bintang Abimayu murka untuk kedua kalinya. Saat ini Khumaira sendirian mengumpulkan semua kertas jawaban anggota keluarga dengan tulisan mereka yang berbeda satu sama lainnya. Lembaran itu satu-satu-satu ia baca dan renungi jawabannya. Khumaira juga penasaran dengan jawaban ayahnya sendiri meskipun sudah ada efek jelas lewat kalimat yang mendahului tulisan formalnya. Sedang asyik Khumaira, pintu dibuka perlahan. Khalid yang tadi pamit mengantar mertua langsung menyapa dengan senyum lembut. “Kau lama,” tegur Khumaira. “Aku yakin kau tidak hanya mengan

